
Bagi warga Jawa Tengah, nama Lawang Sewu tentu sudah tidak asing lagi. Ini adalah nama sebuah bangunan kuno yang letaknya persis di tengah kota Semarang,
tepatnya di daerah Tugu Muda. Disebut "lawang sewu" (pintu seribu)
karena bangunan peninggalan jaman Belanda ini memang memiliki pintu
yang banyak sekali. Dulu, gedung ini katanya dipakai untuk stasiun
kereta api. Kini, Lawang Sewu dibiarkan tak berpenghuni dan tak
terawat. Jadi tidak heran jika banyak hantu yang menetap di sana. Tak
heran pula, beberapa bulan lalu Trans TV syuting acara Dunia Lain (Uji Nyali) di tempat ini.
Selama 7 tahun tinggal di Semarang (1991 - 1998), saya hanya sering
melintas di depannya, sama sekali tidak berniat untuk masuk ke dalam.
Tapi hari Minggu, 18 September 2005 lalu, bersama sekitar 50 orang
peserta pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Koran Kampus Manunggal
Universitas Diponegoro, kami nekat menjelajahi gedung tua ini, sekitar
jam 11 - 12.30 siang. Terus terang saya kagum, para peserta pelatihan
ini, semuanya pemberani, termasuk yang perempuan. Mungkin karena mereka
semuanya wartawan kampus, jadi bukan tipe anak manja dan penakut.
Pertama kali menjajakkan kaki ke lobby gedung, udara dingin segera
menyapa kulit. Saya sempat bergidik, karena gedung sepi dan tua begini
pasti banyak hantunya. Tapi saya mencoba mengingat pesan para ustadz,
bahwa jin, hantu dst itu adalah makhluk yang lebih rendah dari manusia,
sehingga kita tak perlu takut pada mereka. Yang penting, kita tetap
"menghargai" keberadaan mereka, jangan diganggu dan jangan berbuat yang
tidak-tidak. Maka saya pun mencoba memberanikan diri sambil sesekali
berzikir di dalam hati. Apalagi karena teman-teman lain pada berani,
saya makin percaya diri.
Beberapa saat setelah kami berada di lobby, seorang pria berperawakan
kecil datang dan marah-marah. Ia sepertinya hendak menghalangi kami
agar tidak masuk lebih jauh. "Ini bukan gedung biasa. Kalau terjadi
apa-apa, tanggung sendiri akibatnya," ujarnya.
Tapi sikap yang bertolak belakang diperlihatkan oleh seorang kakek tua
yang sangat ramah. Dengan senang hati ia mempersilahkan kami
menjelajahi gedung tersebut. "Ayo, kita lihat-lihat ke dalam. Tak usah
takut. Kalau dulu ada Uji Nyali di sini, itu urusan Trans TV," ujarnya.
Intinya, dia ingin menunjukkan pada kami bahwa Lawang Sewu bukanlah
gedung yang perlu ditakuti, dan kami semua boleh masuk ke sana.
Belakangan saya tahu, bahwa si kakek ini adalah seorang purnawirawan
TNI yang menjadi penjaga Lawang Sewu.
Dengan gaya seorang tour guide,
kakek yang baik hati ini menemani kami berkeliling gedung. Ia
menjelaskan setiap detil ruangan dengan gaya yang sangat profesional,
seolah-olah dia menguasai segala sesuatu mengenai Lawang Sewu ini. Saya
terkesima ketika kaki melangkah ke ruang demi ruang. Kotor dan berdebu.
Tak terawat. Bau. Tapi amat berkesan. Kami begitu penasaran untuk
menjelajahi ruangan demi ruangan.
Di sebuah sisi gedung, kami melihat ada kaca jendela yang telah kusam
dan penuh oleh coretan-coretan dari pengunjung. Di dinding pun banyak
bertempelan stiker bertuliskan "JAGALAH KEBERSIHAN" dan seterusnya.
Hal-hal seperti ini adalah bagian dari masa kini, yang menunjukkan
bahwa Lawang Sewu ini sudah sering dikunjungi orang.
Yang menakjubkan, ada sebuah ruangan yang katanya berisi uang
peninggalan jaman Belanda. Pintunya sangat kokoh sehingga belum
berhasil dijebol hingga hari ini. Jadi ada kemungkinan di dalamnya
masih banyak tersimpan uang dan harta benda lainnya. Benarkah demikian?
Wallahualam deh.
Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika kami diajak masuk ke
penjara bawah tanah. Untuk menuju tempat ini, kami harus keluar dari
gedung, berjalan ke sebuah sisi. Di depan sebuah teras, terdapat sebuah
lubang kecil yang mirip lubang tikus. Untuk masuk ke dalam, hanya cukup
satu orang dan harus sambil duduk dan merunduk. Ya, itulah lubang
menuju penjara bawah tanah yang amat gelap gulita. Kami masuk ke dalam
dan terpaksa menggantungkan penglihatan pada cahaya dari LCD handphone.
Di dalam, kami bisa melihat (walau hanya samar-samar) ruang penjara
yang sangat mengerikan. Amat sempit. Kata si kakek tadi, kalau empat
orang dimasukkan ke situ dalam posisi berdiri, maka ruangan itu akan
penuh, dan masing-masing orang tak dapat bergerak sedikit pun. Coba
bayangkan bagaimana sempitnya ruangan itu. Saya langsung
membayangkan, betapa kejamnya para penjajah dahulu. Mereka menyiksa
rakyat dengan cara yang sangat tidak manusiawi!
Setelah puas berkeliling, kami pun keluar dari Lawang Sewu. Alhamdulillah
semuanya selamat, tak kurang satu apapun. Tak ada kejadian yang
mengerikan. Semua aman-aman saja. Jika sebelum masuk saya sempat
membayangkan yang seram-seram, kini saya punya pandangan tersendiri
mengenai Lawang Sewu. Sebuah gedung yang amat menarik. Jika ada
kesempatan, saya mau bertandang ke sana lagi.
Oh ya, ada satu "fenomena" unik di gedung tua ini: banyak anjing
berkeliaran. Mungkin sengaja diasuh oleh para penjaga gedung ini, untuk
mengusir hantu yang bisa mengganggu mereka. Wallahualam deh.
Keterangan Foto:
Saya dan rombongan berpose di tangga (dekat lobby) sebelum memulai penjelajahan.

 | Di lawang sewu tu yang diperlukan bukan pengusir hantu, tapi perubahan image ya nggak :) masak cagar budaya cuman dibiarin rusak (apa emang bangsa kita nggak bisa menghargai sejarah). Salut buat kalian semua |
 | setuju... aneh kok pemda semarang seperti "lupa" untuk melestarikan cagar budaya satu ini. soal uji nyali (acara tv) kadang suka risih juga kalau dilakukan di tempat-tempat yang berada di tengah masyarakat (kalau di hutan sih gak masalah), soalnya bikin orang (masyarakat) malah jadi terbentuk takut dengan "pembuktian" yang dilakukan acara tv tersebut bahwa di situ memang jadi sarang demit. tapi mungkin ada juga sih nilai positifnya, misalnya dengan ditayangkannya suatu tempat sebagai lokasi berhantu, mungkin malah memancing perhatian pemda / masyarakat yang "tidak rela" daerahnya dianggap sebagai tempat berhantu dan menggerakkan mereka untuk membersihkan, memugar atau merawat bangunan tua (atau dihancurkan sekalian kalau tidak memungkinkan dipugar), sehingga kesan "angkernya" hilang. |
 | Itu di marahin karena masuknya belum minta ijin ke yang jaga kali ..:) maksudnya, yang manusia yang jaga tempat itu, soalnya kalo ada apa apa, kan dia yang kena. Mas, saya kok rada ngga yakin anjing2nya dipelihara buat usir hantu/mahkluk halus...ini menurut pendapat saya yah, yang sedari kecil bergaul dengan anjing :) Waktu saya ke sana, saya perhatikan dulu tingkah polah anjingnya... saya lihat normal normal saja, yang artinya bisa macam macam, pertama , ngga ada mahkluk halusnya, kedua, ada tapi karena sudah biasa maka anjingnya cuek, ketiga, ada tapi di dalam gedung... Tapi seingat saya, anjingnya ngga ada yang ikutin saya masuk. Ketika itu saya sendirian, dan sudah menjelang magrib.. tapi ya gimana, cuma bisa waktu itu .... saya tanya dulu ke yang jaga, boleh masuk ngga.. di jawab boleh, ya saya masuk aja bludas bludus ditemanin satu penjaga. Kalo sendirian saya takut nyasar , lha gede gitu .. mana di dalam gelap gulita,.. BTW, kalo dilihat bentuknya, ruang bawah tanah itu bukan penjara, tapi untuk menampung air hujan. Memang , waktu jaman jepang sempet dipake buat penjara...
