Ya, saya tahu. Kebebasan sejati tak pernah ada. Seorang teman menganalogikan kebebasan seperti seseorang yang baru keluar dari sebuah rumah. Ia kini terbebas dari rumah tersebut, beserta semua aturan dan tetek bengek yang ada di dalamnya. Tapi begitu berada di luar rumah, ternyata ia tidak benar-benar bebas. Justru di dunia luar pun terdapat sejumlah aturan, etika, dan seterusnya yang membuat dia menghadapi ketidakbebasan yang lain.

Ya, kebebasan sejati tak pernah ada selama kita masih berada di dunia yang fana ini.

Namun, saya yakin setiap orang pernah punya keinginan untuk terbebas dari hal tertentu, sama seperti negeri kita di masa lalu yang ingin membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Saya pun seperti itu. Sejak beberapa tahun lalu, saya ingin membebaskan diri dari sesuatu yang menurut saya amat membelenggu: status sebagai pekerja kantoran.

Lho, kenapa? Sebab sejak awal saya memang tak pernah bermimpi jadi karyawan yang harus ngantor secara rutin dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Ketika kuliah, cita-cita saya adalah menjadi wartawan, tapi ternyata tak kesampaian.

Saya lulus kuliah pada tahun 1998, ketika negeri kita justru sedang dilanda krisis moneter. Mencari pekerjaan sangat sulit. Justru banyak perusahaan yang melakukan PHK besar-besaran. Sementara saya sendiri belum punya modal untuk berwirausaha (saya pernah membuka usaha les privat di Semarang, tapi akhirnya saya tinggalkan karena terbentur masalah modal). Maka, kondisi yang serba sulit ini “memaksa” saya untuk mencari pekerjaan apa saja yang penting halal.

Dan akhirnya, di bulan Maret 2000, saya diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan, tepatnya perusahaan Internet Service Provider bernama PT Uninet Media Sakti. Setahun kemudian, saya kembali diterima di perusahaan sejenis, yakni CBN Internet, masih dengan job discription yang sama.

Didik adalah sahabat yang mengantar saya ke Jakarta di tahun 2000 lalu. Di hari pertama ngantor di Uninet, Didik sempat meledek saya. “Katanya kamu enggak mau jadi pekerja kantoran. Sekarang kok mau?”

Saya tersenyum geli. Saya katakan, setiap orang boleh fleksibel, asal masih berada di jalur yang benar. Ketika itu saya berharap, semoga saya betah menjadi seorang pekerja kantoran.

Di tahun-tahun pertama, ya saya memang sangat betah. Apalagi karena saya bekerja di ISP, perusahaan yang memungkinkan saya mengakses internet secara bebas dan gratis selama jam kerja. Saya sangat menyukai kondisi ini (walau belakangan saya merasakan juga sejumlah dampak buruknya). Saya juga sempat berpikir bahwa menjadi pekerja kantoran ternyata asyik juga. Maka saya pun merasa enjoy, terutama dengan segala kemapanan dan “jaminan hidup” yang saya terima.

Tapi terus terang, saya juga termasuk orang yang sangat pembosan. Dan itulah yang akhirnya terjadi, perlahan demi perlahan. Ada beberapa faktor penyebabnya:

1. Pekerjaan yang saya lakoni adalah pekerjaan yang bersifat rutinitas, sebuah jenis pekerjaan yang paling tidak saya sukai. Dari hari ke hari saya harus mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja (jika ada kesempatan memilih, saya lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang bersifat proyek).

2. Pekerjaan tersebut sebenarnya sangat sepele. Sebagian besar tugas saya adalah melakukan copy paste artikel atau berita dari media massa ke media milik kantor saya. Seorang teman satu tim saya bahkan sempat bergurau, “Sebenarnya kita ini bukan content editor, tapi copy paster.” Hehehehe…. Memang sih, kadang-kadang saya juga membuat tulisan. Tapi frekuensinya tidak banyak.

3. Tak ada jenjang karir, atawa karir saya sudah mentok. Hm, ini mungkin terlalu panjang dan ribet jika diceritakan. Tapi singkatnya, hanya KEAJAIBAN yang akan membuat saya bisa naik jabatan atau pindah ke divisi lain dengan job discription yang lebih menarik dan menantang.

