Sebuah tulisan di milis
PenulisLepas amat menarik perhatian saya.
Tulisan yang berjudul "Proses kreatif via mesin tik?" ini ditulis oleh
Socratessa. Berikut
cuplikan emailnya:
saya diyakinkan bahwa bunyi gemeritik mesin tik,
dan hasil
ketikan yang kasat mata sehingga bisa diedit pakai tangan, membuat
ilham mengalir dan proses kreatif 1000% lebih
lancar.
....................
So, kenapa tidak kembali ke mesin tik manual (atau elektronik, tapi
model kuno supaya pitanya bisa dipakai ulang)?
Mau bukti ilmiah? Menurut riset (1000 penulis berbahasa Inggris), 80%
mengaku memiliki mesin tik yang usianya rata-rata 46
tahun!
Terus
terang, tulisan ini menggugah memori saya, kembali ke masa lalu. Ketika
mulai merintis karir di bidang penulisan, tahun 1990, saya belum punya
mesin tik! Saya pun menulis dengan tulisan tangan.
Mesin tik baru bisa saya beli sekitar tahun 1991. Setelah itu, saya
mulai mengetik naskah dengan mesin tik itu (sebelumnya, saya belajar
kursus mengetik 10 jari di sebuah lembaga kursus mengetik. Duhai, masih
adalah kursus seperti ini pada jaman sekarang???).
Saat itu, saya rasakan bahwa produktivitas saya dalam menulis amat
tinggi. Hampir seminggu sekali.. ada saja tulisan yang saya hasilkan.
Padahal saat itu, tulisan saya masih ditolak di mana-mana. Tapi saya
tetap semangat. Saya memang amat ingin jadi penulis yang
handal.
Tahun 1994, saya menjadi pemenang lomba cerpen yang diadakan Anita
Cemerlang. Hadiahnya saya belikan mesin tik elektronik yang punya layar
7 baris, dan bisa menyimpan data di dalam disket (ada disk drive-nya
lho). Uniknya, di dalam mesin tik ini ada software yang mirip MS Word
dan Excel. File-file hasil ketikan kita bisa ditransfer ke file
komputer.
Setelah mengetik dengan mesin tik elektronik itu, produktivitas saya
tetap tinggi. Lewat mesin tik ini (yang serba terbatas dan amat
ketinggalan jika dibanding komputer), saya berhasil menyelesaikan
penulisan SKRIPSI, naskah skenario sinetron 16 episode (saat ini,
skenario ini belum saya tawarkan ke manapun), dan dua novel (keduanya
belum terbit, tapi satu di antaranya pernah dimuat di Anita Cemerlang
sebagai cerita bersambung). Ini belum termasuk naskah-naskah lain
seperti cerpen dan tulisan nonfiksi.
Tahun 1998, saya membeli komputer. Saya berharap, mesin canggih ini
bisa membuat saya lebih produktif dalam menulis. Tapi ternyata, saya
malah keasyikan mengutak-atik komputer. Waktu saya habis untuk belajar
komputer, desain grafis, dan desain web.
Memang, dari kegiatan itu saya akhirnya menguasai banyak keterampilan.
Mulai dari desain grafis dengan corel draw, desain media cetak dengan
pagemaker, utak-atik foto dengan photoshop, hingga desain web dengan
frontpage dan dreamweaver.
Tapi... aktivitas menulis saya justru terhenti. Saya sering membaca
naskah-naskah saya yang tersimpan di komputer. Tapi begitu hendak saya
lanjutkan, eh... muncul godaan untuk mengutak-atik komputer atau main
games. Akhirnya tidak jadi menulis.
Alhamdulillah.. sejak 2004 lalu saya bertekad untuk memaksimalkan
komputer untuk menulis. Sedangkan yang lainnya saya "anaktirikan".
Hehehe.. Ini demi karir saya juga, sebagai penulis.
* * *
Jadi, memang ada benarnya juga, bahwa mengetik dengan mesin tik
biasa... bisa membuat kita lebih produktif, karena kita lebih fokus dan
nyaris tak ada godaan.
Kalau di komputer, godaan terbesar adalah games. Dan bagi mereka yang
hobi utak-atik komputer, tentu godaannya jauh lebih besar.
Tapi saya kira, ini semua tergantung pribadi masing-masing
penulis kok.
Setiap orang tentu punya preferensi yang berbeda-beda. Ada penulis yang
lebih senang pakai komputer, ada juga yang lebih suka pakai mesin tik
manual. Bahkan ada juga yang lebih suka tulis tangan.
