Teman-teman... Saya memposting tulisan ini, hanya untuk arsip publikasi. Namun bila anda hendak menanggapi, dipersilahkan. Insya Allah masalah ini akan saya lanjutkan bila nanti sudah ada klarifikasi dari pihak Koran Tempo. Di bawah ini adalah email hak jawab yang tadi siang telah saya kirim ke redaksi Koran Tempo.
Terima kasih banyak Jonru
==========
Jakarta, 2 Mei 2008 Kepada: Yth. Redaksi “Ruang Baca” Koran Tempo di Tempat Perihal: Hak Jawab Assallamualaikum, Saya sangat terkejut ketika nama saya muncul pada tulisan “Karena Fiksi bukan Kutbah Jumat”, Ruang Baca Koran Tempo, edisi 49, April 2008, halaman 9. Berikut kutipannya: Penulis fiksi Islami yang kerap menjadi pembicara pada banyak diskusi bertema fiksi islami, Jonriah Ukur Ginting, atau yang lebih dikenal lewat nama penanya Jonru, melihat fiksi Islami menjadi lari dari cita-citanya semula, yakni sebagai bacaan alternatif untuk memenuhi kebutuhan ruhaniah. "Buku-buku fiksi Islami yang kemudian beredar tak lagi sarat makna tetapi hambar dan membosankan," kata penulis Kasih Tak Terlerai dan Cowok di Seberang Jendela ini. Pembaca tidak mendapatkan lagi pencerahan batin, tetapi sekadar hiburan yang tak begitu butuh ketajaman pikiran dan kedalaman rasa. Fiksi Islami tinggal sebatas komoditas. Karena itu, banyak penerbit yang sebelumnya mendukung, kini lebih berharap pada penerbitan nonfiksi atau kisah-kisah nyata. Jonru melihat keberadaan wakil penulis fiksi Islam Helvy Tiana Rosa di Dewan Kesenian Jakarta diharapkan bisa mendongkrak nasib fiksi Islam sehingga bisa diterima menjadi bagian dari sastra Indonesia. "Jika hendak disebut sebagai karya sasta, mau tidak mau fiksi Islam harus berkualitas, bernilai sastra dan estetika," katanya. "Untuk ukuran ini, mungkin baru Helvy, Asma, dan Habiburrahman yang bisa memenuhinya." Sayang, menurut Jonru, bahkan Ayat-Ayat Cinta pun tergelincir karena unsur romantismenya yang begitu dramatis sehingga hampir menjadi roman picisan. "Padahal dari sisi muatannya, intertekstualitas nilai-nilai Islam yang elok bisa menjadi representasi sastra Islam," katanya. Saya kaget karena saya merasa tidak pernah diwawancarai oleh Koran Tempo sehubungan dengan tema tulisan di atas. Dari mana asalnya kutipan dan pendapat Jonru di atas? Saya kemudian mempublish masalah ini ke sejumlah milis penulisan, dan alhamdulillah Mbak Dela dari Koran Tempo menelepon saya pada Senin pagi, 28 April 2008. Beliau berkata bahwa kutipan dan pendapat saya di atas diambil dari wawancara dengan saya sekitar enam bulan lalu. Tapi terus terang, saya tetap tidak merasa bahwa saya pernah diwawancarai seperti yang diucapkan oleh Mbak Dela tersebut. Ya, mungkin saja saya lupa, sebab itu memang salah satu sifat dasar manusia. Karena itu, bila wawancara tersebut memang benar-benar ada, mohon kiranya pihak Koran Tempo menunjukkan bukti otentiknya kepada saya, bisa dikirim via email ..... Saya tunggu paling lambat tanggal 15 Mei 2008. Namun bila pihak Koran Tempo tidak dapat menunjukkan bukti otentik tersebut hingga batas akhir tanggal 15 Mei 2008, dengan amat sangat saya memohon kesediaan Anda untuk meminta maaf secara terbuka kepada saya. Sebab kutipan tulisan di atas sedikit banyaknya telah mencemarkan nama baik saya. Permintaan maaf tersebut dapat dialamatkan ke email pribadi saya, yakni...., juga ke milis penulislepas, forum_lingkarpena, pasarbuku, klubsastra, dan jurnalisme. Ya, Anda bisa saja mengatakan bahwa bukti otentiknya tidak ada atau hilang, namun Anda masih merasa bahwa pernah mewawancarai saya. Bila ini terjadi, dengan menyesal saya katakan bahwa tak ada hal selain bukti otentik yang bisa membuat saya berubah sikap atas masalah ini. Saya ada rencana untuk melakukan klarifikasi atas kutipan/pendapat Jonru yang tercantum pada tulisan tersebut. Namun klarifikasi tersebut insya Allah hanya akan saya tulis/sampaikan berdasarkan bukti otentik yang Anda kirimkan kepada saya. Bila bukti otentik tersebut tidak ada, maka saya tetap pada pendirian bahwa Koran Tempo telah memuat wawancara imajiner dengan saya, sebuah tindakan yang jelas-jelas telah melanggar kode etik jurnalistik. Demikian dari saya. Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Terima kasih banyak atas perhatiannya. Wassallamualaikum, Tertanda, Jonriah Ukur (Jonru http://www.jonru.net 085217014194 / 021-98293326 NB:Agar masalahnya lebih jelas, berikut saya copy paste tulisan yang telah saya muat beberapa lalu di berbagai milis, sehubungan dengan kasus di atas.Ada "Hantu" Jonru di Koran TempoAhad pagi (27 April 2008), saya berangkat ke Banda Aceh untuk memenuhi Undangan Ranup Organizer. Saya akan dipanelkan dengan Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik, penulis novel best seller Ayat Ayat Cinta, dalam sebuah workshop penulisan. Di perjalanan, saya membeli Koran Tempo, dan cukup excited ketika melihat lembar khusus Ruang Baca hadir dengan headline "Merebaknya Fiksi Islam". Saya bahkan menyempatkan diri membuka laptop di bandara, online sebentar, lalu mengirim email ke beberapa milis penulisan dengan judul "Sastra Islami @ Ruang Baca Koran Tempo, MInggu 27 April 2008". Tapi kegembiraan saya langsung hilang ketika beberapa menit kemudian, saya membaca kutipan berikut di halaman 9:=== awal kutipan === Penulis fiksi Islami yang kerap menjadi pembicara pada banyak diskusi bertema fiksi islami, Jonriah Ukur Ginting, atau yang lebih dikenal lewat nama penanya Jonru, melihat fiksi Islami menjadi lari dari cita-citanya semula, yakni sebagai bacaan alternatif untuk memenuhi kebutuhan ruhaniah. "Buku-buku fiksi Islami yang kemudian beredar tak lagi sarat manka tetapi hambar dan membosankan," kata penulis Kasih Tak Terlerai dan Cowok di Seberang Jendela ini. Pembaca tidak mendapatkan lagi pencerahan batin, tetapi sekadar hiburan yang tak begitu butuh ketajaman pikiran dan kedalaman rasa. Fiksi Islami tinggal sebatas komoditas. Karena itu, banyak penerbit yang sebelumnya mendukung, kini lebih berharap pada penerbitan nonfiksi atau kisah-kisah nyata. Jonru melihat keberadaan wakil penulis fiksi Islam Helvy Tiana Rosa di Dewan Kesenian Jakarta diharapkan bisa mendongkrak nasib fiksi Islam sehingga bisa diterima menjadi bagian dari sastra Indonesia. "Jika hendak disebut sebagai karya sasta, mau tidak mau fiksi Islam harus berkualitas, bernilai sastra dan estetika," katanya. "Untuk ukuran ini, mungkin baru Helvy, Asma, dan Habiburrahman yang bisa memenuhinya." Sayang, menurut Jonru, bahkan Ayat-Ayat Cinta pun tergelincir karena unsur romantismenya yang begitu dramatis sehingga hampir menjadi roman picisan. "Padahal dari sisi muatannya, intertekstualitas nilai-nilai Ialam yang elok bisa menjadi representasi sastra Islam," katanya. === akhir kutipan ===Ya Allah....Apakah saya sedang mimpi?Kapan Koran Tempo mewawancarai saya?Kenapa mereka memuat ucapan bahkan opini yang seolah-olah dari saya, padahal itu bukan dari saya? Demi Allah, saya berani bersumpah: Saya sama sekali tidak pernah diwawancarai oleh Koran Tempo.Seketika saya gusar. Kejengkelan saya sudah di ubun-ubun. Terlebih karena dalam kutipan-kutipan di atas, jelas-jelas "jonru" menyerang Ayat Ayat Cinta dan sastra Islam secara umum. Ya, selama ini saya memang banyak bersikap kritis mengenai