4. Masih berhubungan dengan nomor 3: secara struktural saya adalah staf level terendah alias tidak punya bawahan seorang pun. Dan pekerjaan yang saya lakoni lebih bersifat “pekerjaan kuli”, bukan pekerjaan jenis manajerial. Ini menyebabkan saya tidak bisa menjadi SOMEBODY di lingkungan kantor. Saya memang punya wewenang tertentu, tapi itu hanya sebatas hal-hal yang bersifat teknis.

Kadang-kadang ini menjadi dilema tersendiri bagi saya. Di satu sisi saya merasa wajib bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan selama ini, khususnya yang menyangkut penghasilan dan pekerjaan di kantor. Tapi di sisi lain, saya juga iri melihat teman-teman kuliah saya yang rata-rata sudah menjadi SOMEBODY di lingkungan kerja mereka. Kapan ya, saya bisa seperti itu?

5. Fakta nomor 4 di atas sangat kontradiktif dengan yang saya alami di luar kantor. Saya pernah diundang menjadi pembicara pelatihan penulisan di Bank Indonesia, disejajarkan dengan penulis ternama Hernowo. Saya juga pernah wira-wiri ke Surabaya dan Yogya untuk menjadi pembicara pelatihan pengelolaan website. Jangan dikira kehadiran saya adalah mewakili kantor, tapi benar-benar mewakili diri saya sendiri. Dalam konteks kantor, saya belum pernah sekalipun mendapatkan kesempatan seperti itu.

Dengan kata lain, saya merasa bahwa dunia di luar kantor jauh lebih menyenangkan dan dinamis.

Seorang teman saya pernah berkata, “Kantor kamu salah karena mereka tidak memberdayakan kamu secara maksimal.”

Hm, saya kira ucapan ini kurang tepat juga. Terus terang, saya sama sekali tidak menyalahkan kantor saya dalam hal ini. Sebab sayalah yang sebenarnya bermasalah. Tentu sangat lucu jika saya menawarkan batu bata ke pabrik tempe. Tentu mereka tidak membutuhkannya.

Nah, inilah analogi yang tepat bagi “saya vs kantor” ini. Saya memiliki sesuatu, tapi kantor saya tidak membutuhkan itu. Perusahaan pada umumnya bukan bekerja dengan cara mengakomodir segala sesuatu yang dimiliki oleh karyawan mereka, lalu menetapkan agenda kerja yang sesuai dengan hal itu.

Tapi perusahaan umumnya justru punya agenda dan target tertentu dan memerintahkan para karyawan untuk melaksanakannya.

Kita semua para karyawan memang dibayar untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh kantor, bukan hal-hal yang kita inginkan. Masalahnya sekarang, apakah kita bisa menerima kondisi ini atau tidak?

Mungkin banyak orang yang menganggap ini tidak masalah, sebab mereka mendapat kompensasi berupa gaji yang memadai beserta sejumlah fasilitas yang menggiurkan.

Tapi saya termasuk orang yang menganggap bahwa hal-hal seperti ini bukanlah yang paling penting. Memang itu menyenangkan, tapi saya lebih menyukai dunia yang dinamis, di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melakukan banyak hal yang menyenangkan.

Seorang teman saya lainnya, yang mengetahui sifat saya ini, berkata, “Jika demikian, kamu memang lebih cocok jadi pengusaha atau pekerja freelance, bukan pekerja kantoran.”

Ya, saya setuju dengan ucapan ini. Dan inilah sebenarnya inti dari kebosanan saya tersebut. Inilah inti dari keinginan saya untuk membebaskan diri dari sebuah “belenggu” bernama “status sebagai pekerja kantoran”.

Keinginan tersebut sebenarnya hadir sejak sekitar tiga tahun lalu. Tapi saya tidak berani “berbuat nekad” karena belum punya cadangan sumber penghasilan lain.

