Blog EntryKriteria Cerita Islami, Apa Sajakah?May 2, '05 9:47 PM
for everyone
Catatan:
Tulisan ini secara spesifik ditujukan buat rekan-rekan di milis PenulisLepas.com. Namun secara umum, semoga isinya bermanfaat bagi kita semua, khususnya yang sedang belajar tentang konsep "cerita islami".

=============================

Ketika proyek penulisan cerita remaja penulislepas.com masih berlangsung, ada sebuah pengalaman berharga yang saya dapatkan. Rekan-rekan di milis penulislepas mungkin masih ingat, proyek ini sebenarnya sudah diadakan sejak lama. Ketika itu, kami dari penulislepas membuat pengumuman yang isinya, "proyek penulisan cerita remaja islami."

Lantas, kita pun menunggu kiriman cerpen dari rekan-rekan. Hanya dua orang yang mengirim. Setelah dibaca, kita kecewa. Tak ada yang memenuhi syarat.

Beberapa bulan kemudian, atas desakan teman-teman di milis, kita kembali mengumumkan proyek cerpen ini. Kali ini, kita ubah pengumumannya menjadi, "proyek pengumpulan cerita remaja". Kata "islami"-nya kita hilangkan.

Dan ajaib sekali! Naskah yang masuk sangatlah banyak! Lebih dari 150 cerpen!

Kejadian ini membuat saya secara pribadi tercengang-cengang. Kenapa ketika kita memakai istilah "islami", hanya dua orang yang mengirim cerpen? Apakah rekan-rekan merasa tidak sanggup menulis cerita islami? Atau tidak setuju? Atau anda merasa bahwa cerita islami itu terlalu berat, terlalu konservatif, terlalu banyak aturan, menghambat kreativitas, dan sebagainya? Atau ada alasan lain?

Saya sampai pada kesimpulan, ternyata sebagian besar di antara kita masih punya pandangan yang belum memadai mengenai konsep "cerita islami". Ketika mendengar kata "islami", kita langsung membayangkan hal-hal yang normatif. Kita membayangkan berbagai aturan dan kekangan yang menyebabkan kita tidak terlalu bebas dalam mengekspresikan diri. Kita bahkan mungkin membayangkan, cerita islami  itu haruslah cerita mengenai wanita berjilbab, mengenai orang bertaubat, harus ada kata "assallamualaikum", tokoh-tokohnya harus orang islam semua, dan seterusnya.

Padahal, cerita islami tidak harus seperti itu. Memang ada yang seperti itu, tapi sekali lagi, tidak harus seperti itu.

Sebetulnya, bagi saya konsep "cerita islami" itu amatlah sederhana. Kalau anda menulis cerita yang memenuhi tiga kriteria ini:
  1. mengandung pesan moral yang universal
  2. mencerahkan
  3. isinya tidak bertentangan dengan ajaran Islam
maka, anda sudah menulis cerita islami!

Mungkin dalam cerita anda tidak ada tokoh wanita berjilbab, tidak ada kata-kata seperti assallamualaikum, dst. Bahkan tokoh2 di dalam cerpen anda bukan orang Islam. Mungkin pula, cerita anda mengambil setting di negera-negara nonmuslim seperti India, Perancis, Amerika Serikat, dan sebagainya. Bahkan mungkin, Anda sebagai penulisnya bukan beragama Islam (bahkan anda mungkin seorang atheis).

Tapi jika cerita anda memenuhi tiga kriteria di atas, maka cerita anda amat layak disebut sebagai cerita islami!

Nah, tidak terlalu rumit kan, konsep cerita islami itu?

Sekarang, mari kita bahas ketiga hal di atas, satu-persatu.


