Film Ayat-Ayat Cinta - katanya - baru akan beredar 19 Desember 2007 nanti. Namun komentar demi komentar mulai bermunculan di sana-sini. Banyak orang yang menyatakan kekecewaannya, padahal asli mereka belum menonton film ini. Baru lihat poster atau thriller-nya doang.

Saya tak akan ikut-ikutan mengomentari film ini, karena asli saya juga belum menonton. Jadi tak ada gunanya berkoar-koar saat ini, bukan?

Tapi kalau banyak orang yang sangat antusias untuk membicarakan film ini, ya sangat wajar. Novel Ayat Ayat Cinta begitu fenomenal, best seller nasional, dan berjuta-juta orang telah jatuh cinta pada cerita fiksi yang satu ini.

Nah, inilah poin yang "membahayakan" dari film Ayat-ayat Cinta. Sudah sering terjadi, banyak orang yang kecewa setelah menonton film yang diadaptasi dari novel terkenal. Apa yang mereka tonton sangat jauh dari "bayangan" mereka. Tragisnya, mereka asyik membanding-bandingkan antara si novel yang - menurut mereka - "sangat bagus dan sempurna" dengan si film yang - masih menurut mereka - "sangat mengecewakan".

Maka, sebelum anda menjadi "korban kekecewaan" dari film Ayat-Ayat Cinta (AAC), coba bekali dulu diri Anda dengan tiga bekal berikut:

Bekal 1:
Ingatlah, bahwa yang akan anda tonton adalah FILM, bukan NOVEL. Film dan novel itu sangat jauh berbeda. Adalah hal yang mustahil untuk memindahkan isi sebuah novel ke dalam film SECARA UTUH. Novel adalah sebuah bacaan, sedangkan film adalah tontonan. Ada begitu banyak perbedaan antara novel dengan film, sehingga sangat tidak mungkin bila film AAC akan sama persis dengan novelnya.


Bekal 2:
Novel AAC adakah karya Habiburrahmah EL Shirazy, sedangkan film AAC adalah karya Hanung Bramantyo. Nah, ini sangat penting. Bila Anda beranggapan bahwa film AAC adalah karya Habiburrahmah EL Shirazy, ini bisa menjadi salah satu penyebab utama kekecewaan tersebut.

Karena ini karya Hanung Bramantyo, maka yang paling banyak berperan di film AAC adalah subjektivitas dia juga. Jika Anda masih berharap untuk "menemukan" Habiburrahmah EL Shirazy di film AAC, maka ini bisa menjadi awal dari sebuah kekecewaan besar.

Selain Hanung Bramantyo, pihak lainnya yang berperan cukup besar di film AAC adalah si produser MD Pictures. Mereka tentu punya wewenang yang sangat besar untuk "menerjemahkan" novel AAC ke dalam film AAC dengan cara yang mereka sukai. Pertimbangan bisnis, efisiensi biaya produksi, kendala-kendala teknis, adalah segelintir dari berbagai macam pertimbangan yang sangat mempengaruhi kualitas dan isi dari film AAC.

Intinya: Walau belum menonton film AAC, namun sudah dapat dipastikan bahwa hasil akhir film ini TIDAK MUNGKIN SAMA PERSIS dengan novelnya.

Pada novel, subjektivitas dan gaya Habiburrahmah EL Shirazy mencapai nyaris 100 persen, sebab AAC adalah karya personal beliau. Adapun film AAC adakah karya bersama dari sebuah tim, yang terdiri dari sutradara, produser, penulis naskah, penata musik, penata kamera, dan masih banyak lagi. Ada begitu banyak subjektivitas yang berperan. Dan subjektivitas sutradara/produser adalah yang paling mewarnai film ini.

Lantas di mana posisi Habiburrahmah EL Shirazy? Apakah kita masih bisa "melihat" beliau di film ini? Sayangnyat, tidak bisa. Kalaupun beliau ikut mewarnai, porsinya sangat kecil.