Sebagai tambahan info, berikut adalah pendapat
Nadhira Khalid di milis
FLP:
Saya ingat ada penulis
Indonesia yang sampai sekarang masih pakek mesin
ketik, dialah Remy Silado. Lihat juga karya-karyanya yang dihasilkan.
Terakhir, novel yang tebalnya seperti kamus Collins Cobild itu, tentang
jenderal Ceng Ho. Menurut keponakannya, yang kebetulan teman kerja saya
di kantor, Oomnya itu sampai sekarang tetap setia dengan mesik
ketiknya, dia gak punya komputer.
Ada juga penulis yang sempet lama pakek mesin ketik dan kalau baca
kisahnya, adddduuuuuhh sediiiih deh. Dialah Tetehku, Pipiet Senja. Cuma
sekarang si teteh dah pakek kompi. Cuma, ceritanya dengan si Denok
mesin ketik tuanya itu lo....
Saya benar-benar
tercengang oleh fakta ini.
Okelah! Memang mengetik dengan mesin tik itu punya banyak kelemahan,
seperti:
- capek, bisa sakit dada (saya dulu mengalami hal ini, karena tangan
dan dada saya harus bekerja keras dalam menekan tuts-tuts mesin tik
yang amat keras.
- boros kertas
- kalo mau revisi, harus diketik ulang dari awal
Tapi dari segi produktivitas, ternyata memang benar... mengetik dengan
mesin tik manual jauh lebih baik. Bahkan saat ini, ketika saya sudah
terbiasa mengetik dengan komputer, secara jujur saya sering mengakui
bahwa banyak tulisan saya yang terbengkalai karena saya tergoda untuk
melakukan hal-hal lain di komputer.
Seorang teman penulis di Bandung, pernah curhat ke
saya:
Komputer saya rusak, tapi saya belum punya uang untuk
mereperasinya. Jadi untuk sementara ini, saya mengetik dengan tulisan
tangan, lalu saya bawa ke rental komputer.
Coba simak pula penuturan teman saya,
Indry, di milis PenulisLepas:
Hal yang sama yang selalu
saya lakukan jika ingin menulis. Ya,
menggunakan kertas dan pensil. Alasan utamanya adalah karena saya ga
punya komp :D. Agar idenya ga menguap begitu saja, maka media kertas
& pensil pun jadi. Ada kenikmatan tersendiri ketika menulis
huruf
demi huruf di atas kertas, atau lebih tepatnya menyenangkan diri dan
membuat diri senang dan nyaman meski sebenernya pegel juga,
hehe.
Hikmah yang amat berharga saya dapatkan dari semua fakta ini:
- Ternyata selama ini saya termasuk orang yang
beruntung, karena
punya komputer sendiri untuk menulis. Bahkan di kantor pun saya
mendapat fasilitas satu komputer pribadi plus akses internet yang bebas
dipakai kapan saja.
- Ternyata masih banyak orang
yang merasa lebih nyaman mengetik dengan mesin tik biasa, atau bahkan
dengan tulisan tangan.
- Ternyata dalam kasus
tertentu, produktivitas menulis justru lebih tinggi jika kita menulis
dengan mesin tik ketimbang komputer.
- Ternyata
masih banyak orang yang tidak seberuntung saya, belum
memiliki komputer, sehingga mereka belum terlalu leluasa mengetik
naskah.
Memang, semua ini kembali pada orangnya. Setiap orang punya preferensi
yang berbeda-beda. Secara pribadi, saya mungkin akan mengalami
kesulitan besar jika kembali harus mengetik dengan mesin tik biasa atau
tulisan tangan (walau saya mengakui bahwa cara ini juga amat baik dari
segi produktivitas).
Tapi yang jelas, buat teman-teman yang belum punya komputer atau mesin
tik, dan ingin sekali beli komputer tapi belum mampu, semoga fakta ini
bisa menjadi hiburan yang menambah motivasi Anda dalam
menulis.
Keterbatasan teknologi bukan alasan untuk tidak menulis. Kendala apapun
tak akan ada artinya selama kita punya motivasi yang kuat.
Bahkan seorang
tuna netra pun bisa memiliki semangat yang
amat tinggi untuk menulis. Kenapa kita tidak?
Senayan, 8 Juni 2006
Jonru
(gambar diambil dari
sini)