Kapan terakhir kali saya melamar pekerjaan? Entahlah. Lupa. Yang jelas, aktivitas yang satu ini sudah sangat jarang saya lakukan sejak bekerja sebagai content editor di CBN. Terlepas dari segala macam kebosanan yang saya alami selama bekerja di sana, terus terang saya sebenarnya berpendapat bahwa CBN adalah perusahaan yang sangat baik. Mereka sangat manusiawi dalam memperlakukan karyawan. Saya bahkan sempat berjanji seperti ini, "Suatu saat nanti jika saya keluar dari CBN, itu bukan karena saya diterima bekerja di perusahaan lain, melainkan karena saya sudah punya usaha sendiri."
Alhamdulillah... janji saya ini terpenuhi. Tapi bukan ini yang hendak saya bahas sekarang.
Selama sekitar tiga tahun pertama bekerja di CBN, boleh dibilang saya tak pernah lagi melamar pekerjaan. Tapi ketika rasa bosan makin tak tertahankan, saya mulai mencoba melirik berbagai macam lowongan di berbagai perusahaan lain.
Sayangnya, hampir tak ada lowongan yang cocok buat saya. Ketidakcocokan ini karena:
- Saya tak berminat terhadap jenis pekerjaan atau job discription yang ditawarkan.
- Faktor usia. Entah kenapa, hampir semua lowongan mensyaratkan usia pelamar harus di bawah 30 atau 27 atau 28 tahun. Sedangkan usia saya sudah di atas 35 tahun.
- Memang ada lowongan buat yang berusia di atas 35 tahun. Tapi biasanya ini adalah untuk posisi manajer, dan yang dicari adalah orang yang sudah berpengalaman sebagai manajer pula, atau minimal supervisor. Masalahnya, saya belum punya pengalaman kerja seperti itu.
- Faktor Indeks Prestasi (IP). Yang dicari umumnya adalah mereka yang punya IP di atas 2,5 bahkan 3.0. Masalahnya, IP saya hanya 2,44.
- Dan beberapa faktor lainnya.
Jadi boleh dibilang, frekuensi saya dalam melamar pekerjaan - selama bekerja di CBN - sangat sedikit. Dan dari yang sedikit itu, hanya satu kali saya mendapat panggilan.
Ini terjadi sekitar satu tahun lalu. Waktu itu, saya mengirim sebuah lamaran online via situs www.karir.com. Nama perusahaannya tidak disebutkan. Mereka hanya bilang, "Dibutuhkan redaktur untuk media teknologi informasi." Dan betapa kagetnya saya, ketika mendapat panggilan itu. Ternyata dari majalah SWA!
Saya pun mengikuti psiko tes di rumah seorang psikolog. Dia ini adalah partner majalah SWA, bekerja di media yang satu ini secara outsourcing. Menurut si psikolog, hasil tes saya sangat memuaskan. Dia berkata, mungkin beberapa hari lagi saya akan dipanggil itu tes berikutnya.
Tapi hingga hari ini, panggilan itu tak pernah datang.
* * *
Lama kelamaan, saya juga makin malas melamar pekerjaan baru. Selain karena faktor-faktor di atas, juga karena saya merasa tidak nyaman ketika harus berhadapan dengan segala macam tes penerimaan karyawan baru; mulai dari psikotes, wawancara kerja, tes kesehatan, dan entah apa lagi.
Saya merasa - mungkin ini hanya pikiran buruk saya - bahwa tes-tes seperti itu seperti sebuah alat yang mencurigai saya. Tes-tes itu seolah-olah bicara pada saya, "Kamu ini siapa, sih? Apa yang bisa kamu andalkan? Emang kamu mampu?"
Intinya, segala macam tes penerimaan karyawan baru membuat saya merasa sangat tidak nyaman. Maka, semangat untuk mencari pekerjaan baru pun semakin lemah. Padahal, kebosanan saya bekerja di CBN semaking menggila. Saya ingin keluar secepatnya dari sana, tapi saya belum punya alternatif lain.
Ada beberapa lowongan lain yang sempat saya baca. Sepertinya cocok buat saya. Bahkan, ada lowongan untuk posisi content manajer (sebuah jabatan yang sebenarnya sangat saya sukai!), dan usia si pelamar adalah maksimal 38 tahun. Cihuiyyyy!!! Jarang-jarangnya ada lowongan yang kriterianya cocok dengan usia saya.
Saya pun segera menulis surat lamaran. Tapi entah kenapa, lamaran itu tidak pernah saya kirim, sampai hari ini.
* * *
Tekad saya untuk berhenti sebagai pekerja kantoran pun, membuat semangat itu nyaris hilang. Memang, saya sempat tergoda ketika membaca ada lowongan menarik di media massa. "Boleh juga nih, kalo dicoba," ujar saya di dalam hati.
Tapi kemudian saya tertawa geli. "Buat apa sih, melamar kerja lagi? Bukankah saya telah bertekad untuk berhenti sebagai pekerja kantoran?"
Maka, saya pun mengurungkan niat untuk melamar kerja.
* * *
Setelah benar-benar berhenti bekerja sebagai pekerja kantoran, boleh dibilang semangat untuk melamar pekerjaan sudah benar-benar hilang tak berbekas. Saya tak pernah kepikiran lagi untuk melamar pekerjaan ke manapun.
Memang, saya kini jadi tertarik banget untuk memelototi iklan lowongan kerja di koran (entah apa sebabnya!). Saya baca satu persatu. Dan ketika melihat ada lowongan yang cocok, saya langsung tertarik. Ingin melamar ke sana. Tapi kemudian saya berkata lagi di dalam hati, "Buat apa sih? Kurang kerjaan amat!"