Bekal 3:
Sebelum berangkat ke bioskop untuk menonton film AAC, sebaiknya anda meng-amnesia-kan diri dulu dari novel AAC. Lupakanlah bahwa anda pernah membacanya. Bila novel ini masih bertengger di pikiran dan perasaan anda ketika menyaksikan film AAC, maka ini bisa menjadi salah satu penyebab kekecewaan besar lainnya.

Ok, selamat menunggu film AAC. Kalau anda tidak bisa menyiapkan ketiga bekal di atas, saran saya sebaiknya tak usahlah ikut-ikutan menonton film ini.

Cipete, 3 Desember 2007

Jonru
(bukan termasuk orang yang antusias untuk menunggu pemutaran film AAC)

Update 4 Desember 2007, 11.20. WIB:
Seorang teman di milis PenulisLepas memberikan gambaran singkat (sumbernya boleh dibilang terpercaya):
Film AAC akan seperti Heart (film yang dibintangi Nirina Zubir, Irwansyah dan Aca), namun banyak pemerannya yang berjilbab. Nah, silahkan anda intrepretasikan sendiri :)



64 CommentsChronological   Reverse   Threaded
roelworks wrote on Dec 3, '07
roel
(belum baca novel AAC) :D
jonru wrote on Dec 3, '07
roel
(belum baca novel AAC) :D
kalo belum baca novelnya, justru bisa menonton filmnya tanpa beban :)
aguskribo wrote on Dec 3, '07
Nggak sabar deh...
sarqina wrote on Dec 3, '07
benar nich..sal ingat ini dari buku mas habib.. wah kalau gitu...........tapi sal mau nonton jugalah..sal nunggu di singapura kalau ada ditayangkan..mau ajak ashraf nonton, oh ya sebelum terlupa..selamat ulang tahun semoga panjang umur, murah rezeki dan semakin sukses ya mas ..bila sih mas mau bikin novel kayak mas habib..sal lagi nunggu ni....dan lagi satu ya.. buku mas banyak koleksinya di library singapura.. dari situlah sejak sekolah sal kenal tulisan mas juga mbak helvy, mbak asmah dan abangku mas gola hehee...terus menulis yaaaaaaaaaaaaaaaaa..
sya2 wrote on Dec 3, '07
lebih asyik baca novelnya kayaknya
jonru wrote on Dec 3, '07
sarqina said
bila sih mas mau bikin novel kayak mas habib
waduh...
tiap penulis pasti punya karakter yang beda-beda, Sal...
dan novel seperti ayat-ayat cinta itu bukan "tipe saya"

btw thanks ya atas ucapannya
moga sukses juga buat sal


Jonru
cahayarumah wrote on Dec 3, '07
Mmhmm...

*berfikir :
nonton,
nggak,
nonton,
nggak,
...................
...................

Ada usul?
ekakurnia wrote on Dec 3, '07
emang bener beda ketika membaca dan menonton, terlebih lagi menonton pelem dari sumber bacaan. Daya imajinasi dan menghayalnya berbeda, ketika membaca novel tersebut imajinasi kita menerawang-rawang dibandingkan dengan menonton pelemnya. Masa sich?!
ceumimin wrote on Dec 3, '07
Betul pak Jonru..
Apalagi dari mesir ini..
Dari setting sampai pemain bisa dipastikan ruhnya beda..
wirdayanti wrote on Dec 3, '07
Masukan yang menarik Jonru.. Thx ya..
Comment deleted at the request of the author.
jonru wrote on Dec 3, '07
Mas Jonru coba kasih tahu caranya gmn yaaah??
caranya: benturkan kepala ke tembok

