Catatan:
Tulisan
ini secara spesifik ditujukan buat rekan-rekan di milis
PenulisLepas.com. Namun secara umum, semoga isinya bermanfaat bagi kita
semua, khususnya yang sedang belajar tentang konsep "cerita islami".
=============================
Ketika proyek penulisan cerita remaja penulislepas.com masih
berlangsung, ada sebuah pengalaman berharga yang saya dapatkan.
Rekan-rekan di milis penulislepas mungkin masih ingat, proyek ini
sebenarnya sudah diadakan sejak lama. Ketika itu, kami dari
penulislepas membuat pengumuman yang isinya, "proyek penulisan cerita
remaja islami."
Lantas, kita pun menunggu kiriman cerpen dari rekan-rekan. Hanya dua
orang yang mengirim. Setelah dibaca, kita kecewa. Tak ada yang memenuhi
syarat.
Beberapa bulan kemudian, atas desakan teman-teman di milis, kita
kembali mengumumkan proyek cerpen ini. Kali ini, kita ubah
pengumumannya menjadi, "proyek pengumpulan cerita remaja". Kata
"islami"-nya kita hilangkan.
Dan ajaib sekali! Naskah yang masuk sangatlah banyak! Lebih dari 150 cerpen!
Kejadian ini membuat saya secara pribadi tercengang-cengang. Kenapa
ketika kita memakai istilah "islami", hanya dua orang yang mengirim
cerpen? Apakah rekan-rekan merasa tidak sanggup menulis cerita islami?
Atau tidak setuju? Atau anda merasa bahwa cerita islami itu terlalu
berat, terlalu konservatif, terlalu banyak aturan, menghambat
kreativitas, dan sebagainya? Atau ada alasan lain?
Saya sampai pada kesimpulan, ternyata sebagian besar di antara kita
masih punya pandangan yang belum memadai mengenai konsep "cerita
islami". Ketika mendengar kata "islami", kita langsung membayangkan
hal-hal yang normatif. Kita membayangkan berbagai aturan dan kekangan
yang menyebabkan kita tidak terlalu bebas dalam mengekspresikan diri.
Kita bahkan mungkin membayangkan, cerita islami itu haruslah
cerita mengenai wanita berjilbab, mengenai orang bertaubat, harus ada
kata "assallamualaikum", tokoh-tokohnya harus orang islam semua, dan
seterusnya.
Padahal, cerita islami tidak harus seperti itu. Memang ada yang seperti itu, tapi sekali lagi, tidak harus seperti itu.
Sebetulnya, bagi saya konsep "cerita islami" itu amatlah sederhana. Kalau anda menulis cerita yang memenuhi tiga kriteria ini:
- mengandung pesan moral yang universal
- mencerahkan
- isinya tidak bertentangan dengan ajaran Islam
maka, anda sudah menulis cerita islami!
Mungkin dalam cerita anda tidak ada tokoh wanita berjilbab, tidak ada
kata-kata seperti assallamualaikum, dst. Bahkan tokoh2 di dalam cerpen
anda bukan orang Islam. Mungkin pula, cerita anda mengambil setting di
negera-negara nonmuslim seperti India, Perancis, Amerika Serikat, dan
sebagainya. Bahkan mungkin, Anda sebagai penulisnya bukan beragama
Islam (bahkan anda mungkin seorang atheis).
Tapi jika cerita anda memenuhi tiga kriteria di atas, maka cerita anda amat layak disebut sebagai cerita islami!
Nah, tidak terlalu rumit kan, konsep cerita islami itu?
Sekarang, mari kita bahas ketiga hal di atas, satu-persatu.
PESAN MORAL YANG UNIVERSAL
Kasih sayang ibu terhadap anak, rasa kepedulian sosial terhadap korban
bencana, prihatin melihat rakyat yang hidupnya melarat dan amat miskin,
adalah contoh-contoh dari "pesan" yang universal. Anda bisa menulis
cerita-cerita seperti ini. Mungkin tokohnya adalah wanita kristen (yang
tentu saja tidak berjilbab), berwarga negara Amerika Serikat.
Di dalam cerita ini tidak ada tokoh yang beragama Islam. Atau anda
ingin menulis tentang Bunda Theresa? Tentang kebaikan
dan ketulusan hatinya? Tentang perhatian dan kasih sayangnya terhadap
manusia? Silahkan tulis. Saya yakin, cerita-cerita seperti ini bisa
disebut sebagai cerita islami.
MENCERAHKAN
Yang dimaksud dengan "mencerahkan" adalah: Kita sebagai penulis tidak
sekadar ikut-ikutan. Ketika penulis lain menampilan cerita-cerita cinta
yang romantis, yang penuh oleh kalimat-kalimat:
"kaulah segalanya bagiku"
"aku sangat mencintai kamu. Aku tak bisa hidup tanpa kamu."
