Salah satu salah kaprah yang sangat kronis di dunia kita saat ini
adalah: adanya anggapan bahwa FANATISME dan TOLERANSI merupakan dua
musuh bebuyutan. Keduanya tak mungkin dipersatukan, tak mungkin seiring
sejalan. Fanatik diartikan sebagai sebuah sikap "merasa paling benar
dan tidak bisa menerima perbedaan". Sedangkan toleransi adalah
sebaliknya; "tidak merasa paling benar dan sangat akomodatif terhadap
segala jenis perbedaan." Fanatik dianggap sebagai sebuah sikap yang
sangat tercela, sedangkan toleransi merupakan sikap yang sangat ideal
di tengah keberagaman manusia di muka bumi ini.
Benarkah demikian?
Karena di atas saya sudah menyebut keduanya sebagai salah kaprah, maka
jawabannya sangat jelas: TIDAK BENAR. Saya berpendapat bahwa fanatisme
dan toleransi bukanlah musuh bebuyutan. Mereka justru dua sahabat lama
yang saling merindukan. Keduanya bisa hidup seiring sejalan.
* * *
Fanatisme sebenarnya merupakan sebuah sikap yang sangat terpuji.
Kenapa? Sebab ketika kita menganut kepercayaan tertentu, maka sikap
ideal yang harus kita ambil adalah percaya bahwa kepercayaan kita
itulah yang paling benar. Sebagai seorang Muslim, saya menganggap bahwa
Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Yang lain tidak benar.
Teman-teman yang beragama Kristen, Hindu, Budha, dan sebagainya pun,
silahkan berpendapat bahwa agama andalah yang benar, sedangkan yang
lainnya tidak benar. Inilah inti dari fanatisme.
Apakah sikap seperti ini tidak berbahaya?
Lho, kenapa berbahaya? Apakah saya salah ketika mempercayai sesuatu
sepenuh hati saya? Apalagi jika kepercayaan itu menyangkut hidup dan
mati saya, menentukan nasib saya setelah mati nanti. Di mana letak kesalahannya?
Fanatisme akan berdampak luar biasa terhadap sikap hidup seseorang.
Karena fanatik terhadap Britney Spears, seorang anak ABG akan membeli
seluruh kaset atau CD si Britney. Dalam berpakaian pun ia selalu meniru
gaya Britney. Pokoknya semua serba Britney Spears.
Dalam beragama pun sama saja, kok. Ketika saya fanatik terhadap Islam,
maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk mengislamkan seluruh hidup
saya. Islam adalah way of life bagi saya. Dalam konteks fanatisme, apa
bedanya Britney Spears dengan Islam? Saya kira sama saja. Fanatisme
terhadap apapun akan membuat kita berusaha mengidentikkan diri dengan
si FAN tersebut. Tapi tragisnya, masyarakat kita cenderung sangat
permisif terhadap sikap fanatik yang ditujukan bagi makhluk yang
bersifat duniawi (artis, tokoh politik, negara tertentu). Namun, ketika
seseorang fanatik terhadap agama yang dianutnya, kita ramai-ramai
mencela, menyebutkan sebagai sikap yang sangat tidak terpuji.
Why? Kenapa kita jadi pilih kasih seperti ini? Padahal, agamalah yang
akan menyelamatkan kita di akhirat nanti, bukan Britney Spears atau
Amien Rais bahkan Gus Dur.
Tapi
bagaimana kalau fanatisme akan merusak toleransi? Bagaimana kalau
fanatisme membuat kita terpecah-belah, tidak bisa menerima perbedaan
yang ada?
Duhai sahabatku! Fanatisme yang dilakukan secara benar tak akan mungkin
bertolak belakang dengan toleransi. Islam misalnya, adalah agama yang
penuh toleransi. Islam memberikan ajaran yang sangat sempurna tentang
bagaimana kita sebaiknya berhubungan baik dengan saudara-saudara kita
yang bukan beragama Islam. Bahkan faktanya, di negara manapun yang
mayoritas penduduknya Islam, warga nonmuslim dapat hidup dengan aman
dan nyaman.
Fanatisme sama sekali tidak bertolak belakang dengan toleransi.
Fanatisme tidak sama dengan "tidak bisa menerima perbedaan". Dalam
konteks perbedaan, fanatisme adalah sikap untuk "berpegang teguh pada
keyakinan yang kita anut, namun selalu menghargai siapa saja yang
memiliki keyakinan yang berbeda." Inilah fanatisme yang sebenarnya. Dan
fanatisme yang seperti inilah yang telah diterapkah oleh Rasulullah SAW
beserta para sahabatnya.