hehehehe...
just kidding :)
dafa wrote on Dec 3, '07
tidak ada yg sempurna, mungkin tu intinya,,, tp kita lihat sj spt apa nanti hasil dari filmnya
iwananashaya wrote on Dec 3, '07
yup.. saya juga nggak antusias menontonnya.
kayaknya lebih asyik kisah di balik pembuatan film itu, deh.
lailan wrote on Dec 3, '07
Masukan yg bagus...makasih Mas Jonru.
aburasyidin wrote on Dec 3, '07
tampaknya hanya akan jadi film kisah cinta biasa
unsur religi sangat kurang
aphrodit3 wrote on Dec 3, '07
Kuduna mah kang Abik aja yg jadi sutradara sekaligus produsernya kali yah? Hehehehe... :D
unisa99 wrote on Dec 3, '07
betul sekali pak. Thx banget atas ulasannya.
Saya sih masih sangat tertarik untuk menonton. Sekedar ingin tahu seperti apa jika divisualisasikan oleh 'orang lain' yang bukan penulisnya....

Sekali lagi, Thx so much udah mengingatkan orang2 yang mau menontonnya :)
tianarief wrote on Dec 3, '07
AAC versi film tentu akan memerhatikan segi sinematografi. bagaimana kisah percintaan divisualisasikan. jadi, kalau berharap banyak AAC adalah sebuah film islami, lupakanlah... :)
fardelynhacky wrote on Dec 3, '07
Pasti akan nonton filmnya Mas.
Tapi sepertinya saya gak bisa nerapin bekal yang ketiga nih :-)
rwaluyo wrote on Dec 3, '07
Betul bgt kata Mas Jonru, keterlibatan berbagai pihak beperan besar akan hasil karya sebuah film, terutama produsernya sbg 'yang punya duit'. Setidaknya itu yg sy ketahui dari percakapan dg salah seorang sutradara yg tdk perlu disebut namanya.
Bisa jd film AAC memang bukan film religi melainkan hny film percintaan biasa yg dibumbui kesan religi.
nulisaja wrote on Dec 3, '07
saya sih antusias pengen nonton, Mas Jonru... dan insya Allah udah siap dengan bekal2 di atas (yg ketiga ga termasuk), walaupun nantinya akan membandingkan juga, hehe...
saya sadar sepenuhnya sentuhan antara novel dan filmnya pasti berbeda. tapi saya mengapresiasi usaha semua pihak yang mendukung pembuatan film ini ^^
ti2n wrote on Dec 3, '07
hmm... kapan bisa nonton ya....
ghinarumaisha wrote on Dec 3, '07
saya kira semua bekal di atas normatif saja, umumnya berlaku untuk novel yang di filmkan. betapa juga banyak yang kecewa setelah menonton da vinci code?
orinkeren wrote on Dec 3, '07
gitu yaaaaaaa
faridrifai wrote on Dec 3, '07
bang jonru, saya aja yang termasuk bagian kecil dari tim film aac merasa banyak perbedaan antar novel dan film ini, tapi saya juga setuju, difilmkannya novel aac merupakan langkah awal bagi lahirnya film2 islami di masa yang akan datang..kita dukung yah ^_^
muiz2007 wrote on Dec 3, '07
waduh, Om Jonru ke Cipete ya? kapan? kok kita gak ketemu, di Cipetenya sebelah mana? terus ngapain?

iya Om, bekal dari Om Jonru pasti bakal banyak menolong setidaknya mengurangi kekecewaan menonton film ayat-ayat cinta. tapi aku tetep penasaran pengen ngeliat versi filmnya.
marthatanti wrote on Dec 3, '07
Makasih bekalnya...tapi kayaknya tetep susah untuk tidak membandingkan antara novel dengan filmnya,
deveha wrote on Dec 3, '07
mmh..kayak apa ya filmya?
genkeis wrote on Dec 3, '07
terima kasih atas ilmunya :)
saya copas ya di myQuran... ^-^

