
Mamak, begitulah saya biasa memanggilnya. Sebenarnya dalam tradisi
masyarakat Batak Karo, panggilan yang lazim untuk para ibu adalah
Nande. Dari ketujuh anggota keluarga saya, anak pertama hingga keempat
memanggil beliau Nande, sedangkan anak kelima hingga terakhir (termasuk
saya) memanggilnya Mamak. Entah kenapa bisa begitu, saya sama sekali
tidak tahu.
Tapi itu tidaklah terlalu penting. Kali ini saya hanya ingin bercerita
tentang Mamak, ibu yang sangat saya cintai. Hm... saya tak ingin cerita
ini jadi klise, sebab setiap cerita mengenai ibu biasanya tak jauh-jauh
dari urusan mengandung dan membesarkan anak, tentang kasih sayang
ibu yang tak ternilai dengan harta apapun, dan sebagainya. Saya tak
akan menceritakan hal-hal seperti itu, karena saya yakin itu amatlah
membosankan.
Saya akan menceritakan sepenggal cerita masa lalu mengenai ibu saya,
yang tak pernah saya lupakan. Ini adalah cerita yang amat unik, yang
mencerminkan kecerdasan dan kepribadian ibu yang amat saya banggakan.
Sebagaimana perempuan Batak pada umumnya, Mamak adalah seorang pekerja
keras yang tangguh. Mamak tak pernah membiarkan dirinya diam saja di
rumah. Walau gaji Bapak sudah cukup untuk menghidupi keluarga, Mamak
mencoba mencari penghasilan tambahan dengan berjualan. Kalau kamu
melihat pedagang di pasar yang menggelar dagangannya di atas karpet
plastik, seperti itulah profil ibu saya pada masa lalu.
Suatu hari, ketika sedang asyik berjualan, seorang pria menghampiri ibu
saya, menawarkan sebuah tikar. Mamak tertarik pada tikar itu lalu
membelinya (Saya lupa berapa harga tikar itu. Namun untuk gampangnya
saja dan disesuaikan dengan nilai rupiah saat ini, kita sebut saja
harganya Rp 50 ribu).
Beberapa menit kemudian, Mamak dikejutkan oleh kehadiran seorang wanita
yang berteriak-teriak sambil menudingnya. Wanita itu menuduh Mamak
mencuri.
"Orang ini sudah mencuri tikar saya. Lihat itu buktinya," ujarnya sambil menunjuk tikar yang baru saja dibeli Mamak.
Mamak amat terkejut mendengar tuduhan itu. Dengan tegas ia membantah.
Tentu saja Mamak bukan pencuri, karena ia membeli tikar itu dari orang
lain. Namun wanita itu bersikeras dengan tuduhannya, bahwa tikar itu
adalah miliknya yang hilang.
Selidik punya selidik, ternyata tikar itu memang dicuri oleh si pria
tadi, lalu menjualnya pada Mamak. Ya, dapat dibayangkan betapa
bingungnya Mamak ketika itu. Ternyata ia baru saja membeli tikar
curian. Tragisnya, wanita yang berdiri di depannya dengan ngotot
menuduh Mamak mencuri dan hendak membawa masalah ini ke kantor polisi.
"Kalau kau tidak mau berurusan dengan polisi, kembalikan saja tikarku itu sekarang!" ujarnya.
Kalau kamu menjadi ibu saya, apa yang akan kamu lakukan? Mengembalikan
tikar itu dan mengikhlaskan uang Rp 50 ribu yang tadi diberikannya
pada si pencuri?
Ternyata Mamak tidak melakukan itu. Ia mengucapkan sebuah kalimat yang tak pernah saya lupakan hingga saat ini.
"Begini," ujarnya. "Kalau tikar itu saya kembalikan padamu, maka saya
rugi Rp 50 ribu. Kalau tidak saya kembalikan, kamu yang rugi karena
tikarmu hilang. Sekarang bagaimana kalau kita ambil jalan tengah saja?"
"Jalan tengah yang seperti apa?" tanya si wanita.
"TIkar ini saya kembalikan padamu, tapi saya minta bayaran Rp 25 ribu.
Dengan cara ini, kita sama-sama rugi Rp 25 ribu. Cukup adil, kan?"
"Tapi tikar itu kan punya saya. Kenapa saya harus membayar Rp 25 ribu pada kamu?"
"Ya, saya tahu. Tapi saya juga telah mengeluarkan uang Rp 50 ribu untuk
membeli tikar ini. Tak ada di antara kita yang salah. Si pencuri itulah
yang salah. Karena itu, kita harus mengambil tindakan yang adil. Kita
harus sama-sama untung atau sama-sama rugi. Bagaimana? Setuju?"
Setelah berpikir sejenak, si wanita pun setuju. Tikar dikembalikan pada
si pemiliknya, dan Mamak mendapatkan uang pengganti. Sebuah keputusan
yang adil, setidaknya begitulah menurut saya.
Cerita ini sudah berlangsung sangat lama, sudah belasan tahun lalu.
Tapi dari semua cerita mengenai Mamak, ini adalah cerita yang tak
pernah saya lupakan hingga hari ini. Inilah cerita yang membuat saya
bangga pada Mamak. Dia adalah ibu saya, wanita yang sangat smart dan
pemberani.
