Di luar dugaan, tanggal 14 Maret 2008 saya sudah menonton film Ayat Ayat Cinta (AAC), melalui proses yang sangat mendadak, sampai-sampai saya sulit menceritakan kronologisnya.

Yang jelas begini:

Saya tahu banyak orang yang kecewa terhadap film ini. Karena itu, sejak awal, jauh sebelum film ini diputar di bioskop, saya sudah menulis artikel tentang "Tiga Bekal Sebelum Menonton Film Ayat Ayat Cinta ." Tentu, saya pun harus mempraktekkan ketiga bekal tersebut sebelum menonton.

Hasilnya, alhamdulillah saya tidak kecewa. Ketika Fahri dan Aisha pada film ini berbeda dengan Fahri dan Aisha versi novelnya, saya menganggap itu wajar-wajar saja.

Pada novel, Fahri ditampilkan sebagai sosok "ikhwah"(*) yang sangat sempurna. Tapi di film, Fahri cenderung emosional dan - setuju dengan pendapat Asma Nadia - sikapnya seperti suami takut istri.  Fahri versi novel yang sangat pintar dalam ilmu agama, menjadi terlihat bego ketika ia - pada versi film - digurui oleh sahabatnya Saiful mengenai ta'aruf.

Sementara Aisha versi film terlihat sebagai sosok yang kontradiktif:

Di satu sisi dia lebih banyak terlihat sebagai seorang istri pecemburu dan dominan dalam keluarga. Ia judes dan jauh dari bijaksana. Kegusarannya ketika menyadari "saya belum kenal siapa suami saya" dan mengobrak-abrik koleksi buku Fahri, adalah sikap yang sangat mengherankan bagi kalangan "ikhwah"(*). Dengan kata lain, pada sisi ini Aisha terlihat sebagai seorang perempuan yang hidupnya masih jauh dari nilai-nilai Islam.

Tapi ketika Aisha terlihat rela dan lapang dada, mengizinkan suaminya menikah lagi dengan Maria, di sisi inilah saya melihat keteguhan hati seorang muslimah sejati. Aisha terlihat amat memahami dan menjiwai nilai-nilai Islam yang sebenarnya.

Dari segi "teori" cerita fiksi, karakter Aisha yang kontradiktif ini terlihat SANGAT ANEH. Dan inilah menurut saya salah satu "kesalahan utama" film AAC.

Menurut Mas Akmal, satu-satunya tokoh di film AAC yang mirip dengan tokoh versi novel adalah Maria. Saya setuju! Tapi Noura dan Nurul versi film - menurut saya - juga tak kalah mirip dengan versi novelnya.

Sayangnya, perhatian penonton "kalangan ikhwah"(*) justru tertuju pada sosok Fahri dan Aisha, sebab kedua tokoh inilah yang paling "gue banget" bagi mereka. Jadi ketika Fahri dan Aisha ditampilkan sebagai tokoh yang "lebih manusiawi", sosok yang tidak sesuai dengan "karakter ikhwah sejati"(*), saya menemukan alasan kenapa banyak orang yang kecewa bahkan memprotes film ini sebagai produk yang menghina Islam!

Saya bisa memaklumi "kemarahan" seperti itu. Tapi di sisi lain, saya juga menyayangkan karena "kemarahan" tersebut sepertinya menunjukkan sikap yang kurang bisa memahami proses kreatif di balik pembuatan film AAC.

Film ini dibuat oleh seseorang yang sepertinya (maaf bila keliru) belum pernah "bersentuhan" dengan "kalangan ikhwah"(*). Jadi bila Mas Hanung menghadirkan Fahri dan Aisha versi film sesuai dengan persepsi dia yang "kurang tepat" mengenai "sosok ikhwah sejati"(*), saya kira itu wajar-wajar saja. Mungkin demikianlah persepsi Mas Hanung terhadap "orang Islam yang alim". Itu juga mungkin sebuah upaya Mas Hanung untuk membuat Fahri dan Aisha sebagai sosok yang lebih manusiawi.

