Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 22, '05 10:13 PM
for everyone
Bagi saya pribadi, menulis artikel nonfiksi justru lebih mudah ketimbang fiksi (cerpen, novel, dst). Entah kenapa, saya sendiri tidak tahu. Tapi walau begitu, saya ingin menjadi penulis fiksi dan nonfiksi sekaligus, karena keduanya punya keunggulan masing-masing.

Untuk artikel nonfiksi, menurut saya, kiat dasarnya cukup sederhana. Kita hanya membutuhkan "bahan dasar" sebagai berikut:
  1. Ide
  2. Berpikir sistematis
  3. Data (ini cukup relatif, karena ada juga artikel yang bisa ditulis tanpa harus mencari data)
  4. Fokus pada masalah. Jangan suka melebarkan topik ke mana-mana.
Jika keempat poin ini sudah kita miliki, maka Insya Allah, menulis nonfiksi bisa menjadi pekerjaan yang sangat mudah.

Untuk lebih jelasnya, mari kita pelajari contoh sederhana ini.

1. Ide

Ide itu ada di mana-mana. Kali ini, kita mengambil contoh ide yang sederhana saja, yakni: "saya ingin membaca buku sebanyak-banyaknya, tapi saya tidak punya waktu dan tidak punya uang untuk membeli buku yang banyak."

Nah, ini adalah ide yang cukup bagus dan bisa kita angkat menjadi sebuah tulisan. Di dalam ide ini terdapat sebuah masalah yang dapat kita kembangkan nantinya.

2. Berpikir sistematis

Setelah idenya ketemu, saatnya kita berpikir sistematis. Menurut saya, berpikir sistematis ini penting sekali. Salah satu kegagalan para penulis pemula adalah: mereka belum terbiasa berpikir secara sistematis. Akibatnya, mereka punya ide, tapi bingung harus mulai dari mana, bagaimaan cara mengembangkannya, dan seterusnya. Karena itu, kalau kita ingin jadi seorang penulis nonfiksi yang berhasil, cobalah mulai berlatih berpikir sistematis. Begitu ada ide, kita analisis dia secara runut, poin per poin, langkah demi langkah.

Dari contoh di atas, mari kita coba mengembangkannya berdasarkan pemikiran yang sistematis:

  • Saya berpendapat bahwa membaca itu sangat penting. Karena itu, saya harus membaca buku sebanyak-banyaknya.
  • Apa saja sih, manfaat membaca buku itu?
  • Kendala #01: Saya tak punya waktu yang banyak. Saya kan sibuk, banyak kerjaan, dst...
  • Kendala #02: Uang saya terbatas, sehingga saya tidak bisa membeli buku yang banyak.
  • Alternatif pemecahan masalah:
    1. Pinjam di perpustakaan.
    2. Pinjam buku ke teman. Perluas pergaulan sehingga makin banyak teman yang bisa meminjamkan buku.
    3. Membaca ketika dalam perjalanan.
    4. Membaca di sela-sela tugas kantor.
    5. Sering-sering browsing di internet,
    6. Dan seterusnya.
  • Pembahasan terhadap "alternatif pemecahan masalah":
    • Tentang pinjam di perpustakaan: Wah, tidak bisa! Saya juga tak punya waktu untuk minjam ke perpustakaan. Lagipula, saya seringkali belum membaca bukunya, padahal sudah saatnya dikembalikan lagi.
    • Tentang pinjam ke teman: wah, teman saya sedikit. Saya kan orangnya kuper.
    • dan seterusnya...
  • Pemecahan masalah secara menyeluruh
  • Kesimpulan
Nah, dari sistem berpikir sistematis tersebut, kita sudah menemukan KERANGKA KARANGAN. Ya, kerangka karangan ini sangat penting, karena dari sini kita bisa mengembangkan tulisan. Kerangka tulisan ini bisa kita tulis di kertas, atau cukup disimpan di kepala saja. Terserah kita memilih yang mana, tergantung kebiasaan dan kemampuan masing-masing.