Entah karena saya ditemani yang jaga , entah karena saya saking senangnya bisa masuk, saya kok ndak merasa ada yang aneh aneh, meskipun melewati pintu yang katanya, pak Leo dari transTV pun ngga berani lewat, karena ada 'raja setan' di balik pintu itu (di sini saya dikerjain yang jaga, setelah lewat, dia baru bilang begitu.. lha berarti raja setan nya kan ada di belakang saya !! untung saya dikasi taunya belakangan)
|
 | herik wrote on Apr 26, '07 Beruntung kita hidup dizaman kemerdekaan.. Mari bekerja keras membangun bangsa, jangan sia2kan darah dan keringat pejuang kita dahulu *pesan sponsor bgt nih* |
 | Lawang sewwu? kata orang markas nya para hantu'sebenar nya bila dirawat oleh pemda setempat akan nampak indah karena itu merupakan peninggalan penjajahan kolonialis belanda |
 | lawang sewu adalah bangungan yang megah dan bersejarah mendingan di manfaatkan buat musium,hotel atau tempat pameran seni biar ada gunanya.yang penting tidak merubah bentuk bangunannya dan harus di rawat biar tidak rusak. |
 | lawang sewu yaw! sebetulnya sich nggak serem. gw aja dah hampir 5X masuk sana. tapi memang gila tu penjajah masa penjara ukuran 1X1 buat empat orang, gimana bobo,nya ya ^_^' |
 | bagi dunkz penalaman ttg lawang sewu.......... |
 | kapan2 lh aq pergi ke sana ya!!!!!!!!!!! |
 | aq tertarik sekali ma lawang sewu pren,. critain lebih detil lage kaga,,plz kk |
 | kalo menurut tmn saya sich lawang sewu itu ada sisi menakutkan dan yg tidaknya. karna tmnnya tmn saya itu dulu pernah kekunci di lawang sewu selama 2 hari gara2 dia tuh maen pergi sembarangan kmn2.pas itu saya keilangan jejak dia dan gak tau dia kmn, cuma gara2 itu saya panik takut tmn saya ilang selamanya. untung 2 hari kemudian dia bisa balik. dia gak ceritain gmn dia bisa keluar, tp dia blg selama 2 hari itu dia ketemu macem2 makhluk halus. dia liat makhluk itu di cermin, makanya kalo ada cermin skrg dia suka hati2. untung aja dia gak diikutin sampe kmn2. |
 | mas aku ikut baca2 artikelnya cz ini mau buat photo entry tentang lawang sewu. makasih. |
 | waduh! no comment deh...karena gw sebenernya ga percaya sama hal2 begituan...tapi pas gw motret disanaaaaa.......mmmmmmm.....lo liat aja deh di site gw...bener apa nggak??tapi kalo menurut gw sih itu tembok berlumut..tapi nggaktau deeh.. |
 | sama nie,aku jg nulis lawang sewu |
 | aku masuk ke sana pas siang, view di dalemnya keren banget tapi mas masuk ke penjara bawah tanah, ihh langsung merinding setengah mati... gelapp banget. aku merinding ngeliat penjara jongkok, kotaknya kecil, diisi 6 orang, mereka disuruh jongkok terus diairin deh tu penjara. dan mereka dibiarin ampe mati sendiri.. tega ya orang jepang itu |
 | yaminl wrote on Aug 30, '09, edited on Aug 30, '09 lawang sewu,lawang satus,atau lawang seket,adalah benda peninggalan/cagar budaya,sejarah gelap penderitaan bangsa masa penjajah belanda,Terkait hantu,setan,jin ,kuntilanak,sebetulnya yang paling menakutkan dan ganas ada pada diri manusia sendiri,bahkan ada pada diri para pengunjung lawang sewu. Jadi jika kita mengingat atau berkunjung ke lawang sewu,bukanlah hantunya yang kita cari,melainkansebuah sejarah perjuangan bangsa menuju kemerdekaan,yang seakan akan sekarang hanya ternikmati oleh segelintir orang yang punya power dan kroni kroninya,Lobang penjara yang ada pada lawang sewu adalah sebuah perlambang penderitaan rakyat,pintu penyimpanan harta yang ada di dalam lawang sewu ibarat brankas para koruptor negeri sekarang,bentuk dan nuansa seram lawang sewu sebagai lambang kengerian wong cilik menghadapi kehidupan yang semakin mahal dan tak terjangkau ini...... |
| |