Jadi, itu bukan sebuah upaya untuk menghina Islam, saya kira. Bagaimanapun, Mas Hanung juga seorang muslim, dan Habiburrahman El Shirazy selaku penulis novel AAC juga dilibatkan dalam proses pembuatan film ini. Mustahil rasanya bila mereka berdua berniat membuat film yang isinya menghina Islam.

* * *

Saya berpendapat bahwa ketika sebuah novel diangkat menjadi film, seharusnya si sutradara menerjemahkan novel tersebut berdasarkan sudut pandang yang unik, sesuai persepsi dia mengenai novel tersebut. Dalam hal ini, saya kira Mas Hanung sudah cukup berhasil.

Dalam persepsi saya (maaf bila keliru), tema atau sudut pandang yang diangkat pada film AAC ini adalah tentang jodoh. Dialog paling penting adalah ketika Fahri dan Maria berbincang di Sungai Nil, dan dialog ini dipertegas kembali di bagian ending:

"Kamu percaya pada jodoh, Fahri?"

"Ya, setiap orang memiliki…."

"... jodohnya masing-masing. Itu yang sering kamu ucapkan, bukan?"'

Mereka juga bercerita bahwa Sungai Nil dan Mesir adalah jodoh. Di bagian ending, Fahri menganalogikan dirinya sebagai Mesir dan Maria adalah Sungai Nil. "Kamu telah menemukan jodohmu, Maria."

Dialog-dialog ini tentu saja tidak terdapat pada novel AAC. Saya kira, ini adalah salah satu upaya Mas Hanung untuk mempertegas sudut pandang dan tema utama tentang jodoh yang hendak ia tonjolkan. Bagi saya, ini sah-sah saja bahkan sangat bagus. Sebab film yang diangkat dari novel memang harus dibuat dengan pendekatan dan sudut pandangan yang berbeda dari "produk aslinya". Jangan sampai muncul kesan bahwa film tak lebih dari sekadar ringkasan si novel. Bagaimanapun film dan novel adalah dua produk yang sangat jauh berbeda.

Dengan sudut pandang dan tema utama unik yang diangkat oleh Mas Hanung, saya berpendapat bahwa tokoh sentral pada film AAC hanya dua orang. Seandainya terjadi sebuah keadaan yang sangat darurat, di mana Mas Hanung dan timnya terpaksa hanya menghadirkan DUA tokoh saja di dalam film ini, maka kedua tokoh itu adalah Fahri dan Maria. Sebab mereka adalah tokoh paling penting dan paling berperan dalam KEUTUHAN CERITA film ini.

Bahkan pernikahan Fahri dengan Aisha, juga tindakan Noura yang memfitnah Fahri, merupakan unsur-unsur yang memperkuat hubungan Fahri dengan Maria. Seperti yang kita saksikan bersama, kejadian-kejadian yang dialami Fahri bersama Aisha dan Noura adalah kejadian-kejadian yang pada akhirnya mempersatukan Fahri dan Maria di dalam pernikahan.

Ya, demikianlah persepsi saya setelah menyaksikan film AAC. Jika memang benar Mas Hanung mengambil sudut pandang seperti yang saya ceritakan, maka saya angkat topi pada dia. Mas Hanung telah berhasil menyajikan film AAC dengan sudut pandang dan persepsi yang benar-benar berbeda dibanding novelnya.

Saya telah berusaha semaksimal mungkin untuk meng-amnesia-kan diri dari novel AAC sebelum menonton film ini, sesuai anjuran yang pernah saya tulis . Maka alhamdulillah saya akhirnya bisa melihat film ini sebagai sebuah produk yang tidak ada kaitan apapun dengan novelnya. Dengan cara ini, saya tidak sampai kecewa dan marah-marah ketika melihat banyak hal pada film ini yang JAUH BERBEDA dengan versi novelnya.

