Blog EntryTentang kebebasan dan ketidakbebasan penulisAug 9, '05 4:08 AM
for everyone
Saya (mungkin penulis-penulis lain juga) seringkali ditanya seperti ini (contoh):

- di dalam cerpen, boleh enggak menggunakan sudut pandang tokoh aku?
- boleh enggak, nulis cerpen lebih dari 12 halaman?
- satu bab novel itu, minimal berapa halaman?
- cerpen itu berapa halaman sih? Kalau novel berapa halaman?

Terus terang, ada yang mengganjal perasaan saya setiap kali mendengar atau membaca pertanyaan-pertanyaan seperti  ini. Kenapa? Sebab hal-hal seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari kebebasan penulis.

Karya sastra pada dasarnya adalah seni. Dan yang namanya seni, di dalamnya terdapat kebebasan yang sangat luas. Seorang penulis bebas sebebas-bebasnya untuk menulis dengan gaya apapun, dengan teknik apapun.

Bagi penulis yang telah memahami makna kebebasan tersebut, saya kira pertanyaan-pertanyaan seperti di atas tak perlu diajukan sama sekali. Semua itu adalah bagian dari kebebasan penulis. Jadi setiap penulis bebas-bebas saja menentukan sudut pandang, jumlah halaman, berapa halaman per bab, dan sebagainya.

Tapi memang, bukan berarti penulis tidak punya ikatan. Tentu ada hal-hal yang membatasi mereka dalam menghasilkan karya sastra.

Menurut pengalaman saya selama ini, hal-hal yang membatasi seorang penulis hanyalah yang seperti ini:

1. Batasan jumlah halaman yang ditetapkan oleh redaksi/penerbit.

Saya berpendapat bahwa - secara teori - tidak ada batasan yang jelas mengenai jumlah halaman novel atau cerpen. Kriteria cerpen seperti "ditulis sebanyak 6 sampai 12 halaman  kuarto ketik 1,5 spasi" dan sebagainya, sebenarnya hanyalah batasan yang ditetapkan oleh redaktur media/penerbitan tertentu. Kalau kita hendak mengirim tulisan ke media mereka, kita tentu harus mematuhi aturan ini.

Jadi, kalau ada pertanyaan, cerpen itu berapa halaman? jawabannya silahkan tanyakan ke media massa atau penerbitan. Merekalah yang membuat batasan-batasan seperti itu. Sementara secara teori, sebenarnya tidak ada batasan yang jelas.

Karena itu, saya cukup kagum pada majalah HORISON. Setahu saya, mereka tidak pernah membatasi jumlah halaman cerpen. Memang, sebagai majalah sastra, inilah sikap yang sebaiknya mereka ambil.

Dalam konteks ini, saya juga sebenarnya masih bingung tentang perbedaan antara novel dengan novelet. Secara substansi, apa sebenarnya bedanya? Yang saya tahu, perbedaan keduanya hanya dari segi jumlah halaman. Padahal jika kita melihat substansinya, sebenarnya novel dan novelet itu sama sekali tidak ada bedanya.

Baru-baru ini saya membaca cerpen "cinta laki-laki biasa" karya Asma Nadia. Dari segi jumlah halaman, ini adalah cerpen. Tapi dari segi substansinya, saya berpendapat bahwa ini adalah novel.

2. Batasan nilai, ideologi, dst yang kita yakini.

Setiap orang pasti punya ideologi atau keyakinan. Jadi karya sastra yang ditulis pasti dibatasi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh si penulis tersebut. Bahkan seorang penulis atheis sekali pun pasti punya batasan atas karya-karyanya. Misalnya: "karena saya atheis, maka saya tak akan membuat cerpen yang isinya menyinggung-nyinggung soal Tuhan". Nah, ini adalah salah satu contoh batasan.

