Beberapa proyek bisnis yang sudah deal, tapi belum terlaksana.
Hanya itu. Saya sama sekali tak punya modal berbentuk uang. Tabungan pun boleh dikatakan tak ada (Anda boleh tidak percaya, tapi demi Allah saya berkata jujur). Dengan fakta ini, mungkin tak keliru juga jika ada orang yang "menuduh" saya berbuat nekat tanpa perhitungan yang matang.
Tapi Insya Allah, hingga hari ini saya belum pernah menyesali keputusan saya tersebut.
Memang, sejak awal saya sudah memperhitungan segala jenis kemungkinan, termasuk kemungkinan mati kelaparan karena tak punya penghasilan sedikit pun.
Hari demi hari berlalu. Beberapa minggu setelah menjadi orang bebas, saya dan istri mulai mengalami kondisi "keterbatasan uang". Apalagi karena beberapa proyek seperti yang disebutkan pada poin 4 di atas, ternyata makin tak jelas juntrungannya. Saya malah sudah bosan berharap dan pasrah.
Akibatnya, dalam jangka pendek ini kami sama sekali belum punya gambaran mengenai sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Akhir Mei 2007 lalu, kondisi terburuk pun terjadi. Istri saya sampai menangis karena sisa uang kami sudah sangat menipis. Sementara sumber penghasilan makin tak jelas. Situasi makin parah karena berbagai macam tagihan dan biaya bulanan sudah menghadang di depan. Pakai apa kami harus membayar semua itu?
Dalam keadaan seperti ini, apakah saya menyesal karena telah mengambil keputusan besar itu? Keputusan untuk menjadi orang bebas dan tak punya penghasilan tetap?
TIDAK! Saya tak menyesal sedikit pun! Saya tetap yakin bahwa itu adalah keputusan terbaik yang telah saya ambil. Lagipula, buat apa menyesali sesuatu yang telah terjadi?
Saya pun memikirkan berbagai macam upaya yang dapat ditempuh, agar kami segera memiliki uang yang cukup untuk menghidupi keluarga. Saya bahkan sempat punya ide untuk menjual motor, satu-satunya kendaraan kami untuk wira-wiri ke sana ke mari.
Istri saya sempat ragu atas ide ini. Di satu sisi dia merasa berat, karena motor sangat kami butuhkan. Tapi di sisi lain dia juga belum punya ide yang lebih baik untuk mengatasi masalah kami.
Maka, satu-satunya ikhtiar adalah berdoa. Saya mencoba tawakkal, menyerahkan sepenuhnya masalah ini pada Allah. Sebab saya yakin, Allah Maha Pemberi Rezeki. Saya yakin Dia tak akan memberikan kami ujian yang tak mampu kami atasi.
Dan keajaiban itu pun terjadi sekitar tiga hari lalu. Seorang teman - mantan teman kantor saya - tiba-tiba mengirim SMS. Dia mengabari bahwa ada sebuah perusahaan besar yang sedang ingin membuat website.
"Dia pengen website itu ditangani seorang freelance, bukan perusahaan, supaya harganya bisa lebih murah," ujarnya.
Saya merasa seperti mendapat durian runtuh. Maka, segera saya menindaklanjutinya. Dua hari lalu, saya pun bertemu dengan orang dari perusahaan tersebut. Pembicaraan pun berlangsung hangat.
Dan alhamdulillah... kesepakatan pun tercapai. Saya berhasil menawarkan jasa pembuatan website dengan tarif yang lumayan tinggi.
Kabar gembira ini pun saya sampaikan pada istri. Alhamdulillah, dia tampak sangat senang. Kami kini merasa optimis. Insya Allah, kami akan segera mendapatkan penghasilan untuk menghidupi keluarga.
Saya bersyukur, karena keyakinan dan doa saya tidak sia-sia. Allah memang Maha Pemberi Rezeki. Selama kita percaya dan mau berusaha, maka tak ada yang tak mungkin.
Jadi, apakah saya masih menyesal karena telah mengambil keputusan berhenti menjadi pekerja kantoran?
