
Apakah Anda percaya jika saya berkata, hingga berusia 26 tahun saya
belum bisa mengendarai sepeda? Ya, sepeda! Anda boleh tidak percaya,
tapi memang demikianlah kenyataannya.
Ketika masih kecil, keluarga saya boleh dibilang sangat tidak beruntung
dari segi ekonomi. Saking miskinnya, keinginan saya untuk membeli
sepeda tak pernah tercapai. Saya juga jarang bergaul, sehingga tidak
punya kesempatan untuk belajar naik sepeda dari para tetangga. Dan
entah kenapa, kakak-kakak saya pun tak ada kesempatan untuk mengajari
saya.
Maka, jadilah saya orang yang sama sekali tidak bisa mengayuh dan mengendarai sepeda, hingga berusia 26 tahun!
Jika sepeda saja tidak bisa, bagaimana mungkin bisa mengendarai motor? Tentu lebih tak bisa lagi, kan?
Tapi memang, keinginan untuk mempelajari sesuatu bisa menjadi sangat
kuat ketika kita berada dalam kondisi yang serba "gawat darurat". Dan
inilah yang terjadi pada saya di usia ke-26 tersebut. Saat itu, secara
tak terduga saya terpilih menjadi koordinator kecamatan (korcam) dalam
kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Saya pun segera berpikir, "Sebagai
seorang korcam, alangkah malunya jika saya tidak bisa mengendarai
motor. Lebih malu lagi jika ternyata mengendarai sepeda pun saya tak
bisa!"
Maka, tiba-tiba keinginan saya untuk belajar mengendarai sepeda motor menjadi amat kuat.
Tapi tahukah, anda, kendala terbesar yang saya hadapi saat itu justru
datang dari diri sendiri. Saya amat malu untuk berterus terang pada
setiap orang bahwa saya tidak bisa mengendarai sepeda. Saya tahu,
"keahlian" bersepeda umumnya telah dikuasai oleh setiap orang sejak
usia kanak-kanak. Jadi, alangkah malunya jika sampai ketahuan bahwa
seorang manusia berusia 25 tahun belum bisa juga mengendarai sepeda!
Apa kata dunia?
Di daerah-daerah luar Jakarta, keahlian mengendarai motor pun sudah
menjadi umum bagi setiap orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan.
Jadi tentu aneh sekali jika ada orang berusia 26 tahun yang belum bisa
mengendarai motor dan sepeda sekaligus! (Kalau di Jakarta, mungkin hal
ini tidak terlalu aneh. Tapi ketika itu saya tinggal di Semarang).
Jadi, bagi saya, kenyataan ini sama buruknya seperti aib yang amat
memalukan.
Namun, keinginan yang kuat membuat saya terpaksa mengacuhkan rasa malu.
Saya membeberkan "rahasia" ini pada seorang teman kuliah bernama
Marsono. Saya juga minta tolong dia untuk mengajari saya mengendarai
motor. Alhamdulillah, dia bersedia. Dia juga mau tutup mulut, tidak
membocorkan "rahasia" itu pada siapa pun.
Maka, saya pun mulai belajar bersama Marsono. Tapi ternyata hasilnya
tidak begitu menggembirakan. Kendala utama saya adalah: saya masih
sulit menjaga keseimbangan. Ini disebabkan, seumur hidup saya belum
pernah mengendarai sepeda. Padahal, jika masalah keseimbangan ini sudah
teratasi, sebenarnya belajar mengendarai motor tidaklah susah. Mungkin
cukup belajar selama dua hari, setelah itu tinggal penambahan jam
terbang.
Saya pun sempat gusar. Jadwal KKN semakin dekat, sementara saya belum bisa juga mengendarai motor. Apa yang harus saya lakukan?
Di tengah kekalutan itu, saya mendapat ide yang cukup bagus. Saya
menyewa seorang tukang ojek untuk mengajari saya. Biayanya Rp 10.000
perhari. Ini bagi saya jauh lebih menyenangkan ketimbang meminta tolong
teman, yang tentu saja banyak unsur sungkannya.
Bersama tukang ojek itu, alhamdulillah saya mengalami perkembangan yang
cukup baik. Si tukang ojek ternyata tahu bahwa saya belum bisa menjaga
keseimbangan. Maka, dia meminjam sebuah sepeda dan meminta saya
mengendarainya. "Coba Mas belajar menjaga keseimbangan dulu dengan
sepeda ini," ujarnya.