PESAN MORAL YANG UNIVERSAL
Kasih sayang ibu terhadap anak, rasa kepedulian sosial terhadap korban bencana, prihatin melihat rakyat yang hidupnya melarat dan amat miskin, adalah contoh-contoh dari "pesan" yang universal. Anda bisa menulis cerita-cerita seperti ini. Mungkin tokohnya adalah wanita kristen (yang tentu saja tidak berjilbab), berwarga negara Amerika Serikat. Di dalam cerita ini tidak ada tokoh yang beragama Islam. Atau anda ingin menulis tentang Bunda Theresa? Tentang kebaikan dan ketulusan hatinya? Tentang perhatian dan kasih sayangnya terhadap manusia? Silahkan tulis. Saya yakin, cerita-cerita seperti ini bisa disebut sebagai cerita islami.


MENCERAHKAN
Yang dimaksud dengan "mencerahkan" adalah: Kita sebagai penulis tidak sekadar ikut-ikutan. Ketika penulis lain menampilan cerita-cerita cinta yang romantis, yang penuh oleh kalimat-kalimat:

"kaulah segalanya bagiku"
"aku sangat mencintai kamu. Aku tak bisa hidup tanpa kamu."
"Aku akan mencintai kamu selamanya, sampai akhir hayatku."
... dan sebagainya,

Kita mencoba bersikap kritis. Apakah ucapan seperti itu adalah ucapan yang realistis? Apakah itu tidak lebih dari gombal semata? Sekadar untuk menyenangkan hati para pembaca, karena pembaca senang pada cerita-cerita romantis?

Coba kita simak salah satu syair lagu Iwan Fals:
"kucinta kau saat ini, entah esok lusa..."

Hm, benar-benar beda kan, dengan ketiga contoh di atas. Kalimat-nya Iwan Fals inilah yang menurut saya sebagai contoh karya yang mencerahkan. Karya yang tidak mencoba untuk ikut arus. Iwan Fals mencoba melihat kehidupan dari segi yang lebih realistis. Toh kenyataannya tak ada cinta manusia yang abadi. Dulu saya sangat cinta pada si A, tapi sekarang saya lebih cinta pada si B. Demikian seterusnya.

Intinya, karya yang  mencerahkan adalah karya yang bisa membuka, menambah atau mengembangkan pikiran dan wawasan para pembaca. Yang saya sebutkan di atas hanyalah contoh. Jadi cerita yang mencerahkan itu tidak terbatas pada cerita-cerita cinta romantis.


TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AJARAN ISLAM
Ajaran islam itu tentunya banyak sekali, dan terlalu panjang (bahkan mungkin tidak relevan) jika diuraikan semuanya di sini. Tapi saya akan mencoba menyebutkan beberapa "ajaran islam" yang berhubungan dengan dunia penulisan fiksi. Maksud saya, ada beberapa tema yang seringkali dibahas di dalam karya fiksi, yang memiliki "masalah" dengan ajaran islam.

  1. Cerita mistik, yang umumnya mencoba memberikan gambaran bahwa hantu itu menakutkan, manusia tak berdaya ketika diganggu oleh hantu, dan sejenisnya.

    Islam mengajarkan bahwa hantu merupakan makhluk yang derajatnya lebih rendah dari manusia. Jadi seharusnya manusia tidak perlu takut pada hantu. Cerita-cerita mistik yang terlalu "mendewa-dewakan" hantu, menggambarkannya sebagai sosok yang amat ditakuti dan tak dapat dilawan oleh manusia, merupakan cerita yang bertentangan dengan ajaran islam.

    Contoh: film Jelangkung, Friday The 13

  2. Cerita tentang benda tertentu (keris, cincin, lampu, dst) yang memiliki kekuatan luar biasa, yang bisa mendatangkan keberuntungan, yang menentukan nasib manusia, dan seterusnya. Atau, cerita tentang tanggal 13 yang membawa sial, lokasi rumah yang mendatangkan rejeki, dan sebagainya. Ini adalah cerita yang musryik, yang amat dilarang dalam islam.

    contoh: sinetron DAN, sinetron Si Bajaj (bukan bajaj bajuri lho...), dan masih banyak lagi.

  3. Cerita cinta yang picisan. Dalam islam, pacaran sebelum menikah itu tidak diperbolehkan. Sementara banyak cerita fiksi yan berkisah tentang orang pacaran.