*tetap menyebutkan sumber kok %peace%
goslink wrote on Dec 3, '07
Sama mas..sudah tidak antusias..apalagi setelah melihat pemeran utamanya...kok gak sesuai dengan yang di novelnya...
Kalau lepas dari topik ini, kemana para sutradara muslim yah...? Jadi rindu film Fatahillah yang di perankan Igo Ilham...
yudimuslim wrote on Dec 3, '07
idem ma kang wiku (aburasyidin)
emaknyaaisha wrote on Dec 4, '07
nonton... enggak...nonton...enggak.... takut kuciwa... kayaknya jd pemirsa novel kang abik aja deh... lagian saya bukan pecinta pilem jadi ntar malah gak bisa mengapresiasi. kasian yang udah susah- susah bikin pilemnya
aurasinai wrote on Dec 4, '07
buat yang suka baca tapi gak suka nonton, mendingan gak usah nonton film ini. buat yang suka nonton tapi gak suka baca, mendingan gak usah baca bukunya. bunuh rasa penasaran anda, kalau anda terlanjur jatuh cinta pada salah satunya.
saya sih suka baca & nonton :D mudah-mudahan nanti kalau ada kesempatan nonton filmnya, rasio saya tetep jalan...amin...!

gak bisa juga kang abik jadi sutradaranya. kan beliau gak pengalaman bikin film. jelas2 film tu sudut pandangnya beda (audio+visual). klo buku kan bergantung sama persepsi pembacanya. dan hanung pun gak bisa dipaksa harus sama banget dengan novelnya. klo begitu apa bedanya dengan novel adaptasi? cuma kebalik aja prosesnya. lagian, menggubah novel menjadi sebuah film itu pekerjaan yang gak gampang.

klo ayat2 cinta "berhasil" membuat sesuatu yg beda (maksudnya gak sekadar film heart dijilbabin), bukan gak mungkin akan muncul film2 islami lainnya. sangat mungkin kualitasnya sama dengan sinetron2 islami. namanya juga indonesia... klo gak ikutan tren, gak keren! ...ceunah...
terbangkelangit wrote on Dec 4, '07
ya ya, ngerti...
bundaelly wrote on Dec 4, '07
hmmm aku gak suka nonton, pak. jadi join deh ma clubnya pak jonru (Bukan termasuk orang yang antusias untuk menunggu pemutaran film AAC)
indiradonna wrote on Dec 4, '07
Jadi ingat novel/tulisan lain yang difilmkan. Kalau Da Vinci Code atau Memoirs of Geisha sih, kekecewaan saya nggak segitu parahnya. Tapi paling kecewa waktu nonton Gie, setelah nunggu bertahun-tahun, hasilnya jauuuuuh dari bayangan indah saya sebelumnya.
Kalau untuk AAC ini sejujurnya saya nggak berharap banyak, karena settingnya adalah mesir yang jelas nuansanya tidak akan bisa ditangkap sepenuhnya oleh sutradara Indonesia. Di novel gambaran tentang Mesir akan terkesan eksotis, mungkin karena Kang Abi tau banyak tentang Mesir. Tapi Hanung kan bukan Abi, pemahaman dia tentang Mesir tidak mendalam seperti Abi. Lagipula, menurut saya plot film/novel ini sebetulnya mudah ditebak. Yang membuatnya menjadi menarik mungkin tempo cerita. Mudah-mudahan Hanung setidaknya bisa membuat film ini tidak menjadi film menyek-menyek yang membosankan.