sastra Islam. Saya pernah menulis "Ayat Ayat Cinta bukan Kitab Suci". Tapi saya melakukan semua itu justru karena rasa cinta saya pada FLP, pada sastra Islam, pada Ayat-Ayat Cinta. Saya ingin agar sastra Islam semakin maju, semakin berkualitas, bukan sebaliknya. Oke, kalaupun misalnya (ini hanya misalnya lho....) ucapan dan opini "jonru" di atas benar-benar saya tulis di blog saya atau di milis-milis, lalu itu diambil oleh wartawan Koran Tempo, saya berpendapat bahwa itu sangat tidak etis dan melanggar etika jurnalistik, karena si wartawan langsung mengutipnya tanpa pernah mewawancarai saya, tanpa pernah konfirmasi pada saya. Faktanya, banyak kutipan di atas yang justru tak pernah saya ucapkan, dan tak sesuai dengan data saya yang sebenarnya.Berikut adalah dua data pada kutipan di atas yang tidak sesuai dengan diri saya: 1. "Penulis fiksi Islami yang kerap menjadi pembicara pada banyak diskusi bertema fiksi islami" ==> Selama ini, saya belum pernah secara khusus menjadi pembicara untuk seminar atau workshop bertema fiksi islami. 2. "kata penulis Kasih Tak Terlerai..." ==> Buku saya berjudul "Cinta Tak Terlerai", bukan seperti yang mereka tulis itu.Saya benar-benar heran, bagaimana mungkin koran sebesar dan semegah Koran Tempo bisa gegabah seperti itu? Apakah Anda sudah kehabisan nara sumber?Apakah Anda bingung harus mewawancarai siapa lagi?Wahai Koran Tempo Terhormat, terus terang saya SANGAT KECEWA pada Anda!Kutipan di atas jelas-jelas mengisyaratkan bahwa saya menyerang sasta Islam, saya menyerang Kang Abik. Sahabat saya Satriyo yang belum memahami masalah ini, sampai mengirimi saya SMS: "Asw. Jonru, sudah liat Ruang Baca Koran Tempo hari ini? Memang antum benar turut berpendpt bhw sastra islam tdk bermutu?"Lemaslah saya seketika. "Peperangan dimulai!" bisik saya di dalam hati. Kutipan di atas jelas-jelas memposisikan saya sebagai "orang luar" yang menyerang FLP dan sastra Islam" tanpa tedeng aling-aling. * * *Alhamdulillah... jam 9 pagi saya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, dan bertemu langsung dengan Kang Abik. Sungguh surprise ketika dia langsung berkomentar sebelum saya bicara, "Saya tahu itu bukan antum. Tenang saja Mas Jonru." Seketika saya terharu. Sebelumnya saya sempat khawatir bila Kang Abik "termakan" oleh kutipan Koran Tempo itu, lalu di hatinya timbul perasaan tidak suka terhadap saya. Namun ucapan dia benar-benar melegakan saya, benar-benar membuat saya bahagia dan tak gusar lagi. Saya merasa mendapat dukungan yang amat besar dari orang yang "diserang oleh Jonru" tersebut. Hari itu, 27 April 2008, adalah untuk pertama kalinya saya bertemu Kang Abik. Saya terpesona oleh pribadi dia yang sangat bijaksana, rendah hati, namun sarat oleh ilmu. Saya merasa perlu banyak belajar dari Kang Abik. Peristiwa ASAL KUTIP ala Koran Tempo tersebut pun, insya Allah menjadi pelajaran yang amat berharga bagi saya. Saya seketika sadar, bahwa mulai sekarang saya harus lebih hati-hati bila ingin menulis apapun dan membicarakan apapun. Kepada pihak Koran Tempo, saya minta klarifikasi Anda atas masalah ini. Sebab saya percaya bahwa tindakan Anda ini jelas-jelas telah melanggar kode etik jurnalistik.Dari kamar wisma Diana Banda Aceh,28 April 2008 Jonru
 | hmm, dah dimuat di Tempo mas? |
 | hmm, semoga jadi pelajaran buat kita semua, terutama saya dan teman teman lain yang terlibat di dunia jurnalistik. |
 | Wah rame, semoga diberi jalan Allah yang terbaik :) |
 | semoga diberi kemudahan om.....:) |
 | waaah... emang kelihatan imajiner, deh. dari kalimat-kalimatnya, bukan bahasa bang jonru banget. penulisnya sudah kelewatan!!!