Maka selama waktu yang cukup panjang, saya harus berjuang memerangi rasa bosan dan segala masalah yang ditimbulkannya. Saya mencoba mencari alternatif sumber penghasilan lain, tapi ternyata itu tidak mudah. Sementara itu, kebosanan yang saya alami telah menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan di kantor. Intinya, kinerja saya sangat buruk!

Alhamdulillah, jalan itu akhirnya dihadirkan oleh Allah. Semuanya berlangsung secara amat perlahan, bahkan nyaris tanpa saya sadari. Di awal tahun 2006, saya diajak bergabung dengan majalah Optimis. Lalu saya berkenalan dengan Mas Alwin dari Zabit Mobile Book yang menawarkan sejumlah peluang di dunia seluler. Selanjutnya, ada perkenalan dengan mas Harry Sufehmi yang mengajari saya sebuah bisnis yang sangat prospektif di dunia maya. Ada pula Mas Oni yang menjadi jalan bagi saya untuk meraih sebuah peluang besar di Departemen Agama. Sejumlah penerbit menawari saya menulis buku. Adik ipar saya yang biasanya ogah-ogahan jika diajak berbisnis, secara tak terduga justru menelepon saya di pagi buta, hanya untuk membicarakan sebuah prospek bisnis di bidang penulisan. Dan masih banyak peluang lain yang terbuka lebar di depan mata.

Subhanallah…!!! Saya benar-benar terharu. Seumur hidup, baru kali ini saya mendapatkan demikian banyak tawaran dan peluang pada saat yang nyaris bersamaan. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah atas doa dan keinginan saya selama ini. Saya pun berpikir, mungkin ini merupakan pertanda bahwa sekaranglah saat yang tepat bagi saya untuk menyongsong kebebasan tersebut, sesuatu yang sudah bertahun-tahun saya dambakan!

Maka, dengan penuh kemantapan, saya pun mengambil keputusan itu. Sebelumnya, saya membicarakan hal ini berdua dengan istri. Ya, dulu saya juga sudah sering mengutarakan niat itu padanya. Tapi malam itu, saya membicarakannya secara lebih tegas. Saya katakan bahwa ini bukan lagi semacam wacana atau rencana. Ini adalah sebuah keputusan saya yang sudah bulat, dan saya meminta pendapatnya.

Terus terang, saya merasa terenyuh dan bersalah ketika melihat istri saya menangis. Ia mungkin merasa berat jika melihat saya harus melepaskan status sebagai karyawan swasta, meninggalkan semua kenyamanan dan kemapanan yang kami nikmati selama ini: Gaji bulanan yang lebih dari cukup, jaminan kesehatan, bonus tahunan, dan masih banyak lagi.

Tapi saya tidak terlalu tertarik pada semua “kemewahan” itu. Saya punya dua pilihan:

1. Sebagai pekerja kantoran, saya akan mendapat gaji yang jumlahnya pasti, tidak peduli apakah saya bekerja keras atau tidak melakukan apapun.

2. Sebagai seorang wirausahawan, saya bebas menentukan apakah hari ini saya bekerja keras atau menghabiskan waktu seharian dengan menonton televisi dan tidur pulas di ranjang yang empuk. Apapun keputusan saya, itu akan berpengaruh besar terhadap besarnya penghasilan yang saya dapatkan.

Dan pilihan saya adalah yang nomor dua. Mungkin kamu menganggap saya gila. Tapi jika prinsip hidup seperti ini disebut gila, insya Allah saya ikhlas disebut orang gila!

Izinkanlah saya memberikan sebuah argumen:

Bagi saya pribadi, gaji bulanan adalah sistem yang kurang efektif untuk memotivasi saya rajin bekerja. Sebab mau rajin atau malas, saya tetap akan mendapatkan hasil yang sama di akhir bulan. Memang, ada iming-iming bonus tahunan. Tapi terus terang, bagi saya itu pun bukan motivator yang terlalu efektif. Sebab tanpa adanya bonus tahunan pun, gaji bulanan sudah cukup untuk membuat saya “bertahan hidup”.

Ya, ini memang preferensi yang sangat bersifat pribadi. Tapi bagi saya, seperti itulah keadaannya.

