Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryApr 15, '05 2:36 AM
for everyone
Mamak, begitulah saya biasa memanggilnya. Sebenarnya dalam tradisi masyarakat Batak Karo, panggilan yang lazim untuk para ibu adalah Nande. Dari ketujuh anggota keluarga saya, anak pertama hingga keempat memanggil beliau Nande, sedangkan anak kelima hingga terakhir (termasuk saya) memanggilnya Mamak. Entah kenapa bisa begitu, saya sama sekali tidak tahu.

Tapi itu tidaklah terlalu penting. Kali ini saya hanya ingin bercerita tentang Mamak, ibu yang sangat saya cintai. Hm... saya tak ingin cerita ini jadi klise, sebab setiap cerita mengenai ibu biasanya tak jauh-jauh dari urusan mengandung dan membesarkan anak, tentang kasih sayang  ibu yang tak ternilai dengan harta apapun, dan sebagainya. Saya tak akan menceritakan hal-hal seperti itu, karena saya yakin itu amatlah membosankan.

Saya akan menceritakan sepenggal cerita masa lalu mengenai ibu saya, yang tak pernah saya lupakan. Ini adalah cerita yang amat unik, yang mencerminkan kecerdasan dan kepribadian ibu yang amat saya banggakan.

Sebagaimana perempuan Batak pada umumnya, Mamak adalah seorang pekerja keras yang tangguh. Mamak tak pernah membiarkan dirinya diam saja di rumah. Walau gaji Bapak sudah cukup untuk menghidupi keluarga, Mamak mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan. Kalau kamu melihat pedagang di pasar yang menggelar dagangannya di atas karpet plastik, seperti itulah profil ibu saya pada masa lalu.

Suatu hari, ketika sedang asyik berjualan, seorang pria menghampiri ibu saya, menawarkan sebuah tikar. Mamak tertarik pada tikar itu lalu membelinya (Saya lupa berapa harga tikar itu. Namun untuk gampangnya saja dan disesuaikan dengan nilai rupiah saat ini, kita sebut saja harganya Rp 50 ribu).

Beberapa menit kemudian, Mamak dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita yang berteriak-teriak sambil menudingnya. Wanita itu menuduh Mamak mencuri.

"Orang ini sudah mencuri tikar saya. Lihat itu buktinya," ujarnya sambil menunjuk tikar yang baru saja dibeli Mamak.

Mamak amat terkejut mendengar tuduhan itu. Dengan tegas ia membantah. Tentu saja Mamak bukan pencuri, karena ia membeli tikar itu dari orang lain. Namun wanita itu bersikeras dengan tuduhannya, bahwa tikar itu adalah miliknya yang hilang.

Selidik punya selidik, ternyata tikar itu memang dicuri oleh si pria tadi, lalu menjualnya pada Mamak. Ya, dapat dibayangkan betapa bingungnya Mamak ketika itu. Ternyata ia baru saja membeli tikar curian. Tragisnya, wanita yang berdiri di depannya dengan ngotot menuduh Mamak mencuri dan hendak membawa masalah ini ke kantor polisi.

"Kalau kau tidak mau berurusan dengan polisi, kembalikan saja tikarku itu sekarang!" ujarnya.

Kalau kamu menjadi ibu saya, apa yang akan kamu lakukan? Mengembalikan tikar itu dan mengikhlaskan uang  Rp 50 ribu yang tadi diberikannya pada si pencuri?

Ternyata Mamak tidak melakukan itu. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah saya lupakan hingga saat ini.

"Begini," ujarnya. "Kalau tikar itu saya kembalikan padamu, maka saya rugi Rp 50 ribu. Kalau tidak saya kembalikan, kamu yang rugi karena tikarmu hilang. Sekarang bagaimana kalau kita ambil jalan tengah saja?"

"Jalan tengah yang seperti apa?" tanya si wanita.

"TIkar ini saya kembalikan padamu, tapi saya minta bayaran Rp 25 ribu. Dengan cara ini, kita sama-sama rugi Rp 25 ribu. Cukup adil, kan?"

"Tapi tikar itu kan punya saya. Kenapa saya harus membayar Rp 25 ribu pada kamu?"

"Ya, saya tahu. Tapi saya juga telah mengeluarkan uang Rp 50 ribu untuk membeli tikar ini. Tak ada di antara kita yang salah. Si pencuri itulah yang salah. Karena itu, kita harus mengambil tindakan yang adil. Kita harus sama-sama untung atau sama-sama rugi. Bagaimana? Setuju?"

Setelah berpikir sejenak, si wanita pun setuju. Tikar dikembalikan pada si pemiliknya, dan Mamak mendapatkan uang pengganti. Sebuah keputusan yang adil, setidaknya begitulah menurut saya.

Cerita ini sudah berlangsung sangat lama, sudah belasan tahun lalu. Tapi dari semua cerita mengenai Mamak, ini adalah cerita yang tak pernah saya lupakan hingga hari ini. Inilah cerita yang membuat saya bangga pada Mamak. Dia adalah ibu saya, wanita yang sangat smart dan pemberani.


sorayalannazia wrote on Mar 23, '06
wahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh......mamaknya smart dan pemberani dlm memecahkan masalah yah ;).
salut buat mamaknya ;)
ulet lg...;)
Add a Comment