"Aku akan mencintai kamu selamanya, sampai akhir hayatku."
... dan sebagainya,
Kita mencoba bersikap kritis. Apakah ucapan seperti itu adalah ucapan
yang realistis? Apakah itu tidak lebih dari gombal semata? Sekadar
untuk menyenangkan hati para pembaca, karena pembaca senang pada
cerita-cerita romantis?
Coba kita simak salah satu syair lagu Iwan Fals:
"kucinta kau saat ini, entah esok lusa..."
Hm, benar-benar beda kan, dengan ketiga contoh di atas. Kalimat-nya
Iwan Fals inilah yang menurut saya sebagai contoh karya yang
mencerahkan. Karya yang tidak mencoba untuk ikut arus. Iwan Fals
mencoba melihat kehidupan dari segi yang lebih realistis. Toh
kenyataannya tak ada cinta manusia yang abadi. Dulu saya sangat cinta
pada si A, tapi sekarang saya lebih cinta pada si B. Demikian
seterusnya.
Intinya, karya yang mencerahkan adalah karya yang bisa membuka,
menambah atau mengembangkan pikiran dan wawasan para pembaca. Yang saya
sebutkan di atas hanyalah contoh. Jadi cerita yang mencerahkan itu
tidak terbatas pada cerita-cerita cinta romantis.
TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AJARAN ISLAM
Ajaran islam itu tentunya banyak sekali, dan terlalu panjang (bahkan
mungkin tidak relevan) jika diuraikan semuanya di sini. Tapi saya akan
mencoba menyebutkan beberapa "ajaran islam" yang berhubungan dengan
dunia penulisan fiksi. Maksud saya, ada beberapa tema yang seringkali
dibahas di dalam karya fiksi, yang memiliki "masalah" dengan ajaran
islam.
- Cerita mistik, yang umumnya mencoba memberikan gambaran bahwa
hantu itu menakutkan, manusia tak berdaya ketika diganggu oleh hantu,
dan sejenisnya.
Islam mengajarkan bahwa hantu merupakan makhluk yang derajatnya lebih
rendah dari manusia. Jadi seharusnya manusia tidak perlu takut pada
hantu. Cerita-cerita mistik yang terlalu "mendewa-dewakan" hantu,
menggambarkannya sebagai sosok yang amat ditakuti dan tak dapat dilawan
oleh manusia, merupakan cerita yang bertentangan dengan ajaran islam.
Contoh: film Jelangkung, Friday The 13
- Cerita tentang benda tertentu (keris, cincin, lampu, dst) yang
memiliki kekuatan luar biasa, yang bisa mendatangkan keberuntungan,
yang menentukan nasib manusia, dan seterusnya. Atau, cerita tentang
tanggal 13 yang membawa sial, lokasi rumah yang mendatangkan rejeki,
dan sebagainya. Ini adalah cerita yang musryik, yang amat dilarang
dalam islam.
contoh: sinetron DAN, sinetron Si Bajaj (bukan bajaj bajuri lho...), dan masih banyak lagi.
- Cerita cinta yang picisan. Dalam islam, pacaran sebelum menikah
itu tidak diperbolehkan. Sementara banyak cerita fiksi yan berkisah
tentang orang pacaran.
Sebenarnya, boleh-boleh saja kita menulis cerita tentang orang yang
pacaran sebelum menikah (novel saya, CINTA TAK TERLERAI, pun sebenarnya
temanya tentang pacaran). Cuma bedanya, di dalam cerita islami, kita
harus memberikan "penjelasan" kepada pembaca bahwa pacaran sebelum
menikah itu tidak baik, masih banyak hal yang jauh lebih bermanfaat
ketimbang pacaran.
Namun agar cerita kita tidak menggurui, kita tentu menyampaikan pesan
moralnya dengan cara yang "indah". Intinya, kita tetaplah harus menyampaikan sebuah cerita
yang menghibur, bukan sebuah tulisan yang lebih mirip ceramah agama!
- Cerita tentang manusia yang bermuamalah (berteman dan bekerja
sama) dengan jin (setan, iblis, dst). Dalam Islam, jelas-jelas
dinyatakan bahwa manusia tidak boleh bermuamalah dengan jin.
Contoh, banyak sekali, antara lain: sinetron Jin Dan Jun, Tuyul Dan Mbak Yul, Jinni Oh Jinni, dan sebagainya.
Lalu ada sinetron Bidadari,
Bawang Merah Dan Bawang Putih, dan sebagainya, yang menampilkan ibu peri,
yang sebenarnya juga termasuk kategori jin.
