Ketika bungkusan itu terbuka dan ternyata isinya laptop, saya bersorak kegirangan. Sekitar limat menit kemudian, mata saya berkaca-kaca karena terharu.
* * *
Semula, saya menyebut Dani Ardiansyah sebagai the lucky boy. Ya, tentu ia amat beruntung. Tanpa diduga-duga, penulis yang satu ini mendapat door prize berupa satu unit laptop merk Compaq yang harganya mungkin di atas Rp 10 juta. Tapi setelah berpikir lebih jauh, saya merasa bahwa julukan itu tidak tepat untuknya. Dani Ardiansyah is NOT the lucky boy.
* * *
Saya pertama kali mengenal Dani ketika FLP mengadakan sebuah acara diskusi-penulisan dadakan di arena World Book Day dua tahun lalu. Waktu itu saya tampil sebagai moderator dadakan, dan Dani Ardiansyah hadir sebagai peserta. Ia terlihat amat antusias mengikuti acara itu, dan mengaku ingin sekali bergabung dengan FLP, tapi belum tahu caranya. Acara dadakan itu membuatnya tahu, ia pun segera bergabung dengan FLP.
Beberapa bulan kemudian, saya bertemu lagi dengannya pada sebuah diskusi penulisan di FLP Jakarta. Dia membawa beberapa eksemplar bukunya yang sudah diterbitkan. Hm... semula saya tak begitu antusias menanggapi fakta itu. Sebab menerbitkan buku saat ini sangat mudah. Tak ada yang terlalu istimewa.
Tapi ketika saya tahu bahwa TERNYATA buku itu ia terbitkan secara indie atau self publishing, barulah saya menaruh perhatian yang besar padanya.
Menerbitkan buku adalah hal biasa, namun menerbitkan buku secara self publishing adalah hal yang sangat LUAR BIASA!
Apalagi setelah saya tahu betapa gigihnya Dani dalam upaya menerbitkan dan menjual buku pertamanya ini; sebuah novel remaja berjudul AURORA.
Untuk menerbitkan AURORA, Dani mengerjakannya sendirian, mulai dari menulis, mencari percetakan, mengurus ISBN, dan sebagianya. Ia bahkan terpaksa melelang motor kesayangannya di Pegadaian.
Setelah bukunya terbit, Dani berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, mengadakan roadshow dan diskusi penulisan. Bekerja sama dengan pengurus OSIS tiap sekolah, bukunya dijual dengan sistem mencicil, sehari Rp 1.000. Hm.. sebuah ide yang sangat kreatif! Anda dan saya mungkin belum pernah kepikiran untuk menjual buku dengan cara seperti itu.
Alhamdulillah, kerja keras Dani membuahkan hasil. Dalam waktu sebulan, bukunya yang dicetak sebanyak 1.000 eksemplar, habis terjual. Ia dapat menebus kembali motornya.
Apakah AURORA sebuah novel yang bagus, sehingga bisa terjual 1.000 eksemplar dalam waktu yang amat singkat?
Sejujurnya, menurut saya novel ini masih sangat jauh di bawah standar kualitas. Cetakannya jelek, editingnya kacau balau, isi ceritanya terlalu biasa, nyaris tak ada yang istimewa. Saya pun pernah menyampaikan kritik seperti itu padanya, dan Dani dapat menerimanya dengan besar hati. Ia juga sadar bahwa ia masih perlu belajar banyak.
Lantas, kenapa buku ini bisa laris manis begitu? Tak lain dan tak bukan, karena Dani bekerja sangat keras dan penuh kreativitas. Ia menjalankan strategi marketing door to door, menjemput bola, sebuah pekerjaan yang amat repot dan melelahkan. Tapi alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan. Kita pun mendapat pelajaran berharga: Ternyata promosi dan marketing itu sangat penting!
Buku Dani memang jauh di bawah standar kualitas, tapi semangatnya yang luar biasalah yang perlu kita teladani. Ia tak kenal menyerah, ia rela melakukan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan oleh kita.
Dan yang lebih hebat, Dani tak mau surut walau ada kendala. Ia tak punya komputer. Ia menulis novel dengan tulisan tangan, dan (sepertinya) naskah itu diketik di rental komputer. Ia ingin sekali memiliki komputer. Mungkin setiap malam, doa yang dipanjatkannya berbunyi, "Ya Allah, izinkanlah hambaMu ini memiliki komputer agar aku bisa menulis naskah dengan lebih leluasa."