(Tapi kalau masih punya kesempatan menjadi pekerja kantoran, di sana saya bisa menjadi SOMEBODY dan melakukan aktualisasi diri secara lebih leluasa, mungkin saya masih bersedia menerimanya).

Dan kondisi yang benar-benar berbeda akan terjadi jika saya menjadi seorang wirausahawan atau pekerja lepas. Penghasilan saya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa rajin saya bekerja. Dan setiap saat saya akan selalu dibayang-bayangi oleh kemungkinan mati kepalaran karena tak punya penghasilan.

Situasi seperti ini insya Allah akan membuat saya termotivasi dengan sangat kuat untuk bekerja segiat mungkin.

Maka, tanggal 16 Januari 2007 lalu, saya pun menulis surat pengunduran diri kepada manajer saya. Saya menyebut ini sebagai “A roadshow to my freedom”.

Sesuai peraturan kantor, saya baru boleh keluar paling cepat sebulan sejak pernyataan pengunduran diri. Dan setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya memilih tanggal 19 Maret 2007.

Alhamdulillah.. saya merasa lega sekarang. Memang, ada juga perasaan was-was. Bagaimana jika saya tidak berhasil? Bagaimana jika saya nanti kekurangan uang? Bagaimana jika…???

Hm… saya berusaha mengenyahkan semua kekhawatiran itu. Saya harus optimis! Saya yakin Allah telah menjamin rezeki yang cukup bagi setiap hambaNya. Sekarang tinggal bagaimana upaya kita untuk bekerja keras dalam menjemput setiap rezeki.

Saya juga makin yakin setelah meresapi salah satu hadits Rasulullah berikut ini:

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dari berdagang.

(Berarti jika berwirausaha, saya punya peluang untuk mendapatkan penghasilan sepuluh kali lipat dari yang sekarang, atau mungkin lebih banyak. Begitu kan, logikanya?)

Kini, saya ingin mengucapkan selamat datang kepada kebebasan yang telah lama saya nantikan. Selamat tinggal kantorku yang indah. Selamat tinggal the comfort zone!

Hari ini, 16 Maret 2007, adalah hari terakhir saya bekerja di kantor. Insya Allah besok saya dapat mulai bergerak untuk menyongsong sebuah kehidupan yang benar-benar berbeda.

NB:
Beberapa hari lalu, saya mendapat kabar bahwa mas Budi Putra keluar dari Tempo dan menjadi full time blogger. Ada teman yang bilang bahwa saya ikut-ikutan dia. Hehehehe… Sebuah “tuduhan” yang aneh. Sebab seandainya saya ikut-ikutan, mustahil rasanya jika saya mengambil sebuah keputusan besar hanya dalam hitungan hari. Tapi jujur nih, untuk jangka panjang saya juga punya keinginan untuk mengikuti jejak beliau. Karena itulah, saat ini saya sedang belajar tentang cara menghasilkan banyak uang lewat blog.

Anda ingin seperti saya juga?

Senayan, 16 Maret 2007

Jonru

NB lagi:
Semua tulisan saya berikut ini masih berkaitan erat dengan keputusan saya untuk mundur sebagai pekerja kantoran:

1. A Roadshow to My Freedom

2. A Roadshow to My Freedom 2

3. A Roadshow to My Freedom 3

4. Memindah data 8 GB dari komputer kantor ke komputer rumah

5. Cuti 12 hari. Saya memang diberi kesempatan untuk menghabiskan sisa jatah cuti yang belum diambil.

:)

Tulisan ini sudah dimuat juga di sini :)


51 CommentsChronological   Reverse   Threaded
alghozi wrote on Mar 16, '07
Good Luck Mas Jonru.. :)
wirdayanti wrote on Mar 16, '07
Semoga sukses ya Dek...
Mudah2an Allah membuka "peluang" yang lebih baik dari apa yang Jonru pilih..

Saya akan mendoakan...
penerbitcinta wrote on Mar 16, '07
siap dunk nulis buku yang lebih heboh buat kita-kita ....
ibujempol wrote on Mar 16, '07
Yg saya tau dari jurnal2 sebelumnya, bang Jonru udah siap2 utk mundur dari kerja kantoran, bbrp minggu sebelum terdengar berita Mas Budi Putra resign dari Tempo.