Sama sekali tidak! Setelah kejadian di atas, saya justru makin yakin bahwa saya telah mengambil keputusan yang sangat tepat.
Cilangkap, 6 Juni 2007 Jonru
Catatan: (*) Saya berencana membuat tulisan khusus mengenai hal ini. Intinya, bagaimana kiat mempersiapkan diri bagi Anda yang ingin segera bebas, berhenti sebagai pekerja kantoran. Tunggu tanggal mainnya, ya :)
subhanallah. Allah Maha Pemberi Rizqi. btw, nulis buku juga dalam waktu dekat ini? misalnya, soal keputusan meninggalkan pekerjaan kantoran, jadi orang bebas?
Subhanallah......., sayapun demikian ketika dengan mantapnya meninggalkan jabatan dan karier selama 16 tahun, dan setelah setahun ini berjalan sayapun tetap yakin dengan keputusan saya saat itu walau banyak pihak yg mempertanyakan hal tsb. Prinsipnya satu...yakinlah bumi Allah ini luas, dan pohon yang diam-pun diberi hidup..apalagi kita yg berakal.
saya pernah mengalami hal seperti diatas.. "keluar dari kantor" sampai sekarang jadi pekerja lepas dengan modal dengkul dan modal berteman dengan siapa saja.. sejauh ini.. saya masih hidup..dan masih bisa bikin sesuatu tuh... :D
senang baca tulisan mas jonru :) serasa dipecut...*sakit tau* apalagi buat kami-kami yang kuliah di tingkat-tingkat akhir...ketakukan menghadapi masa depan begitu mencekam.. ala kulli haal...jazakumullah khair mas... *tulisannya aku simpen ya..biar bisa dibaca terus
om jonruuuu... tulisannyah hampir mirip ma jalan idop gwa.. yg juga baru resign tengah bulan kmaren.. ayooo kita sama-sama bangkit... sumber rejeki tuh ga cuma satu ko.. btw.. nice post.. ;-)
Kondisi saya lebih dari anda, anda masih punya tabungan sedang saya sdh berhutang ke bank. Modal keyakinan bahwa Tuhan tidak tidur membuat kita tetap sabar dan semangat.
Subhanallah, sebuah penguatan buat saya, bang. Ditunggu kiatnya, bang. Saya juga yakin, insya Allah, karunia keterampilan yang diberikan Allah SWT pasti akan menjadi alat ampuh untuk meretas hambatan asal ikhlas, ulet, tawakkal,dan semuanya insya Allah saja.
kejadian ini mirip apa yang pernah saya alami juga Bang Jonru, hanya saja saya belum menikah dan harus membantu perekonomian keluarga karena alhamdulillah hingga sekarang saya menjadi kepala keluarga di rumah dari segi mencari uang untuk kebutuhan rumah dan kuliah adik.
Di saat ini, orang tua saya terutama ayah dalam kondisi yg kurang sehat untuk berkerja sehingga saya harus menggantikan posisinya sekarang ini. Pernah mengalami juga apa yang Bang Jonru alami dan kebetulan saya juga berprofesi sbg web programmer pada saat itu, dikala setiap project yang datang tidak jelas, hingga tiba2x datang sebuah perusahaan telekomunikasi meminta saya untuk membuat website mereka. namun tidak berjalan lancar bahkan saya tertipu dengan pembayaran, karena merasa di dzalimi saya cukup cukup mengucap sabar saja.
Ditengah situasi adik butuh untuk bayar kuliah dan membayar tagihan2x rutin bahkan sekeluarga sempat alhamdulillah masih bisa makan nasi putih dan garam saja, ada seorang sahabat menawarkan pekerjaan tetap di sebuah perusahaan IT yang kini saya berkerja di dalamnya. sambil irit2x dan meminjam uang tuk sementara dapat makan dan bayar tagihan alhamdulillah semuanya telah terlewati dengan baik.
Selalu teringat dengan "Allah tidak akan memberikan ujian diluar kapasitas umatnya" itulah yang membuat saya tegar pada saat itu. Alhamdulillah.... jadi saya tau betul perasaan Bang Jonru, sedih namun ada hikmahnya ya Bang :D....