BTW, nggak pernah ada yang terpikir memfilmkan "Revolusi di Nusa Damai" karya Ketut Tantri ya? Menurut saya petualangan Ketut Tantri itu sangat layak difilmkan, sekaligus kita belajar sejarah perjuangan pendiri bangsa kita.
kopralbowo wrote on Dec 5, '07
goslink said
Jadi rindu film Fatahillah yang di perankan Igo Ilham...
wah yang ini saya juga belum pernah nonton mas ... Cut Nyak Dien udah juga ...
btw, dmana y bisa dapat fatahillah nya (klo ada yg tau infonya)
bearahmat wrote on Dec 5, '07
emang gak bisa dibandingkan,

makaasih infonya, tetep penasaran pengen liat nih
biezyt wrote on Dec 5, '07
sama aku juga gak sabar neh pengen liat alur ceritanya.....

azayaka wrote on Dec 5, '07
Nonton filmnya? mmm...kayaknya gak deh krn saya gak pernah ke bioskop :)
Ntah nanti klo VCDnya keluar....
aisyahputri wrote on Dec 5, '07
aku pasti nonton. Udah baca novelnya juga. Berhubung sutradaranya masih sepupu gw itungannya. hohoho.. jadi kalo ada gak sreg, bisa gw omongin sama orangnya. hee:p
aswin06 wrote on Dec 6, '07
wahh, saya kayaknya jadi penasaran ni mas, gmn lag, abis sy merupakan salah satu penggemar novel itu. jd saya bimbang ni mau nonton apa tidak,. takut kecewa seperti tanggapan temen temen yang lain. padahal novel itu kan sangat fenomenal bag i saya mungkin ya....
dafa wrote on Dec 6, '07
http://youtube.com/watch?v=m0cGSTbzsXI&feature=related, ni sitenya, klo penasaran ma filmnya spt apa, hem,,,na jg ga bs comment sih,,moga ga da yg kecewa. mungkin pesan dakwah nya tersirat dlm film ini
nawhi wrote on Dec 8, '07
ehm....saya merasa beruntung karena belum membaca novelnya. tapi saya yakin saya akan jatuh cinta dan penasaran untuk baca novelnya setelah liat filmnya dulu. seperti novel Jomblo.
brotherihda wrote on Dec 8, '07
moga ja film ini g ngecewain aku..kayak kemaren q nonton da vinci code bener2 kecewa, jauh beda banget ma novelnya...moga kita g kecewa..amin...
chairina wrote on Dec 11, '07
belum baca bukunya :P
*dan kayaknya ga mau baca deh, terlalu idealis gitu penggambarannya hihihi....
*belum baca udah ambil kesimpulan
apalagi pilemnya... waduh... no thanks (kecuali ditraktir :P)
jonru wrote on Dec 12, '07
belum baca bukunya :P
*dan kayaknya ga mau baca deh, terlalu idealis gitu penggambarannya hihihi.
kalo belum baca, baiknya jangan beri penilaian dulu chan
sebab kemunggkinan besar penilaian kita hanya berdasarkan prasangka :)
chairina wrote on Dec 14, '07
dah scanning2, trus liat efeknya, terutama bagi para jomblo...
walah, ini mah buku propokatipppppp


(propokatip biar cepet merit)
chairina wrote on Dec 14, '07
tambahan, baca buku/nonton pilem tuh masalah selera yah...
dan tipe2 ini kebetulan ga ku suka... just it, ya subjektif lah, bole dong...
rofiqul15 wrote on Dec 18, '07
aduh........

mas,,bintang'na jelek amat sich......


yang jadi aisha'na jgn rianti donk......


bgusn zaskia ja......



AAC bgus kok.......mnurutq klo' nvel'na bgus, film'na bagus jga kok.....