Saya menurut, dan alhamdulillah... secara perlahan saya mulai bisa
menjaga keseimbangan, walau belum terlalu maksimal. Mengendarai motor
pun mulai lancar.
Setelah menyewa jasa si tukang ojek selama beberapa hari, saya
memutuskan untuk belajar sendiri. Saya membeli sebuah sepeda untuk
memperlancar "keahlian" ini. Dan Anda perlu tahu, itu adalah sepeda
pertama yang berhasil saya miliki!
Seorang teman bernama Setyo, secara sukarela sempat melatih saya
meningkatkan kemampuan. Dia mengajari saya tentang teknik menjaga
keseimbangan yang benar. Saya lupa apa tekniknya itu. Yang jelas, bagi
saya itu adalah teknik yang baru, yang belum pernah saya dapatkan, baik
dari Marsono maupun si tukang ojek. Dan alhamdulillah, hanya dalam
hitungan satu jam setelah Setyo membeberkan teknik itu, saya langsung
bisa menjaga keseimbangan tubuh dengan baik!
Maka sejak saat itu, saya mulai lancar mengendarai motor. Saya belum
punya motor sendiri, sehingga saya harus sering-sering meminjam
motor teman. Saya cukup bersyukur, karena suatu malam seorang teman
mengajak saya jalan-jalan keliling kota, dan saya diminta duduk di
depan! Itulah untuk pertama kalinya saya mengendarai motor di jalan
raya. Karena malam hari dan sepi, maka saya bisa mengendarai dengan
lebih leluasa.
Setelah KKN tiba, saya merasa gembira karena sudah bisa mengendarai
motor, walau masih ada unsur "kagok"nya. Terus terang, selama KKN itu
saya pernah jatuh karena lupa menurunkan kecepatan di tikungan. Pernah
juga motor yang saya kendarai jatuh, padahal saat itu saya sedang
membonceng seorang dosen (ini sempat menimbulkan gosip yang
menghebohkan se-kecamatan!). Pokoknya banyak pengalaman "pahit" pada
masa itu. Tapi alhamdulillah, semua itu dapat teratasi dengan baik.
Kini, saya sudah punya motor sendiri, dan dengan motor inilah saya
pulang pergi dari rumah ke kantor, atau ke tempat-tempat lain di
Jakarta. Saya benar-benar bersyukur, karena kemampuan saya dalam
mengendarai si roda dua ini semakin baik saja. Saya kini bisa
"menaklukkan" jalan raya di ibukota tercinta ini, yang terkenal sangat
"ganas", sering macet, dan banyak pengendara yang suka berbuat
seenaknya. Alhamdulillah, hingga hari ini saya belum pernah terkena
musibah di jalan raya (kecuali ditilang polisi, hehehe..), dan semoga
tidak akan pernah selamanya. Amiin....
Namun terus terang...
Karena saya sangat terlambat dalam belajar mengendarai sepeda (baca:
menjaga keseimbangan tubuh), sampai saat ini sebenarnya saya belum
begitu mahir dalam urusan yang satu ini. Misalnya dalam mengendarai
motor, saya mengalami kesulitan yang cukup besar ketika harus
membonceng orang gemuk, Keseimbangan tubuh saya akan terganggu, walau
mungkin ini tidak akan terlalu fatal. Karena itu, saya dengan terpaksa
harus sering menolak permohonan teman-teman untuk dibonceng, terutama
mereka yang ukuran tubuhnya termasuk "jumbo". Tapi kalau yang berukuran
badan standar sih, Insya Allah tidak ada masalah.
Oh ya, sampai saat ini, saya baru bisa mengendarai motor bebek. Kalau motor-motor "cowok" seperti Tiger 2000 sih, belum bisa!

