Judul novel: Cinta Tak Terlerai
Penerbit: DAR! Mizan, Maret 2005
Harga jual: Rp 26.000
Jumlah halaman: 244
Ukuran: 11,5 X 17 cm
Seseorang yang berkuasa atas harta
dan tahta, belum tentu mendapatkan kasih sayang dan kebahagiaan yang
dirindukanya. Begitu pun perasaan Andika, seorang anak konglomerat.
Sepanjang hidup, Andika selalu
mencari kebahagiaan dari para kekasihnya. Namun, tak seorang pun yang
bertahan lama. Andika merasa jenuh dan tak menemukan kebahagiaan yang
dicarinya.
Suatu hari - di masa OPSPEK - ia
dan sahabatnya, Rudi, berbisnis pemotretan di kampus. Tanpa sengaja, ia
melihat foto Reywina. Foto itu pun dicurinya, dan... ia kembali jatuh
cinta!
Ternyata, cinta Andika tak
bertepuk sebelah tangan. Reywina bersedia menjadi kekasihnya. Saat
cinta menggelora, Reywina mengetahui siapa sesungguhnya Andika. Andika
kalut. Ia menculik dan menyekap Reywina!
Apa yang terjadi kemudian?
Novel pertama Jonru ini disampaikan dengan gaya bertutur "aku"an,
menghadirkan empat tokoh utama: Andika, Reywina, Rudi dan Pramita. Pada
setiap bab, masing-masing tokoh tampil sebagai "aku" secara bergantian.
Uniknya, di tengah cerita terselip sebuah "cerita tambahan" (disebut
"jeda cerita") yang cukup singkat, tak ada hubungannya dengan cerita
novel ini, tapi cukup asyik untuk dinikmati. Terdapat pula puisi-puisi
cinta dari tiga penulis: Gerimis Biru, Lian Kagura, dan Feli Alfalah.
Gaya bahasa pada novel ini juga lancar dan mudah dicerna. Coba simak kutipan berikut ini:
Sejak saat itu,
aku tak bisa lagi mencegah keakraban Andika dengan Reywina. Aku mencoba
ikhlas, sebab mustahil bagi seseorang untuk memenjarakan jiwa orang
lain. Kamu bisa memiliki fisik seseorang, membayarnya untuk melakukan
apa saja yang kamu mau, atau menjadikan tubuhnya budak nafsumu. Tapi
kamu tak akan pernah memiliki jiwa siapapun, walau dia adalah anak
kandungmu sendiri. (Pramita - halaman 134)
==============================
Laki-laki ini
persis Jaka Tarub yang mencuri selendang seorang bidadari. Ia kini
duduk di depanku dengan senyum yang amat sumringah. Barang curiannya
itu diperlihatkannya padaku; selembar foto berukuran 4R.
“Saya langsung jatuh cinta begitu melihat wajah di dalam foto itu,” ujarnya. “Apa saya salah?”
Aku tertawa
geli, foto itu kutatap lekat-lekat. Di situ ada wajah seorang gadis
cantik yang tersenyum tipis. Senyum yang amat memikat, menyertai
tatapan mata yang amat polos. Gadis itu mengenakan kemeja putih, rambut
dikepang dua dan diberi pita warna kuning di ujungnya. Di bagian bawah
foto terdapat tulisan yang cukup jelas: “OPSPEK Universitas Diponegoro,
Semarang, Agustus 2003”.
(Prolog, halaman 1)
salam kenal dari aceh. mungkin kalo cerita saya kurang suka awalnya karena saya lebih menjiwai puisi ketimbang cerita. tp setelah baca cerita nya mas jonru. saya jadi tertarik untuk menulis lagi. boleh kenal lebih jauh kan mas. ni email aq. akli_apko@plasa.com