* * *

Awalnya, saya heran atas adegan tambahan mengenai "aktivitas poligami" di rumah Aisha, persaingan kedua istri untuk merebut perhatian Fahri, dan rasa cemburu Aisha yang membuat dia memutuskan untuk pergi ke Turki.

Sesuai pendapat yang tersaji di atas, saya tidak mempermasalahkan bila ada "adegan tambahan" pada film yang tidak terdapat pada novelnya. Itu sah-sah saja, sebab itu mungkin bagian dari persepsi dan sudut pandang subjektif si sutradara.

Tapi, dengan wawasan perfilman saya yang sangat minim, AWALNYA saya melihat bahwa adegan-adegan tersebut tidak penting. Tapi kemudian saya berubah pikiran. Mungkin lewat adegan-adegan tambahan ini, Mas Hanung ingin lebih mempertegas sudut pandang dan tema utama tentang perjodohan Fahri dan Maria. Adegan-adegan inilah yang akhirnya menghadirkan sebuah ucapan penting Maria, "Sekarang saya baru sadar, ternyata 'cinta' dan 'keinginan untuk memiliki' adalah dua hal yang berbeda."

* * *

Dengan sudut pandang dan persepsi Mas Hanung yang benar-benar berbeda dari versi novelnya, saya setuju bahwa film AAC lebih terkesan sebagai film "drama percintaan". Jadi sangat tepat ucapan yang pernah dilontarkan Mas Hanung, "Film AAC akan seperti Heart. Bedanya, pada AAC banyak muncul sosok perempuan berjilbab."

Lantas, di manakah letak "Islam" pada film ini?

Menurut saya, Islam pada film AAC lebih banyak terlihat pada unsur-unsur:

  • simbolis (jilbab, cadar, baju koko, pengajian, ucapan "Assallamualaikum"),
  • dialog antara Fahri dengan Alicia tentang posisi perempuan dalam Islam,
  • adegan poligami yang benar-benar menyentuh dan berakhir dengan happy ending,
  • pertengkaran di kereta api,
  • adegan ketika Maria memuji Islam lewat buku hariannya,
  • adegan ketika Maria meninggal dunia dalam keadaan sedang shalat,
  • proses ta'aruf antara Fahri dengan Aisha,
  • dan beberapa adegan lainnya.

Namun, menurut saya, adegan-adegan di atas bukanlah RUH UTAMA dari film ini. Ruh utamanya tetaplah masalah perjodohan dan hubungan unik antara Fahri dengan Maria.

Jadi bagi Anda para "ikhwah"(*) yang kecewa terhadap film ini, saya bisa maklum sekarang. Agar kekecewaan Anda berkurang bahkan hilang, saran saya berhentilah menganggap bahwa film AAC adalah film yang mengusung dakwah Islam. Memang ada dakwah di dalamnya, tapi itu bukan "jualan utama" film ini. Unsur dakwah pada film AAC hanya semacam "bonus tambahan" ketika kita membeli sebuah produk.

Cilangkap, 14 Maret 2008

Jonru

NB:

  1. (*) Sejujurnya, saya menggunakan istilah ikhwah hanya demi kepentingan praktis belaka. Saya berpendapat bahwa "ikhwah" bukanlah istilah yang ditujukan khusus bagi kalangan "harokah" tertentu. Istilah ini memiliki pengertian yang jauh lebih luas. Namun, saya dengan amat terpaksa "ikut arus", mengikuti salah kaprah yang selama ini sudah sangat kronis mengenai istilah "ikhwah", hanya demi tujuan praktis dan pragmatis belaka. Harap maklum.
  2. Banyak teman yang merasa heran pada karakter "pria di penjara" yang berwajah seram dan terlihat bejat, tapi sangat fasih ketika menasehati Fahri, seolah-olah dia adalah seorang ulama kondang. Bila si pria ini adalah orang Indonesia dan setting film ini memang di Tanah Air, terus terang saya juga sangat heran. Tapi si pria ini adalah orang Mesir, maka saya menemukan konteks yang masuk akal atas "keanehan" dia. Dari novel AAC, saya mendapat kesimpulan bahwa masyarakat Mesir memang punya karakter seperti itu; sebejat apapun, mereka tetap fasih dalam menyuarakan nilai-nilai Islam.
  3. Saya terus terang sangat terganggu oleh ucapan "Assallamualaikum" dari Maria dan Alicia, lalu dengan amat konyolnya disahut "waalaikumsalam" oleh Fahri dan teman-teman satu asramanya. Para mahasiswa Al Azhar ini seharusnya sangat paham akan ajaran Islam. Jadi mereka seharusnya tahu bagaimana cara yang baik dan benar dalam menyahut ucapan "Assallamualaikum" dari nonmuslim.
  4. Dari semua ulasan film AAC yang pernah saya baca, saya berpendapat bahwa tulisan Imponk termasuk ulasan yang cukup baik, fair, dan membuat saya mengangguk-angguk setuju.


45 CommentsChronological   Reverse   Threaded
akunovi wrote on Mar 14
salah satu review lagi...dari film AAC...

tfs...reviewnya tidak terlalu tajam, tapi kritis... :D (lho kenapa ini jadi menilai review-nya, ya, hehe)

abhicom2001 wrote on Mar 14
ya saya setuju reviewenya...jonru sekali :D
iwananashaya wrote on Mar 14
syukron katsir, Pak.. :)
Ya, kemarin2 sy termasuk orang yang kebakaran jenggot (meski tdk punya jenggot). Pingin menguliti habis sampe sedetail-detailnya secara bijaksana. Tapi yang keluar di postingan MP justru emosi sy yang meledak-ledak. Alhamdulillah ada yg mengingatkan. Akhirnya tulisan sy delete. :)

Ya, ya, positive thinking saja. Semua butuh proses.
Islam itu indah, akhlak muslim itu mulia... :)
artoflove wrote on Mar 14
Belum lihat AAC? Silahkan Download gratis: http://artoflove.multiply.com/journal/item/3/Download_Gratis_Film_Ayat-Ayat_Cinta

always love every day
bearahmat wrote on Mar 14
begitu juga dengan pendapat kami di kost2an... tokoh fahri tidak menonjol, kejadian di Trem yang seharusnya berakhir dengan happy antara warga mesir dan fahri malah berakhir dengan pemukulan,.. tokoh fahri sangat lemah ditambah waktu makan malam bareng Maria dan Ibunya,... Aisha membayar pake credit card ? hmm...

akting yang paling saya sukai adalah Maria,.... keren banget
radityopw wrote on Mar 14
menurut saya, yang ada di film lebih realisitis mengingat tipe dan karakter orang di indonesia..(misalnya istri yang cemburuan, suami yang takut istri dan lain sebagainya dan bahkan kejadian pemukulan di trem itu menurut saya sangat realistis) hehehe
bagi saya, seni di film dan di novel memang harus berbeda..
karena pembaca novel dapat menggambarkan sesuatu yang dia baca sesuai keinginannya / imajinasinya
sedangkan penonton film hanya dapat menerima imajinasi sang creator film saja...
sikathabis wrote on Mar 14
tak link yah om
uchie07 wrote on Mar 14
hehhehehehheh... syukron waktu itu bener2 amnesia sama novelnya.. jadi ga ngerasa rugi tuh.. malah jadi tambah semangat hehheheh... Toh film itu untuk dinikmati bukan untuk difikirkan sama ngganya sama novel.. kalo mo mikir ya bener kata mas, jangan ditonton atuhhh
radityopw wrote on Mar 14
jonru said
Namun, menurut saya, adegan-adegan di atas bukanlah RUH UTAMA dari film ini. Ruh utamanya tetaplah masalah perjodohan dan hubungan unik antara Fahri dengan Maria.
menurut saya RUH nya film ini adalah pesan ikhlas,pasrah

