Dari sudut pandang dunia penulisan, seorang manusia yang suka menulis bisa digolongkan menjadi beberapa kategori berikut ini:
- Menulis hanya sebatas hobi, iseng-iseng belaka. Tak pernah ada
niat untuk menekuninya secara serius. Saya punya sejumlah teman yang
seperti ini. Tulisan-tulisan mereka sebenarnya bagus. Tapi ya gitu deh
:(
- Punya keinginan yang kuat jadi penulis, tapi malas berusaha. Akhirnya, tak pernah jadi penulis beneran.
- Punya keinginan yang kuat jadi penulis, sudah berusaha keras, tapi belum berhasil.
- Sudah berhasil jadi penulis.
Untuk jenis manusia yang pertama, ia mungkin perlu diberi alasan dan
"iming-iming" yang sangat kuat agar mereka mau serius menekuni dunia
penulisan.
Untuk jenis manusia kedua, ia harus diberi motivasi yang kuat. Ia harus
disadarkan bahwa tak ada kesuksesan yang bisa diraih tanpa kerja keras.
Untuk jenis manusia ketiga, mari kita doakan agar mereka dapat meraih
kesuksesan dalam waktu dekat. Mereka juga harus terus didorong agar
jangan putus asa. Kegagalan adalah sukses yang tertunda.
Untuk jenis manusia keempat, mari kita berguru pada mereka.
* * *
Pertanyaannya sekarang - sesuai judul tulisan ini: siapa yang
sebenarnya layak disebut sebagai penulis sukses? Apakah ia harus sudah
menerbitkan buku yang
best seller? Apakah ia sudah bisa membiayai
hidupnya dari menulis? Atau apa?
Terus terang, selama bertahun-tahun saya mencoba memikirkan hal ini.
Secara pribadi, saya iri pada teman-teman yang sudah menerbitkan buku.
Maka ketika ada penulis yang sudah menerbitkan buku, maka saya
menganggap bahwa dia sudah sukses.
Namun, saya disadarkan oleh seorang sahabat yang mengatakan bahwa
menerbitkan buku bukanlah segalanya. Itu tak bisa dijadikan tolak ukur
utama. "Saya malah tak pernah peduli apakah saya sudah pernah
menerbitkan buku atau belum. Bagi saya, yang penting saya terus
menulis. Semakin banyak tulisan saya, maka saya semakin sukses sebagai
penulis," ujarnya.
Ternyata, teman ini memandang kesuksesan dari segi produktivitas menulis.
Sementara itu, teman lainnya memiliki pandangan yang berbeda. Teman
berikutnya juga begitu. Setiap orang ternyata memiliki konsep yang
berbeda mengenai kesuksesan, khususnya di bidang penulisan.
Maka, saya pun terus berpikir. Siapa sebenarnya yang layak disebut penulis sukses?
Selama bertahun-tahun mencari jawaban tersebut, akhirnya saya tiba pada kesimpulan:
Penulis sukses adalah penulis yang karya-karyanya disukai oleh orang lain. Semakin banyak orang yang suka pada
karyanya, maka si penulis tersebut semakin sukses.
Dengan konsep seperti ini, saya akhirnya sangat yakin bahwa sukses
tidaknya seorang penulis tidak bisa diukur HANYA dari jumlah buku yang
mereka terbitkan, jumlah tulisan mereka yang dimuat di media massa,
atau jumlah lomba yang berhasil mereka menangkan.
Memang, hal-hal seperti itu adalah bagian dari prestasi seorang
penulis. Ketika meraihnya, si penulis telah berhasil mencapai salah
satu tonggak kesuksesan. Tapi kesuksesan yang sebenarnya bukan terletak
di sana.
Penulis sukses adalah penulis yang karya-karyanya disukai oleh orang lain.
Ya, itulah konsep "penulis sukses" yang saya yakini. Untuk mencapai
kondisi seperti itu, seorang penulis tentu harus mempublikasikan
karya-karya mereka. Jika tidak, bagaimana mungkin karya mereka dibaca
dan disukai oleh orang lain? Bagaimana mungkin karya mereka
mendatangkan manfaat bagi masyarakat luas?
Dalam hal inilah, kehadiran sebuah MEDIA sangat diperlukan. MEDIA
adalah jembatan yang menghubungkan pemikiran dan kreasi seorang
penulis dengan para pembaca. Tanpa sebuah media, seorang penulis tak
akan berarti apa-apa.