g' sbr de....
rikariza wrote on Dec 22, '07
salam kenal:)
sepanjang sejarah, film memang beda dr novelnya, harry potter, da vinci code...
Tapi kalo kejauhan banget ya itu nebeng kesuksesan novel bgt. Kalo settingnya mesir ya paling ngga kan banyak percakapan bahasa arab. backgroundnya dibuat seolah mesir.
Ehh blm nonton aja dah komentar. Abis, liat trailernya gitu sihh, spt nggak real, pemainnya jg pemain sinetron. Jadi kurang fenomenal, hehe
satria248 wrote on Dec 26, '07
Bagus---Standar---Kurang----Nggak Banget
semuanya Subjektitfitas Pribadi...termasuk Interpretasi Mas Hanung pada AAC...
sukseslah buat semuanya...nonton aja biar Komennya g cuman melayang-layang
endarpri wrote on Jan 8, edited on Jan 8
Saya tidak terlalu berharap film ini 100% harus persis dengan novelnya. Tapi paling tidak pengaruh moralnya dan content islaminya tetap terjaga. Content islami yang saya maksud bukan hanya menghadirkan tema dan jalan cerita yang islami, namun pembuatannya pun juga harus islami. Nah dari hal ini mungkin jika adegan Fahri dan Aisya ketika mereka sudah menikah ditampilkan seperti yang tertera di novelnya, maka saya akan sangat sesal mengatakan bahwa film ini tidaklah islami, karena pemain untuk Fahri dan Aisya khan status mereka tetap bukan muhrimnya. semoga tidak begitu ........
Jadi semoga aspek semacam ini tetap diperhatikan oleh para pembuat film yang ngaku-ngaku mo bikin film yang islami, termasuk film ini ..(udah telat ya berharap untuk film ini yang udah jadi ...)
uchie07 wrote on Jan 11
Hhehehheh..setuju mas!!! perlu jadi pelupa dulu nih.
Comment deleted at the request of the author.
zulhamidi wrote on Jan 12
Eh, yang diatas comment ini siapa yah, kok namanya sama sih..
Btw, ayat-ayat cinta baik novel maupun filmnya membuat dahaga akan kesejukan hati sedikit tercerahkan...thanx bagi yang udah mengusahakannya
sondha wrote on Jan 25
Satu yang membedakan "baca buku" dengan "nonton film". Pada saat baca buku, imajinasi kita bisa berkembang bebas.. sesuai dengan pengetahuan kita tentang setting atau hal2 yang ada di buku.. Pada saat nonton film, kita gak bisa berimajinasi karena kita menonton hasil imajinasi sang sutradara terhadap buku... Perbedaan imajinasi kita dengan imajinasi sutradara serta kepentingan komersil sering kali menyebabkan kekecewaan.... I love books... , and movies also.. Maksudnya? Hehehe
lancangkuning wrote on Feb 27
om jonru.. boleh aku kopi di blog ya..
raniequbayla wrote on Feb 27
bekal yang mas jonru kasih benar2 bermanfaat, makasih ya mas......terlepas dari kepentingan komersil pihak produser, film ini sudah bisa menjadi media dakwah dalam menunjukkan proses "ta'aruf " dalam Islam....
mimansyah wrote on Mar 2
mas jonru, sebenarnya temen-temen yang komentar itu (mungkin) sudah menonton film itu walaupun belum dirilis. sebelum masuk bioskop seorang teman juga menawarkan saya dvd-nya yang masih mentah (katanya belum disensor, atau diedit. entahlah).
mofajar wrote on Mar 6
film yang bisa jadi alternatif disaat film indonesia sedang rame film remaja...or film horor...

Menurut fajar.. fahri yang ditampilkan di film ini jauh dari fahri di novel ayat-ayat cinta (a2C)

