Saya (mungkin penulis-penulis lain juga) seringkali ditanya seperti ini (contoh):
- di dalam cerpen, boleh enggak menggunakan sudut pandang tokoh aku?
- boleh enggak, nulis cerpen lebih dari 12 halaman?
- satu bab novel itu, minimal berapa halaman?
- cerpen itu berapa halaman sih? Kalau novel berapa halaman?
Terus terang, ada yang mengganjal perasaan saya setiap kali mendengar
atau membaca pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Kenapa? Sebab
hal-hal seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari kebebasan penulis.
Karya sastra pada dasarnya adalah seni. Dan yang namanya seni, di
dalamnya terdapat kebebasan yang sangat luas. Seorang penulis bebas
sebebas-bebasnya untuk menulis dengan gaya apapun, dengan teknik apapun.
Bagi penulis yang telah memahami makna kebebasan tersebut, saya kira
pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tak perlu diajukan sama sekali.
Semua itu adalah bagian dari kebebasan penulis. Jadi setiap penulis
bebas-bebas saja menentukan sudut pandang, jumlah halaman, berapa
halaman per bab, dan sebagainya.
Tapi memang, bukan berarti penulis tidak punya ikatan. Tentu ada hal-hal yang membatasi mereka dalam menghasilkan karya sastra.
Menurut pengalaman saya selama ini, hal-hal yang membatasi seorang penulis hanyalah yang seperti ini:
1. Batasan jumlah halaman yang ditetapkan oleh redaksi/penerbit.
Saya berpendapat bahwa - secara teori - tidak ada batasan yang jelas
mengenai jumlah halaman novel atau cerpen. Kriteria cerpen seperti
"ditulis sebanyak 6 sampai 12 halaman kuarto ketik 1,5 spasi" dan
sebagainya, sebenarnya hanyalah batasan yang ditetapkan oleh redaktur
media/penerbitan tertentu. Kalau kita hendak mengirim tulisan ke media
mereka, kita tentu harus mematuhi aturan ini.
Jadi, kalau ada pertanyaan, cerpen itu berapa halaman? jawabannya
silahkan tanyakan ke media massa atau penerbitan. Merekalah yang
membuat batasan-batasan seperti itu. Sementara secara teori, sebenarnya
tidak ada batasan yang jelas.
Karena itu, saya cukup kagum pada majalah HORISON. Setahu saya, mereka
tidak pernah membatasi jumlah halaman cerpen. Memang, sebagai majalah
sastra, inilah sikap yang sebaiknya mereka ambil.
Dalam konteks ini, saya juga sebenarnya masih bingung tentang perbedaan
antara novel dengan novelet. Secara substansi, apa sebenarnya bedanya?
Yang saya tahu, perbedaan keduanya hanya dari segi jumlah halaman.
Padahal jika kita melihat substansinya, sebenarnya novel dan novelet
itu sama sekali tidak ada bedanya.
Baru-baru ini saya membaca cerpen "cinta laki-laki biasa" karya Asma
Nadia. Dari segi jumlah halaman, ini adalah cerpen. Tapi dari segi
substansinya, saya berpendapat bahwa ini adalah novel.
2. Batasan nilai, ideologi, dst yang kita yakini.
Setiap orang pasti punya ideologi atau keyakinan. Jadi karya sastra
yang ditulis pasti dibatasi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh si
penulis tersebut. Bahkan seorang penulis atheis sekali pun pasti punya
batasan atas karya-karyanya. Misalnya: "karena saya atheis, maka saya
tak akan membuat cerpen yang isinya menyinggung-nyinggung soal Tuhan".
Nah, ini adalah salah satu contoh batasan.
3. Batasan segmentasi.
Misalnya: karena kita mengirim ke majalah remaja, maka mau tidak
mau kita harus menulis cerita yang meremaja. Tentu aneh kalau kita
mengirim cerpen bertema konflik rumah tangga ke majalalah BOBO.
4. Batasan prinsip atau aturan berbahasa, walau ini sangat relatif.
Kita tentu harus patuh pada EYD, pada aturan-aturan tentang kelaziman berbahasa, dan sebagainya.
Tapi dari pengalaman selama ini, hal ini sangatlah relatif. Kita bisa
melihat fenomena teenlit dan chicklit. Menurut saya, mereka ini banyak
sekali mengacaukan bahasa dan teori sastra. Toh nyatanya kedua jenis
bacaan ini tetap laku.
Jadi, masalah aturan bahasa, menurut saya tidaklah terlalu strick. Ada
batasan, tapi dilanggar pun tidak terlalu masalah. Yang penting
karya tersebut tetap enak dan indah untuk dibaca.
5. Batasan teori sastra, walau ini sangat relatif.
Novel saya, CINTA TAK TERLERAI, pernah dikritik seorang teman. Katanya,
kok tidak sesuai dengan teori sastra? Duh, saya jadi berpikir,
sebenarnya mana yang duluan lahir? Karya sastra atau teori sastra?