Lantas, apakah media yang dimaksud tersebut? Apakah sebuah majalah? Koran? Tabloid? Buku? Atau apa?
Kita tentu percaya, bahwa semua itu adalah media-media yang dapat
dijadikan oleh penulis untuk "mentransfer" pemikiran dan karyanya
kepada para pembaca. Namun, sesuai dengan konsep kesuksesan di atas,
saya berpendapat bahwa media tidaklah sebatas itu.
Anda tentu masih ingat pada
Nia, penulis novel
Eiffel, I'm In Love.
Ia tidak menawarkan novel ini ke penerbit manapun. Ia memfotokopinya
sendiri, lalu dijual kepada teman-temannya. Berikut adalah kutipan
sebuah artikel yang bercerita tentang kisah si Nia:
“Setelah novel
Eiffel, I"'m in Love selesai (ditulis—red.), aku fotokopi jilid lakban
sebanyak 20 eksemplar. Dan aku jual dengan harga 10.000. Ternyata novel
itu banyak peminatnya. Setelah laku beberapa puluh, aku ganti jadi
fotokopi jilid spiral. Waktu itu harganya naik jadi 12.000. Ternyata
semakin laku dan aku ganti lagi jadi fotokopi jilid softcover. Setelah
total laku sekitar 150 eksemplar, aku dapat pinjaman uang dari orang
tua untuk nyetak buku. Akhirnya, aku nyetak kecil-kecilan. Aku taruh di
Gramedia Mal Pondok Indah dan Gramedia Cinere. Ternyata laku, 100
eksemplar laku terjual dalam waktu kurang dari tiga minggu di satu toko
buku,” kenang Nia.
(Sumber:
vision.net.id)
Menurut saya, Nia bukan hanya penulis. Ia adalah entrepreneur sejati.
Ia tidak hanyut oleh tradisi yang sudah melekat erat di industri
penerbitan buku. Dan bagi saya, Nia adalah seorang penulis sukses,
bahkan sebelum novelnya diangkat jadi film.
Selain Nia, masih banyak orang yang menurut saya sangat layak
dikategorikan sebagai penulis sukses, walau karya-karya mereka belum
pernah dimuat di media cetak, dan belum ada buku mereka yang terbit.
Kita boleh menyebut nama
Enda Nasution.
Saya tidak tahu apakah abang kita yang satu ini pernah memuat
tulisannya di media cetak atau menerbitkan buku. Tapi walaupun belum
pernah, saya tetap menganggap bahwa dia adalah penulis sukses. Sebab
tulisan-tulisan di
blog pribadinya
dibaca oleh ribuan (bahkan mungkin jutaan) orang, dijadikan referensi,
dikutip dan diforward ke mana-mana. Tentu saja, orang-orang tak akan
melakukan ini jika mereka tidak tertarik pada tulisan-tulisan Enda.
Ya, benar. Fahri Asiza yang sudah menerbitkan puluhan novel adalah
penulis sukses. Ayu Utami juga penulis sukses. Asma Nadia yang punya
banyak penggemar dan beberapa kali memenangkan penghargaan Adikarya
IKAPI pun merupakan penulis sukses. Helvy Tiana Rosa bahkan lebih
sukses lagi.
Tapi sesuai konsep yang saya yakini di atas, bukan hanya mereka yang
layak disebut sebagai penulis sukses. Nia, Enda Nasution,
dan sejumlah penulis lain yang mungkin belum kita kenal namanya, adalah
sosok-sosok manusia yang sangat layak kita beri predikat "penulis
sukses".
* * *
Jadi, bagi kamu yang juga ingin jadi penulis sukses, yuk bekerja keras
untuk meraihnya. Banyak jalan menuju Roma. Untuk jadi penulis sukses,
tidak harus menerbitkan buku yang banyak, memuat tulisan di media
cetak, memenangkan lomba penulisan, dan entah apa lagi.
Memang, semua
itu adalah tonggak sukses. Tapi ketika kita melihat itu sebagai
kesuksesan yang sebenarnya, saya percaya bahwa kita bukan manusia yang
kreatif.
Ketika tulisan-tulisan kamu disukai
oleh banyak orang, maka kamu adalah penulis sukses. Dan bila
tulisan-tulian kamu mendatangkan banyak manfaat bagi orang lain, kamu
bukan hanya menjadi penulis sukses di dunia. Insya Allah, kamu juga
menjadi manusia yang sukses di akhirat kelak.
Maaf bila tidak berkenan.
Jakarta, 14 Februari 2006
Jonru