Comment deleted at the request of the author.
 | ti2n wrote on Jun 20, '05 wahhh.. pengalaman yang menarik sekali Pak Jonru! hihhi... saya sempat tertawa2 membaca jurnal ini... abis banyak kejadian lucunya sih... :D saya sendiri (entah kena karma ato tidak) sampai saat ini harus mengayuh sepeda hampir tiap hari. hehehe.. ke kampus naik sepeda. ke supermarket naik sepeda.. ke bank naik sepeda... wahh.... pokoknya sepeda jadi andalan saya deh! mungkin lingkungan masyarakat jepang sendiri yang sangat akrab dengan sepeda, jadi saya pun terbawa juga :P
saya belajar naik sepeda pertama kali kelas 6 SD, karena untuk persiapan masuk SMP. SMP saya 5km dari rumah, jadi setiap hari saya menempuh jarak 10km untuk sekolah :D
trus, karena ortu nggak mampu membelikan sepeda motor, saya nggak bisa naik sepeda motor hingga kuliah semester 5-an. Akhirnya ada teman yang berbaik hati mengajari saya.... jadi pas KKN juga alhamdulillah udah bisa... bahkan sering bolak-balik jadi tukang ojeknya Bu Lurah klo ke pasar, kondangan ato sekdar rapat di Baledesa ...huehehue ^_^
|
 | Kisah kejujuran tentang diri sendiri yang seru dan lucu ^__^
Jujur nih, saya lebih parah lagi, sampai sekarang trauma mengendarai sepeda motor, karena saya pernah jatuh, menghasilkan jahitan di dagu dan retak tulang dalam tangan saya, di gips dan seterusnya. Padahal baru bisa 3 harian mengendarai motornya. Sampe sekarang, kalo ada yang nyuruh saya belajar naek motor lagi, baru pegang stang-nya aja, keringat saya gromobyosss! Saya jadi phobia nih sama aktifitas belajar mengendarai motor keliatannya. Kalo dibonceng mah doyan, enak sih sepoy2 angin berkeliling kota atau desa :-) |
 | jonru wrote on Jun 20, '05 wahhh.. pengalaman yang menarik sekali Pak Jonru!  terima kasih banyak mbak titin.. kalo di jepang sih, saya enggak heran kalo banyak yang naik sepeda ke mana-mana. Pengen juga sih, Indonesia sepert itu. Biar gak macet dan bebas polusi. Tapi kapan ya? |
 | jonru wrote on Jun 20, '05 Kisah kejujuran tentang diri sendiri yang seru dan lucu ^__^  Sekarang saya berani menceritakannya karena sudah bisa mengendarai motor, mbak. Kalau dulu sih, dibayar tinggi pun belum tentu mau, hehehe... :) |
 | jonru wrote on Jun 20, '05 alo' orang gak bisa naek motor siy, banyak !! tapi gak bisa naik sepeda ? hi hi hi ...masa' siy ??  Ya, faktanya memang demikian, mbak... Karena hal ini, terus terang sampai sekarang saya punya beberapa keterbatasan dalam hal mengendarai motor:
1. saya tidak bisa selincah pengendara lain. Lebih sering disalib ketimbang nyalip. Tapi saya gak begitu peduli. Yang penting selamat.
2. Kalau jalanan menikung tajam, pengendara lain bisa melaluinya dengan cukup lincah. Tapi saya terus terang kurang bisa. Makanya pas ada tikungan, saya memilih untuk bergerak lambat. Padahal saya sering lewat di jalan layang yang dari arah taman ria senayan ke gatot subroto. Tikungannya kan tajam banget tuh :)
3. Sekarang ini, saya malah lebih lincah mengendarai motor ketimbang sepeda, hehehe...
4. Kalau naik motor, saya masih bisa membonceng orang lain. Tapi kalau sepeda? Wah, jangan sampai ada yang dibonceng. Dijamin ambruk tuh sepedanya!
5. Karena biasa mengendarai honda bebek, kadang-kadang saya masih kagok juga jika harus mengendarai motor bebek lain yang bentuknya beda banget.
Tapi terlepas dari semua itu, saya merasa bersyukur karena kemampuan saya semakin baik. Beberapa waktu lalu, ada teman yang berkata begini sama saya, "Sekarang saya gak takut lagi kalau dibonceng sama kamu. Kamu makin mahir aja, deh."
