Blog EntryMenulis, masih pakai mesin tik manual?Jun 8, '06 1:49 AM
for everyone
Sebuah tulisan di milis PenulisLepas amat menarik perhatian saya. Tulisan yang berjudul "Proses kreatif via mesin tik?" ini ditulis oleh Socratessa. Berikut cuplikan emailnya:

saya diyakinkan bahwa bunyi gemeritik mesin tik, dan hasil ketikan yang kasat mata sehingga bisa diedit pakai tangan, membuat ilham mengalir dan proses kreatif 1000% lebih lancar.

....................

So, kenapa tidak kembali ke mesin tik manual (atau elektronik, tapi model kuno supaya pitanya bisa dipakai ulang)?

Mau bukti ilmiah? Menurut riset (1000 penulis berbahasa Inggris), 80% mengaku memiliki mesin tik yang usianya rata-rata 46 tahun!
Terus terang, tulisan ini menggugah memori saya, kembali ke masa lalu. Ketika mulai merintis karir di bidang penulisan, tahun 1990, saya belum punya mesin tik! Saya pun menulis dengan tulisan tangan.

Mesin tik baru bisa saya beli sekitar tahun 1991. Setelah itu, saya mulai mengetik naskah dengan mesin tik itu (sebelumnya, saya belajar kursus mengetik 10 jari di sebuah lembaga kursus mengetik. Duhai, masih adalah kursus seperti ini pada jaman sekarang???).

Saat itu, saya rasakan bahwa produktivitas saya dalam menulis amat tinggi. Hampir seminggu sekali.. ada saja tulisan yang saya hasilkan. Padahal saat itu, tulisan saya masih ditolak di mana-mana. Tapi saya tetap semangat. Saya memang amat ingin jadi penulis yang handal.

Tahun 1994, saya menjadi pemenang lomba cerpen yang diadakan Anita Cemerlang. Hadiahnya saya belikan mesin tik elektronik yang punya layar 7 baris, dan bisa menyimpan data di dalam disket (ada disk drive-nya lho). Uniknya, di dalam mesin tik ini ada software yang mirip MS Word dan Excel. File-file hasil ketikan kita bisa ditransfer ke file komputer.

Setelah mengetik dengan mesin tik elektronik itu, produktivitas saya tetap tinggi. Lewat mesin tik ini (yang serba terbatas dan amat ketinggalan jika dibanding komputer), saya berhasil menyelesaikan penulisan SKRIPSI, naskah skenario sinetron 16 episode (saat ini, skenario ini belum saya tawarkan ke manapun), dan dua novel (keduanya belum terbit, tapi satu di antaranya pernah dimuat di Anita Cemerlang sebagai cerita bersambung). Ini belum termasuk naskah-naskah lain seperti cerpen dan tulisan nonfiksi.

Tahun 1998, saya membeli komputer. Saya berharap, mesin canggih ini bisa membuat saya lebih produktif dalam menulis. Tapi ternyata, saya malah keasyikan mengutak-atik komputer. Waktu saya habis untuk belajar komputer, desain grafis, dan desain web.

Memang, dari kegiatan itu saya akhirnya menguasai banyak keterampilan. Mulai dari desain grafis dengan corel draw, desain media cetak dengan pagemaker, utak-atik foto dengan photoshop, hingga desain web dengan frontpage dan dreamweaver.

Tapi... aktivitas menulis saya justru terhenti. Saya sering membaca naskah-naskah saya yang tersimpan di komputer. Tapi begitu hendak saya lanjutkan, eh... muncul godaan untuk mengutak-atik komputer atau main games. Akhirnya tidak jadi menulis.

Alhamdulillah.. sejak 2004 lalu saya bertekad untuk memaksimalkan komputer untuk menulis. Sedangkan yang lainnya saya "anaktirikan". Hehehe.. Ini demi karir saya juga, sebagai penulis.

* * *

Jadi, memang ada benarnya juga, bahwa mengetik dengan mesin tik biasa... bisa membuat kita lebih produktif, karena kita lebih fokus dan nyaris tak ada godaan.

Kalau di komputer, godaan terbesar adalah games. Dan bagi mereka yang hobi utak-atik komputer, tentu godaannya jauh lebih besar.

