Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryOct 12, '05 11:11 PM
for everyone
Ketika pertama kali belajar tentang sastra Islami, saya sempat keder, lho. Saya pikir, dalam cerita Islami pasti enggak boleh menyinggung soal pacaran. Maksudnya pacaran sebelum menikah, lho. Bukan pasca nikah.

Pikiran seperti ini sempat bikin saya enggak berani menulis cerita Islami. Gimana enggak. Hampir semua ide saya berkisar soal pacaran. Dulu, ketika masih hidup dalam budaya jahiliah, cerpen-cerpen saya – yang sebagian besas dimuat di Anita Cemerlang – pun enggak jauh-jauh dari urusan pacaran. So, ketika ada teman yang nawarin saya untuk menerbitkannya jadi buku, saya menolak dengan tegas. Saya bilang, “Biarlah cerpen-cerpen itu menjadi bagian dari masa lalu saya. Sekarang saya cuma mau  menulis cerita Islami.”

Pemikiran ini mulai berubah sejak tahun 2004 lalu, ketika saya berkenalan dengan Asma Nadia. Kamu tentu sudah tahu kan, dia ini penulis Islami yang ngetop banget. Mbak Asma – demikian saya biasa memanggilnya – memprovokasi saya untuk menebitkan buku. Saya bingung ketika itu, dan bilang ke dia, “Saya punya banyak stok cerpen, Mbak. Tapi hampir semuanya bertemakan pacaran.”

Dia menjawab – lewat email – dengan sebuah komentar:

“Ada beberapa penulis yang besar di majalah remaja dan mereka mengirim naskah lama. Tapi direvisi dikit. Sebetulnya kan Islam itu luas banget. Kita tetap bisa garap pacaran, jatuh cinta, reaksi yang aneh-aneh dan konyol ketika jatuh cinta, dan lain-lain. Yang terpenting ada nilai yang jelas, dan hikmah yang bisa dipetik pembaca.”

Terus terang, komentar ini berhasil mengubah pola pikir saya mengenai cerita Islami. Terlebih, beberapa waktu kemudian, saya membaca novel 101 Dating Jo dan Kas karya Asma Nadia (terbitan Gramedia Pustaka Utama). Novel ini jelas-jelas bertemakan pacaran. Bercerita tentang Kas, seorang pemuda keren dan baik hati, yang mengajak Jo pacaran. Jo merasa bimbang, karena dia adalah cewek berjilbab yang belum pernah pacaran, dan ketiga kakaknya pun jilbaber sejati. Dalam kondisi seperti ini, bisa dan maukah Jo menerima tawaran Kas untuk pacaran?

Cerita mengalir dengan asyik. Secara perlahan, tanpa kesan menggurui, Asma menggiring pembaca untuk menyimpulkan bahwa pacaran sebelum menikah itu engak perlu dilakukan.

*     *     *

Pengalaman di atas membuat saya punya  pemahaman baru mengenai cerita Islami. Saya jadi berpikir, kalau seorang penulis ingin membawa pesan moral bahwa korupsi itu enggak baik, tentu lebih afdol kalau dia menyampaikannya lewat cerita tentang seseorang yang melakukan korupsi. Kalau penulis ingin bilang bahwa pacaran itu enggak baik, tentu lebih oke kalau itu disampaikan lewat cerita yang bertema pacaran.

Saya pun membandingkan pemikiran ini dengan sinetron Islami yang belakangan ini menjamur di TV swasta. Ada cerita tentang seorang suami yang main dukun untuk meraih kekayaan. Pada beberapa adegannya. ditampilkan aktivitas si suami ketika minta nasehat pada si dukun, membacakan jampi-jampi, dan seterusnya.

Kita semua tahu, perbuatan seperti ini adalah syirik dan amat ditentang  oleh Islam. Tapi kenapa ada adegan seperti itu di dalam sinetron Islami? Jawabannya persis kayak pola pikir di atas. Lewat cerita tentang orang yang main dukun, si penulis bisa menyampaikan pesan moral bahwa main dukun itu enggak baik.

Saya pikir, tema pacaran dalam cerita islami pun seperti itu. Enggak ada salahnya kita menulis cerita seputar pacaran. Yang penting harus ada rambu-rambunya, antara lain:

1.Secara umum cerita tersebut membawa pesan moral bahwa pacaran sebelum menikah itu enggak baik.