3. Batasan segmentasi.

Misalnya: karena kita mengirim ke majalah remaja, maka mau tidak mau kita harus menulis cerita yang meremaja. Tentu aneh kalau kita mengirim cerpen bertema konflik rumah tangga ke majalalah BOBO.

4. Batasan prinsip atau aturan berbahasa, walau ini sangat relatif.

Kita tentu harus patuh pada EYD, pada aturan-aturan tentang kelaziman berbahasa, dan sebagainya.

Tapi dari pengalaman selama ini, hal ini sangatlah relatif. Kita bisa melihat fenomena teenlit dan chicklit. Menurut saya, mereka ini banyak sekali mengacaukan bahasa dan teori sastra. Toh nyatanya kedua jenis bacaan ini tetap laku.

Jadi, masalah aturan bahasa, menurut saya tidaklah terlalu strick. Ada batasan, tapi dilanggar pun tidak terlalu masalah. Yang penting  karya tersebut tetap enak dan indah untuk dibaca.

5. Batasan teori sastra, walau ini sangat relatif.

Novel saya, CINTA TAK TERLERAI, pernah dikritik seorang teman. Katanya, kok tidak sesuai dengan teori sastra? Duh, saya jadi berpikir, sebenarnya mana yang duluan lahir? Karya sastra atau teori sastra? Sepengetahuan saya, teori sastra justru dibuat berdasarkan contoh karya sastra yang telah ada. Teori sastra tak akan ada jika belum ada satu pun karya sastra yang dihasilkan di muka bumi ini.

Jadi, menurut hemat saya, memang teori sastra bisa menjadi batasan tersendiri di dalam penulisan  karya sastra. Tapi ini juga sangat relatif.

Bahkan, seorang penulis sangat berpeluang untuk menciptakan teori sastra baru lewat karya-karyanya. Contoh: Hilman dengan Lupus-nya. Saya kira, Lupus adalah contoh karya yang berhasil melahirkan teori sastra baru. Dan kini, banyak penulis - termasuk saya - yang suka meniru gaya Hilman.

*     *     *

Jadi, teman-teman penulis sekalian... marilah mulai sekarang kita sadari, bahwa kita punya kebebasan yang sangat besar di dalam berkarya. Memang ada batasan-batasan seperti yang diutarakan di atas. Tapi seperti dunia seni pada umumnya, semuanya sangat relatif. Yang paling penting di dalam karya seni adalah: INDAH DAN ENAK UNTUK DINIKMATI.

Mohon koreksinya jika ada yang keliru.

Jonru

15 CommentsChronological   Reverse   Threaded
nadnuts wrote on Aug 9, '05
jonru said
teori sastra
yang mana?
:D
jonru wrote on Aug 9, '05, edited on Aug 9, '05
nadnuts said
yang mana?
:D
Wah... saya bukan lulusan fakultas sastra, jadi saya tidak bisa menjabarkan teori-teorinya.

tapi ini contohnya:
kalau kita baca teenlit, di dalamnya banyak cerita/narasi yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Atau, ada juga teenlit yang ditulis dengan bahasa email.

Setahu saya, belum pernah ada teori sastra yang seperti ini. Karena itu, terlepas dari suka atau tidak suka, menurut saya teenlit pun telah berhasil melahirkan teori sastra baru :)
bowojogja wrote on Aug 9, '05
aku bukan (atau belum jadi) penulis sastra. yang aku tau dunia sastra itu ruang yang nyaris tanpa batas untuk imajinasi. teori sastra itu lahir untuk mengapresiasi sastra dan bukan sastra itu sendiri. sama seperti ilmu politik, dia adalah teori untuk memahami perilaku politik, tapi bukan politik itu sendiri.
jadi lupakan saja teori-teori sastra. dan biarkan imaji kita bebas...
jonru wrote on Aug 9, '05
jadi lupakan saja teori-teori sastra. dan biarkan imaji kita bebas...
betul...
dalam hal tertentu saya setuju dengan pendapat pak/mas bowo.

