
Bolehkah sastra islami bicara dan menyinggung masalah sex? Bolehkah cerita islami berisi cerita sex?
Memang, sex itu penuh kontradiksi. Di satu sisi, setiap orang
menyukainya. Namun di sisi lain, masih banyak orang yang merasa tabu
untuk bicara tentang sex.
Tragisnya, jika ada orang yang bicara tentang sex, seringkali yang
dibahas adalah hal-hal yang berbau esek-esek dan cenderung porno.
Padahal, pembicaraan tentang sex tidak harus seperti itu.
Dalam karya-karya seni pun (cerita fiksi, film, dan sebagainya), unsur
sex yang ditampilkan lebih cenderung pada hal-hal seperti di atas:
tidak jauh dari urusan nafsu birahi. Bahkan tragisnya, sex hanya
digunakan sebagai daya tarik dari cerita tersebut, agar orang
berduyun-duyun membaca atau menontonnya. Sex pun menjadi sebuah
komoditas, hanya berfungsi sebagai bumbu penyedap, agar sebuah karya
seni menjadi lebih menarik dan laku keras.
Beberapa tahun lalu, Garin Nugroho melakukan sebuah gebrakan lewat film
"Cinta dalam Sepotong Roti". Saya belum menonton film ini. Dari
sejumlah acara numpang dengar, saya tahu bahwa film ini bertemakan sex.
Tapi uniknya, unsur sex di dalam film ini bukan sebagai bumbu penyedap.
Garin menampilkan sex sebagai sebuah masalah, sebuah wacana yang
mengalir bersama isi cerita. Yang ditampilkan di dalam film ini adalah
sebuah masalah manusia yang berhubungan dengan sex.
Saya pun pernah membaca sebuah cerpen di majalah Kartini, beberapa
tahun lalu, yang berjudul "Fantasi" (kalau tidak salah). Kisahnya
tentang seorang suami yang sedang gundah karena belakangan ini istrinya
"dingin sekali". Tak mau lagi diajak bermesraan. Ia ingin tahu apa
sebabnya, tapi tak ada jawaban yang memuaskan.
Saya yakin teman-teman (khususnya yang sudah berkeluarga) pasti tahu,
bahwa hal-hal seperti ini merupakan salah satu masalah yang bisa saja
dihadapi oleh pasangan suami istri mana saja. Ya, masalah-masalah yang
berhubungan dengan sex.
Film "Cinta dalam Sepotong Roti" dan cerpen "Fantasi" di atas, saya
kira, adalah karya seni yang mencoba mengangkat tema sex tanpa harus
terkesan vulgar. Mereka tidak mengumbar sex sebagai bumbu penyedap.
Namun, sex justru ditempatkan sebagai tema utama.
Sekarang, kembali pada pertanyaan awal: Bolehkah cerita islami bicara tentang sex? Bolehkah cerita islami berisi cerita sex?
Saya yakin, sex adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
manusia. Maka, menurut saya, mengangkat masalah atau cerita sex di
dalam karya seni islami adalah boleh-boleh saja.
Namun mungkin, kita perlu membuat semacam rambu-rambu:
- sex tidak ditempatkan sebagai bumbu penyedab
- kalau terpaksa menampilkan "adegan intim", mungkin perlu ditampilkan
dengan cara yang halus, tidak vulgar, sehingga (diharapkan)
pembaca/penonton tidak sampai tergoda imannya :)
- Karena tuntutan cerita atau alasan-alasan lain, bisa saja di dalam
cerita tersebut terdapat adegan perzinahan, perselingkuhan, dan
seterusnya. Namun secara umum, si penulis hendaknya bersikap bahwa
hal-hal seperti itu tidak diperbolehkan dalam ajaran islam.
Berdasarkan bincang-bincang saya dengan beberapa teman, "adegan intim"
di dalam sastra islami boleh saja ditampilkan, asalkan adegan tersebut
memang benar-benar dibutuhkan. Misalnya, untuk mendukung karakter
seorang tokoh. Atau, adegan tersebut adalah bagian yang sangat penting
di dalam sebuah alur cerita. Jika adegan itu dihapus, maka ceritanya
menjadi tidak utuh.
Tapi memang, rambu-rambu di atas tetaplah harus diperhatikan. Dan
terlepas dari semua itu, yang penting adalah niat si penulis sendiri.
Selama niatnya memang baik, dan dilaksanakan dengan cara yang baik
pula, Insya Allah tak ada yang salah dengan hadirnya (cerita) sex di
dalam sastra islami.
Maaf bila ada yang keliru. Mohon masukannya.
___________
NOTE:
Maaf kalau belakangan ini journal
saya banyak berisi tema sex. Hehehe... Tulisan ini sebenarnya sudah
saya niatkan sejak lama. Tapi baru ditulis sekarang. Jadi ini tidak ada
hubungannya dengan masalah Playboy Indonesia dan sebagainya.

 | jonru wrote on Jan 23, '06 yang mas maksud itu 'sex' atau 'sexuality'  saya barusan lihat ke wikipedia, dan sepertinya saya masih bingung perbedaannya. apa memang ada hal prinsip yang membedakan antara kedua hal ini? mohon pencerahannya :) |
 | Pagi2 enaknya merasakan SEX memang...Serabi Enak Xekali ;)) |
 | Saya setuju dengan tulisan bang Jonru dan saya tambahkan juga asal tidak mekecehkan kaum perempuan, terima kasih. |
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | jonru wrote on Oct 22, '09 |
 | jonru wrote on Oct 23, '09 comments from the hackers have been deleted. But I think Multiply.com's admin have the log history of it. |
| |