Alhamdulillah.... :) |
 | Sama Pak Jonru, saya juga salah satu pengendara sepeda motor "nyeleneh" bisa mengendarai motor tapi kalau disuruh naik sepeda bisanya cuma dijalan yang lurus, kalau ketemu belokan sepeda siap dilempar dan sayapun ambruk :D
Sampai sekarang saya masih agak kesulitan untuk belok kanan, musti jalan ektra hati-hati n pelan banget kalau nggak mau jatuh :D |
 | walahhh ... ketemu temen dsini, tapi bedanya saya masih belum bisa naek sepeda juga sampe skarang umur mau kepala 3 ... kasitau dong teknik menjaga keseimbangan yang benar dari temannya yg namanya Setyo itu ,,, sharing ke veerdee@gmail.com ya ... makasih lo ... |
 | Pak tulisan bapak menarik sekali. Mungkin karena saya juga tidak bisa naik sepeda tapi ingin bisa mengendarai sepeda motor. Saya sudah beberapa hari latihan tapi belum bisa menjaga keseimbangan. Kalo boleh sharing dong ke aharoen@yahoo.com tentang teknik menjaga keseimbangan dari pak Setyo itu. Makasih sebelumnya
aharoen
|
 | lebih malu lagi kalau gak pernah belajar |
 | Saya juga pernah jatuh waktu mau mengendarai Vespa (masih ada nggak ya?), sampai sekarang cuma bisa bebek-bebek kecil (Honda bebek masih ada nggak ya?). Tapi paling gampang belajar mengendarai mobil saja... nggak perlu pakai keseimbangan badan. |
 | Saya juga sampai sekarang belum bisa mengendarai apapun kendaraan yg beroda dua, sampai2 saya minder buat nyari calon istri, kalau berkenan saya minta tipsnya berdasarkan pengalaman bapak, udah pengen punya pendamping nih tapi selalu dijauhi karena nggak bisa2 . E-mail saya dewa9benua@gmail.com. terima kasih sebelumnya. |
 | halo pak Jonru..saya juga baru mulai belajar mengendarai motor nih..tolong donk di share ke cheril.mycat @gmail.com tentang teknik menjaga keseimbangan dari pak Setyo itu..terima kasih ya sebelumnya...tolong ya pak.. |
 | Salam! He...he...he... ternyata saya tidak sendirian di dunia ini. Saya kelas lima SD pernah belajar naik sepeda tetapi tidak sukses. Sampai sekarang usia 31 belum juga bisa. Saya tidak seberuntung Pak Jonru yang memiliki teman dekat yang cukup tanggap. Beberapa teman yang pernah saya ceritakan tentang hal ini biasanya hanya merespon dengan "belajar, lah!" Mereka tidak tahu betapa untuk melakukan hal yang satu itu sangat berat buat saya. Belajar sebelum Subuh pun padahal pernah saya lakukan buat mengurangi rasa malu. Pernah juga meminta bantuan tukang ojek sepeda yang beroperasi jauh dari tempat tinggal saya... eh malah dituduh mau nyolong. Perih! Padahal saya janji mau kasih bayaran. Sama seperti devraj76 saya juga jadi minder buat cari calon isteri. Dari beberapa survey terselubung yang saya lakukan pada teman-teman perempuan, umumnya mereka menganggap kemampuan berkendara (syukur-syukur punya sendiri) seorang laki-laki sangat penting. Apalagi di tengah zaman serba cepat sekarang ini. Akhirnya saya pasrah saja... Beberapa usaha yang saya lakukan rasanya sudah cukup. |
Comment deleted at the request of the author.
Comment deleted at the request of the author.
 | Mas Jonru. memberi inspirasi buat aku. aku juga belum bisa naik sepeda. apalagi sepeda motor. tolong sharing ke aku dong. bagaimana caranya belajar mengendarai sepeda dengan baik dan cepat. email aku di bagelenbandung@gmail.com untuk Mas Veerdee, Mas Aharoen dan Mbak Cheril,, tolong sharing ke aku yah... semoga kebaikan kalian akan bermanfaat bagi aku. terima kasih banyak. |
 | sama dunk bro gue jg ga bs naik sepeda sampe saat ini umur dah 27 tp lum bisa tulisan bro diatas bener2 memacu untuk belajar sepeda lg walau dah lama ga belajar lg karena alasan" yg membuat saya malu diketawain dsb kalo bisa tolong dunk bro rahasia nya biar sepeda lancar dan bisa mendapatkan keseimbangan ny.pm aja yah bro thx |
| |