maju terus, bang... saya dukung! |
 | atau mungkin.. wartawannya menyimpulkan dari 'dialog2' bang jonru baik di MP maupun di milis, baik itu postingan maupun reply-an dan semua kata2 orang lain yg di"Ya" atau "Tidak"kan oleh bang jonru waktu membahas novel tsb. |
 | kok bisa begitu ya, mas? smoga smuanya jadi jelas |
 | gak semua orang bisa atau mau maju untuk membela HAKnya... saya dukung mas, buat membuktikan kebenaran... inshaAllah kasusnya bisa selesay dengan baik ya... |
 | Semoga diberi kekuatan selalu |
 | wah... kok jd runyam begini ya... smoga bisa terselesaikan dengan baik... :) |
 | waduh...semoga Allah menunjukkan kebenaran ya, mas. terus berkarya! |
 | Tetap dengan kepala dingin mas mekanisme hak jawab sepatutnya digunakan ..dan tempo wajib mengakomodasi hak jawab itu (kata-kata dibalas kata-kata) |
 | sebentar lagi bang jonru jadi tambah terkenal... ^_^ |
 | ck ck... tempo tempo...
tempo-tempo bagus.. tempo-tempo parah....
smangad bang jon! uhuii!! ^_^ |
 | mudah2an ada hikmahnya ya pak... |
 | Aduhhhhhhhhhh! Kacau banget yak :-( Mudahan masalahnya bisa segera terselesaikan ya Mas :-) |
 | Koran sebesar Tempo bisa ngutip serampangan juga ya. Semoga cepat dapat titik terang deh Mas |
 | habis ini koran tempo jadi down dech..smonya bapak maju teruus...;) |
 | tuntut aja om kalau mereka kagak memberi klarifikasi dan meminta maaf...
mudah-mudahan ada hikmahnya om.. |
 | Oh ya...
ngomong-ngomong om kenal kagak dengan orang yang bernama Della itu ? atau om cari tahu siapa orangnya yang mewancacarai om, apakah om mengenalnya ?
mudah-mudahan masalah ini tidak ada kaitannya dengan visi dan misi om deh.. |
 | Sekaliber koran tempo seharusnya tidak menggampangkan masalah, apalagi kalau sampai punya fikiran wawancara imaginer toh meningkatkan pamor dan dimaklumi oleh pihak yg terkait.... Sebagai pembelajaran ingatkan terus mengenai dateline tanggal 15 mei 2008 itu bung jonru terlepas anda dirugikan atau tidak. Harapan saya tetap penyelesaian dengan baik dan tidak perlu emosi, mungkin bangsa ini memang masih perlu belajar lebih lama lagi. |
 | Pak, saran saya, anda harus segera mengirimkan surat protes atau keberatan atau menggunakan hak jawab anda secara tertulis kepada Tempo. Ini yang pertama harus anda lakukan. Tempo tidak akan pernah tahu keberatan anda, bila anda tidak menyampaikan protes secara resmi.Kalopun tahu, itu hanya dari postingan milis-milis. Selamat berjuang!!! Jangan sampai ditunggangi pihak ketiga yang ingin merusak hubungan anda dengan pers Indonesia. |
 | Mas Jonru, sy turut prihatin dg apa yg menimpa njenengan. ternyata sekarang sasaran 'ngawur' pers itu nggak cuman selebritis, tapi penulis juga. atau jangan2 karena mas jonru sudah jadi selebritis? hehehe:) sabar ya mas, mudah2an segera ada penyelesaian yg terbaik. saat ini sy dn ada penulis lainnya yg jg terganggu dgn bbrp ulasan kawan2 jurnalis yg kurang sesuai dgn kenyataan. kami msh coba minta klarifikasi dgn ralat sblm nanti posting di milis. Selamat berjuang. |
 | Semua kejadian pasti ada hikmahnya mas.... ^_^ |
 | smoga smua jadi jelas ya, Mas, tetap semangat |
 | Ada Hikmah di balik bencana.. Pak Jonru ketemu Kang Abik... Moga sabar ya pak... |
 | Jika benar yang anda alami, saya juga heran, kenapa Tempo bisa seperti itu... Saya sebagai jurnalis turut sedih dan berduka cita. Dan hal yang sama juga pernah dialami teman saya di Batam. Menulis berita tanpa ada konfirmasi. Ternyata berbuntut panjang. Tetapi media tersebut langsung memberikan klarifikasi dan hak jawab. Kita tunggu aksi Tempo?
