….Setelah
mengucapkan syair itu, tubuh Majnun semakin bertambah lemah, ia menatap
wajah ayahnya dan tersenyum, sambil berkata, “Hatiku telah terikat oleh
mantra keindahan, dan cinta tidak dapat dihancurkan. Ijinkan jiwaku
berpisah dengan diriku, dan menyatu dengan jiwanya yang telah menjadi
nafasku….
….Wahai
Ayahku, cinta adalah rahmat dari Surga, dan menjadi berkah bagi jiwa.
Langit yang menuntunku, maka cintaku pada Layla tulus dan suci….
….Cintaku pada Layla tidak bersumber dari bumi, ia menyala dengan kebenaran Surga, dan akan abadi selamanya….
Itulah sedikit cuplikan dari novel
Layla Majnun (Syaikh Nizami, Penerbit Navila, 2004). Amat romantis, bukan?
Layla Majnun adalah sebuah kisah cinta yang amat legendaris, sama seperti
Romeo and Juliet dan
Sampek Engtai.
Ia legendaris karena di dalamnya terkandung kisah asmara antara dua
anak manusia yang rela melakukan apa saja demi cinta. Bagi mereka,
cinta adalah segalanya. Cinta terhadap lawan jenis dianggap sebagai
sesuatu yang suci abadi, tak terpisahkan oleh apapun.
Apakah cerita-cerita seperti ini hanya ada pada kisah-kisah fiksi jaman
dahulu? Jawabnya: TIDAK. Coba cermati film, sinetron, novel, lagu, dan
produk-produk seni-fiksi lainnya yang mendominasi dunia hiburan kita.
Dengan mudah kita akan menemukan ucapan-ucapan para tokohnya yang khas,
seperti:
“Kaulah segalanya bagiku.”
“Cintaku hanya untukmu.”
“Cintaku padamu abadi selamanya.”
“Apapun yang terjadi, cintaku padamu tak akan luntur.”
“Aku rela melakukan apa saja demi kamu.”
“Kau dan aku sehidup semati.”
"Gue udah cinta mati ame dia!"
dan seterusnya.
Ya, itulah fenomena dari sebuah genre sastra yang bernama sastra
romantis. Tragisnya, genre inilah yang mendominasi dunia sastra populer
di seluruh dunia. Bahkan, seperti disebut di atas, dominasi ini bukan
hanya pada dunia sastra, tapi juga pada bidang musik, film,sinetron,
dan sebagainya. Sebagai contoh, lihatlah film
Ada Apa dengan Cinta
yang dulu meledak di pasaran, atau sinetron cinta remaja yang banyak
bertaburan di layar kaca. Hampir semuanya berisi cerita yang
mengagung-agungkan cinta.
Sebetulnya, apa sih definisi romantis itu? Untuk menjawabnya, kita
perlu telusuri dulu sejarah romantisme, yakni sebuah gerakan di dunia
seni yang berawal pada abad ke-19. Gerakan ini memfokuskan diri pada
hal-hal yang berhubungan dengan emosi (perasaan) dan kebebasan
berimajinasi. Di Eropa, gerakan ini dipelopori oleh sejumlah seniman,
seperti William Blake, Lord Byron, Samuel Taylor Coleridge, John Keats,
Percy Bysshe Shelley, dan William Wordsworth.
Intinya, romantisme adalah sebuah aliran seni yang menempatkan perasaan
manusia sebagai unsur yang paling dominan. Dan karena cinta adalah
bagian dari perasaan yang paling menarik, maka lambat laun istilah ini
mengalami penyempitan makna. Sastra romantis pun diartikan sebagai
genre sastra yang berisi kisah-kisah asmara yang indah dan penuh oleh
kata-kata yang memabukkan perasaan, seperti pada contoh-contoh di atas.
Ciri paling umum pada setiap produk sastra romantis adalah
ditempatkannya cinta (pada lawan jenis) sebagai kebenaran yang mutlak.
Jika si A dan si B saling mencintai, maka kisah cinta mereka dianggap
sebagai sesuatu yang suci dan abadi, tak terpisahkan oleh apapun. Di
akhir cerita, keduanya akan menikah, atau miniman jadi pasangan pacaran
yang bahagia. Atau kalaupun keduanya menikah dengan orang lain,
keluarganya tidak akan bahagia.
