Blog EntrySex in the (Islamic) FictionJan 18, '06 10:52 PM
for everyone
Bolehkah sastra islami bicara dan menyinggung masalah sex? Bolehkah cerita islami berisi cerita sex?

Memang, sex itu penuh kontradiksi. Di satu sisi, setiap orang menyukainya. Namun di sisi lain, masih banyak orang yang merasa tabu untuk bicara tentang sex.

Tragisnya, jika ada orang yang bicara tentang sex, seringkali yang dibahas adalah hal-hal yang berbau esek-esek dan cenderung porno. Padahal, pembicaraan tentang sex tidak harus seperti itu.

Dalam karya-karya seni pun (cerita fiksi, film, dan sebagainya), unsur sex yang ditampilkan lebih cenderung pada hal-hal seperti di atas: tidak jauh dari urusan nafsu birahi. Bahkan tragisnya, sex hanya digunakan sebagai daya tarik dari cerita tersebut, agar orang berduyun-duyun membaca atau menontonnya. Sex pun menjadi sebuah komoditas, hanya berfungsi sebagai bumbu penyedap, agar sebuah karya seni menjadi lebih menarik dan laku keras.

Beberapa tahun lalu, Garin Nugroho melakukan sebuah gebrakan lewat film "Cinta dalam Sepotong Roti". Saya belum menonton film ini. Dari sejumlah acara numpang dengar, saya tahu bahwa film ini bertemakan sex. Tapi uniknya, unsur sex di dalam film ini bukan sebagai bumbu penyedap. Garin menampilkan sex sebagai sebuah masalah, sebuah wacana yang mengalir bersama isi cerita. Yang ditampilkan di dalam film ini adalah sebuah masalah manusia yang berhubungan dengan sex.

Saya pun pernah membaca sebuah cerpen di majalah Kartini, beberapa tahun lalu, yang berjudul "Fantasi" (kalau tidak salah). Kisahnya tentang seorang suami yang sedang gundah karena belakangan ini istrinya "dingin sekali". Tak mau lagi diajak bermesraan. Ia ingin tahu apa sebabnya, tapi tak ada jawaban yang memuaskan.

Saya yakin teman-teman (khususnya yang sudah berkeluarga) pasti tahu, bahwa hal-hal seperti ini merupakan salah satu masalah yang bisa saja dihadapi oleh pasangan suami istri mana saja. Ya, masalah-masalah yang berhubungan dengan sex.

Film "Cinta dalam Sepotong Roti" dan cerpen "Fantasi" di atas, saya kira, adalah karya seni yang mencoba mengangkat tema sex tanpa harus terkesan vulgar. Mereka tidak mengumbar sex sebagai bumbu penyedap. Namun, sex justru ditempatkan sebagai tema utama.

Sekarang, kembali pada pertanyaan awal: Bolehkah cerita islami bicara tentang sex? Bolehkah cerita islami berisi cerita sex?

Saya yakin, sex adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Maka, menurut saya, mengangkat masalah atau cerita sex di dalam karya seni islami adalah boleh-boleh saja.

Namun mungkin, kita perlu membuat semacam rambu-rambu:

- sex tidak ditempatkan sebagai bumbu penyedab

- kalau terpaksa menampilkan "adegan intim", mungkin perlu ditampilkan dengan cara yang halus, tidak vulgar, sehingga (diharapkan) pembaca/penonton tidak sampai tergoda imannya :)

- Karena tuntutan cerita atau alasan-alasan lain, bisa saja di dalam cerita tersebut terdapat adegan perzinahan, perselingkuhan, dan seterusnya. Namun secara umum, si penulis hendaknya bersikap bahwa hal-hal seperti itu tidak diperbolehkan dalam ajaran islam.

Berdasarkan bincang-bincang saya dengan beberapa teman, "adegan intim" di dalam sastra islami boleh saja ditampilkan, asalkan adegan tersebut memang benar-benar dibutuhkan. Misalnya, untuk mendukung karakter seorang tokoh. Atau, adegan tersebut adalah bagian yang sangat penting di dalam sebuah alur cerita. Jika adegan itu dihapus, maka ceritanya menjadi tidak utuh.

Tapi memang, rambu-rambu di atas tetaplah harus diperhatikan. Dan terlepas dari semua itu, yang penting adalah niat si penulis sendiri. Selama niatnya memang baik, dan dilaksanakan dengan cara yang baik pula, Insya Allah tak ada yang salah dengan hadirnya (cerita) sex di dalam sastra islami.

Maaf bila ada yang keliru. Mohon masukannya.


___________
NOTE:
Maaf kalau belakangan ini journal saya banyak berisi tema sex. Hehehe... Tulisan ini sebenarnya sudah saya niatkan sejak lama. Tapi baru ditulis sekarang. Jadi ini tidak ada hubungannya dengan masalah Playboy Indonesia dan sebagainya.


peaceman wrote on Jan 23, '06
jonru said
Maaf kalau belakangan ini journal saya banyak berisi tema sex. Hehehe
wah mas, memang perlu ada pelopor kok ... hehehe. pioeer kan memang sebuah keniscayaan. tapi kalo boleh tanya ni, yang mas maksud itu 'sex' atau 'sexuality' ya...?
Seks kan memang luas sekali, mencakup juga yang di luar manusia. Tapi kalo seksualitas (=sexuality), terutama seksualitas manusia, ya itu persis seperti yang mas bahas ...
sekedar memastikan tidak ada lagi salah paham lho mas ...
saya juga ngehnya pas baca seputar sex di internet, di situs wikipedia.org
:-)
jonru wrote on Jan 23, '06
yang mas maksud itu 'sex' atau 'sexuality'
saya barusan lihat ke wikipedia, dan sepertinya saya masih bingung perbedaannya.
apa memang ada hal prinsip yang membedakan antara kedua hal ini?
mohon pencerahannya :)
abhicom2001 wrote on Jan 23, '06
Pagi2 enaknya merasakan SEX memang...Serabi Enak Xekali ;))
bulatpenuh wrote on Jan 23, '06
jonru said
kalau terpaksa menampilkan "adegan intim", mungkin perlu ditampilkan dengan cara yang halus, tidak vulgar, sehingga (diharapkan) pembaca/penonton tidak sampai tergoda imannya :)
saya pernah membaca yang seperti ini. adegan intim antara suami dan istri ditampilkan secara abstrak dengan perumpamaan yang indah. dan dia memang membahas mengenai hubungan antara suami dan istri tersebut. kalau tidak salah ingat mengenai istri yang dulu pernah berselingkuh dengan sesorang. lalu ia ragu apa suaminya mau menerima dia... kalau tidak salah ingat.

soal seks atau seksualitas, mungkin beberapa orang masih menganggapnya tabu untuk dibicarakan sebagai "menu" utama dalam sebuah fiksi (tak terbatas hanya dalam fiksi islami). tergantung orangnya sih. saya sendiri sih tak begitu masalah, asal memang ditujukan agar pembaca bisa mengambil manfaatnya (dan tentu saja minus hal2 yang vulgar).

soal majalah playboy itu, ternyata kantornya dekat dengan rumah saya di cilandak. tadi baru diberitahu teman sekantor..
yartati wrote on Jan 25, '06
Saya setuju dengan tulisan bang Jonru dan saya tambahkan juga asal tidak mekecehkan kaum perempuan, terima kasih.
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help