Ya, saya tahu. Kebebasan sejati tak pernah ada. Seorang teman
menganalogikan kebebasan seperti seseorang yang baru keluar dari sebuah
rumah. Ia kini terbebas dari rumah tersebut, beserta semua aturan dan
tetek bengek yang ada di dalamnya. Tapi begitu berada di luar rumah,
ternyata ia tidak benar-benar bebas. Justru di dunia luar pun terdapat
sejumlah aturan, etika, dan seterusnya yang membuat dia menghadapi
ketidakbebasan yang lain.
Ya, kebebasan sejati tak pernah ada selama kita masih berada di dunia yang fana ini.
Namun, saya yakin setiap orang pernah punya keinginan untuk terbebas
dari hal tertentu, sama seperti negeri kita di masa lalu yang ingin
membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan Jepang.
Saya pun seperti itu. Sejak beberapa tahun lalu, saya ingin
membebaskan diri dari sesuatu yang menurut saya amat membelenggu:
status sebagai pekerja kantoran.
Lho, kenapa? Sebab sejak awal saya memang tak pernah bermimpi jadi
karyawan yang harus ngantor secara rutin dari jam 8 pagi hingga 5 sore.
Ketika kuliah, cita-cita saya adalah menjadi wartawan, tapi ternyata tak kesampaian.
Saya lulus kuliah pada tahun 1998, ketika negeri kita justru sedang
dilanda krisis moneter. Mencari pekerjaan sangat sulit. Justru banyak
perusahaan yang melakukan PHK besar-besaran. Sementara saya sendiri
belum punya modal untuk berwirausaha (saya pernah membuka usaha les
privat di Semarang, tapi akhirnya saya tinggalkan karena terbentur
masalah modal). Maka, kondisi yang serba sulit ini “memaksa” saya untuk
mencari pekerjaan apa saja yang penting halal.
Dan akhirnya, di bulan Maret 2000, saya diterima sebagai karyawan di
sebuah perusahaan, tepatnya perusahaan Internet Service Provider
bernama PT Uninet Media Sakti. Setahun kemudian, saya kembali diterima di perusahaan sejenis, yakni CBN Internet, masih dengan job discription yang sama.
Didik adalah sahabat yang mengantar saya ke Jakarta di tahun 2000 lalu. Di hari pertama ngantor di Uninet, Didik sempat meledek saya. “Katanya kamu enggak mau jadi pekerja kantoran. Sekarang kok mau?”
Saya tersenyum geli. Saya katakan, setiap orang boleh fleksibel,
asal masih berada di jalur yang benar. Ketika itu saya berharap, semoga
saya betah menjadi seorang pekerja kantoran.
Di tahun-tahun pertama, ya saya memang sangat betah. Apalagi karena
saya bekerja di ISP, perusahaan yang memungkinkan saya mengakses
internet secara bebas dan gratis selama jam kerja. Saya sangat menyukai
kondisi ini (walau belakangan saya merasakan juga sejumlah dampak buruknya).
Saya juga sempat berpikir bahwa menjadi pekerja kantoran ternyata asyik
juga. Maka saya pun merasa enjoy, terutama dengan segala kemapanan dan
“jaminan hidup” yang saya terima.
Tapi terus terang, saya juga termasuk orang yang sangat pembosan.
Dan itulah yang akhirnya terjadi, perlahan demi perlahan. Ada beberapa
faktor penyebabnya:
1. Pekerjaan yang saya lakoni adalah pekerjaan yang bersifat
rutinitas, sebuah jenis pekerjaan yang paling tidak saya sukai. Dari
hari ke hari saya harus mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja (jika ada kesempatan memilih, saya lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang bersifat proyek).
2. Pekerjaan tersebut sebenarnya sangat sepele. Sebagian besar tugas saya adalah melakukan copy paste
artikel atau berita dari media massa ke media milik kantor saya.
Seorang teman satu tim saya bahkan sempat bergurau, “Sebenarnya kita
ini bukan content editor, tapi copy paster.” Hehehehe…. Memang sih,
kadang-kadang saya juga membuat tulisan. Tapi frekuensinya tidak banyak.
