Ketika mengikuti acara diskusi panel, seminar, talk show, atau
acara-acara sejenis, sebenarnya saya jarang mendapatkan pengalaman baru
yang mengesankan. Justru, hal seperti ini saya dapatkan setelah acara
usai, ketika para pembicara dan peserta berbaur jadi satu, berkenalan
dan ngobrol dengan santai, dan seterusnya.
Demikian pula yang terjadi pada acara
Talk Show "Kiat Menulis Cerita Remaja",
Kamis kemarin (30 Juni 2005). Saya duduk di depan bersama Mbak Asma,
Billy Antoro, dan El Syifa. Banyak pengunjung yang antusias mengikuti
acara itu. Sebagian dari mereka mengajukan pertanyaan, dan kami
menjawabnya semampu kami.
Ya, ini adalah kejadian yang mungkin sudah sering terjadi, dan biasa kita hadapi. Tak ada yang terlalu istimewa dari sana.
Tapi, seperti yang saya sebutkan di atas, kejadian unik dan berkesan
itu justru berlangsung setelah acara selesai. Seperti yang saya alami
sesaat setelah acara talk show berakhir. Seorang pria menghampiri saya.
Ia berbadan kurus dan tampaknya sudah cukup berumur. Saya kaget ketika
ia menyalami saya dengan ramah. Semula saya kira dia hanya pengunjung
biasa yang ingin berkenalan dengan saya.
"Saya pernah bertemu Anda sekitar lima belas tahun lalu," ujarnya sambil menjabat tangan saya dengan erat.
Saya mencoba tersenyum ramah, mengingat-ingat siapakah gerangan pria ini. Apakah dia teman SMA saya? Saya ingat sebuah nama.
Bena Ginting. Dia adalah sahabat terbaik saya di SMA yang kini entah di mana berada. Sudah 15 tahun kami tidak bertemu.
Masya Allah! Apakah orang ini adalah
Bena Ginting? Jika ya, betapa beruntungnya saya hari ini, karena dipertemukan dengan sahabat yang sudah lama saya rindukan.
Tapi kemudian, rasa penasaran saya terjawab ketika ia berkata, "Saya
Paul, seorang illustrator. Saya pernah membuatkan ilustrasi untuk
cerpen Anda yang dimuat di majalah Anita Cemerlang."
Saya pun tersentak, lalu tersenyum lebar.
Berita baik yang menguntungkan saya: Sejak dulu saya paling rajin
memperhatikan nama-nama illustrator yang menemani kehadiran
cerpen-cerpen di majalah maupun novel. Jadi, nama-nama seperti Paul,
Mulyadi, dan beberapa nama lain, masih saya ingat dengan baik. Dan
ketika pria ini memperkenalkan diri sebagai Paul, saya merasa bersyukur
karena langsung bisa mengenalinya. Jika tidak, mungkin dia akan
berkecil hati.
Yang mengejutkan saya, ternyata selama ini dia mengenal saya, walau
mungkin hanya dari nama saya yang tercantum pada setiap naskah cerpen
saya. Saya pun sebenarnya demikian, mengenalnya hanya dari illustrasi
cerpen yang dia buat.
"Memang penulis dan illustrator itu biasanya hanya dikenal orang dari
karyanya. Tentang siapa orangnya, sebagian besar orang tidak pernah
tahu," ujarnya seperti membuat kesimpulan.
Saya manggut-manggut. Seketika saya berpikir, ternyata antara penulis
dan illustrator punya hubungan yang sangat dekat. Mereka saling
melengkapi. Penulis menyajikan cerita yang (diharapkan) menarik bagi
pembaca. Sedangkan illustrator membuat cerita itu menjadi indah
dipandang, karena ia melengkapinya dengan gambar-gambar yang bagus.
Uniknya, walau saling melengkapi, mereka umumnya nyaris tak pernah
bertemu. Penulis dan redaksi/editor memiliki hubungan tersendiri,
sementara illustrator dan redaksi/editor punya hubungan tersendiri
pula. Hampir tak pernah ada momen atau urusan yang mempertemukan
penulis dan illustrator.
Dan, ini terbukti dari kejadian kemarin itu. Saya telah lama mengenal
nama Paul, dan Paul pun sudah lama mengenal nama saya. Tapi baru
kemarin itu kami bertemu.
Kami pun berbincang dengan akrab, tentang banyak hal. Ia bercerita,
bahwa saat ini illustrasinya masih banyak menghiasi majalah Aneka Yess
dan sejumlah buku terbitan terbaru.
Lalu ia bertanya di mana saya tinggal. Saya jawab, " Di Cililitan."
Ia tersentak, lalu menyebutkan tempat tinggalnya.
Kini giliran saya yang tersentak. Betapa tidak! Ternyata kami masih
tetangga. Beda kelurahan, beda kecamatan, tapi hanya berjarak sekitar
200 meter. Saya selama ini bahkan sering lewat di depan rumahnya!
Hm, benar-benar pertemuan yang amat mengejutkan. Sayangnya, ketika itu
baterai kamera saya sedang habis, sehingga saya tidak bisa merekam
momen yang sangat berharga itu.