Media online adalah media massa yang dapat kita temukan di internet.
Sebagai media massa, media online juga menggunakan kaidah-kaidah
jurnalistik dalam sistem kerja mereka. Tapi apakah ada bedanya dengan
media massa konvensional?
Sebetulnya, tak ada perbedaan yang terlalu signifikan. Perbedaan yang
paling mencolok adalah mediumnya. Yang satu virtual, satunya lagi
tercetak. Karena itu, SECARA TEKNIS ada hal-hal tertentu yang – mau
tidak mau – membuat mereka berbeda.
Agar lebih mudah dipahami, berikut saya menempatkan perbedaan-perbedaan tersebut di dalam sebuah tabel.
Tabel
Perbedaan Teknis Media Cetak dengan Media Online
| Unsur | Media Cetak | Media Online |
Pembatasan panjang naskah | Biasanya panjang naskah telah dibatasi, misalnya 5 – 7 halaman kuarto diketik 2 spasi. | Tidak
ada pembatasan panjang naskah, karena halaman web bisa menampung naskah
yang sepanjang apapun. Namun demi alasan kecepatan akses, keindahan
desain dan alasan-alasan teknis lainnya, perlu dihindarkan penulisan
naskah yang terlalu panjang. |
| Prosedur naskah | Naskah biasanya harus di-ACC oleh redaksi sebelum dimuat. | Sama
saja. Namun ada sejumlah media yang memperbolehkan wartawan di lapangan
yang telah dipercaya untuk meng-upload sendiri tulisan-tulisan mereka. |
| Editing | Kalau sudah naik cetak (atau sudah di-film-kan pada proses percetakan), tak bisa diedit lagi. | Walaupun
sudah online, masih bisa diedit dengan leluasa. Tapi biasanya, editing
hanya mencakup masalah-masalah teknis, seperti merevisi salah ketik,
dan seterusnya. |
| Tugas desainer atau layouter | Tiap edisi, desainer atau layouter harus tetap bekerja untuk menyelesaikan desain pada edisi tersebut. | Desainer
dan programmer cukup bekerja sekali saja, yakni di awal pembuatan situs
web. Selanjutnya, tugas mereka hanya pada masalah-masalah maintenance
atau ketika perusahaan memutuskan untuk mengubah desain dan sebagainya.
Setiap kali redaksi meng-upload naskah, naskah itu akan langsung
“masuk” ke desain secara otomatis. |
| Jadwal terbit | Berkala (harian, mingguan, bulanan, dua mingguan, dan sebagainya). | Kapan saja bisa, tidak ada jadwal khusus, kecuali untuk jenis-jenis tulisan/rubrik tertentu. |
| Distribusi | Walau sudah selesai dicetak, media tersebut belum bisa langsung dibaca oleh khalayak ramai sebelum melalui proses distribusi. | Begitu di-upload, setiap berita dapat langsung dibaca oleh semua orang di seluruh dunia yang memiliki akses internet. |
Dari
tabel di atas, Anda dapat melihat dengan jelas bahwa sebagian besar
perbedaan jurnalistik media cetak dengan media online hanyalah pada
masalah-masalah teknis.
Dari segi sifatnya, ada satu kemiripan antara media online dengan media
elektronik seperti radio dan televisi. Mereka selalu dituntut untuk
menyajikan berita yang paling up to date secepat mungkin. Mereka juga
biasanya tidak perlu menunggu hingga seluruh data terkumpul. Begitu ada
data, walau hanya sedikit, mereka langsung melaporkannya. Jika ada
perkembangan baru mengenai peristiwa tersebut, mereka melaporkannya
lagi. Demikian seterusnya. Karena itu, aturan penulisan di dalam media
online cenderung lebih bebas, tidak terlalu terpaku pada kaidah-kaidah
bahasa dan jurnalistik yang berlaku umum.
Teknik Penulisan
Umumnya orang ingin membaca berita-berita di internet secara cepat.
Selain karena malas lama-lama “memelototi” layar monitor, mereka juga
diburu-buru oleh mahalnya pulsa internet. Karena itu, gaya bahasa pada
media online pun hendaknya disesuaikan dengan hal ini. Harus ringkat,
padat, dan menarik.