seperti pada adegan antara fahri dan orang di penjara dimana fahri telah kehilangan semuanya, atau sulitnya aisya dalam menerima poligami yang terjadi, dan sadarnya maria mengenai bedanya rasa cinta dan rasa ingin memiliki

nb : ulasan yang bagus bang Jonru.... lanjut bang
tianarief wrote on Mar 14, edited on Mar 14
iya setuju. tp aku salut pada hanung --yang menurutnya-- sudah mempertahankan adegan mengaji, ketika produsernya bilang, itu adegan membosankan. :D
luvhoney wrote on Mar 14
untunglah,sy jg ga terlalu memiliki ekspetasi berlebihan terhadap film AAC ini. jadi pingin nonton pun tidak (malu euy ke bioskop),cuman liat trailerny aj di internet...
sisi positifny lg,byk anak muda,remaja gaul yg akhirny penasaran pgn baca versi novelny jg(yg mnurut sy,'ngikhwah' bgt)...bagus kan klo ky gtu..
(cmn heran aj,ad ustd.di blogny yg bilang film AAC,LBih membahayakn dri film porno??)
hmm..wallaahu a'lam..
amoebasterix wrote on Mar 14
hmmm..
sebagai orang yg blm baca novelnya dan nonton filmnya sampai habis {nontonnya di iPod, sambil makan, di mobil, (maaf) poop} saya lihat film ini cukup bagus, namun memang terdapat beberapa kejanggalan dimata saya, setuju dengan bang jonru. Ketika Fahri dinasehati oleh temannya tentang taaruf, jawaban wa'alaikumsalam dr Fahri ketika Maria mengucapkan assalamu'alaikum, yg terutama sih segi bahasa.... kadang bahasa arab, dan tiba" langsung bahasa Indonesia. sebenernya sih itu yg sangat mengganggu saya... heuheuheu..
amujoko wrote on Mar 14
Ikut nge-link Bang...!
yunce wrote on Mar 14
Penilaian yg ok mas.... Jelas bgt hanung bukan hizburachman... Segment antara novel ma film jg bd... Ada perluasan segmen novel yg semula utk media dakwah bg muslim tryata cukup menarik bg semua termasuk kalangan non muslim shg dalam film yg notabene merengkuh kesuksesan laris manisnya novel dibuat dg segmen yg lbh luas mengikuti permintaan pasar yg skrg
reipras94 wrote on Mar 14
belon nontooonnnnnn....................:D
omhanif wrote on Mar 14
yg masih jadi pertanyaanku.
saat fahri, aisa dan maria sholat berjamaah.
aisa tetep memakai cadarnya.
padahal setahuku, saat sholat, cadar harus dilepas.
zenstrive wrote on Mar 14
saya tetep jijik sama judulnya "Ayat-ayat Cinta"

murahan banget.....

sorry ye...tapi gak ada yang lebih baik gitu?

Seperti "Cinta Muara Nil" atau "Langit Cinta Padang Pasir" ?

Karena itu lah saya tidak mau nonton ini film...
thinkthing wrote on Mar 15
yang bikin mengecewakan itu faktor produsernya tampaknya...
novrianti wrote on Mar 15
Terima kasih review film AAC, menarik sekali. Mohon ijin mas, setidaknya ada point2 menarik yang aku cuplik.
towet wrote on Mar 15
jonru said
Jadi bagi Anda para "ikhwah"(*) yang kecewa terhadap film ini, saya bisa maklum sekarang. Agar kekecewaan Anda berkurang bahkan hilang, saran saya berhentilah menganggap bahwa film AAC adalah film yang mengusung dakwah Islam. Memang ada dakwah di dalamnya, tapi itu bukan "jualan utama" film ini. Unsur dakwah pada film AAC hanya semacam "bonus tambahan" ketika kita membeli sebuah produk.
Penjabaran yang menurut saya cukup objektif dan bisa membuka mata para penonton mengenai AAC. Tapi saya agak kurang setuju dengan pendapat terakhir mengenai unsur dakwah sebagai 'bonus' dalam film ini.