Good luck utk langkah selanjutnya, smoga lencar semuanya.
roelworks wrote on Mar 16, '07
tentunya di dukung istri ... :D

Selamat berjuang!
kakrahmah wrote on Mar 16, '07
rezekinya semut aja udah diatur Allah, apalagi manusia..

tetap semangat, Good Luck , mas Jonru!!
nikhsan wrote on Mar 16, '07
jonru said
Mungkin kamu menganggap saya gila
Salut mas.. selamat pindah Quadrant! semoga sukses..

Soal anggapan gila, sejatinya dunia ini banyak dibangun oleh mereka yg awalnya dianggap GILA.
jonru wrote on Mar 16, '07
mas doan, mbak wirda, mas ihsan, dan teman-teman lain:
thanks banget ya

ibujempol: sekarang sudah tahu kan jawabannya?
hehehehe...

mas benny:
insya ALlah mas
mohon dukungannya ya...

:)
funnyfunky wrote on Mar 16, '07
aduh mas... baca postingan mas persis banget sama yg gue rasain... good luck yah mas.. smg kita sama2 diberi rezeki yg lbh baik...
thetrueideas wrote on Mar 16, '07
Selamat Mas Jonru, keberanian yang belum saya punyai, hmm, mungkin juga saya harus bebaskan diri saya sendiri dari comfort zone yang membelenggu ini.

Sekali lagi selamat menempuh hidup baru. :))
elokdyah wrote on Mar 16, '07
Proficiat... you have to be brave to see the fact.
I am waiting your book.
tianarief wrote on Mar 16, '07
alhamdulillah mas jonru sudah memutuskan.

terima kasih testimoni inspiratifnya. :D
jonru wrote on Mar 16, '07
baca postingan mas persis banget sama yg gue rasain
wah... sekarang sudah resign atau belum mbak?

semoga sukses ya!
restudessy wrote on Mar 16, '07
Saya belum berani Mas, masih takut dan belum banyak ilmu ttg ini. Lagian murid2 saya di sekolah ntar kehilangan guru favorit mereka Hehehehe... Salut buat Mas ...
jonru wrote on Mar 16, '07
keberanian yang belum saya punyai, hmm, mungkin juga saya harus bebaskan diri saya sendiri dari comfort zone yang membelenggu ini.
semoga suatu saat nanti ya mas syamsul

good luck :)
jonru wrote on Mar 16, '07
I am waiting your book
thanks mbak :)
jonru wrote on Mar 16, '07
testimoni inspiratif
wah.. yang mana nih mas?
sya2 wrote on Mar 16, '07
wah selamat..saya juga pengen..
jonru wrote on Mar 16, '07
murid2 saya di sekolah ntar kehilangan guru favorit mereka
wah.. kalo saya jadi mbak.. insya Allah saya tak akan berhenti
Sejujurnya, saya pengen banget jadi guru
Tapi apa daya, tangan tak sampai
hehehehe....

(Enaknya jadi guru: punya waktu yang lebih banyak untuk mengurus yang lain)
nadnuts wrote on Mar 16, '07
Wah, sebuah keputusan yang super besar dan saya salut sekali. Meninggalkan 'kemewahan' yang bisa didapat seorang pegawai kantoran bukan hal yang sederhana. Apalagi, istri Mas Jonru sampai menangis.

Tapi, memang ada hal2 yang lebih penting dibandingkan 'kemewahan' itu. Aku ngerti banget, Mas. Been there, done that. :D

Menjadi full time blogger juga citaku nih Mas. BTW, salah satu cara adalah dengan punya paypal. Tapi sayang, paypal belum bisa digunakan di Indonesia. Aku dah pernah kirim email permohonan akses org Indonesia ke paypal (sekarang bisa punya account sih tapi blm bisa terima ato kirim duit) sampe 2-3 kali dan jawaban mereka adalah mereka sdg mengusahakan.