    Sebenarnya, boleh-boleh saja kita menulis cerita tentang orang yang pacaran sebelum menikah (novel saya, CINTA TAK TERLERAI, pun sebenarnya temanya tentang pacaran). Cuma bedanya, di dalam cerita islami, kita harus memberikan "penjelasan" kepada pembaca bahwa pacaran sebelum menikah itu tidak baik, masih banyak hal yang jauh lebih bermanfaat ketimbang pacaran.

    Namun agar cerita kita tidak menggurui, kita tentu menyampaikan pesan moralnya dengan cara yang "indah". Intinya, kita tetaplah harus menyampaikan sebuah cerita yang menghibur, bukan sebuah tulisan yang lebih mirip ceramah agama!

  4. Cerita tentang manusia yang bermuamalah (berteman dan bekerja sama) dengan jin (setan, iblis, dst). Dalam Islam, jelas-jelas dinyatakan bahwa manusia tidak boleh bermuamalah dengan jin.

    Contoh, banyak sekali, antara lain: sinetron Jin Dan Jun, Tuyul Dan Mbak Yul, Jinni Oh Jinni, dan sebagainya.

    Lalu ada sinetron Bidadari, Bawang Merah Dan Bawang Putih, dan sebagainya, yang menampilkan ibu peri, yang sebenarnya juga termasuk kategori jin.


  5. Cerita-cerita yang ditulis sedemikian rupa, yang menggambarkan adegan sex atau tubuh wanita secara vulgar, sehingga terkesan porno dan mengundang birahi. Bukan berarti cerita islami tidak boleh menampilkan tema sex atau "tubuh wanita" dan sebagainya. Boleh-boleh saja, asalkan disampaikan dengan gaya yang lebih halus, indah, dan tidak diniatkan sebagai upaya untuk "merangsang birahi" pembaca.

  6. Cerita-cerita humor yang isinya berupa ledekan terhadap fisik manusia, dan hal-hal lain yang sejenis. Contohnya banyak sekali kita temukan pada acara-acara komedi di televisi. Artis yang gendut seperti Rini S Bonbon disebut sebagai kapal selam, ubur-ubur, dan sebagainya. Ini adalah sikap yang tidak islami, dan sebaiknya dihindari oleh penulis2 cerita islami.

  7. Cerita yang menggambarkan tentang manusia yang sudah meninggal, lalu hadir lagi sebagai hantu, jin, dan sebagainya. Sebenarnya, jin (hantu, setan, dst) memiliki dunia yang berbeda dengan manusia. Tak ada manusia yang berubah jadi jin. Setelah meninggal, manusia akan berada di alam barzah, menunggu datangnya hari kiamat. Mereka tak punya urusan apapun lagi dengan dunia ini.

    Contoh cerita yang seperti ini banyak sekali. Beberapa tahun lalu, di Indosiar pernah ditayangkan sinetron CINTA ABADI yang menceritakan tentang seorang pria yang meninggal. Lalu dia hadir lagi untuk menemani pacarnya. Ia terus menjaga pacarnya itu, bahkan dia cemburu jika pacarnya itu dekat dengan pria lain. Ia akan terus menghalangi hubungan mereka. Pokoknya dia tak rela jika pacarnya itu menjadi milik pria lain.

    Cerita ini, selain bertemakan cinta picisan yang terlalu "mendewa-dewakan cinta", juga memiliki masalah dengan ajaran Islam, karena manusia yang sudah mati digambarkan sebagai sosok yang masih punya urusan dengan dunia.

    Sinetron-sinetron Indonesia belakangan ini pun, banyak yang punya kecenderungan seperti ini. Ada tokoh yang meninggal, lalu dia kembali ke dunia sebagai "arwah penasaran", dan melanjutkan urusannya yang belum selesai.

Sebetulnya, masih banyak poin yang bisa disampaikan di sini. Namun ketujuh poin di atas adalah hal-hal yang - menurut pengamatan saya - paling banyak tampil di dalam cerita-cerita fiksi. Ketujuh poin di atas adalah rambu-rambu yang seharusnya kita perhatikan dalam menulis cerita islami. Jangan sampai deh, kita menulis cerita yang seperti itu.

