Membaca tulisan
Mas Benny, saya pun jadi tergerak untuk berbagi tentang nama-nama penulis yang selama ini telah banyak "mewarnai" gaya penulisan saya.
Penulis-penulis sastra remaja
Walau sudah suka menulis sejak SD, tapi saya mulai serius
menekuni dunia yang satu ini sejak lulus SMA tahun 1990. Saat itu, saya
banyak membaca majalah HAI, Anita Cemerlang, dan Aneka Ria (sekarang
jadi Aneka Yess). Jadi, boleh dibilang gaya tulisan saya di awal karir
kepenulisan sangat banyak dipengaruhi oleh para penulis remaja yang
sering tampil di ketiga majalah tersebut.
Ada beberapa nama yang cukup mempengaruhi saya ketika itu, yakni:
Hilman dan
Zarra Zettira ZR, khususnya melalui buku duet mereka,
Rasta
dan Bella (dimuat sebagai cerita bersambung di Aneka Ria).
Khusus
Hilman, gayanya yang ngocol sempat berpengaruh cukup besar pada
saya, dan itu terekam - antara lain - lewat cerpen saya
"Modal Kumis"
dan
"No Problem" yang sudah dimuat di majalah Ceria Remaja.
Gola Gong. Serial
Balada Si Roy-nya saya baca di majalah HAI. Dulu,
saya pernah membuat cerpen yang terinspirasi oleh tokoh Roy. Sayangnya,
naskah cerpen ini sekarang sudah hilang.
Arini Suryokusumo. Salah satu novelnya (saya lupa judulnya) amat
mempengaruhi proses kreatif saya ketika menulis novelet
"Seputih Tirai
Cinta" (dimuat secara bersambung di majalah Anita Cemerlang).
Donatus A Nugroho.
Dia ini adalah cerpenis yang menurut saya amat luar biasa. Dia
produktif banget, dan bisa menulis cerpen secara instan. Sekali tulis
langsung jadi, tanpa perlu diedit. Benar-benar top deh. Salah satu
cerpennya masih saya ingat sampai sekarang, yang menjadi salah satu
pedoman saya dalam menulis karya fiksi. Saya lupa judulnya. Yang jelas,
dimuat di Aneka Ria dan bercerita tentang seorang "cewek nakal" yang
hobi menggoda para pria kesepian. Tapi tujuannya hanya untuk mencari
kesenangan harta. Kalau diajak tidur, dia tidak mau. Saya menyukai
teknik bercerita dan ending dari cerpen tersebut yang sangat unik.
Penulis-penulis sastra serius
Ada dua nama yang sangat kuat pengaruhnya dalam gaya penulisan saya,
yakni
Putu Wijaya dan
Seno Gumira Ajidarma. Gaya
Putu Wijaya misalnya,
terlihat amat kuat pada cerpen saya,
"Kiat Istimewa" dan
"Momen Maaf" yang dimuat di kumpulan cerpen
Cowok di Seberang Jendela.
Kedua penulis inilah yang akhirnya membuat saya mengambil keputusan
untuk memilih sebuah gaya penulisan yang konsisten saya gunakan dalam
setiap karya fiksi saya: Gaya penulisan yang
to the point, mencoba
membuat pembaca tertarik dan penasaran dari kalimat pertama hingga
kalimat terakhir. Jadi boleh dibilang,
Putu Wijaya dan
Seno Gumira
Ajidarma merupakan dua penulis yang memiliki pengaruh terbesar terhadap
gaya penulisan saya.
Selain kedua penulis ini, saya juga menyukai tulisan-tulisan
almarhum Kuntowijoyo. Walau memang, gaya tulisannya tidak sampai mempengaruhi gaya saya.
Belakangan, muncul pula
Ayu Utami dengan
Saman-nya. Walau secara muatan
saya tidak sepaham dengan novelnya itu, tapi saya amat menyukai teknik
dan gaya bercerita pada
Saman. Dan novel saya,
Cinta Tak Terlerai, boleh dikatakan banyak dipengaruhi oleh gaya pada novel ini.
Penulis-penulis sastra islami
Saya sengaja menyebut "penulis sastra islami" secara khusus, karena
dalam setahun belakangan ini saya memang banyak belajar soal sastra
islami. Dan guru pertama saya di bidang ini adalah
Asma Nadia. Saya banyak belajar dari karya-karyanya, juga dari ucapan dan tulisannya di berbagai kesempatan. Lantas, ada pula nama
Helvy Tiana Rosa
yang tentu sudah amat kita kenal. Ia termasuk penulis yang jarang
"bicara" (mengeluarkan idenya) di milis maupun di tempat lain di internet. Karena itu,
ilmunya lebih banyak saya serap dari buku-buku yang dia tulis, juga
dari beberapa momen training penulisan yang saya hadiri.
Penulis-penulis luar negeri
Secara umum, ada beberapa gaya penulisan saya yang dipengaruhi oleh
novel-novel terjemahan (dari penulis mana saja). Namun, ada dua nama
yang amat lekat di hati saya, yakni:
Sidney Sheldon
Ia adalah penulis yang mampu menampilkan tokoh dengan profesi apa saja.
Mulai dari dokter, polisi, presiden, biarawati, pelacur, dan
sebagainya. Coba bandingkan dengan penulis-penulis lain yang kebanyakan hanya bisa
menampilkan tokoh yang tidak jauh dari kehidupan pribadi mereka.
Pearl S. Buck
Banyak bukunya yang telah saya baca. Saya menyukai gaya berceritanya yang "tenang namun menghanyutkan".
Kesimpulan
Setiap penulis, siapa pun dia, pasti mendapat pengaruh dari
penulis-penulis lain. Ini adalah hal yang wajar. Suatu ketika, seiring
dengan bertambahnya jam terbang, setiap penulis akan menemukan ciri
khasnya sendiri. Jika sudah ketemu, dia tidak akan mudah lagi
terpengaruh oleh gaya penulisan siapa pun.
Saya sendiri, sampai sekarang, selalu mencoba untuk konsisten pada gaya
penulisan yang telah saya pilih: to the point dan mencoba menarik
perhatian dan minat pembaca sejak kalimat pertama hingga kalimat
terakhir. Tentu saja, saya tak selalu berhasil melakukan hal ini. Tapi
yang jelas, bagi saya ini adalah gaya penulisan yang harus selalu setia
saya gunakan. Saya tak menyukai gaya penulisan lain, terlebih
gaya penulisan yang dimulai dengan diskripsi alam, seperti "angin
bertiup sepoi-sepoi membelai pepohonan...."