Ayo dunk Mas Jonru kirim surat juga ke mereka...kali aja mereka jd ngeh kalo banyak warga Indo yang tertarik jd mereka menggoalkan akes Paypal di Indo.

Pssttt...temen2 blogger/MPers lainnya juga ikut protes ke paypal dunk...

*kok jd provoskasi paypal?*

Anyway, selamat ya Mas Jonru, aku doain yang terbaik buat Mas Jonru. Tar ajarin aku yaaa...
cptsh wrote on Mar 16, '07
Selamat Kak Jonru .......... jika memang keputusan ini membuat Kak Jonru merasa lebih nyaman dan sesuai dengan yang Kak Jonru harapkan ......... Semoga lebih berhasil.
tianarief wrote on Mar 16, '07
jonru said
wah.. yang mana nih mas?
yang suasana kerja di tempat lama. :D
weendee wrote on Mar 16, '07
Selamat atas pilihannya mas jonru, apapun yang dipilih saya mendoakan semoga sukses yah!
salsabeela wrote on Mar 16, '07
congrats! Saya juga pingin :D Kapan ya?
zabitmobibook wrote on Mar 16, '07
ya, kebebasan adalah sesuatu yang sama-sama kita dambakan. tentunya sesaat lagi mas jonru akan merasakan jadi "bos" dimana saja dan kapan saja. dan yang paling penting adalah kita mendapatkan "kebebasan memenej diri"...semoga Allah memberikan keberkahan buat mas jonru dan keluarga :D
aburasyidin wrote on Mar 16, '07
menjadi entrepreneur tidak mudah...
pindah kuadran membutuhkan nyali dan semangat yg kuat..
semoga sukses ya...:)
peduli wrote on Mar 16, '07
Semoga sukses dunia akhirat ya om :)
jazzterday wrote on Mar 16, '07
semoga sukses dengan dunia baru nyah.......masih ngempi kannn?.....hehehehehe
jundiku wrote on Mar 16, '07
Sungguh keputusan yang sangat berani Pak.Semoga Allah selalu memudahkan urusan Pak Jonru, dan Bu Jonru diberikan kesabaran yang tinggi dalam mendampingin Pak Jonru menempuh kehidupan yang baru yang penuh dengan tantangan dan dinamis itu :)
bambangpriantono wrote on Mar 16, '07
Kayaknya saya ingin melakukan hal serupa nantinya.....selamat Bang, anda berani!
Comment deleted at the request of the author.
wisat wrote on Mar 16, '07
jonru said
Kini, saya ingin mengucapkan selamat datang kepada kebebasan yang telah lama saya nantikan. Selamat tinggal kantorku yang indah. Selamat tinggal the comfort zone!
Mas Jonru,

Selamat atas keputusan yang berani untuk keluar dari comfort zone. Semoga sukses. Tapi, seperti mas Jonru sudah sadari, ini bukan pekerjaan mudah. Butuh disiplin dan fokus untuk mencapai kesuksesan.

Semoga Allah mudahkan. Keep in touch..
hady82 wrote on Mar 16, '07
Mas Jonru,

Good Luck ! keputusan yang cukup berani dan menantang...!

Sy doakan sukses selalu ya...
iqbalir wrote on Mar 16, '07
Wah kapan yah bisa menyusul ente bang...???
ianpokian wrote on Mar 16, '07
sukses ya mas jonru.... oh iya... masih ada nomor HPku kan... kalau mau tanya-tanya tentang Fia... hubungi aja ya... (*ke ge-er-an.com*) tadinya kalau mas jonru masih di cbn kalau aku audit resep... kita bisa ngobrol-ngobrol....
maknyak wrote on Mar 17, '07
wah kapan saya berani sepertimu? gara2 jonru yg mau fulltime menulis dan budi Putra yg keluar dari tempo memutuskan untuk jadi fulltime blogger, saya punya pikiran untuk pensiun saja dari pekerjaan saya jadi penulis fiksi. tapi apa saya berani ya? dan apa yg ngirim saya ke Ln tak mengejar2 saya?

good luck, jonru, semoga berhasil. saya iriiiiiii.
arvenda wrote on Mar 17, '07
Mantabh!!
Keep in spirit Bang! smoga rezkinya makin luas dan berkah.. amien ya Rabbanaa...
dwitrazaky wrote on Mar 17, '07
good luck mas Jonru...
agoestbkl wrote on Mar 17, '07
jonru said
wah.. kalo saya jadi mbak.. insya Allah saya tak akan berhenti
Sejujurnya, saya pengen banget jadi guru
Tapi apa daya, tangan tak sampai
hehehehe....