* * *
Allah memang Maha Mendengar. IA juga akan mengabulkan doa siapa saja yang mau bekerja keras untuk meraih impiannya.
Dan keajaiban pun terjadi tanggal 15 Juli 2007 lalu. Dalam acara kopdar komunitas SekolahKehidupan.com di Rasuna Klub, Jakarta, nama Dani Ardyansyah terpilih sebagai penerima hadiah utama dalam acara door prize.
Sebenarnya, nama yang pertama kali disebut bukan nama dia. Tapi karena orang yang beruntung itu tidak ada (sepertinya dia sudah pulang), maka mas Helmy Yahya selaku pembawa acara mengambil satu nama lagi. Ternyata itu adalah nama Dani Ardiansyah.
Dani maju ke panggung dengan perasaan yang amat gembira.
"Hadiah apa yang kamu harapkan dari kotak ini?" tanya Helmy Yahya.
"Hadiah yang akan membuat saya bahagia," sahut Dani, ia terlihat grogi.
"Ah, jawabannya kurang spesifik. Coba sebutkan nama benda tertentu."
"Sejak dulu saya ingin sekali punya komputer, tapi belum kesampaian," ujar Dani akhirnya.
Helmy Yahya pun menyuruh Dani membuka bungkus kotak itu. Dan ketika sudah terbuka, terlihat nama sebuah merek di kardusnya: Compaq.
"Sekarang, apakah kamu bisa menebak apa isi kotak ini?" tanya Helmy Yahya.
"Iya, bisa!" sahut Dani, terlihat ia makin bahagia.
"Benar! Isi kotak ini adalah sebuah laptop!" Teriak Helmy Yahya.
Seluruh hadirin bertepuk tangan, termasuk saya. Saya berteriak kegirangan, ikut senang atas hadiah yang didapatkan sahabat saya itu.
Sekitar lima menit kemudian, entah kenapa saya jadi terharu. Mata saya berkaca-kaca.
Saya ingat bagaimana perjuangan Dani yang amat luar biasa untuk mewujudkan keinginannya menjadi seorang penulis. Dia mengorbankan banyak hal, termasuk motor kesayangannya. Ia ingin sekali memiliki komputer, namun yang ia dapatkan justru laptop, sebuah benda yang jauh lebih canggih. Nasibnya saat ini seperti peribahasa, "Pucuk dicinta ulam tiba."
Walau si penerima hadiah itu bukan saya, tapi saya dapat merasakan betapa bahagianya Dani. Dulu, ketika saya baru merintis karir sebagai penulis, saya ingin sekali membeli mesin tik (saat itu belum ada komputer), tapi belum kesampaian juga. Saya bahkan nyaris stress karena benda yang satu itu belum berhasil juga saya miliki. Saking terobsesinya saya terhadap mesin tik, ia sampai terbawa-bawa ke dalam mimpi.
Bagaimana perasaanmu ketika ada orang yang memberimu hadiah berupa benda yang amat kamu inginkan? Kamu tak akan dapat menjawabnya sebelum merasakannya sendiri. Dan itulah - antara lain - yang membuat mata saya berkaca-kaca.
"Dani, you are the lucky boy," ujar saya di dalam hati, sambil bermimpi seandainya laptop itu jatuh ke tangan saya. Tiba-tiba, saya mendapat ide untuk membuat tulisan berjudul, "About laptop and Dani Ardiansyah, the lucky boy".
Tapi beberapa menit kemudian, saya berpikir ulang. Benarkah Dani the lucky boy? Apakah dia sekadar beruntung, tak lebih dari itu?
Oh, tidak! Menurut saya ia bukan beruntung. Ia mendapatkan laptop itu bukan karena faktor LUCKY semata. Kalau saya menyebut dia beruntung, lantas di mana peran kerja keras dan doanya selama ini?
Dani adalah pemuda yang amat kreatif, ia tipe manusia pekerja keras yang tak gampang menyerah. Dan laptop itu merupakan hadiah yang SANGAT LAYAK untuknya. Tuhan telah mendengar doanya selama ini, dan kini saatnya DIA menepati janji.
Allah tak akan pernah menyia-nyiakan setiap ikhtiar hambaNya.
Selamat saya ucapkan buat Dani. You are NOT the lucky boy. Okay?
Jonru