Ketika saya mengatakan "agama saya benar dan agama lain tidak benar,"
ini sama sekali tidak mengandung arti "agama dan umat agama lain harus
dimusnahkan." Sikap fanatisme yang baik bukanlah halangan untuk
bersahabat dan berhubungan baik dengan orang-orang yang memiliki
keyakinan yang berbeda. Sudah demikian banyak orang yang membuktikan
hal ini.
* * *
Lantas tentang toleransi, saya yakin kita semua berpendapat bahwa ini
adalah sesuatu yang sangat baik. Tapi sebenarnya, toleransi pun ada
batasnya. Sebab toleransi yang kebablasan akan membuat kita terjerumus
pada sikap "mengikuti perilaku golongan lain." Dalam Islam, dibuat
pembagian yang tegas antara "toleransi agama" dengan "toleransi umat
beragama".
Toleransi agama adalah sikap permisif terhadap ajaran agama lain.
Contoh konkrit: Umat Islam ikut merayakan hari Natal, atau umat Kristen
ikut puasa di bulan Ramadhan. Inilah jenis toleransi yang tidak
diperbolehkan. Kenapa? Sebab sikap seperti ini sangat bertentangan
dengan prinsip fanatisme. Sikap toleransi terhadap ajaran agama
menunjukkan bahwa keyakinan kita terhadap agama yang kita anut tidak
terlalu kuat. Artinya, kita tidak fanatik terhadap agama kita sendiri.
Kalau terhadap agama saja kita tidak fanatik, lalu "objek" apalagi yang
akan kita fanatiki? Masa kita lebih fanatik terhadap Delon daripada
terhadap agama sendiri? Yang benar saja!
Yang perlu kita kembangkan dan lestarikan sebenarnya adalah toleransi
umat beragama. Maksudnya, kita menjaga hubungan baik dengan penganut
agama lain. Kita bersahabat dengan mereka, saling silaturahmi, menjalin
kerjasama bisnis, dan sebagainya. Semua itu boleh-boleh saja. Selama
hubungan yang terjalin masih sebatas hubungan sosial kemanusiaan, tak
ada yang perlu dipermasalahkan.
Tapi ketika sudah menyangkut ritual
keagamaan dan sejenisnya... eits.... stop! Jangan dilakukan. Ini
sudah melanggar asas toleransi dan fanatisme. Ini adalah toleransi yang
kebablasan. Ini adalah fanatisme yang lemah serta bobrok.
Toleransi yang kebablasan akan membuat kita kehilangan identitas
(karena kita sibuk menyesuaikan diri dan mengekor pada orang lain).
Fanatisme yang lemah akan membuat kita sangat permisif terhadap
keyakikan dari golongan lain. Ini sami mawon dengan toleransi yang
kebablasan.
Jalan tengahnya adalah: melaksanakan toleransi yang pada tempatnya
(toleransi umat beragama) dan fanatisme yang tetap menghargai perbedaan.
* * *
Jadi, apakah kita masih percaya bahwa toleransi dan fanatisme adalah
dua musuh bebuyutan yang tak akan pernah bisa seiring sejalan?
Senayan, 20 Desember 2005
Jonru
 | ah ini dia... memang idelanya fanatisme dan toleransi harus berjalan berbarengan, namun kenyataannya lumayan sulit yah untuk diterapkan... :) |
 | jonru wrote on May 29, '07 iya betul mbak
(alhamdulillah, akhirnya tulisan ini ada juga yang me-reply, setelah 1,5 tahun ditulis, hehehe.....) |
 | Ok aq setuju bgt, toleransi hanyalah untuk urusan dunia, kita bisa kerjasama dalam berbagai hal dalam urusan keduniaan, membangun jembatan, jalan, sekolah, dan fasilitas umum lainnya, tetapi klo urusan agama dan ibadah gak akan dech . . . |
 | Saya tertarik dengan tulisan ini, tetapi penerapannya membutuhkan waktu yang lama karena ide anda sangat filosofis, dari jumlah 200 juta rakyat Indonesia, berapa lama pemikiran anda bisa diterapkan karena tingkat kesadarannya (bukan pendidikan) sangat rendah. Saya ke Gereja, Isteri saya ke Mesjid dan saya sudah melakukan pemikiran anda sudah bertahun tahun dan tidak ada masalah sama sekali.. |
 | ya ampun, 2005, multiply sikathabis baru saya buat :) |
| |