Tapi saya kira, ini semua tergantung pribadi masing-masing penulis kok. Setiap orang tentu punya preferensi yang berbeda-beda. Ada penulis yang lebih senang pakai komputer, ada juga yang lebih suka pakai mesin tik manual. Bahkan ada juga yang lebih suka tulis tangan.

Sebagai tambahan info, berikut adalah pendapat Nadhira Khalid di milis FLP:

Saya ingat ada penulis Indonesia yang sampai sekarang masih pakek mesin ketik, dialah Remy Silado. Lihat juga karya-karyanya yang dihasilkan. Terakhir, novel yang tebalnya seperti kamus Collins Cobild itu, tentang jenderal Ceng Ho. Menurut keponakannya, yang kebetulan teman kerja saya di kantor, Oomnya itu sampai sekarang tetap setia dengan mesik ketiknya, dia gak punya komputer.

Ada juga penulis yang sempet lama pakek mesin ketik dan kalau baca kisahnya, adddduuuuuhh sediiiih deh. Dialah Tetehku, Pipiet Senja. Cuma sekarang si teteh dah pakek kompi. Cuma, ceritanya dengan si Denok mesin ketik tuanya itu lo....
Saya benar-benar tercengang oleh fakta ini.

Okelah! Memang mengetik dengan mesin tik itu punya banyak kelemahan, seperti:

- capek, bisa sakit dada (saya dulu mengalami hal ini, karena tangan dan dada saya harus bekerja keras dalam menekan tuts-tuts mesin tik yang amat keras.

- boros kertas

- kalo mau revisi, harus diketik ulang dari awal

Tapi dari segi produktivitas, ternyata memang benar... mengetik dengan mesin tik manual jauh lebih baik. Bahkan saat ini, ketika saya sudah terbiasa mengetik dengan komputer, secara jujur saya sering mengakui bahwa banyak tulisan saya yang terbengkalai karena saya tergoda untuk melakukan hal-hal lain di komputer.

Seorang teman penulis di Bandung, pernah curhat ke saya:
Komputer saya rusak, tapi saya belum punya uang untuk mereperasinya. Jadi untuk sementara ini, saya mengetik dengan tulisan tangan, lalu saya bawa ke rental komputer.

Coba simak pula penuturan teman saya, Indry, di milis PenulisLepas:

Hal yang sama yang selalu saya lakukan jika ingin menulis. Ya, menggunakan kertas dan pensil. Alasan utamanya adalah karena saya ga punya komp :D. Agar idenya ga menguap begitu saja, maka media kertas & pensil pun jadi. Ada kenikmatan tersendiri ketika menulis huruf demi huruf di atas kertas, atau lebih tepatnya menyenangkan diri dan membuat diri senang dan nyaman meski sebenernya pegel juga, hehe.

Hikmah yang amat berharga saya dapatkan dari semua fakta ini:

  1. Ternyata selama ini saya termasuk orang yang beruntung, karena punya komputer sendiri untuk menulis. Bahkan di kantor pun saya mendapat fasilitas satu komputer pribadi plus akses internet yang bebas dipakai kapan saja.
  2. Ternyata masih banyak orang yang merasa lebih nyaman mengetik dengan mesin tik biasa, atau bahkan dengan tulisan tangan.
  3. Ternyata dalam kasus tertentu, produktivitas menulis justru lebih tinggi jika kita menulis dengan mesin tik ketimbang komputer.
  4. Ternyata masih banyak orang yang tidak seberuntung saya, belum memiliki komputer, sehingga mereka belum terlalu leluasa mengetik naskah.
Memang, semua ini kembali pada orangnya. Setiap orang punya preferensi yang berbeda-beda. Secara pribadi, saya mungkin akan mengalami kesulitan besar jika kembali harus mengetik dengan mesin tik biasa atau tulisan tangan (walau saya mengakui bahwa cara ini juga amat baik dari segi produktivitas).

Tapi yang jelas, buat teman-teman yang belum punya komputer atau mesin tik, dan ingin sekali beli komputer tapi belum mampu, semoga fakta ini bisa menjadi hiburan yang menambah motivasi Anda dalam menulis.

Keterbatasan teknologi bukan alasan untuk tidak menulis. Kendala apapun tak akan ada artinya selama kita punya motivasi yang kuat.

Bahkan seorang tuna netra pun bisa memiliki semangat yang amat tinggi untuk menulis. Kenapa kita tidak?


