Lu tinggal di
sebuah gubug kecil di daerah paling kumuh dan terlupakan di kota itu.
Sebuah sungai kecil mengalir di depan gubugnya, berwarna coklat,
alirannya lambat karena dipenuhi sampah, tapi ibu-ibu tetap nekat
mencuci pakaian di sana. Lu mencoba berakrab-akrab dengan para
tetangganya yang sesungguhnya bernasib tak jauh beda dengannya. Tapi
mereka sibuk memarahi anak-anak yang nakal dan berkeliaran seperti
hewan liar di hutan, mengomel soal mahalnya harga beras, atau
melewatkan hari-hari yang membosankan dengan bermain catur di pos
kamling. Lu merasakan kesendirian yang tiada tara, sebuah kesepian yang
tak dapat dilukiskan dengan kata-kata.
Cuplikan 2:
Di ruang berjeruji
yang amat sempit itu, yang tak jah beda dengan ruang sebelumnya yang
pernah ia tempati, Lu berkenalan dengan seorang pria berbaju koko dan
berjenggot panjang. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai teroris.
"Teroris?” mata Lu melotot. "Apa kamu suka meledakkan gedung bertingkat?”
"Tidak,” jawab pria itu dengan tenang.
"Lalu kenapa kamu dituduh teroris?”
"Saya teroris
karena saya berbaju koko, memelihara jenggot dan pakai kopiah ke
mana-mana. Saya teroris karena memang ada yang menghendaki saya jadi
teroris.”
"Oh, berarti kamu bukan teroris beneran?”
"Ya tergantung.”
"Kok tergantung?”
"Iya. Bagi orang
yang menghendaki saya jadi teroris, saya adalah teror yang amat
menakutkan. Mungkin kalau mereka tidak menyebut saya teroris, mereka
akan mendapatkan teror yang jauh lebih besar dari kekuatan yang juga
lebih besar.”
===================
Alhamdulillah,
Mungkin ini adalah salah satu saat paling berbahagia dalam hidup saya.
Sebuah cerpen saya dimuat dalam antologi cerpen Dewan Kesenian Jakarta
(DKJ). Insya Allah, peluncuran buku ini akan diadakan pada hari Ahad,
26 Februari 2006, di Rumah Cahaya, Depok, jam 13.00 WIB.
Cerpen "Sebuah Kota Bernama Sepi" ini adalah satu dari sedikit cerpen
saya yang (semoga) bernuansa sastra serius. idenya sebenarnya berasal
dari pengalaman pribadi saya ketika tinggal di Bandung sebagai seorang
pengangguran. Saya merasa amat kesepian, padahal saya berada di sebuah
kota yang ramai.
Lantas, cerpen ini pun saya tulis. Selama beberapa tahun, penulisannya
mandeg karena saya bingung bagaimana harus membuat endingnya. Saya
berulangkali memikirkan ending yang pas, tapi tak ketemu juga selama
bertahun-tahun.
Akhirnya... sekitar setahun lalu, ketika saya sedang lari pagi sebelum
berangkat ke kantor (di depan rumah mertua), tiba-tiba ide itu muncul!
Teroris! Ya, saya pikir cukup unik juga jika masalah ini saya hubungkan
dengan sosok seorang manusia yang dituduh sebagai teroris.
Maka jadilah cerpen ini. Alhamdulillah, saya bersyukur. Cerpen ini akhirnya selesai, walau proses penulisannya sangat lama.
* * *
Buku Antologi DKJ ini diberi judul "Kupu-kupu dan Tambuli". Dicetak
sangat terbatas, dan penulisnya tidak mendapat honor. Tapi saya merasa
bahagia sekali, karena berkesempatan menulis cerpen untuk antologi DKJ
merupakan sesuatu yang sangat bergengsi.
Alhamdulillah....
Moga-moga teman-teman nanti bisa mendapatkan buku ini, ya. Entah bagaimana caranya, soalnya buku ini dicetak sangat terbatas.
Mas Jonru, kami yanag diperantauan ini kan jauh dari peradaban :) Toko yang menjual buku berbahasa Indonesia, apalagi yang dari FLP, tidak ada. Mungkinkah ada edisi e-book dari Novel dan Buku dari penulis tenar, misalnya Mas Jonru :)
Teman-teman, buku ini adalah proyek sosial dari DKJ, dan tidak dijual kepada umum. Dicetak sangat terbatas. Kita dari FLP akan berusaha agar buku ini nantinya dapat diterbitkan ulang dan bisa dijual kepada umum Tapi belum tahu kapan, hehehehe... :)