Menurut saya -yang tidak terlalu paham pengetahuan agama-, yang namanya dakwah itu tidak melulu pada pengajian, ceramah & yang sejenisnya. Dakwah dalam islam bisa dilakukan melalui berbagai media baik secara tidak langsung maupun langsung, secara terang2an maupun tidak. Bahkan film AAC bisa dikategorikan sebagai media dakwah yang cukup manjur terutama bagi para penonton film dan pengunjung bioskop yang selama ini identik dengan nilai-nilai yang tidak islami. Terkadang, dakwah seperti ini bahkan lebih mudah diterima ketimbang dakwah yang terang-terangan.

Apapun inti tema yang diusung film ini, AAC -menurut saya- mampu mengajak orang melihat indahnya islam, dan -menurut saya lagi-, hal itu jauh lebih indah dari pada pengajian di mesjid atau majelis taklim yang kebanyakan dihadiri oleh kalangan yang memang sudah alim.

Bukankah Alquran/Hadits (maaf saya lupa persisnya di mana), pernah menyebutkan "sampaikanlah walaupun hanya satu ayat".
unimolly wrote on Mar 15
bagaimanapun AAC fenomenal...
banyak kalangan yang nonton
mulai dari pejabat, "ikhwah", bahkan anak-anak SD pun berombongan nonton ke bioskop.
yang menarik, dengan muncul film, novel AAC semakin laris lagi.
varsyalink wrote on Mar 15
kekecewaan terjadi, karena masyarakat terlalu banyak berharap dengan kesempurnaan film AAC ini.
pasarbuku wrote on Mar 15
blom nonton... masih mikir-mikir... (pelit banget yak...)
muiz2007 wrote on Mar 15
SEbuah pemaparand an gambaran yang sangat bagus dan cukup berimbang. Satu contoh dan bukti betapa orang pintar perlu kebijaksanaan. Saya belum menonton film itu, tapi saya kira apa yang disampaikan Om Jonru dalam 3 bekal menontot film AAC ditambah pendapat beliau tentang film tersebut setelah nonton filmnya langsung cukup bagi saya menjadi bekal yang berharga untuk tidak kecewa dalam menyikapi film Ayat-ayat Cinta. Thanx Om Jonru.
experiencehunter wrote on Mar 15
"menjadi terlihat bego..."
hahaha.. iya.. ya.. ada benarnya, kalau sejak awal entah karena saya sudah [maaf] suudzhon, karena dalam hati saya berkata. Ahh... buatan MD sinema pasti nanti ada kesalah kaprahan dalam "sudut pandang Islam"- ny.
Karena sudah lama MD Sinema membuat sinetron2 "islami" namun justeru isnya....
Jadi saya- siap2 kecewa karena produser-nya, yang menurut perkiraan saya bukan islam..
imazahra wrote on Mar 15
Dengan segala 'kekurangan dan keberbedaan fokus' yg diambil Mas Hanung, saya puas dengan AAC, krn dr sisi sinematografi dan olahan musik pengiring sangat indah dan karakter Maria sukses diperankan dengan bagus. Mimik para pemain tidak kesinetron2an. Bravo utk kebangkitan film Indonesia ditengah2 maraknya film2 lebih gak jelas [horror 'aneh' dan komedi2 cinta chickliit dkknya].
andips wrote on Mar 15
Film ini akan menambah khazanah perfilman Indonesia yang (lumayan) banyak bergenre horor, atau ABG.
aurasinai wrote on Mar 15
alhamdulillah...saya sudah nggak begitu inget sama isi novelnya :)