Senayan, 8 Juni 2006

Jonru

(gambar diambil dari sini)


29 CommentsChronological   Reverse   Threaded
yuniargo wrote on Jun 8, '06
Di banyak Kantor Kelurahan/Kecamatan masih ada yg pake mesin ketik manual...tapi pegawainya selalu tidak ada ditempat, atau kalaupun ada, pasti lagi baca koran....sambil ngopi..hi hi hi..
tianarief wrote on Jun 8, '06
jonru said
kursus mengetik 10 jari
nah, soal ini aku berterima kasih sama guru "keterampilan bebas" waktu di smp. soalnya, waktu itu aku pilih keterampilan bebas mengetik, dan belajar mengoptimalkan 10 jari tangan. hasilnya, sampe sekarang (pake komputer), saya tetap mengetik dengan 10 jari (mata tinggal liat ke layar, nggak usah ke keyboard lagi). alhamdulillah :D

soal pengalaman dengan mesin tik, cukup banyak. mulai dari menulis artikel/feature di koran-koran, hingga penulisan skripsi (sendiri), dan menjadi tukang ketik skripsi punya abang (dengan mesin tik manual, tapi pitanya diganti pake pita mesin tik elektrik).
imazahra wrote on Jun 8, '06
Hmm, tulisan yang bernas dan angle yg menarik Bang :-) huhuhuhu, persoalan terbesarku sesungguhnya adalah melawan rasa malas.......... huuh.... :-(
menhariq wrote on Jun 8, '06
uhuukk.... dalem nih....

*dari gamer freak yang sangat konsumtif* >_<
menhariq wrote on Jun 8, '06
eh by the way, on the way.. eniwei.. dan busway..

aku mo nanya ke kalian yang pernah ikut kursus mengetik 10 jari dong..

pernah ngecek berapa kecepatan ngetik kalian dalam wpm (word per minute) dan error nya?

soalnya aku ga pernah ikutan kursus resmi kayak gitu maupun cara ngetik yang benar lewat software khusus.. karena aku pernah belajar ulang biar bisa 10 jari, malah jadi ga produktif..

tanpa kursus dan sebangsanya, dengan sering chatting maupun menulis apa adanya, aku biasa ngetik dengan kecepatan 60-65wpm dengan 3-5% error.. kalian gimana?
yuniargo wrote on Jun 8, '06
a,s,d,f................j,k,l >>> ayo ulang 10 kali...
tianarief wrote on Jun 8, '06
pernah ngecek berapa kecepatan ngetik kalian dalam wpm (word per minute) dan error nya?
gak pernah! yang jelas, temen sampe terheran-heran. itu ngetik apa hujan? hahaha. nggak ding, boong.

gini riq, bagiku yg penting, berapa Rp yang dihasilkan dari setiap ketikan ini. =))
jonru wrote on Jun 8, '06
saya bisa mengetik sambil marah atau ngomel
semua ini berkat mengetik 10 jari
anda tidak percaya?
buktikan sendiri
ikutilah lembaga kursus mengetik 10 jari Jonru College
gratis untuk 10 pendaftar pertama

hihihi...
kok jadi kayak iklan???
menhariq wrote on Jun 8, '06
jonru said
saya bisa mengetik sambil marah atau ngomel
semua ini berkat mengetik 10 jari
anda tidak percaya?
buktikan sendiri
ikutilah lembaga kursus mengetik 10 jari Jonru College
gratis untuk 10 pendaftar pertama

hihihi...
kok jadi kayak iklan???
dangg !!

ternyata ada pengajarnyaa...

doh maaf ni.. bukannya meremehkan kursusnya.. tapi karena aku udah terbiasa ngetik cepat walau ga sampe 10 jari.. jadi kayanya untuk belajar ulang ngetik 10 jari agak repot untuk membiasakan nekennya.. biasa neken seenak jarinya.. kadang kesempil di jari mana kadang kesempil di jari mana.. yang penting pas.. dan tetep bisa ngetik tanpa harus liat keyboard.. ^_^
jonru wrote on Jun 8, '06
ternyata ada pengajarnyaa...
hihihi

itu cuma bercanda om
serius amat!
wirdayanti wrote on Jun 8, '06
Untuk membuat tilisan, saya sangat tergantung banget sama komputer. Ide2 muncul manakala saya menyalakan si kompie dan duduk dihadapannya. Ini mmg merepotkan saya.. :(
tianarief wrote on Jun 8, '06
kadang kesempil di jari mana kadang kesempil di jari mana.. yang penting pas.. dan tetep bisa ngetik tanpa harus liat keyboard
halah. alesan! :)) tangan punya 10 jari. optimalkan dong. ;))
menhariq wrote on Jun 8, '06
halah. alesan! :)) tangan punya 10 jari. optimalkan dong. ;))
udah optimal kok..

