Kemarin (25 Desember 2006), seorang sahabat mengirimi saya SMS. Isinya,
"Jonru, kamu mau berqurban gak? Gimana kalo kita patungan beli kambing?"
Saya segera membalas SMS itu dengan pesan, "Wah... saya belum punya anggaran nih, buat qurban. Maaf ya."
Lantas, perbincangan SMS itu pun saya lupakan. Yang saya ingat adalah:
selama ini saya memang belum pernah berqurban di hari Idul Adha. Saya
memperingati hari raya haji ini setiap tahun, tapi saya selalu berpikir
bahwa keuangan saya belum mencukupi untuk membeli hewan qurban.
Dan pikiran seperti itu pulalah yang muncul di kepala saya ketika
membaca SMS dari si teman. Saya membalasnya secara spontan, berdasarkan
"pemikiran otomatis" yang telah lama bersemayam di pikiran saya.
Lantas, pagi tadi seusai Shubuh, saya mendengarkan ceramah seorang
ustadz di radio. Beliau mengatakan bahwa qurban itu bukan hanya buat
orang kaya. Orang miskin pun disunnahkan berqurban. Pak Ustadz ini pun
berkata bahwa berqurban merupakan sebuah tes untuk menguji seberapa
besar keikhlasan kita untuk menyisihkan harta di jalan Allah.
Ya Allah... seketika saya merasa amat terpukul oleh ucapan itu. Saya
segera membayangkan cerita tentang nabi Ibrahim yang demikian patuh dan
ikhlas ketika diperintah Allah untuk menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim
begitu ikhlas untuk mengorbankan anak yang amat ia cintai.
Jika demikian, kenapa saya tidak ikhlas hanya untuk mengorbankan sedikit saja harta saya?
Saya pun segera berpikir. Saya ingat: dulu ketika anak saya Fia aqiqah,
harga kambing yang kami beli cuma sekitar Rp 700.000. Berarti, saya
hanya perlu mengeluarkan uang lebih kurang sejumlah itu. Dan kalau
misalnya patungan dengan teman, tentu saya bisa mengeluarkan jumlah
yang lebih kecil.
Hm... ternyata memang sejak awal saya telah salah. Saya hampir tak
pernah tahu berapa harga pasaran kambing. Dan sejak dulu di pikiran
saya sepertinya sudah ada "pola" bahwa harga kambing itu mahal sehingga
saya belum sanggup membelinya.
Kini saya jadi berpikir, sedemikian miskinkah saya? Apakah saya memang benar-benar tak sanggup untuk membeli hewan qurban?
Tiba-tiba saya teringat pada sebuah puisi yang saya tulis beberapa bulan lalu:
====================
Ya Allah, Jadikanlah Aku Orang Kaya
Ya Allah...
Jadikanlah aku orang kaya
agar ku dapat ulurkan cinta bagi tatapan penuh harap
agar ku dapat siramkan kesejukan bagi bibir yang mengering
bagi harapan yang mungkin telah gersang
sehingga mimpi pun mungkin enggan singgah di sana
Ya Allah...
Jadikanlah aku orang kaya
yang selalu peduli pada tangis dan jeritan hati
yang tak pernah usai bertanya di mana lagi saudaraku yang butuh uluran kasih
Ya Allah...
jadikanlah aku orang kaya
yang memiliki hati seluas samudera
yang memiliki senyum seindah bunga di taman cintaMu
Namun Allah...
Jika aku tak Kau takdirkan jadi orang kaya
biarkanlah hatiku yang menjadi kaya
hati yang tak pernah merasa kekurangan
hati yang selalu tergerak untuk berbagi
hati yang tak pernah henti menebarkan cinta
Ya Allah...
jadikanlah aku orang kaya
orang kaya yang selalu melangkah di jalanMu
Amiin...
Senayan, 15 Oktober 2005
Jonru