Salah satu "provokasi" yang menyentakkan saya dari buku
Meng-install Nyali
adalah BERANI MENGUBAH CITA-CITA. Ya, kita harus berani untuk urusan
yang satu ini. Mungkin selama ini kita terlalu ngotot untuk mencapai
tujuan tertentu. Padahal kalau kita berani merevisi bahkan mengubah
tujuan-tujuan kita selama ini, siapa tahu kesuksesan yang lebih besar
akan kita raih.
Aa Gym, menurut buku ini, diceritakan sebagai orang yang berulang kali
mengubah cita-citanya. Dan terbukti, beliau kini sukses menjadi dai dan
pebisnis sekaligus.
Saya pun, sudah beberapa kali mengubah cita-cita.
Yang pertama adalah setelah lulus kuliah. Saya terlalu cinta pada
Semarang, sehingga tak mau meninggalkan kota tersebut. Saya pun
mendapatkan pekerjaan di sana. Sebagai tenaga layouter pada sebuah
percetakan (milik teman), dan digaji Rp 175.000 perbulan. Duh, sangat
sedikit bukan? Selain itu, si pemilik percetakan pun mengerjai saya. Ia
berbuat curang. Semula saya dijanjikan sebagai salah seorang pemodal.
Tapi ternyata hanya diperlakukan sebagai karyawan biasa. Duh, sakitnya
hati ini, hihihihi...
Maka, saya pun mengubah cita-cita. Saya memutuskan untuk meninggalkan
Semarang. Saya kembali ke Bandung, tinggal di rumah kakak sambil
mencari pekerjaan. Berbagai perusahaan di Bandung saya jajaki, tapi tak
ada yang berhasil. Waktu itu, saya masih alergi untuk tinggal di
Jakarta. Saya merasa bahwa Jakarta bukan kota yang cocok bagi saya.
Tap kemudian, saya diterima pada sebuah perusahaan di Jakarta. Semula
saya ragu. Diambil atau tidak, ya? Tapi karena saya sudah sangat
kepepet, belum mendapat pekerjaan juga padahal sudah nganggur selama
dua tahun, akhirnya kesempatan itu saya raih.
Dan inilah untuk kedua kalinya saya mengubah cita-cita. Saya yang
semula alergi terhadap Jakarta, kini tinggal di sana. Bahkan betah dan
akhirnya
settle down. Saya merasa banyak kesuksesan yang diraih justru dari kota metropolitan ini.
Dan yang ketiga, terjadi tahun 2004 lalu.
Sejak 1996 hingga 2004, saya boleh dibilang vakum di bidang penulisan.
Saya "terpesona" oleh teknologi informasi, dan memutuskan untuk
bergelut di sana saja. Tapi di awal tahun 2004 itu, sebuah kesadaran
menyentakkan saya. Saya melihat begitu banyak teman saya yang sukses
jadi penulis. SAYA IRI. Seharusnya saya bisa lebih sukses dari mereka.
Sebab saya telah merintis karir di dunui penulisan sejak tahun 1990.
Tapi dengan santainya saya meninggalkannya sejak 1996 lalu. Saya
benar-benar merugi selama ini!
Maka, pada April 2004, saya banting stir. Saya mengurangi aktivitas di
dunia teknologi informasi. Saya bergelut kembali di dunia penulisan.
Saya aktif di sejumlah komunitas penulisan, terutama Forum Lingkar Pena.
Dan hasilnya: Dalam hitungan kurang dari setahun, dua buku saya telah terbit.
Alhamdulillah.
Sudah tiga kali saya mengubah cita-cita. Dan alhamdulillah, semuanya berakkir dengan kesuksesan.
Kini, "banting stir" yang sedang saya jalani masih di dunia penulisan.
Sebelumnya, saya sangat ngotot untuk menjadi penulis fiksi. Tapi
pengalaman membuktikan, ternyata saya lebih produktif di bidang
nonfiksi. Maka, sejak akhir tahun 2005 lalu, saya mencoba lebih
berkonsentrasi di penulisan nonfiksi. Tapi bukan berarti fiksi saya
tinggalkan. Tetap saya geluti, tapi tidak lagi se-ngotot dulu.
Saya berharap, semoga perubahan cita-cita untuk keempat kalinya ini dapat kembali membawa sukses. Amiin....
* * *
Jadi, kalau kamu merasa hidupmu hari ini biasa-biasa saja, kenapa tidak
coba banting stir, mengubah cita-cita? Siapa tahu berhasil.
Selamat mencoba!