3. Tak ada jenjang karir, atawa karir saya sudah mentok. Hm, ini
mungkin terlalu panjang dan ribet jika diceritakan. Tapi singkatnya,
hanya KEAJAIBAN yang akan membuat saya bisa naik jabatan atau pindah ke
divisi lain dengan job discription yang lebih menarik dan menantang.
4. Masih berhubungan dengan nomor 3: secara struktural saya adalah
staf level terendah alias tidak punya bawahan seorang pun. Dan
pekerjaan yang saya lakoni lebih bersifat “pekerjaan kuli”, bukan
pekerjaan jenis manajerial. Ini menyebabkan saya tidak bisa menjadi
SOMEBODY di lingkungan kantor. Saya memang punya wewenang tertentu,
tapi itu hanya sebatas hal-hal yang bersifat teknis.
Kadang-kadang ini menjadi dilema tersendiri bagi saya. Di satu sisi
saya merasa wajib bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan selama
ini, khususnya yang menyangkut penghasilan dan pekerjaan di kantor.
Tapi di sisi lain, saya juga iri melihat teman-teman kuliah saya yang
rata-rata sudah menjadi SOMEBODY di lingkungan kerja mereka. Kapan ya,
saya bisa seperti itu?
5. Fakta nomor 4 di atas sangat kontradiktif dengan yang saya alami
di luar kantor. Saya pernah diundang menjadi pembicara pelatihan
penulisan di Bank Indonesia, disejajarkan dengan penulis ternama Hernowo.
Saya juga pernah wira-wiri ke Surabaya dan Yogya untuk menjadi
pembicara pelatihan pengelolaan website. Jangan dikira kehadiran saya
adalah mewakili kantor, tapi benar-benar mewakili diri saya sendiri.
Dalam konteks kantor, saya belum pernah sekalipun mendapatkan
kesempatan seperti itu.
Dengan kata lain, saya merasa bahwa dunia di luar kantor jauh lebih menyenangkan dan dinamis.
Seorang teman saya pernah berkata, “Kantor kamu salah karena mereka tidak memberdayakan kamu secara maksimal.”
Hm, saya kira ucapan ini kurang tepat juga. Terus terang, saya sama
sekali tidak menyalahkan kantor saya dalam hal ini. Sebab sayalah yang
sebenarnya bermasalah. Tentu sangat lucu jika saya menawarkan batu bata
ke pabrik tempe. Tentu mereka tidak membutuhkannya.
Nah, inilah analogi yang tepat bagi “saya vs kantor” ini. Saya
memiliki sesuatu, tapi kantor saya tidak membutuhkan itu. Perusahaan
pada umumnya bukan bekerja dengan cara mengakomodir segala sesuatu yang
dimiliki oleh karyawan mereka, lalu menetapkan agenda kerja yang sesuai
dengan hal itu.
Tapi perusahaan umumnya justru punya agenda dan target tertentu dan memerintahkan para karyawan untuk melaksanakannya.
Kita semua para karyawan memang dibayar untuk melakukan hal-hal yang
diperintahkan oleh kantor, bukan hal-hal yang kita inginkan. Masalahnya
sekarang, apakah kita bisa menerima kondisi ini atau tidak?
Mungkin banyak orang yang menganggap ini tidak masalah, sebab mereka
mendapat kompensasi berupa gaji yang memadai beserta sejumlah fasilitas
yang menggiurkan.
Tapi saya termasuk orang yang menganggap bahwa hal-hal seperti ini
bukanlah yang paling penting. Memang itu menyenangkan, tapi saya lebih
menyukai dunia yang dinamis, di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan
melakukan banyak hal yang menyenangkan.
Seorang teman saya lainnya, yang mengetahui sifat saya ini, berkata,
“Jika demikian, kamu memang lebih cocok jadi pengusaha atau pekerja
freelance, bukan pekerja kantoran.”
Ya, saya setuju dengan ucapan ini. Dan inilah sebenarnya inti dari
kebosanan saya tersebut. Inilah inti dari keinginan saya untuk
membebaskan diri dari sebuah “belenggu” bernama “status sebagai pekerja
kantoran”.