- Cerita-cerita yang ditulis sedemikian rupa, yang menggambarkan
adegan sex atau tubuh wanita secara vulgar, sehingga terkesan porno dan
mengundang birahi. Bukan berarti cerita islami tidak boleh menampilkan
tema sex atau "tubuh wanita" dan sebagainya. Boleh-boleh saja, asalkan
disampaikan dengan gaya yang lebih halus, indah, dan tidak diniatkan
sebagai upaya untuk "merangsang birahi" pembaca.
- Cerita-cerita humor yang isinya berupa ledekan terhadap fisik
manusia, dan hal-hal lain yang sejenis. Contohnya banyak sekali kita
temukan pada acara-acara komedi di televisi. Artis yang gendut seperti
Rini S Bonbon disebut sebagai kapal selam, ubur-ubur, dan sebagainya.
Ini adalah sikap yang tidak islami, dan sebaiknya dihindari oleh
penulis2 cerita islami.
- Cerita yang menggambarkan tentang manusia yang sudah meninggal,
lalu hadir lagi sebagai hantu, jin, dan sebagainya. Sebenarnya, jin
(hantu, setan, dst) memiliki dunia yang berbeda dengan manusia. Tak ada
manusia yang berubah jadi jin. Setelah meninggal, manusia akan berada
di alam barzah, menunggu datangnya hari kiamat. Mereka tak punya urusan apapun lagi dengan dunia ini.
Contoh cerita yang seperti ini banyak sekali. Beberapa tahun lalu, di Indosiar pernah ditayangkan sinetron CINTA ABADI
yang menceritakan tentang seorang pria yang meninggal. Lalu dia hadir
lagi untuk menemani pacarnya. Ia terus menjaga pacarnya itu, bahkan dia
cemburu jika pacarnya itu dekat dengan pria lain. Ia akan terus
menghalangi hubungan mereka. Pokoknya dia tak rela jika pacarnya itu
menjadi milik pria lain.
Cerita ini, selain bertemakan cinta picisan yang terlalu
"mendewa-dewakan cinta", juga memiliki masalah dengan ajaran Islam,
karena manusia yang sudah mati digambarkan sebagai sosok yang masih
punya urusan dengan dunia.
Sinetron-sinetron Indonesia belakangan ini pun, banyak yang punya
kecenderungan seperti ini. Ada tokoh yang meninggal, lalu dia kembali
ke dunia sebagai "arwah penasaran", dan melanjutkan urusannya yang
belum selesai.
Sebetulnya, masih banyak poin yang bisa disampaikan di sini. Namun
ketujuh poin di atas adalah hal-hal yang - menurut pengamatan saya -
paling banyak tampil di dalam cerita-cerita fiksi. Ketujuh poin di atas
adalah rambu-rambu yang seharusnya kita perhatikan dalam menulis cerita
islami. Jangan sampai deh, kita menulis cerita yang seperti itu.
Namun sekali lagi, bukan berarti kita tidak boleh menulis tentang
dukun, tentang keris sakti, tentang Nyi Roro Kidul, dan sebagainya.
Boleh-boleh saja. Yang penting, isi cerita secara keseluruhan haruslah
mengandung muatan bahwa hal-hal seperti itu tidak boleh dipercaya
sebagai kekuatan yang benar-benar sakti. Harus ada pemahaman bahwa
semua kekuatan berasal dari Tuhan. Jika pun misalnya ada keris sakti,
maka yang sakti itu bukan kerisnya, namun Tuhan yang memberikan
kesaktian pada si keris. Demikian seterusnya.
MENGENAI CERPEN-CERPEN YANG LOLOS DALAM PROYEK PENULISLEPAS.COM
Secara umum, sebenarnya dalam seleksi cerpen kemarin itu, kami hanya
meloloskan cerita-cerita yang islami (walau label islami telah
dihilangkan dari pengumumannya). Mungkin ada di antara penulis - yang
naskahnya lolos seleksi - yang berkata, "Lho, cerita saya kan tidak
islami. Tapi kenapa bisa lolos?"
Jika pertanyaan seperti ini sempat terlintas di benak anda, mohon maaf.
Cobalah untuk mencermati lagi tulisan ini dari awal. Insya Allah, kami
menganggap bahwa cerita yang anda tulis adalah cerita yang islami
(walau ketika menulisnya anda sama sekali tidak berniat untuk menulis
cerita yang islami), karena cerita anda memenuhi tiga kriteria di atas.
Semoga tulisan ini bermanfaat, dan maaf bagi yang tidak berkenan.
Jakarta, 3 Mei 2005
Jonru
NB: Saya pernah menulis opini bahwa film
30 Hari Mencari Cinta cukup islami. Mungkin ada hubungannya dengan tema tulisan ini. Klik
DI SINI untuk membacanya.