Ketika pertama kali belajar tentang sastra Islami, saya sempat keder,
lho. Saya pikir, dalam cerita Islami pasti enggak boleh menyinggung
soal pacaran. Maksudnya pacaran sebelum menikah, lho. Bukan pasca nikah.
Pikiran seperti ini sempat bikin saya enggak berani menulis cerita
Islami. Gimana enggak. Hampir semua ide saya berkisar soal pacaran.
Dulu, ketika masih hidup dalam budaya jahiliah, cerpen-cerpen saya –
yang sebagian besas dimuat di Anita Cemerlang – pun enggak jauh-jauh
dari urusan pacaran. So, ketika ada teman yang nawarin saya untuk
menerbitkannya jadi buku, saya menolak dengan tegas. Saya bilang,
“Biarlah cerpen-cerpen itu menjadi bagian dari masa lalu saya. Sekarang
saya cuma mau menulis cerita Islami.”
Pemikiran ini mulai berubah sejak tahun 2004 lalu, ketika saya
berkenalan dengan Asma Nadia. Kamu tentu sudah tahu kan, dia ini
penulis Islami yang ngetop banget. Mbak Asma – demikian saya biasa
memanggilnya – memprovokasi saya untuk menebitkan buku. Saya bingung
ketika itu, dan bilang ke dia, “Saya punya banyak stok cerpen, Mbak.
Tapi hampir semuanya bertemakan pacaran.”
Dia menjawab – lewat email – dengan sebuah komentar:
“Ada beberapa penulis yang besar di
majalah remaja dan mereka mengirim naskah lama. Tapi direvisi dikit.
Sebetulnya kan Islam itu luas banget. Kita tetap bisa garap pacaran,
jatuh cinta, reaksi yang aneh-aneh dan konyol ketika jatuh cinta, dan
lain-lain. Yang terpenting ada nilai yang jelas, dan hikmah yang bisa
dipetik pembaca.”
Terus terang, komentar ini berhasil mengubah pola pikir saya mengenai
cerita Islami. Terlebih, beberapa waktu kemudian, saya membaca novel
101 Dating Jo dan Kas karya Asma Nadia (terbitan Gramedia Pustaka
Utama). Novel ini jelas-jelas bertemakan pacaran. Bercerita tentang
Kas, seorang pemuda keren dan baik hati, yang mengajak Jo pacaran. Jo
merasa bimbang, karena dia adalah cewek berjilbab yang belum pernah
pacaran, dan ketiga kakaknya pun jilbaber sejati. Dalam kondisi seperti
ini, bisa dan maukah Jo menerima tawaran Kas untuk pacaran?
Cerita mengalir dengan asyik. Secara perlahan, tanpa kesan menggurui,
Asma menggiring pembaca untuk menyimpulkan bahwa pacaran sebelum
menikah itu engak perlu dilakukan.
* * *
Pengalaman di atas membuat saya punya pemahaman baru mengenai
cerita Islami. Saya jadi berpikir, kalau seorang penulis ingin membawa
pesan moral bahwa korupsi itu enggak baik, tentu lebih afdol kalau dia
menyampaikannya lewat cerita tentang seseorang yang melakukan korupsi.
Kalau penulis ingin bilang bahwa pacaran itu enggak baik, tentu lebih
oke kalau itu disampaikan lewat cerita yang bertema pacaran.
Saya pun membandingkan pemikiran ini dengan sinetron Islami yang
belakangan ini menjamur di TV swasta. Ada cerita tentang seorang suami
yang main dukun untuk meraih kekayaan. Pada beberapa adegannya.
ditampilkan aktivitas si suami ketika minta nasehat pada si dukun,
membacakan jampi-jampi, dan seterusnya.
Kita semua tahu, perbuatan seperti ini adalah syirik dan amat
ditentang oleh Islam. Tapi kenapa ada adegan seperti itu di dalam
sinetron Islami? Jawabannya persis kayak pola pikir di atas. Lewat
cerita tentang orang yang main dukun, si penulis bisa menyampaikan
pesan moral bahwa main dukun itu enggak baik.
Saya pikir, tema pacaran dalam cerita islami pun seperti itu. Enggak
ada salahnya kita menulis cerita seputar pacaran. Yang penting harus
ada rambu-rambunya, antara lain:
1.Secara umum cerita tersebut membawa pesan moral bahwa pacaran sebelum menikah itu enggak baik.
2.Penulis enggak boleh – secara sengaja – memotivasi pembaca (yang belum menikah) untuk pacaran.
3.Lebih afdol lagi kalau penulis mengcounter budaya masyarakat kita
yang menganggap pacaran bagi remaja itu “wajib” hukumnya (tanpa
pacaran, hidup akan serba garing, dst). Tentu asyik banget, kalau si
penulis bisa menampilkan pola pikir yang mencerahkan, bahwa kegiatan
remaja itu enggak cuma pacaran. Masih banyak hal-hal lain yang
bermanfaat yang bisa dilakukan oleh remaja.
Pemikiran seperti inilah yang jadi pedoman saya ketika mengumpulkan
cerpen-cerpen lama saya untuk diterbitkan. Saya menyeleksi karya-karya
saya sendiri, dengan menetapkan kriteria yang jelas: Yang saya
terbitkan cuma cerita yang bisa direvisi menjadi Islami. Kalau enggak
bisa, ya terpaksa disingkirkan.
Kriteria ini menyebabkan dua cerpen “favorit” saya enggak lolos;
“Bicara Pada Cermin” yang menjadi Juara Pertama Lomba Cerpen Anita
Cemerlang tahun 1994, dan “Tentang Jodoh dan Mawar Putih” yang menurut
saya ceritanya unik banget. Mungkin suatu saat nanti saya akan
menggarap ulang kedua cerpen ini. Tapi sekarang saya belum punya ide
apapun.
Kini, kumpulan cerpen lawas saya ini telah terbit dengan judul Cowok Di
Seberang Jendela (Lingkar Pena Publishing House, 2005). Di dalamnya ada
sebelas judul cerpen. Tujuh di antaranya bertema pacaran. Dari kelima
sisanya, ada satu cerpen yang enggak saya revisi sama sekali. Judulnya
“Namaku Pratiwi”. Dulu cerpen ini dimuat di majalah Ceria Remaja. Saya
cuma menghapus kalimat terakhir yang menceritakan bahwa si tokoh cerita
sudah punya pacar. Itu saja.
Beberapa bulan setelah mengirim kumpulan cerpen Cowok Di Seberang
Jendela ke penerbit, saya menyelesaikan sebuah novel yang telah saya
garap sejak tahun 1995 lalu. Judulnya “Cinta Tak Terlerai” (diterbitkan
oleh DAR! Mizan, Maret 2005). Novel ini pun masih tertema pacaran. Tapi
tentu saja, ada pesan moral yang hendak saya sampaikan; Cinta sejati
hanya milik Allah, bukan milik manusia.
Jadi, menulis tema pacaran pada cerita Islami? Siapa takut!
Jakarta, 1 Agustus 2005
Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah
Saksi (edisinya lupa) beberapa bulan lalu. Yang jelas covernya adalah
foto Nurmahmudi Ismail, seperti terlihat pada gambar. Tulisan ini adalah versi asli, sebelum diedit oleh redaksi Saksi.
Baca artikel terkait: Sastra Romantis
yang Tidak Romantis