jempol buat ngasih tanda "topp"
telunjuk buat klik mouse
jari tengah buat ngajak ribut
jari manis buat naro cincin *halah*
jari kelingking buat minta maaf.. ^_^

apalagi? :p
femmy wrote on Jun 8, '06
pernah ngecek berapa kecepatan ngetik kalian dalam wpm (word per minute) dan error nya?

soalnya aku ga pernah ikutan kursus resmi kayak gitu maupun cara ngetik yang benar lewat software khusus.. karena aku pernah belajar ulang biar bisa 10 jari, malah jadi ga produktif..

tanpa kursus dan sebangsanya, dengan sering chatting maupun menulis apa adanya, aku biasa ngetik dengan kecepatan 60-65wpm dengan 3-5% error.. kalian gimana?
Pernah sih, tapi udah lupa kecepatannya berapa :-) Rasanya dulu pernah nemu situs web, dan di situ kita bisa menguji kecepatan. Tapi situsnya apa yaaa... lupa...

Aku belajar ngetik 10 jari, ngga pake kursus tuh. Tinggal lihat chartnya, jari mana dipake untuk ngetik tombol mana, terus tinggal dilatih. Awalnya banyak salah ketik, tapi setelah lancar, keterampilan ini sangat membantu! Apalagi kerjaan saya emang melibatkan banyak kegiatan mengetik,
myshant wrote on Jun 8, '06
duh, kalo' balik pake' mesin ketik, jariku jadi sering kejeblos ..hihihi
enakan pake' keyboard, gak perlu neken terlalu dalem, tulisan udah keluar
mengenai 10 jari, memang harus siy, apalagi buat karyawan yg sering berhubungan dgn ngetik kek diriku
sambil dengerin bos ngomong, tangannya udah langsung gerak, gak perlu melototin keyboard yg dipencet :))
menhariq wrote on Jun 8, '06
femmy said
Tinggal lihat chartnya, jari mana dipake untuk ngetik tombol mana, terus tinggal dilatih. Awalnya banyak salah ketik, tapi setelah lancar, keterampilan ini sangat membantu!
hmm.. yah untuk yang belum terlalu lama berkecimpung di dunia keyboard, mungkin perlu.. tapi kalau dengan tanpa 10 jari bisa mengetik cepat seperti mereka yang menggunakan 10 jari.. untuk apa lagi mesti belajar ngetik secara benar? :)
jonru wrote on Jun 8, '06
kalau dengan tanpa 10 jari bisa mengetik cepat seperti mereka yang menggunakan 10 jari.. untuk apa lagi mesti belajar ngetik secara benar?
kalo soal kecepatan, mungkin sistem 2 jari (atau sering juga disebut 11 jari, hehehehe..) bisa sama atau lebih cepat dari 10 jari
tapi dengan sistem 2 jari:
- apakah kita bisa mengetik tanpa melihat keyboard?
- seberapa sering kesalahan ketik yang kita lakukan?
- mungkin perlu juga dilakukan penelitian: lebih capek mana? sistem mana yang mengeluarkan energi lebih banyak?

Hiks.. tapi kok malah berdebat soal sistem mengetik?
hihihi..
saya setuju dengan mas tian, yang penting adalah tujuan dan hasil dari mengetik itu
soal 10 jari atau 2 jari atau 20 jari sekalipun, itu tergantung pada kenyamanan dan kebiasaan masing-masing.

Tapi, si pencipta sistem 10 jari tentu menganggap bahwa sistem ini amat baik untuk belajar mengetik.

dan bagi tunanetra, sistem 10 jari ini amat cocok
itulah sebabnya, sistem 10 jari sering pula disebut blind system
soalnya emang benar-benar gak perlu melihat keyboar.
nadnuts wrote on Jun 8, '06
wah makasih deh...

tp aku masih punya mesin tik peninggalan kakekku yang masih bisa dipake!
:D
deetopia wrote on Jun 8, '06
Sekarang gue malah lebih seneng nulis pake bolpein di kertas. Ide lebih cepat mengalir dan bisa dilakukan di mana saja, termasuk di dalam bus. Hayo ada yang lebih jadul cara nulisnya dibanding gue?