2.Penulis enggak boleh – secara sengaja – memotivasi pembaca (yang belum menikah) untuk pacaran.

3.Lebih afdol lagi kalau penulis mengcounter budaya masyarakat kita yang menganggap pacaran bagi remaja itu “wajib” hukumnya (tanpa pacaran, hidup akan serba garing, dst). Tentu asyik banget, kalau si penulis bisa menampilkan pola pikir yang mencerahkan, bahwa kegiatan remaja itu enggak cuma pacaran. Masih banyak hal-hal lain yang bermanfaat yang bisa dilakukan oleh remaja.

Pemikiran seperti inilah yang jadi pedoman saya ketika mengumpulkan cerpen-cerpen lama saya untuk diterbitkan. Saya menyeleksi karya-karya saya sendiri, dengan menetapkan kriteria yang jelas: Yang saya terbitkan cuma cerita yang bisa direvisi menjadi Islami. Kalau enggak bisa, ya terpaksa disingkirkan.

Kriteria ini menyebabkan dua cerpen “favorit” saya enggak lolos; “Bicara Pada Cermin” yang menjadi Juara Pertama Lomba Cerpen Anita Cemerlang tahun 1994, dan “Tentang Jodoh dan Mawar Putih” yang menurut saya ceritanya unik banget. Mungkin suatu saat nanti saya akan menggarap ulang kedua cerpen ini. Tapi sekarang saya belum punya ide apapun.

Kini, kumpulan cerpen lawas saya ini telah terbit dengan judul Cowok Di Seberang Jendela (Lingkar Pena Publishing House, 2005). Di dalamnya ada sebelas judul cerpen. Tujuh di antaranya bertema pacaran. Dari kelima sisanya, ada satu cerpen yang enggak saya revisi sama sekali. Judulnya “Namaku Pratiwi”. Dulu cerpen ini dimuat di majalah Ceria Remaja. Saya cuma menghapus kalimat terakhir yang menceritakan bahwa si tokoh cerita sudah punya pacar. Itu saja.

Beberapa bulan setelah mengirim kumpulan cerpen Cowok Di Seberang Jendela ke penerbit, saya menyelesaikan sebuah novel yang telah saya garap sejak tahun 1995 lalu. Judulnya “Cinta Tak Terlerai” (diterbitkan oleh DAR! Mizan, Maret 2005). Novel ini pun masih tertema pacaran. Tapi tentu saja, ada pesan moral yang hendak saya sampaikan; Cinta sejati hanya milik Allah, bukan milik manusia.

Jadi, menulis tema pacaran pada cerita Islami? Siapa takut!

Jakarta, 1 Agustus 2005


Catatan:
Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Saksi (edisinya lupa) beberapa bulan lalu. Yang jelas covernya adalah foto Nurmahmudi Ismail, seperti terlihat pada gambar. Tulisan ini adalah versi asli, sebelum diedit oleh redaksi Saksi.


Baca artikel terkait: Sastra Romantis yang Tidak Romantis


19 CommentsChronological   Reverse   Threaded
kustiaz wrote on Oct 13, '05
thx for sharing...
orinkeren wrote on Oct 14, '05
makasih mas... lagi kehabisan bensin nih... dua novel yang digarap sejak jaman baheula nggak selesai juga ide baru udah nongol tapi nggak punya tenaga untuk menggarap. hiks... gimana nih?
jonru wrote on Oct 14, '05
kustiaz said
thx for sharing...
sama sama :)
jonru wrote on Oct 14, '05
dua novel yang digarap sejak jaman baheula nggak selesai juga ide baru udah nongol tapi nggak punya tenaga untuk menggarap. hiks... gimana nih?
saya juga banyak stok naskah yang setengah jadi dan belum selesai juga. Emang susah.