(Enaknya jadi guru: punya waktu yang lebih banyak untuk mengurus yang lain)
Wah, Pak Jonru punya niat jadi guru?
Kok kita kebalik ya, Pak?
saya aja lagi sedih mikirin nasib saya yang "harus" jadi guru ini
jadi guru itu sssuuusssaaahhh..., Pak
Kerjanya capek tanggungjawabnya segunung
pengennya sih jadi wirausahawan kayak pilihan mas Jonru itu
*biar bisa mutusin hari ini mau kerja atau seharian nontotn TV*
kalo jadi guru mana bisa

btw, goodluck! keputusan hebat untuk pindah kuadrant
keep fight!
Ingat kata orang bijak:
"halangan dan rintangan hanyalah sesuatu yang mengganggu ketika kita mengalihkan fokus dari tujuan kita"
so, tetap fokus aja ke tujuan Pak Jonru!
mohammadihsan wrote on Mar 18, '07

saya selalu percaya, banyak hal besar seringkali dimulai dari sebuah keputusan kecil...
mas jonru sudah memutuskan...
sebuah komitmen yang sangat berani...

trust me... rejeki tak akan lari kemana :)
malah saya percaya, mas jonru bisa jauh lebih sukses dengan keluar dari kantor..
bisa lebih mengekspresikan potensi diri, sesuatu yang saya lihat tidak dilakukan oleh cbn :)

kapan-kapan bikin proyek sama saya ya? hehe... insya alloh

luvhoney wrote on Mar 21, '07
oowh..ini jawaban dari pertanyaan saya..good..salute deh buat pak jonru..tidak mudah pastinya memutuskan.
rikicahya wrote on Mar 23, '07
Selamat bergabung dengan kita-kita : para freelancer dan pengusaha, hehehe.
Kita saling mendoakan ya Bang...
davidfaisal wrote on Apr 1, '07
semoga betah dan bisa bertahan
ardho wrote on Apr 1, '07
cuman bisa bilang satu hal.. hebat! :) gudlak ya..
satujiwa wrote on Apr 17, '07
Mas Jonru... senasib dengan saya yang kerja di ISP. Semoga sukses! saya pun juga ingin seperti Mas Jonru. Merasakan "Freedom" yang sebenar-benarnya. :D
rinurbad wrote on Apr 18, '07
Bang Jonru, selamat datang di kancah pekerja lepas:)
kannyd wrote on Apr 20, '07
nikhsan said
Salut mas.. selamat pindah Quadrant! semoga sukses..

Soal anggapan gila, sejatinya dunia ini banyak dibangun oleh mereka yg awalnya dianggap GILA
Robert Kiyosaki banget.. :)

jadi ingat kata Bapak Mario Teguh:
"Negara besar bukan berarti lebih banyak menciptakan wirausahawan, tapi wirausahawan lah yang menjadikan negara itu besar"

moga sukses selalu Pak Jonru.!!
Amiin ya robbal alamiin..
bondanwinar wrote on May 8, '07
sebuah impian yang menjadi kenyataan, semoga bisa menyusul nih mas
1610zone wrote on Jun 9, '07
ass. boleh kenalan nggak aku hanya ingin menyambung tali silatuhrahmi antar muslim
lembarkertas wrote on Aug 31, '07
Hehe...kalau saya sih dulu berhenti jadi orang kantoran lantaran gak tega ninggal anak. Tapi ternyata jadi IRT atau freelancer pun tak se-free yang saya kira. Anyway, gudlak Bang! Gimana sekarang setelah beberapa bulan?
neverendinglove wrote on Sep 9, '07
Hebat bgt dah..Mas Jonru.
Salut! :D
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help