(Soalnya yang lebih jadul dari gue cuma yang ngukir di atas batu ^_^ atau yang pake papyrus)
jonru wrote on Jun 8, '06
Sekarang gue malah lebih seneng nulis pake bolpein di kertas. Ide lebih cepat mengalir dan bisa dilakukan di mana saja, termasuk di dalam bus.
wah... sepertinya perlu ditiru nih...
soalnya ide sering juga muncul dalam perjalanan
(tapi repotnya, gimana kalo ide muncul pas lagi mengendarai motor? hehehe...)
menhariq wrote on Jun 8, '06
jonru said
tapi dengan sistem 2 jari:
- apakah kita bisa mengetik tanpa melihat keyboard?
- seberapa sering kesalahan ketik yang kita lakukan?
- mungkin perlu juga dilakukan penelitian: lebih capek mana? sistem mana yang mengeluarkan energi lebih banyak?
siapa yang 2 jari? gile aja kalo 2 jari ngalahin 10 jari.. aku pakai mungkin sekitar 6-8 jari kali ya? kelingking nyaris jarang dipakai.. kadang hanya buat enter atau shift kiri..

aku tetep bisa liat ngetik tanpa lihat keyboard.. bahkan aku pernah pengen punya keyboard tanpa huruf... :)

dan seperti aku bilang.. aku mengetik dengan 60wpm dan faktor kesalahan 5%.. masi bisa termasuk cepat walau mungkin ga the best :)
ummuaasiyah wrote on Jun 8, '06
aku berterima kasih sama guru "keterampilan bebas" waktu di smp. soalnya, waktu itu aku pilih keterampilan bebas mengetik, dan belajar mengoptimalkan 10 jari tangan
waaah...kita samaan lagi niy da tian...
ummuaasiyah wrote on Jun 8, '06
saya lebih senang menulis dengan tangan dan (juga) mesin tik manual. klo pakai komputer langsung ide suka mampet. kenapa yaa? tapi.. sesudah dipindahkan ke komputer, eh...idenya jadi tambah banyak en kadang gak nyambung. bingung!?
yennys wrote on Jun 8, '06
hmmm... seperti ke kelurahan :), tapi klo pake mesin tik susah nip-ex-nya...
experiencehunter wrote on Jun 8, '06
Ngomong2 saya gak punya mesin tik lho!
Saran 'abang' dan lainya apa dooooo...ng (@_@)~???
bananatalk wrote on Jun 8, '06
Gak mesti ikut kursus kok. Sekarang udah banyak program latihan mengetik. Mau di CD atau disket, mau program bajakan atau beli hak guna, tersedia di mana-mana.

Mesin tik? Ogah... Buerattt... Lagian, jagoan ini pada sensitif ama suara, padahal waktu menulis bunda adalah di malam hari. Komputer aja lah... Masalah godaan, kembali ke pribadi masing-masih :)
jonru wrote on Jun 8, '06
Ngomong2 saya gak punya mesin tik lho!
Saran 'abang' dan lainya apa dooooo...ng (@_@)~???
itu bukan kendala
pake tulisan tangan
setelah jadi, bawa ke rental komputer
kendala apapun tak ada masalah
selama motivasi sudah kuat, Insya ALlah semua itu tak ada artinya, dan akan selalu timbul kreativitas dan ide baru untuk menyiasat kendala2 yang ada.
afnankarimah wrote on Jun 13, '06
Assalamualaikum
salam kenal Mas Jonru, saya tahu Anda dari milis FLP:)
soal ngetik pake mesin tik, berhubung kertas mahal, zaman skrg kayaknya harus dihindari ya, bisa menguras kocek:D
dedew80 wrote on Jul 4, '06
Jangan jadikan keterbatasan alat menjadi alasan untuk tidak berkarya ya mas...TASARO dulu ngetik novelnya di rental...hebat kan...aku yang punya sediri malah tulisannya ga jadi2..payah...kembali ke soal kemauan...
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help