Beberapa waktu lalu, saya ketemu dengan seorang teman bernama Aan pada
sebuah acara FLP DKI. Waktu itu kita bicara tentang konsep cerita
islami.
Saya sungguh surprise ketika Aan mengemukakan empat kriteria cerita
islami yang benar-benar berbeda dengan yang pernah saya tulis
DI SINI. Jauh lebih sederhana, dan terkesan lebih "ramah lingkungan"
Saya berpikir, sepertinya kriteria-nya si Aan ini jauh lebih bagus
untuk dijadikan patokan ketimbang yang saya buat. Karena itu, saya posting di sini. Semoga bermanfaat bagi
kita semua.
Menurut Aan, kriteria
cerita islami itu sebenarnya sama dengan kriteria
seni islami secara umum, yakni:
1. Tidak syirik
Maksudnya, tidak berisi cerita yang mendorong pembaca untuk
menyekutukan Tuhan. Misalnya: Secara tidak langsung, cerita tersebut
mengajak pembaca untuk percaya bahwa memang ada keris sakti yang bisa
membawa keberuntungan bagi manusia.
Sebenarnya, poin ini pun sudah saya sampaikan pada kriteria versi saya, tapi dengan format yang berbeda.
2. Tidak berbahaya
Sebenarnya saya kurang jelas dengan kriteria ini. Maksudnya mungkin
tidak membahayakan kehidupan masyarakat, atau hal-hal yang sejenis.
3. Tidak membawa kerusakan
Ini juga masih kurang jelas bagi saya. Mungkin maksudnya, cerita
tersebut tidak merusak moral, merusak akhlak, merusak aqidah, dan
seterusnya.
4. Tidak menjauhkan kita dari Allah
Apapun yang kita lakukan di dunia ini, hendaknya tetap membuat kita
dekat dengan Allah. Jadi jika cerita yang kita buat justru membuat
pembaca jauh dari Allah, maka dapat dipastikan bahwa cerita kita bukan
cerita islami.
Hm, lebih simpel kan? Moga bermanfaat bagi kita semua, termasuk saya.
Jonru