Biasanya pada halaman pertama sebuah media online terdapat tampilan
berita-berita terbaru yang terdiri dari judul dan lead. Umumnya, lead
ini adalah alinea pertama dari artikel berita tersebut, walau tidak
mesti demikian. Yang harus diperhatikan: buatlah lead yang semenarik
mungkin agar netter tergoda untuk mengklik berita tersebut (atau
membaca artikel penuhnya). Jika alinea pertama tidak menarik untuk
dijadikan lead, carilah bagian-bagian lain yang lebih menarik. Atau
buat saja lead khusus yang berbeda. Ini sah-sah saja, yang penting
isinya masih sejalan dengan full article.
Yang Harus Dikuasai oleh Jurnalis Media Online
Selain menguasai – tentu saja – ilmu jurnalistik, seorang jurnalis
media online hendaknya juga menguasai dasar-dasar HTML. Tidak harus
terlalu mendalam, cukup yang umum-umum saja. Minimal, mereka harus
mengetahui bagaimana cara membuat huruf tebal, huruf miring,
menempatkan gambar di dalam naskah, membuat hyperlink, dan beberapa
pengetahuan HTML mendasar lainnya. Ini akan sangat membantu mereka
dalam pembuatan tulisan yang sesuai dengan sifat-sifat halaman web yang
jauh berbeda dengan halaman media cetak. Tutorial dasar-dasar HTML
antara lain dapat dibaca di situs saya,
www.jonru.web.id.
Alur Kerja
Secara teknis, tugas redaksi media online cukup mudah. Ia hanya perlu
mengisi sebuah formulir online. Ada isian judul, ringkasan berita atau
lead, artikel penuh, dan isian-isian lainnya. Setelah mengklik tombol
Submit atau
Kirim, artikel tersebut sudah langsung online.
Mengenai alur kerja, sebenarnya media online tidak jauh berbeda dengan
media cetak. Karena sifatnya yang harus menyajikan berita secara cepat
(sebagaimana halnya media elektronik), maka media online perlu
melakukan beberapa penyesuaian di dalam proses kerjanya.
Ketika ada kejadian, reporter di lapangan menelepon redaktur. Si
redaktur pun menelepon balik si reporter, meminta informasi lebih
lanjut, dan jika perlu dilakukan cek dan ricek. Setelah itu, redaktur
menulis naskah dan meng-uploadnya melalui formulir online. Ini adalah
contoh alur kerja yang standar.
Bisa juga, si reporter melakukan reportase dan menulis sendiri. Tulisan
ini dikirim ke redaksi melalui email atau media-media lain. Proses
selanjutnya sama seperti di atas.
Umumnya, yang berhak untuk meng-upload naskah hanyalah redaksi. Namun,
ada media yang memberikan wewenang khusus kepada reporter tertentu yang
telah dipercaya. Si reporter ini bisa meng-upload sendiri berita yang
mereka tulis, melalui komputer warnet, laptop, atau media-media lain
yang memungkinkan.
Masih ada beberapa alur kerja yang bisa diterapkan pada media online.
Namun alur-alur di atas cukuplah menjadi contoh. Semoga dapat menjadi
gambaran yang memuaskan.
Terpercaya atau Tidak?
Salah satu isu yang sering ditujukan pada media online adalah
tingkat kebenaran informasinya. Kita tahu, di internet kita bisa
menemukan berita apa saja, mulai dari yang terpercaya hingga yang
sekadar gosip, rumor, hoax, bahkan fitnah. Karena itu, jika membaca
sebuah berita di internet, yang pertama kali harus kita teliti adalah:
dari mana sumbernya. Setelah ketemu, cari tahu siapa pemiliknya. Jika
informasi tersebut berasal dari media online yang jelas sumbernya,
dikelola secara profesional oleh perusahaan atau lembaga tertentu,
boleh dibilang tingkat kebenarannya lebih kurang sama dengan media
cetak yang kita baca sehari-hari.
Up to date atau Tidak?
Setiap tulisan di media cetak umumnya disertai data tanggal yang
lengkap (detil hingga menit bahkan detik). Karena itu, kita bisa
melihat apakah tulisan tersebut benar-benar
up to date atau tidak. Media online yang baik adalah yang sanggup menyajikan berita-berita yang paling
up to date secara cepat. Jika media tertentu kekurangan sumber daya sehingga mereka tidak mampu menyajikan berita-berita yang
up to date, ini dapat disiasati dengan memperbanyak artikel nonberita yang tidak cepat “basi”.
Jakarta, 9 Januari 2005
Jonru
(Tulisan
ini telah dipresentasikan sebanyak dua kali dalam pelatihan jurnalistik
di Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 2004 dan 2005.
Penyelenggara: Koran Kampus Manunggal)