Yuk, kita sama-sama kerjakan, siapa yang duluan selesai? Hehehe...
creasiana wrote on Dec 16, '05
jonru said
Saya pikir, dalam cerita Islami pasti enggak boleh menyinggung soal pacaran.
Cek cek cek...bagus banget, ini saya baca serial keduanya lho bang jonru. Serial pertama di penulislepas. Ini membuktikan saya membaca apa saja tulisan bang jonru yang melintas di mata saya. Kapan-kapan saya juga akan beli deh bukunya tsb (biar tambah laris). Ruar biasa sekitar Agustus '05 di Gramedia Cempaka Mas buku bang jonru ini lagi habis di raknya jadi saya gak jadi beli kala itu. But, suer karena saya pembaca cerpen dan lain waktu mau nulis cerpen juga, saya akan baca ntu buku.
jonru wrote on Dec 18, '05
Cek cek cek...bagus banget, ini saya baca serial keduanya lho bang jonru. Serial pertama di penulislepas. Ini membuktikan saya membaca apa saja tulisan bang jonru yang melintas di mata saya. Kapan-kapan saya juga akan beli deh bukunya tsb (biar tambah laris). Ruar biasa sekitar Agustus '05 di Gramedia Cempaka Mas buku bang jonru ini lagi habis di raknya jadi saya gak jadi beli kala itu. But, suer karena saya pembaca cerpen dan lain waktu mau nulis cerpen juga, saya akan baca ntu buku.
wah.. mas asiandi benar-benar penuh semangat
terima kasih atas dukungannya ya... :)
longway2heaven wrote on Dec 21, '05
sulit sekali emang buat menulis ttg islam. begitu berat bebannya. sebagian besar karena hal2 yg akan ditulis belum mampu buat dilaksanakan. hiks
Comment deleted at the request of the author.
jonru wrote on Dec 21, '05
sulit sekali emang buat menulis ttg islam. begitu berat bebannya. sebagian besar karena hal2 yg akan ditulis belum mampu buat dilaksanakan. hiks
insya Allah enggak sulit kok.
yang penting ada niat dan motivasi yang ikhlas
dan yang lebih penting: kita harus "mengislamkan" diri kita terlebih dahulu. Kalau diri kita sudah "islam", insya Allah tulisan-tulisan kita akan menjadi islami secara otomatis, tanpa harus kita rekayasa dan rencanakan.
Mungkin terasa berat, tapi kita tentu bisa belajar secara perlahan-lahan.
aishliz wrote on Mar 27, '06
Salam kenal bang Jonru... saya intipin tulisan ini buat bahan masukan bikin artikel kepenulisan. Keren euy isi tulisannya, hhmmm... bisa nggak yah saya bikin kaya gini. Nyoba ah nyoba....
jonru wrote on Mar 27, '06
aishliz said
Salam kenal bang Jonru... saya intipin tulisan ini buat bahan masukan bikin artikel kepenulisan. Keren euy isi tulisannya, hhmmm... bisa nggak yah saya bikin kaya gini. Nyoba ah nyoba....
mbak lizsa... salam kenal juga ya..
mau bikin tulisan? yuk ah... dicoba aja. Insya ALlah bisa :)
fraumaulana wrote on Sep 19, '06
tulisannya bagus banget mas... jadi semangat lg nulis ttg cinta... :)
satirtyo wrote on Jun 1, '07
Mas ajarin dong gimana cara menjadi penulis..............
jonru wrote on Jun 2, '07
Mas ajarin dong gimana cara menjadi penulis..............
kalao mau jadi penulis, ya langsung nulis aja mas :)
sering2 isi blognya dengan tulisan yang bagus dan menarik
kalau mau belajar menulis, coba gabung di www.penulislepas.com

semoga sukses ya :)
niien wrote on Jun 9, '07
mas, aku pingin bisa bikin tulisan yang oke. gimana caranya yach!! selama ini aku sering nulis hanya sepenggal dan suka nggak PD githu.
retkodresti wrote on Jul 21, '08
oo begitu :D
Comment deleted at the request of the thread owner.
ngaprish wrote on Oct 23, '08
m,nl,hjjkbniutgijbkn mghjytujyurtuyrtjkbnhusagdcuiabd gyzagbXncgd67x1
kupretist wrote on Sep 25, '10
kenapa hidup harus berpacaran, apakah kehidupan akan berasa kiamat saat tidak berpacaran? pacaran adalah ilusi dari cinta yg menjerat manusia, dan membuat manusia menjadi naif serta buta.

pada dasarnya cinta itu hanya kamuflase, cinta merupakan relasi kuasa dimana hubungan2 yang dijalin dlm mekanisme cinta adalah mekanisme untuk saling menguasai antara satu pihak kepada pihak lain, dan itu didasari oleh motif2 kepentingan dibaliknya, seperti seks, harta, kedudukan, agama, dll.

Cinta ibarat penyakit yang tak seorang pun ingin terlepas darinya, yang tertular tak ingin diobati, yang menderita tak ingin disembuhkan.
Add a Comment