|
 | tetap semangat ya, bang Jonru... sebenarnya kami beruntung ada bang Jonru yang mau berbagi tips-2, pengalaman dan ilmu-2 kepenulisan... |
 | Om, klo smp tgl 15Mei ndak di respon sama Tempo trus mau gimana? Semua orang di Indonesia harus taat pada hukum, makanya sedikit banyak harus juga belajar hukum. Klo ndak di respon (berarti Tempo ga berniat menyelesaikan dengan cara musyawarah), tuntut aja lewat hukum, Om!! Pencemaran nama baik itu pasal berapa yah? Ada yang bisa bantu Om Jonru cari pengacara yang 'gratis' (klo bisa)? :)) Klo tuntutannya menang, kan bisa untuk membiayai sekolah penulis online supaya jadi gratis... :)) Sing sabar yo, Om. Orang sabar disayang Allah SWT... |
 | semoga menjadi pembelajaran untuk masa yang akan datang. "semakin berisi padi, semakin menunduklah ia" |
 | Berarti kata-kata Om Jonru semakin diperhatikan banyak orang..
kalau begitu Om Jonro harus lebih berhati-hati deh baik itu dalam ucapan maupun tindakan keseharian, karena om sudah menjadi salah satu sosok yang diperhatikan banyak orang segala tindak tanduknya |
 | Maju terus sastra Islam, perjuangkan kebenaran. Saya dukung Anda, Bung Jonru. |
 | Ambil aja hikmahnya, gitu aja kok repot... |
 | lho kok bisa bgitu ya? parah.. |
 | Hahaa....semua ada kilafnya..Tapi jangan menghakimi dulu..mungkin saja Mas Jonru juga ada kilafnya...1,5 tahun yang lalu itu cukup lama...
Coba Mas Jonru ingat-ingat lagi apakah pernah mengasih komentar tentang apapun juga kepada Tempo atau gak? Kalau pernah saya yakin, mungkin Mas pernah juga kasih komen ttg itu (mungkin Mas kilaf tidak ingat semuanya) hanya mungkin tidak semua komen itu dari Mas..Jadi kalo Mas bilang Tempo gak pernah wawancara Mas bisa jadi salah di Mas (kalo ternyata pernah beberapa kali di wawancara) hanya ya mungkin, Tempo terlalu mendeskripsikan tulisan Mas ke arah yang lain...
Marilah kedua belah pihak melihat lagi ke masa lalunya... |
 | Saya mengutip: 1. "Ya, selama ini saya memang banyak bersikap kritis mengenai sastra Islam. Saya pernah menulis "Ayat Ayat Cinta bukan Kitab Suci". Tapi saya melakukan semua itu justru karena rasa cinta saya pada FLP, pada sastra Islam, pada Ayat-Ayat Cinta. Saya ingin agar sastra Islam semakin maju, semakin berkualitas, bukan sebaliknya."
2. "Asw. Jonru, sudah liat Ruang Baca Koran Tempo hari ini? Memang antum benar turut berpendpt bhw sastra islam tdk bermutu?"
Kedua kutipan itu terlalu berlebihan saya rasa jika haris disandingkan dengan apa yang diterbitkan Koran Tempo (saya tidak tahu selengkapnya). Karena Tempo sepertinya tidak mengindikasikan kalau Mas Jonru menganggap sastra Islam tidak bermutu, malah yang saya tangkap sebaliknya kalau Tempo memberikan ruang baca kepada Mas untuk menyatakan bagaimana sebaiknya sastra Islam kedepannya.
Lagian pernyataan Mas yang mengatakan merusak nama baik karena dianggap menyerang sastra Islam, bukankah sebaliknya. Mas di dalam tulisan itu berusaha mengangkat sastra Islam. Mengkrititk yang ada dan mengusulkan sebaiknya gimana. Yah, sama seperti kutipan di nomor satu, jelas Mas mengaku sedikit kritis karena ingin membangun sastra Islam.
Jadi bingung..?!?!?!?!?!! |
| |