Sepengetahuan saya, teori sastra justru dibuat berdasarkan contoh karya
sastra yang telah ada. Teori sastra tak akan ada jika belum ada satu
pun karya sastra yang dihasilkan di muka bumi ini.
Jadi, menurut hemat saya, memang teori sastra bisa menjadi batasan
tersendiri di dalam penulisan karya sastra. Tapi ini juga sangat
relatif.
Bahkan, seorang penulis sangat berpeluang untuk menciptakan teori
sastra baru lewat karya-karyanya. Contoh: Hilman dengan Lupus-nya. Saya
kira, Lupus adalah contoh karya yang berhasil melahirkan teori sastra
baru. Dan kini, banyak penulis - termasuk saya - yang suka meniru gaya
Hilman.
* * *
Jadi, teman-teman penulis sekalian... marilah mulai sekarang kita
sadari, bahwa kita punya kebebasan yang sangat besar di dalam berkarya.
Memang ada batasan-batasan seperti yang diutarakan di atas. Tapi
seperti dunia seni pada umumnya, semuanya sangat relatif. Yang paling
penting di dalam karya seni adalah: INDAH DAN ENAK UNTUK DINIKMATI.
Wah... saya bukan lulusan fakultas sastra, jadi saya tidak bisa menjabarkan teori-teorinya.
tapi ini contohnya: kalau kita baca teenlit, di dalamnya banyak cerita/narasi yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Atau, ada juga teenlit yang ditulis dengan bahasa email.
Setahu saya, belum pernah ada teori sastra yang seperti ini. Karena itu, terlepas dari suka atau tidak suka, menurut saya teenlit pun telah berhasil melahirkan teori sastra baru :)
aku bukan (atau belum jadi) penulis sastra. yang aku tau dunia sastra itu ruang yang nyaris tanpa batas untuk imajinasi. teori sastra itu lahir untuk mengapresiasi sastra dan bukan sastra itu sendiri. sama seperti ilmu politik, dia adalah teori untuk memahami perilaku politik, tapi bukan politik itu sendiri. jadi lupakan saja teori-teori sastra. dan biarkan imaji kita bebas...
jadi lupakan saja teori-teori sastra. dan biarkan imaji kita bebas...
betul... dalam hal tertentu saya setuju dengan pendapat pak/mas bowo.
Beberapa waktu lalu, seorang teman penulis bercerita, banyak lulusan sastra Indonesia yang tidak berani menulis karya sastra. Sebab belum apa-apa mereka sudah "dihantui" oleh teori-teori sastra yang mereka dapatkan di bangku kuliah.
Inilah salah satu penghambat kreativitas, menurut saya.
Dalam hal ini, saya kira penulis-penulis yang bukan dari fakultas sastra (seperti saya), harus merasa bersyukur, karena tak perlu dihantui oleh teori sastra manapun.
Winter: Kalo boleh saya b'tanya disini... saya agak kesulitan memperoleh atau mengarahkan kalimat - kalimat dalam penulisan sebuah Novel, terutama saat beberapa orang harus terlibat dalam sebuah percakapan sembari melukiskan setting suasana atau keadaan sekitar. Bolehkah menuliskannya secara runtut ke bawah, tanpa menyertakan subjek penuturnya setelah dijelaskan sebelumnya, siapa saja yang terlibat didalam pembicaraan tsb....
Yoga Regawa Indra (regawa_i@yahoo.com) http://kopitozie.web.id Kalo saya punya tuisa da pegen dikirim kmn??? soalnya di kota saya Garut budaya baca sama menulis Acuuuur banget.
Meningkatkan budaya baca yang sudah sangat menghawatirkan di Kota kami ... Rangking 13 Buta Huruf, Rangking 2 Kabupaten Terkorup (... keyataannya rank 1 kayaknya), minta advice rekan-rekan, sy berniat bikin Warintek Gratis nih.
betul... dalam hal tertentu saya setuju dengan pendapat pak/mas bowo.
Beberapa waktu lalu, seorang teman penulis bercerita, banyak lulusan sastra Indonesia yang tidak berani menulis karya sastra. Sebab belum apa-apa mereka sudah "dihantui" oleh teori-teori sastra yang mereka dapatkan di bangku kuliah.
Inilah salah satu penghambat kreativitas, menurut saya.
Dalam hal ini, saya kira penulis-penulis yang bukan dari fakultas sastra (seperti saya), harus merasa bersyukur, karena tak perlu dihantui oleh teori sastra manapun.
Setuju bangeeeett!!
Saya begitu terheran-heran dengan sebagian kawan-kawan saya -sekaligus sebagian dosen-dosen saya-..Mereka mengaku di Sastra Indonesia, tapi diantara mereka jarang ada yang menulis sebuah karya sastra. Mereka cuma mempelajari teori-teori yang ada dan tidak mengaplikasikannya ke dalam karya...
Mungkin (saat ini) saya pun begitu...Tapi paling tidak saya sedang berusaha membuat karya..