Keinginan tersebut sebenarnya hadir sejak sekitar tiga tahun lalu.
Tapi saya tidak berani “berbuat nekad” karena belum punya cadangan
sumber penghasilan lain.
Maka selama waktu yang cukup panjang, saya harus berjuang memerangi
rasa bosan dan segala masalah yang ditimbulkannya. Saya mencoba mencari
alternatif sumber penghasilan lain, tapi ternyata itu tidak mudah.
Sementara itu, kebosanan yang saya alami telah menimbulkan hal-hal yang
tidak menyenangkan di kantor. Intinya, kinerja saya sangat buruk!
Alhamdulillah, jalan itu akhirnya dihadirkan oleh Allah. Semuanya
berlangsung secara amat perlahan, bahkan nyaris tanpa saya sadari. Di
awal tahun 2006, saya diajak bergabung dengan majalah Optimis. Lalu saya berkenalan dengan Mas Alwin dari Zabit Mobile Book yang menawarkan sejumlah peluang di dunia seluler. Selanjutnya, ada perkenalan dengan mas Harry Sufehmi yang mengajari saya sebuah bisnis yang sangat prospektif di dunia maya. Ada pula Mas Oni yang menjadi jalan bagi saya untuk meraih sebuah peluang besar di Departemen Agama.
Sejumlah penerbit menawari saya menulis buku. Adik ipar saya yang
biasanya ogah-ogahan jika diajak berbisnis, secara tak terduga justru
menelepon saya di pagi buta, hanya untuk membicarakan sebuah prospek
bisnis di bidang penulisan. Dan masih banyak peluang lain yang terbuka
lebar di depan mata.
Subhanallah…!!! Saya benar-benar terharu. Seumur hidup, baru kali
ini saya mendapatkan demikian banyak tawaran dan peluang pada saat yang
nyaris bersamaan. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah atas doa dan
keinginan saya selama ini. Saya pun berpikir, mungkin ini merupakan
pertanda bahwa sekaranglah saat yang tepat bagi saya untuk menyongsong
kebebasan tersebut, sesuatu yang sudah bertahun-tahun saya dambakan!
Maka, dengan penuh kemantapan, saya pun mengambil keputusan itu.
Sebelumnya, saya membicarakan hal ini berdua dengan istri. Ya, dulu
saya juga sudah sering mengutarakan niat itu padanya. Tapi malam itu,
saya membicarakannya secara lebih tegas. Saya katakan bahwa ini bukan
lagi semacam wacana atau rencana. Ini adalah sebuah keputusan saya yang
sudah bulat, dan saya meminta pendapatnya.
Terus terang, saya merasa terenyuh dan bersalah ketika melihat istri
saya menangis. Ia mungkin merasa berat jika melihat saya harus
melepaskan status sebagai karyawan swasta, meninggalkan semua
kenyamanan dan kemapanan yang kami nikmati selama ini: Gaji bulanan
yang lebih dari cukup, jaminan kesehatan, bonus tahunan, dan masih
banyak lagi.
Tapi saya tidak terlalu tertarik pada semua “kemewahan” itu. Saya punya dua pilihan:
1. Sebagai pekerja kantoran, saya akan mendapat gaji yang jumlahnya
pasti, tidak peduli apakah saya bekerja keras atau tidak melakukan
apapun.
2. Sebagai seorang wirausahawan, saya bebas menentukan apakah hari
ini saya bekerja keras atau menghabiskan waktu seharian dengan menonton
televisi dan tidur pulas di ranjang yang empuk. Apapun keputusan saya,
itu akan berpengaruh besar terhadap besarnya penghasilan yang saya
dapatkan.
Dan pilihan saya adalah yang nomor dua. Mungkin kamu menganggap saya gila. Tapi jika prinsip hidup seperti ini disebut gila, insya Allah saya ikhlas disebut orang gila!