Beberapa waktu lalu, seorang teman penulis bercerita, banyak lulusan sastra Indonesia yang tidak berani menulis karya sastra. Sebab belum apa-apa mereka sudah "dihantui" oleh teori-teori sastra yang mereka dapatkan di bangku kuliah.

Inilah salah satu penghambat kreativitas, menurut saya.

Dalam hal ini, saya kira penulis-penulis yang bukan dari fakultas sastra (seperti saya), harus merasa bersyukur, karena tak perlu dihantui oleh teori sastra manapun.
herwina wrote on Aug 10, '05
Terimakasih Mas,
Masukan untuk modal menulis
jonru wrote on Aug 10, '05
herwina said
Terimakasih Mas,
Masukan untuk modal menulis
sama-sama mbak
moga bermanfaat :)
ayenx wrote on Aug 10, '05
kebebasa penulis? setuju kang...
memang menulis dalam mah satu persen teori, sisanya ..terserah anda.:D
jackreed wrote on Aug 15, '06
waaah makasih. bikin tambah semangat menulis! :)
pudjibas wrote on Oct 10, '06
Kira-kira dimana bisa mendapatkan kamus bahasa gaulnya e-mail atawa chatting...

Aa Plamoen
5aranghandamyeon wrote on Nov 10, '06
Winter:
Kalo boleh saya b'tanya disini... saya agak kesulitan memperoleh atau mengarahkan kalimat - kalimat dalam penulisan sebuah Novel, terutama saat beberapa orang harus terlibat dalam sebuah percakapan sembari melukiskan setting suasana atau keadaan sekitar. Bolehkah menuliskannya secara runtut ke bawah, tanpa menyertakan subjek penuturnya setelah dijelaskan sebelumnya, siapa saja yang terlibat didalam pembicaraan tsb....

THANX BNGEEEEEEET SEBELOMNYA.................
bmtgarut wrote on Nov 28, '06
Yoga Regawa Indra (regawa_i@yahoo.com) http://kopitozie.web.id
Kalo saya punya tuisa da pegen dikirim kmn??? soalnya di kota saya Garut budaya baca sama menulis Acuuuur banget.

bmtgarut wrote on Nov 28, '06
Meningkatkan budaya baca yang sudah sangat menghawatirkan di Kota kami ... Rangking 13 Buta Huruf, Rangking 2 Kabupaten Terkorup (... keyataannya rank 1 kayaknya), minta advice rekan-rekan, sy berniat bikin Warintek Gratis nih.
bmtgarut wrote on Feb 9, '07
wahhh pada kemana nih sepi bangeet
terbangkelangit wrote on Oct 7
Heheh, saya menjadikan teori sastra cuma sebagai alat, bukan rantai..
terbangkelangit wrote on Oct 7
jonru said
betul...
dalam hal tertentu saya setuju dengan pendapat pak/mas bowo.

Beberapa waktu lalu, seorang teman penulis bercerita, banyak lulusan sastra Indonesia yang tidak berani menulis karya sastra. Sebab belum apa-apa mereka sudah "dihantui" oleh teori-teori sastra yang mereka dapatkan di bangku kuliah.

Inilah salah satu penghambat kreativitas, menurut saya.

Dalam hal ini, saya kira penulis-penulis yang bukan dari fakultas sastra (seperti saya), harus merasa bersyukur, karena tak perlu dihantui oleh teori sastra manapun.
Setuju bangeeeett!!

Saya begitu terheran-heran dengan sebagian kawan-kawan saya -sekaligus sebagian dosen-dosen saya-..Mereka mengaku di Sastra Indonesia, tapi diantara mereka jarang ada yang menulis sebuah karya sastra. Mereka cuma mempelajari teori-teori yang ada dan tidak mengaplikasikannya ke dalam karya...

Mungkin (saat ini) saya pun begitu...Tapi paling tidak saya sedang berusaha membuat karya..
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help