Jon..Jon...aku aja sebenarnya kaget begitu tau kamu mau berenti kerja, makanya terus aku chating nanyain "emangnya ada side job lainnya gitu?".... Maju terus Jon, ntar klo hasil kerjanya bagus semoga membuka jalan ke perusahaan2 lainnya...
Sebuah keputusan yang sangat hebat dimana mas jonru berani mengambil resiko. Tapi aku yakin koq, kalau mas jonru benar2 yakin dan mantap dgn keputusannya itu.Sebenarnya, aku juga sama kondisinya dgn mas jonru. Aku juga ragu dalam mengambil keputusan. Apalagi sekarang aku baru mau tamat kuliah, aku juga ragu kalau kedepannya aku akan kerja kantoran, nggak kebayang akan seperti apa, tapi kayaknya akan sangat jenuh dan membosankan bagi aku. Aku juga ragu karena seolah2 nggak ada pilihan lain buat aku, padahal aku berharap lebih dari itu. Bedanya aku nggak begitu yakin dan mantap seperti mas Jonru. Mas Jon, Bagi dong tipsnya biar bisa yakin dalam mengambil keputusan.
sikrit wrote on Jun 12, '07, edited on Jun 12, '07
Salam alaikum.. Sabar ya Bang Jonru, Kami juga pernah mengalaminya ujian sprt ini, dan benar karena DOA, kami bisa berubah lebih baik..InsyaAllah Bang Jonru khan memiliki kelebihan yg gk dipunyai banyak org, saya yakin Allah membantu segala usaha Bang Jonru.. Gutlak ya Bang.
bang jonru... bang jonru... saya bilang dari dulu juga apa... TETEP SEMANGAT ! hehehehe... *semoga terus diberi ketabahan, karna setelah jalan berdebu dan berbatu, pasti ada jalan yang mulusss... cuma belum nyampe aja...*
Assalamualaikum wr wb saya juga pengen mengikuti langkah bang jonru, saya seorang pekerja di salah satu perusahaan swasta yang sekarang berada di luar negeri, ketika baru satu bulan disini, Alloh memberi saya ujian berupa ditinggalkan oleh ayah saya, sekarang saya hanya mempunyai empat orang adik yang masih kecil2 yang harus saya rawat, so...saya ingin waktu saya bersama mereka tetapi penghasilan juga tetep donk....so, saya pengen cari usaha sendiri ajach. do'ain yach....
Salam kenal....Saya salut pada Anda! Saya berani memutuskan hal seperti itu setelah usia di atas kepala 4. Btw, boleh tau penawaran harga untuk membuat website perusahaan termasuk maintenance setiap bulan? Bisa lewat japri saya. Thanks.
Assalamualaikum wr wb Salam kenal juga, saya blogger pemula, mau turut komentar. Dari beberapa tulisan anda yang saya baca, ada tersirat keteguhan yang cukup kuat pada diri anda. Semoga anda bisa mencapai cita-cita anda. Saya juga sedang mencoba seperti anda, tapi mengingat saya masih pemula, saya masih belajar dulu jadi blogger, sebelum memutuskan untuk keluar dari kerja kantoran.
hampir sama dengan perjalanan hidup saya sekarang mas, hanya saja saya belum mempunyai istri dan belum menemukan titik terangnya... doakan agar berhasil ya mas Jonru..
kebetulan saya juga lagi ngalamin hal yang sama pak....udah lama banget saya ingin lepas dan bebas dari ikatan kerjaan kantor yang numpuk. tapi belum tahu gimana caranya, makanya tak tunggu tulisan selanjutnya ya pak. sapa tahu bisa jadi motivasi saya juga.
kebetulan saya juga lagi ngalamin hal yang sama pak....udah lama banget saya ingin lepas dan bebas dari ikatan kerjaan kantor yang numpuk. tapi belum tahu gimana caranya, makanya tak tunggu tulisan selanjutnya ya pak. sapa tahu bisa jadi motivasi saya juga.
mbak laras tulisan ini sudah setahu lalu jadi tulisan selanjutnya udah banyak (alhamdulillah, kondisi saya sekarang sudah jauh berbeda)