Izinkanlah saya memberikan sebuah argumen:
Bagi saya pribadi, gaji bulanan adalah sistem yang kurang efektif
untuk memotivasi saya rajin bekerja. Sebab mau rajin atau malas, saya
tetap akan mendapatkan hasil yang sama di akhir bulan. Memang, ada
iming-iming bonus tahunan. Tapi terus terang, bagi saya itu pun bukan
motivator yang terlalu efektif. Sebab tanpa adanya bonus tahunan pun,
gaji bulanan sudah cukup untuk membuat saya “bertahan hidup”.
Ya, ini memang preferensi yang sangat bersifat pribadi. Tapi bagi saya, seperti itulah keadaannya.
(Tapi kalau masih punya kesempatan menjadi pekerja kantoran, di
sana saya bisa menjadi SOMEBODY dan melakukan aktualisasi diri secara
lebih leluasa, mungkin saya masih bersedia menerimanya).
Dan kondisi yang benar-benar berbeda akan terjadi jika saya menjadi
seorang wirausahawan atau pekerja lepas. Penghasilan saya akan sangat
dipengaruhi oleh seberapa rajin saya bekerja. Dan setiap saat saya akan
selalu dibayang-bayangi oleh kemungkinan mati kepalaran karena tak
punya penghasilan.
Situasi seperti ini insya Allah akan membuat saya termotivasi dengan sangat kuat untuk bekerja segiat mungkin.
Maka, tanggal 16 Januari 2007 lalu, saya pun menulis surat
pengunduran diri kepada manajer saya. Saya menyebut ini sebagai “A
roadshow to my freedom”.
Sesuai peraturan kantor, saya baru boleh keluar paling cepat sebulan
sejak pernyataan pengunduran diri. Dan setelah mempertimbangkan banyak
hal, saya akhirnya memilih tanggal 19 Maret 2007.
Alhamdulillah.. saya merasa lega sekarang. Memang, ada juga perasaan
was-was. Bagaimana jika saya tidak berhasil? Bagaimana jika saya nanti
kekurangan uang? Bagaimana jika…???
Hm… saya berusaha mengenyahkan semua kekhawatiran itu. Saya harus
optimis! Saya yakin Allah telah menjamin rezeki yang cukup bagi setiap
hambaNya. Sekarang tinggal bagaimana upaya kita untuk bekerja keras
dalam menjemput setiap rezeki.
Saya juga makin yakin setelah meresapi salah satu hadits Rasulullah berikut ini:
Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dari berdagang.
(Berarti jika berwirausaha, saya punya peluang untuk mendapatkan
penghasilan sepuluh kali lipat dari yang sekarang, atau mungkin lebih
banyak. Begitu kan, logikanya?)
Kini, saya ingin mengucapkan selamat datang kepada kebebasan yang
telah lama saya nantikan. Selamat tinggal kantorku yang indah. Selamat
tinggal the comfort zone!
Hari ini, 16 Maret 2007, adalah hari terakhir saya bekerja di
kantor. Insya Allah besok saya dapat mulai bergerak untuk menyongsong
sebuah kehidupan yang benar-benar berbeda.
NB:
Beberapa hari lalu, saya mendapat kabar bahwa mas Budi Putra keluar dari Tempo dan menjadi full time blogger.
Ada teman yang bilang bahwa saya ikut-ikutan dia. Hehehehe… Sebuah
“tuduhan” yang aneh. Sebab seandainya saya ikut-ikutan, mustahil
rasanya jika saya mengambil sebuah keputusan besar hanya dalam hitungan
hari. Tapi jujur nih, untuk jangka panjang saya juga punya keinginan
untuk mengikuti jejak beliau. Karena itulah, saat ini saya sedang
belajar tentang cara menghasilkan banyak uang lewat blog.
Anda ingin seperti saya juga?
Senayan, 16 Maret 2007
Jonru
NB lagi:
Semua tulisan saya berikut ini masih berkaitan erat dengan keputusan saya untuk mundur sebagai pekerja kantoran:
1. A Roadshow to My Freedom
2. A Roadshow to My Freedom 2
3. A Roadshow to My Freedom 3
4. Memindah data 8 GB dari komputer kantor ke komputer rumah
5. Cuti 12 hari. Saya memang diberi kesempatan untuk menghabiskan sisa jatah cuti yang belum diambil.
:)
Tulisan ini sudah dimuat juga di sini :)