Dari ciri di atas, dapat disimpulkan bahwa sastra romantis umumnya
mampu melenakan dan memabukkan perasaan. Maka tak heran, demikian
banyak pembaca yang menyukainya. Namun di sisi lain, sastra
romantis sebenarnya berdampak “sangat tidak romantis”, sebab ia amat
berpotensi untuk melakukan pembodohan terhadap para pembacanya.
Alasannya:
1.Rayuan-rayuan para tokohnya seringkali tidak masuk akal. Contohnya
adalah ucapan “Aku cinta padamu selamanya.” Apakah perasaan cinta kita
pada orang lain bisa abadi selamanya? Tak ada yang menjamin, kan? Dalam
konteks ini, saya sangat kagum pada salah satu syair lagu Iwan Fals,
“Aku cinta kau saat ini, entah esok nanti.” Sungguh syair yang sangat
mencerahkan. Sebab itulah fakta yang sebenarnya dari perasaan manusia.
Tak ada cinta manusia yang abadi.
2.Karena cinta dianggap sebagai kebenaran yang mutlak, maka sastra
romantis cenderung melawan takdir. Kita tahu, jodoh adalah rahasia
Allah. Namun sastra romantis cenderung mengabaikan hal ini. Dalam
cerita-ceritanya, selalu dikisahkan tentang dua anak manusia yang
saling jatuh cinta, dan mereka akan melakukan apa saja (termasuk bunuh
diri, melawan orangtua, pindah agama, dan sebagainya) agar hubungan
mereka berlanjut ke pernikahan. Mereka lupa bahwa orang yang saling
jatuh cinta itu belum tentu jodoh.
3.Yang paling parah, sastra romantis umumnya menjurus pada hal-hal yang
berbau syirik. Cerita-cerita pada genre sastra ini umumnya amat
mengagung-agungkan cinta atau orang yang dicintai. Demi orang tercinta,
si dia rela melakukan apa saja, termasuk bunuh diri, seperti pada
cerita
Romeo & Juliet. Cinta atau orang yang dicintai dianggap sebagai segalanya (coba simak syair lagu
Kaulah Segalanya,
Ruth Sahanaya). Padahal, yang seharusnya dianggap sebagai segalanya
adalah Allah. Cinta kita kepada makhluk apapun tidak boleh melebihi
rasa cinta kita kepada Allah.
("Cinta itu kan berhala yang lu sembah-sembah!" ujar Pak Haji [Deddy Mizwar] pada film Kiamat Sudah Dekat. Saya sangat setuju dengan ucapan ini!)
Maka dapat disimpulkan, sastra romantis sebenarnya tidaklah romantis
jika dilihat pada dampak dan muatannya. Ia amat berbahaya bagi
keselamatan aqidah dan iman umat Islam. Tapi tragisnya, genre sastra
yang satu ini memiliki pengaruh yang amat kuat, mendominasi hampir
semua produk sastra populer, juga sinetron, film, musik, dan
seterusnya. Bahkan, ia sudah merasuki pola pikir sebagian besar
masyarakat kita. Sebagai contoh, lihatlah mereka yang rela menikah
dengan orang yang beda agama. Kalau ditanya alasannya, mereka akan
menjawab, “Karena kami saling mencintai.”
Sebagai penulis Islam, saya kira hegemoni sastra romantis ini termasuk
salah satu “musuh” yang harus kita lawan secara tegas. Lewat goresan
pena, kita dapat melahirkan karya-karya yang mengandung pesan bahwa
cinta (pada lawan jenis) bukanlah segalanya, orang yang saling
mencintai belum tentu jodoh, dan seterusnya. Semoga kita bisa dan
istiqomah dalam menjalankannya, karena Insya Allah ini adalah salah
satu dakwah untuk melakukan pencerahan terhadap pola pikir masyarakat.
Jonru
Tulisan ini dimuat di majalah Sabili (sisipan El Ka) No. 12 Tahun XIII, 29 Desember 2005.
Terima kasih buat Kang Irfan, Mas Ekky dan teman-teman lain dari FLP
Pusat, yang telah memberikan banyak masukan demi kesempurnaan artikel
ini.
Rasanya akan lebih lengkap jika teman-teman juga membaca tulisan saya berjudul Tema Pacaran dalam Cerita Islami. Sebab menurut saya keduanya saling berkaitan.