tapi belum nonton filmnya juga. ntar aja ah...
Kapan? nggak tau juga :D
fathima35 wrote on Mar 15
ya emang beda banget karakter aisha dan fahri antara novel dan filmnya, dan memang benar itu yang paling mengecewakan.
wahyuannisha wrote on Mar 15
wah ga jd nonton AAC nie...
dinamars wrote on Mar 15, edited on Mar 15
hm.. karena saya belum pernah (dan memang sengaja nggak pernah) membaca novel AAC, menurut saya film AAC ini sudah bagus sekali, begitu pula karakter tokoh2 yang dimainkan, begitu wajar, nggak ada yang terkesan norak. Entah ya apa karena saya tidak punya teman dekat di kalangan ikhwah dan sejenisnya. Tetapi karena saya punya teman-teman dari berbagai bangsa dan pernah menyelami keseharian mereka dan karakter teman-teman yang berbeda-beda pula di beberapa negara, saya menilai apa yang di film sudah sangat normal dan membuat saya terngiang lagi dengan hari-hari yang pernah saya alami bersama teman-teman berbagai bangsa dan agama itu.
djudjundi wrote on Mar 15
Misi Pluralisme Di Balik Novel Ayat-ayat Cinta www.swaramuslim.net
Pesona Novel Ayat-ayat Cinta telah menjulangkan nama penulisnya, Habiburrahman el-Shirazy, ke posisi Tokoh Perubahan 2007 versi Republika. Seperti sastrawan dan budayawan Mesir Mahmud Abbas al-Aqqad, Thaha Husein dan lainnya, yang menjadi makelar zionis melalui gagasan multikultural dan multikeyakinan. Agen zionis, memang tidak pernah kehilangan cara untuk menemukan kaki tangan di bidang sastra dan budaya. Membaca novel Ayat-ayat Cinta menyisakan beragam kesan. Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionisme melalui misi pluralisme agama?
restudessy wrote on Mar 16
Belum sempat nonton... ^_^
ahmuzaki wrote on Mar 16
Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionisme melalui misi pluralisme agama?
Bisa dijelaskan, bagian mana yang merupakan gagasan pluralisme agama di AAC?
ferdianafgtkj wrote on Mar 17
bagaimanapun yang namanya novel dan film adalah 2 KARYA SENI YANG BERBEDA..
oddiarma wrote on Mar 17, edited on Mar 17
Kalau produsernya sedikit punya sisi humanis
(Film ini diarahkan lebih ke sisi dakwah terutama sisi humanis fahri dan orang sekitarnya mis: Perjuangan seorang mhswa Indonesia di Mesir yang harus bekerja sambil bekerja, persaudaran fahri dan sahabt-shabatnya sesama mhswa Indonesia, cara dia bertetangga dengan maria dan keluarganya, profesor2 mesir yang rendah hati, masih mau naik angkot dan banyak sisi humanis lainnya) sayang novel yang begitu bagus, filmnya jadi seperti itu...karena modal yang dikeluarkan harus menuai untung he..he..
joewoo wrote on Mar 17
hmmm....
hmmm....
hmmm....

Ada yg janggal janggal banget nih... yaitu... KENAPA hingga hari giniii gue blm ada kesempatan nonton tu film... pdhl pengen bangeeetzzz... padat kerjaan nih broo.. ampe2 susah curi2 waktu...
jonru wrote on Mar 17
Misi Pluralisme Di Balik Novel Ayat-ayat Cinta www.swaramuslim.net
Pesona Novel Ayat-ayat Cinta telah menjulangkan nama penulisnya, Habiburrahman el-Shirazy, ke posisi Tokoh Perubahan 2007 versi Republika. Seperti sastrawan dan budayawan Mesir Mahmud Abbas al-Aqqad, Thaha Husein dan lainnya, yang menjadi makelar zionis melalui gagasan multikultural dan multikeyakinan. Agen zionis, memang tidak pernah kehilangan cara untuk menemukan kaki tangan di bidang sastra dan budaya. Membaca novel Ayat-ayat Cinta menyisakan beragam kesan. Mungkinkah penulisnya dianggap figur yang tepat sebagai makelar zionisme melalui misi pluralisme agama?
Saya sudah baca artikel aslinya, dan saya kira isi tulisan tersebut terlalu mengada2
Si penulis berlaku seolah2 AAC itu kisah nyata
Kok ada tulisan "jangan2 turis amerika itu intel?"
hehehehe...