3. Data

Alangkah bagusnya jika tulisan ini kita lengkapi dengan data pendukung. Misalnya: berapa koleksi buku yang telah saya miliki, berapa rata-rata harga buku. Dari total penghasilan saya, berapa rupiah yang dapat saya sisihkan untuk membeli buku. Dan seterusnya. Data ini akan membuat tulisan kita lebih "kaya".

4. Fokus. Jangan melebarkan topik

Nah, ini adalah masalah yang seringkali tidak kita sadari ketika menulis. Sebab, kita merasa bahwa apa yang kita tulis masih berhubungan dengan tema utamanya, padahal sebenarnya tidak terlalu berhubungan, dan tidak perlu dibahas.

Misalnya begini:
Ketika menulis tentang ide di atas (kendala saya dalam membaca buku), kita tanpa sadar membahas tentang "gerakan gemar membaca yang dicanangkan pemerintah." Kita uraikan tema ini panjang lebar, ditambah berbagai data penunjang.

Hm, kalau tema ini dibahas sekilas saja, mungkin tidak terlalu masalah, karena justru bisa menjadi penguat argumen kita bahwa membaca itu memang sangat penting. Dan memang, tema "gerakan gemar membaca" ini masih berkaitan erat dengan ide yang sedang kita tulis. Masalahnya adalah, jika kita mulai membahas tema tambahan ini secara panjang lebar, tulisan kita menjadi tidak fokus lagi. Di dalamnya sudah ada dua tema besar yang sama-sama kuat. Dan pembaca nantinya akan bingung, "si penulis ini sebenarnya  sedang membahas apa, sih?"

*     *     *

Nah, menurut saya, inilah tips utama dalam menulis karya nonfiksi. Selanjutnya, yang dibutuhkan hanyalah latihan dan penambahan jam terbang.

Ok deh, semoga bermanfaat dan maaf bila tidak berkenan.

Jonru


(Maaf, tadi terjadi kesalahan pada judul:

tertulis: tips sederhana penulisan fiksi
seharusnya: tips-sederhana penulisan artikel nonfiksi)


20 CommentsChronological   Reverse   Threaded
jonru wrote on Jun 22, '05
Oh ya, ada satu tip lagi yang kelupaan:

5. Satu ide dalam satu alinea/paragraf.
Ini sebenarnya sudah kita ketahui bersama, karena sudah diajarkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia sejak SD. Tapi mungkin kita sudah lupa atau kurang membiasakan diri.

Untuk jadi penulis yang baik, menaati asas "satu ide satu alinea" itu sangat penting, dan sangat membantu kita untuk bisa fokus pada ide utama tulisan, untuk membuat tulisan yang sistematis. Kalau asas ini kita langgar, bisa saja idenya berloncatan dari sana ke mari. Ide A sudah dibahas di alinea 1, eh.. dibahas lagi di alinea 7. Ide B dibahas bersama ide A di alinea 1, lalu ide B muncul lagi di alinea 9. Demikian seterusnya. Kan jadi mumet membacanya!
herwina wrote on Jun 23, '05
Tambahan ilmu lagi dari mas Jonru, Alhamdulillah...
Terimakasih...
Salam untuk Alifia da Uminya...
jonru wrote on Jun 23, '05
herwina said
Terimakasih...
Salam untuk Alifia da Uminya...
terima kasih juga mbak :)
jonru wrote on Jun 23, '05, edited on Jun 23, '05
Tulisan ini sudah saya revisi dan dimuat di PenulisLepas.com.
imazahra wrote on Jun 23, '05
jonru said
menulis artikel nonfiksi justru lebih mudah ketimbang fiksi
Setuju Mas ^__^
Aku paling gak bisa disuruh nulis fiksi malah, MACETTTTT :-(