Namun sekali lagi, bukan berarti kita tidak boleh menulis tentang dukun, tentang keris sakti, tentang Nyi Roro Kidul, dan sebagainya. Boleh-boleh saja. Yang penting, isi cerita secara keseluruhan haruslah mengandung muatan bahwa hal-hal seperti itu tidak boleh dipercaya sebagai kekuatan yang benar-benar sakti. Harus ada pemahaman bahwa semua kekuatan berasal dari Tuhan. Jika pun misalnya ada keris sakti, maka yang sakti itu bukan kerisnya, namun Tuhan yang memberikan kesaktian pada si keris. Demikian seterusnya.


MENGENAI CERPEN-CERPEN YANG LOLOS DALAM PROYEK PENULISLEPAS.COM
Secara umum, sebenarnya dalam seleksi cerpen kemarin itu, kami hanya meloloskan cerita-cerita yang islami (walau label islami telah dihilangkan dari pengumumannya). Mungkin ada di antara penulis - yang naskahnya lolos seleksi - yang berkata, "Lho, cerita saya kan tidak islami. Tapi kenapa bisa lolos?"

Jika pertanyaan seperti ini sempat terlintas di benak anda, mohon maaf. Cobalah untuk mencermati lagi tulisan ini dari awal. Insya Allah, kami menganggap bahwa cerita yang anda tulis adalah cerita yang islami (walau ketika menulisnya anda sama sekali tidak berniat untuk menulis cerita yang islami), karena cerita anda memenuhi tiga kriteria di atas.

Semoga tulisan ini bermanfaat, dan maaf bagi yang tidak berkenan.

Jakarta, 3 Mei 2005
Jonru

NB: Saya pernah menulis opini bahwa film 30 Hari Mencari Cinta cukup islami. Mungkin ada hubungannya dengan tema tulisan ini. Klik DI SINI untuk membacanya.

14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
iwan95 wrote on May 2, '05
Wah ikut gabung di penulis lepas boleh gak sih?
syaratnya apa aja? :)
jonru wrote on May 2, '05
boleh aja dong, kirim aja email kosong ke penulislepas-subscribe@yahoogroups.com lalu ikuti langkah2 pada email konfirmasi yang diterima.
cisituboy wrote on May 2, '05
jonru said
Cerita-cerita yang ditulis sedemikian rupa, yang menggambarkan adegan sex atau tubuh wanita secara vulgar, sehingga terkesan porno dan mengundang birahi. Bukan berarti cerita islami tidak boleh menampilkan tema sex atau "tubuh wanita" dan sebagainya. Boleh-boleh saja, asalkan disampaikan dengan gaya yang lebih halus, indah, dan tidak diniatkan sebagai upaya untuk "merangsang birahi" pembaca.
Bisa kasih sample ndak mas, gimana cerita yg kiranya bahasanya lebih halus. samplenya satu paragraf saja. Thx
jonru wrote on May 2, '05
Bisa kasih sample ndak mas, gimana cerita yg kiranya bahasanya lebih halus. samplenya satu paragraf saja. Thx
Waduh...
susah juga, hehehehe..
tapi gak apa-apa deh, saya coba ya. Maaf kalau masih kurang tepat atau masih terkesan porno :)

hehehe...

Dia terlihat amat cantik malam ini. Kurengkuh ia, lalu kubisikkan sebaris kata yang biasa kami ucapkan jika hendak memulai ritual itu. Kulihat kebahagiaan pada ekspresi wajahnya. Kami pun terhanyut, dalam irama yang memabukkan dan melenakan. Dan ketika kami telah menatap langit-langit kamar sambil menarik nafas yang berat, ia tersenyum padaku. Tatapannya seolah menyiratkan ucapan terima kasih atas semua yang terjadi pada malam ini. Kami telah melewati momen-momen yang indah, yang mungkin esok tak akan terjadi lagi.