Lagipula, si penulis ini justru menampar mukanya sendiri, sebab secara tidak langsung dia sudah suudzon terhadap saudara sesama muslim
arifnur wrote on Mar 18
Hem.. menurut saya sih keberhasilan Dakwah Hanung, .. Islam... orang Islam.....budaya Islam.... Syariat Islam.... dsb jadi perbincangan umum... sehingga orang mau berdiskusi, belaja, bertanya ttg Apa Itu Islam... . Sehingga item-item "Islam" itu sekarang menjadi wacana publik ( udah kepengaruh sama presentasi Hanung soalnya...he..he..).
arifnur wrote on Mar 18, edited on Mar 18
jonru said
Saya terus terang sangat terganggu oleh ucapan "Assallamualaikum" dari Maria dan Alicia, lalu dengan amat konyolnya disahut "waalaikumsalam" oleh Fahri dan teman-teman satu asramanya. Para mahasiswa Al Azhar ini seharusnya sangat paham akan ajaran Islam. Jadi mereka seharusnya tahu bagaimana cara yang baik dan benar dalam menyahut ucapan "Assallamualaikum" dari nonmuslim.
bebrapa waktu lalu saya sempat ikut forum diskusi di Jogja bersama Hanung, dan pertanyaan ini juga sempat mengemuka....., termasuk mengapa Aisya tidak membuka cadar ketika shalat....
ayahara1 wrote on Mar 18
jonru said
sebab secara tidak langsung dia sudah suudzon terhadap saudara sesama muslim
iya ya, kok bisa ada orang yg mikir ke arah situ

apakah di dunia maya ini masih banyak org yg terlalu idealis tapi gak realistis?, ujung2nya mereka:
gampang suudzon?
menganggap kelompoknya benar dan kelompok lain salah?

bukankah sebaiknya berimbang dalam menyikapi suatu karya terlaris?:
ambil sisi positif suatu karya
dan boleh mengkrtik konstruktif karya tsb secara baik2

abuhamzah01 wrote on Mar 21
ada agenda zionis dibalik film aac.ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. coba cek di film yahudi karya sutradara zion steven spielberg :schindler list. original soundtrack schindler list sama dengan yang dipakai di ayat2 cinta(bukan yang lagunya rosa). coba search di youtube “schindler’s list music”. musik itu digubahh komponis zion bernama itzhak perlman . mengapa film islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???
nafiyya wrote on Mar 25
sy blom nonton,
tp jauh2 hari sblm nonton sy sdh mempersiapkan diri bhw film ini mungkin akan mirip dgn kisah harry potter dlm layar lebar yg berbeda antara tulisan di buku dgn tulisan di layar

pertannya akhir utk film AAC akan adakah "ikhwah" yg memfilmkan novel itu atau novel sejenis itu yg bisa menjamah org2 yg bukan "ikhwah"??

bila itu bisa mungkin bisa menjawab "penyusupan agen zionis" dlm film tsb

utara19 wrote on Apr 7, edited on Apr 7
setuju om :D

ngomong-ngomong kapan om buat tulisan yang bakal di filemkan ? :D
mursaing wrote on Apr 18
mungkin kalau di jkt film ini lagi hangat2nya ya, tapi kalua di dtw danau toba parapat sepertinya dingin dingin aja , lebih tertarik nonton sinetron.
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help