Thanks for sharing :-)
lelakibiasa wrote on Jun 24, '05
wah terima kasih sekali ini bagus sekali
bisa jadi masukan dan pelajaran, kemaren tips dari Bunda Helvy tentang Kiat Praktis Menjadi penulis Fiksi juga membantu sekali dan kini tips menulis nonfiksi dari bang jonru
mantap saluutt
agamtia wrote on Aug 10, '05
salam kenal. lama saya tidak mengunjungi web mas jonru.
bagi saya, nulis artikel bahasa indonesia itu enak, tapi artikel saya sering selalu ditolak koran indonesia nih :( makanya saya kirim ke jkt post yg saingannya sedikit :)
btw, saya kesulitan membuat lead yg menarik. kemarin tulisannya denny indrayana di kompas benar2 bagus:

Hukum yang adil menumbuhkembangkan demokrasi. Sebaliknya, hukum yang korup menikam mati demokrasi. Di manakah posisi putusan Pengadilan Tinggi Jawa Barat dalam Pilkada Depok? Apakah ia penjelmaan malaikat peniup roh kehidupan atau malaikat pencabut maut demokrasi?

saya masih perlu banyak belajar nih buat nulis kayak mas jonru & denny ini.
jonru wrote on Aug 10, '05
agamtia said
saya masih perlu banyak belajar nih buat nulis kayak mas jonru & denny ini.
wah, kita sama2 lagi belajar kok
yang penting banyak berlatih dan belajar dari karya penulis2 lain yang bagus.
rijaloe wrote on Apr 28, '06
wah bener...gak rugi kenal bangJonru.......banyak tips tentang menulis. saya bego masalah tulis menulis...mulai mendapatkan pencerahan.....jazakallah bang.....moga semakin ngejreng karya dan karirnya....
giets wrote on Dec 10, '06
alhamdulillah..sangat bermanfaat sekali. kalo bisa boleh minta bagi2 ilmu lagi yang khusus membahas tentang kerangka karangan.
cptsh wrote on Jan 30, '07
Tips-sederhana penulisan artikel nonfiksi yg Kak Jonru tulis merupakan tips yang luar biasa, sehingga membuat saya banyak berpikir dan lebih teliti lagi dalam pelaksanaan pengembangannya. Ternyata setelah membaca, bukan hanya di bagian nonfiksi saja ... saya lebih mendapatkan imajinasi dan lebih yakin bahwa apa yang sedang saya tulis merupakan suatu awal dari keberhasila saya nanti. insya Allah.
asepsetia wrote on Apr 18, '07
gagasan yang bagus boleh saya pinjam ya
genkeis wrote on Oct 28, '07
Thanks mas, tulisan yang bagus, saya share sama teman2 yang lain ya... :)
winthegame wrote on Mar 17, '08
Mas... nanya dong...
Mungkin gak kalau penulis non-fiksi menggunakan nama alias atau nama samaran ke penerbit?
Kalau fiksi, kan banyak banget yg pake nama samaran tuh...
Mohon infonya ya mas :)
jonru wrote on Mar 17, '08
Mungkin gak kalau penulis non-fiksi menggunakan nama alias atau nama samaran ke penerbit?
boleh
banyak kok, penulis nonfiksi yang pakai nama samaran :)
putraganteng wrote on Apr 12, '08
mas, ada berapa jenis penulisan artikel?
putraganteng wrote on Apr 12, '08
kalo opini?
herivirpat wrote on May 16, '08
Tulisan Bung Jonru ini sangat menggugah bagi kita yang lagi lagi mo belajar menjadi penulis. Bagi saya menulis non fiksi lebih mudah dibanding menulis fiksi karena daya imajinasinya masih terbatas he..he...
Oke deh Bung Jonru, thanks atas tips nya yang bagus.
slackwarer wrote on Jul 5, '08
wah tulisan nya sangat bagus bermanfaat
selamat kenal mas jonru
evkd wrote on Aug 8, '11
Pak, saya ingin bertanya soal judul suatu artikel atau karangan. Dosen saya bilang judul tidak boleh ada "dan"nya... Kira2 ada hubungannya dengan pelebaran topik yang Bapak bahas tidak? Apa betul judul karangan tidak boleh ada "dan"nya, supaya pembaca tidak bingung dengan topik yang dibahas?
Add a Comment