* * *
Walau tak pernah lagi melamar kerja, di luar dugaan kini saya beberapa kali ditawari pekerjaan. Hingga tulisan ini dibuat, setidaknya saya sudah dua kali mendatangi orang yang menawari pekerjaan tersebut.
Yang pertama adalah dari sebuah penerbit besar di Bandung. Saya diajak ketemu di sebuah mall di Jakarta. Di sana dia menawari saya posisi managing editor. Karena sejak dulu saya pengen banget bekerja di penerbit buku, saya pun menerima tawaran itu.
Tapi hingga hari ini, berbulan-bulan setelah pertemuan itu, tak ada kabar apapun dari mereka. Mungkin mereka berubah pikiran, atau ada masalah lain? Entahlah!
Yang kedua adalah dari sebuah penerbit juga. Rekomendasi saya dapatkan dari seorang penulis terkenal. Dia mengabari lowongan tersebut via SMS. Saya pun menyatakan tertarik, dengan alasan yang sama seperti di atas.
Maka, sekitar 3 minggu lalu saya datang ke kantor penerbit tersebut, di daerah Jakarta Timur. Sayangnya, direktur yang seharusnya bertemu saya, tiba-tiba harus keluar kantor karena ada urusan mendadak. Saya pun hanya bertemu salah seorang stafnya. Si staf ini berkata bahwa saya akan dihubungi lagi nanti.
Tapi hingga hari ini, mereka belum juga menghubungi saya.
* * *
Apakah saya kecewa karena dua kali menghadapi masalah yang sama? Insya Allah tidak. Sebab pada dasarnya saya memang sudah bertekad untuk berhenti sebagai pekerja kantoran. Ketertarikan saya pada dua tawaran di atas mungkin hanya ketertarikan semu, atau karena saya merasa bahwa ini adalah peluang bagus untuk mewujudkan "mimpi terpendam" saya.
* * *
Dan hari ini, Insya Allah saya akan menghadiri lagi pertemuan dengan pemimpin redaksi (pemred) sebuah majalah Islam. Informasi lowongan saya dapatkan dari seorang teman (sebut saja si A). Dia merekomendasikan nama saya kepada si pemred tersebut, untuk mengisi jabatan redaktur pelaksana.
Awalnya, saya agak tertarik. Tapi setelah dipikir-pikir, saya memutuskan untuk tidak mengambil tawaran itu. Saya berpikir bahwa saatnya saya konsisten pada pilihan hidup sebagai "orang bebas".
Ketika menyatakan tertarik pada tawaran dari dua penerbit di atas, salah satu alasan saya adalah karena saya ingin "Mencari pengalaman bekerja di penerbit buku. Semoga ini bisa menjadi modal saya jika nanti saya mendirikan penerbitan sendiri."
Tapi lowongan di media yang satu ini adalah sebagai redaktur pelaksana. Ini adalah jabatan yang pernah saya dapatkan di pers kampus dulu. Boleh dibilang, saya sudah "berpengalaman" sebagai redaktur pelaksana. Jadi, alasan "mencari pengalaman" sepertinya tidak tepat. Ini membuat rasa tertarik saya pada lowongan ini tidak terlalu tinggi.
Namun, si A berkata bahwa jabatan redaktur pelaksana itu sangat urgen. Mereka butuh banget.
"O gitu, ya?" ujar saya. "Atau gimana kalo saya bantu cari orang yang cocok?"
"Boleh juga. Tapi nama siapa yang bisa Mas Jonru rekomendasikan?"
"Hm..." saya berpikir sejenak. Memang banyak teman saya yang jadi wartawan, atau cocok jadi redaktur pelaksana. Tapi saya belum menemukan orang yang kriterianya cocok dengan yang diminta oleh media tersebut.
Saya akhirnya tak bisa merekomendasikan siapapun.
"Kalau begitu, begini saja, mas," ujar si A. "Gimana kalau sambil mencari orang yang cocok, mas Jonru dulu yang mengisi posisi tersebut?"
"Hm, boleh deh," ujar saya.
* * *
Maka, saat ini saya sedang mempersiapkan diri untuk bertemu pemred majalah Islam tersebut. Sejujurnya, saya tak begitu antusias. Tapi saya mencoba "tawakkal" saja. Walau nanti tak diterima bekerja di sana, minimal saya bisa menjalin silaturahmi dengannya. Dan siapa tahu, ada peluang bisnis yang bisa saya dapatkan darinya.
SEANDAINYA nanti saya diterima bekerja di sana, saya mungkin tak akan berlama-lama. Sebab, saya saat ini sedang membangun sebuah pondasi bisnis. Setelah beberapa bulan berhenti bekerja, saya mulai merasa bahwa pondasi bisnis itu mulai kuat, dan Insya Allah beberapa bulan ke depan bisnis ini sudah mulai stabil. Alangkah sayangnya, jika "masa depan bisnis yang cerah" tersebut menjadi tak terurus karena saya kembali sibuk bekerja sebagai orang kantoran.
Karena itu, SEANDAINYA nanti saya diterima bekerja di media Islam tersebut, mungkin saya hanya akan bertahan sekitar satu atau tiga BULAN. Sambil bekerja, saya akan mencari orang lain yang cocok untuk menggantikan saya.
Dan bila nanti saya tidak diterima, ya alhamdulillah. Berarti saya bisa kembali konsentrasi untuk membangun "kerajaan bisnis saya".
Entah nanti saya diterima di sana atau tidak, saya yakin bahwa itulah ketentuan Allah yang terbaik bagi saya.
Cilangkap, 21 Juni 2007
Jonru