Gimana, masih porno gak?
hehehe...
nisania wrote on May 2, '05
oh kalo yang begitu bole ya?
jonru wrote on May 2, '05
nisania said
oh kalo yang begitu bole ya?
wah.. soal boleh tidaknya gak tahu juga mbak.
hehehehe..

saya cuma mencoba memberikan contoh tentang "adegan sex" yang tidak vulgar dan tidak mengundang birahi. Kalau ternyata mbak membacanya dan menurut mbak masih mengundang birahi (maaf kalau saya bicaranya terlalu blak-blakan), menurut saya sebaiknya cari gaya bahasa yang lebih halus lagi.

terima kasih.
helvytr wrote on May 2, '05

Soal kriteria fiksi Islami bisa juga dilihat dalam buku yang saya tulis, berjudul: SEGENGGAM GUMAM (Helvy Tiana Rosa, Syaamil 2003). Semoga bisa menambah wawasan :)).
jonru wrote on May 3, '05
helvytr said
Soal kriteria fiksi Islami bisa juga dilihat dalam buku yang saya tulis, berjudul: SEGENGGAM GUMAM (Helvy Tiana Rosa, Syaamil 2003). Semoga bisa menambah wawasan :)).
Wah, terima kasih banget mbak helvy, atas tambahan infonya. Jadi minder nih, soalnya mbak helvy jauh lebih "piawai" dalam hal konsep cerita islami. Saya justru belajar tentang cerita islami, awalnya dari mbak helvy, mbak asma, dan teman-teman FLP lainnya. Di sini saya mencoba memberikan semacam diskripsi mengenai cerita islami dengan pendekatan yang lebih bersifat teknis. Mohon koreksinya kalo ada yang keliru :)
superikhwan wrote on May 3, '05
Bos, ulasannya tak print buat masukan anak-anak FLP
Purwokerto yah..otre...?
Biar anak-anak tambah wawasan gt loch :-)

jonru wrote on May 3, '05
Bos, ulasannya tak print buat masukan anak-anak FLP
Purwokerto yah..otre...?
Biar anak-anak tambah wawasan gt loch :-)

Mas ipung, silahkan aja, dengan senang hati.
Tapi Insya Allah, saya sebenarnya mau merevisi lagi tulisan ini (hm.. ternyata konsep tentang cerita islami itu terlalu luas, sehingga saya kerepotan sendiri ketika datang ide-ide baru, atau ketika saya sadar bahwa ada bagian2 pada tulisan ini yang ternyata masih perlu direvisi). Karena itu, mohon agar jangan menjadikan tulisan ini sebagai "harga mati". Mungkin mas ipung dan rekan-rekan di purwokerto punya konsep yang tersendiri mengenai cerita islami, silahkan dikembangkan bersama. Thanks.
mayzmary wrote on May 24, '06
wah kok bisa pemikiran kita sama yang tentang konsep cerita islami. saya emang dari dulu berusaha menempatkan diri sebagai mediator antara tokoh2 'liberal' dan islami dalam koleksi karya saya, dan perlahan memberi pengertian yang lebih halus pada tokoh2 'liberal' itu untuk menerima konsep islami yang UNIVERSAL. bahkan saya sering mendapat pencerahan dari novel2 yang penulisnya non muslim. cuma untuk memunculkan karya saya ke publik...masih ga pede.. hehe...
onehiday wrote on Dec 12, '06
Mas Jonru...saya ngutip tulisannya ya..., aku copy ke MP koe....lagi ngliping beberapa cerita fiksi islami...., boleh ya mas!
genkeis wrote on Oct 28, '07
saya copas tulisannya di sini: http://myquran.org/forum/index.php/topic,28532.new.html#new

insya Allah bermanfaat banget :)
makasih
galz2note wrote on Feb 13, '08
ass,
klo misalnya punya ide cerita alias novel trus pengen di terbirtin gimana caranya?
mohon bantuannya...
Add a Comment
   

Premium Seller



$6.00 Welcome Survey After Free Registration!




Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online