di novel a2c... kenapa? satu. fahri tak mungkin meminta bantuan maria untuk membetulkan file komp yang rusak... menatap muka maria aja fahri tak akan lakukan (kecuali pas dipanggil yah)...karena menjaga pandangan itu wajib dalam islam (cmiiw)..
dua. nggak mungkin mahasiswa al azhar membolehkan masuk wanita (maria)tanpa muhrimnya. kedalam kamar yang dipenuhi 4 orang pria.. n pria itu mahasiswa alazhar... apa pergaulan muslim seperti itu????
kayanya enggak dehh..
tiga.. apalagi berbicara berdua di sungai nil..
ini mah mungkin pesanan produser aja biar ada bumbu roman.
menurut fajar.ini bukan film dari novel a2c.
tapi film yang ceritanya diilhami oleh a2c.
ksihan keindahan novel a2c serasa hilang ngeliat film ini.
film ini bagus. bagus banget. tapi kalo dibilang film dari novel a2c... kayanya bukan.
bener kang... bisnis di film nggak akan hilang....
elasman wrote on Mar 12
ass..
shaltuwassalaamu 'alaa rasulillaah. amma ba'd:
sayapun sangat setuju untuk itu. meski bapak belum nonton filmnya koment yang bapak sampaikan lebih dari skedar dari mengetahui apa yang ada di balik layar dari film itu.
hanya sayapun punya sedikit unek dan komentar dari apa yang saya nonton dari film tersebut, antara lain:
1. Fahri, jika kita amati dalam novelnya maka kita dapati dia adalah seorang yang pintar dan intelektual juga di samping ia berpengaruh dengan keilmuan yang dimilikinya. diceritakan bagaimana kemampuannya berdiri di atas podium tampil diberbagai mimbar ilmu menyampaikan khutbah dan da'wah kepada khalayak orang. dia sangatlah lihai dan aktif di dalam menyampaikan ilmu dan menyerukan kebajikan.
mengajar smua orang disekitarnya bukan hanya dari sudut tingkah laku dan akhlaqiyahnya namun juga memperlihatkan ciri sebagai seorang mahasiswa asing al-Azhar berpendirian berilmu dan berani tampil.
sayang, hal ini tak kita jumpai di setiap adegan yang ada dari film itu. tentu ini adalah faktor yang sangat mendukung dari diri pribadi Fahri untuk menjadi ikutan buat para pelajar dan mahasiswa lainnya.
sebelumnya saya sudah menghayalkan sebelumnya bagaimana jika akan ditrampilkan di film hal2 yang seperti itu dari orang yang melakoninya hanya saja kekecawaan pertama saya timbul dari sisi yang satu ini.
menurut saya menghilangkan sifat yang seperti ini dari diri Fahri merupakan kesalahan yang fatal karna betapa banyak mahasiswa di hari ini berdilema tidak begitu yakin tampil dikhalayak orang banyak jangankan orang asing masih orang kita saja masih ragu. ini adalah contoh besar.
selain itu, di film ini Fahri kurang di gambarkan kebagusan akhlaqiyahnya sebagaimana disaat dia di datangi pak Broutus ayah dari Maria dia yang terkejut kebagusan akhlak anak muda ini disaat apartemen yang tepat diatasnya itu adalah rumahnya sendiri dalam keadaan rusak. air menetes dari atas kamar mandinya menembus dinding dan jatuh tepat dibawah kamar Fahri lalu pada saat yang bersamaan ia tdk menuntut ganti rugi agar segera diperbaiki olehnya ia menunggu sampai punya uang yang cukup untuk menanggunyinya bersama. hal ini tidak ditonjolkan saya kira banyak pembaca AAC tertarik kepada Fahri karna hal seperti ini.
bukan berarti tidak ada sama sekali hanya banyak yang seperti ini yang tidak di adegankan.
2. Maria, jika kita pelajari dari novelnya ia bukanlah gadis yang mudah tertarik kepada laki2, namun sebagai seorang nashrani yang patuh dan taat pada agamanya ia tertarik kepada Fahri dikarenakan akhlak Fahri benar2 mencerminkan seorang yang patuh terhadap agamanya. ia cukup tau tentang Islam sehingga ia rela membantu Fahri menyelesaikan artikelnya untuk seorang nashrani yang sama dengannya untuk dipelajari.
kecintaannya pada Fahri adalah kecintaan seorang hamba terhadap Tuhannya dia mencintai seorang yang soleh yang dekat dengan tuhannya agar dia juga lebih dapat kenal Tuhannya.
unimolly wrote on Mar 15
ok.. mengamnesiakan diri.. he..he..
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help