
Dulu, Saya beberapa kali diajak oleh orang-orang tertentu untuk
bergabung dengan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Pernah saya
tergoda, terjun beberapa bulan di dunia yang satu itu. Akhirnya, saya
tewas dengan mengenaskan, karena memang saya merasa tak punya bakat
sama sekali. Karena itu, saya sering jengkel luar biasa ketika ada
pebisnis yang masih ngotot merayu saya dengan ucapan, "Untuk terjun ke
bisnis, bakat itu tidak perlu, kok. Saya aja dulunya tak punya bakat
sama sekali. Tapi saya bisa sukses seperti sekarang ini."
Tragisnya, di dunia penulisan pun saya seringkali mendengar seorang
penulis senior yang bicara seperti itu. "Untuk jadi penulis hebat,
bakat itu tak terlalu penting, kok. Bla... bla.. bla..." Lebih tragis
lagi, ternyata saya sangat setuju dengan pendapat itu!
Setelah berpikir lebih dalam, saya menyesali diri sendiri, merasa
sangat bodoh. Kenapa saya bersikap amat diskriminatif? Saya setuju
dengan pendapat mengenai tidak pentingnya bakat di dunia penulisan,
tapi saya sangat tidak setuju dengan hal yang sama di dunia bisnis.
Apakah saya sudah menjadi semacam ibu tiri yang pilih-pilih kasih?
Oke, saya akhirnya menyerah, mencoba mencari argumen yang lebih kuat
dan masuk akal. Kenapa saya merasa tidak punya bakat di bidang bisnis,
dan saya sama sekali tidak tergerak untuk terjun ke sana?
Setelah berpikir lebih dalam lagi, saya menemukan sebuah jawaban yang
agaknya cukup valid, mungkin bisa membungkam mulut si pebisnis yang tak
pernah henti merayu saya.
"Ini adalah sebuah pilihan hidup!"
Ya, benar. Semuanya berpulang pada pilihan hidup.
Jika mau dan punya motivasi yang kuat, saya yang tidak punya bakat
bisnis sama sekali ini, suatu saat nanti mungkin bisa menjadi seorang
pengusaha sukses yang kaya raya. Saya mungkin bisa menjadi seorang raja
MLM yang bisa membeli Kepulauan Seribu, bahkan pulau Bali. Jika punya
motivasi yang sangat kuat, saya akan berjuang keras agar bisa sukses di
dunia MLM yang amat membahagiakan dari segi materi.
Tapi yang terjadi selama ini; saya tak punya semangat sama sekali.
Ketika dulu saya terjun ke dunia MLM, saya menjadi orang yang sangat
malas. Malas mencari downline, malas mencari pembeli. Ketika bertemu
dengan seorang calon pembeli/downline yang sangat potensial pun, saya
bersikap ogah-ogahan. Saya bukan tipe manusia agresif yang melihat
sosok seorang manusia sebagai ladang duit yang amat menggiurkan. Saya
pikir, enggak penting-penting amat gitu lho, mencari uang dengan cara
seperti itu.
Dan itulah alasan utama kegagalan saya di bidang bisnis, khususnya MLM.
Saya pernah menceritakan hal ini pada seorang teman yang juga mencoba
merayu saya untuk menekuni bisnis MLM yang ia ikuti. Anehnya, dia malah
menyalahkan MLM saya terdahulu. Padahal saya tahu, sayalah yang salah.
Saya pikir, teman ini mungkin hanya mencoba menjelek-jelekkan
perusahaan saingannya, itu saja.
* * *
Saya kira, dunia penulisan pun seperti itu. Kalau kamu punya bakat yang
luar biasa di bidang penulisan, maka kamu punya potensi yang sangat
luar biasa pula untuk menjadi seorang penulis handal. Bakat yang baik
akan membuat seorang calon penulis lebih mudah dalam menyerap
teori-teori penulisan. Proses belajar yang dilaluinya akan lebih cepat
dan sederhana ketimbang mereka yang tidak punya bakat sama sekali.
Tapi, jangan sedih dulu, wahai penulis yang tak berbakat! Saya belum
selesai bicara. Pembicaraan kita berikutnya adalah: ternyata bakat saja
tidak cukup. Kamu punya bakat yang sangat luar biasa, itu sangat bagus.
Perlu disyukuri. Tapi apa arti itu semua jika kamu tidak punya motivasi
dan keinginan yang kuat? Kamu tak akan pernah menjadi seorang penulis.
Saya punya sekitar 10 atau 15 orang teman yang bertipe seperti itu.
Bakat menulis mereka sangat bagus. Tapi ketika saya mengkompori mereka
untuk menekuni dunia penulisan secara lebih serius, mereka menjawab
dengan santai, "Saya menulis untuk iseng-iseng aja, kok!"
"Belum pernah kepikiran untuk mengirim naskah kamu ke majalah atau penerbit?"
"Buat apa? Apakah itu penting bagi hidup saya?"
* * *
Maka, di sinilah para penulis yang tak berbakat bisa menghibur diri.
Silahkan, anda bisa tersenyum lebar sekarang. Sebuah kemenangan besar
menanti anda. Kuncinya hanyalah kalimat klise berikut: Ternyata bakat
saja tidak cukup. Banyak orang yang bilang bahwa peran bakat bagi
keberhasilan seorang penulis hanya sekitar 10 persen, atau bahkan 1
persen. Kita tak perlu berdebat soal jumlah persennya. Itu tidak
penting, saudara-saudara sekalian! Sebab ini bukan rumus kimia.
Yang penting untuk kita percayai: di mana ada kemauan, di situ ada
jalan. I believe I can fly. Jika aku percaya bahwa aku bisa terbang,
maka aku bisa terbang.
Mungkin peribahasa ini terlalu mengada-ada. Tapi intinya adalah:
KEINGINAN dan MOTIVASI yang kuat merupakan FAKTOR PENENTU TERBESAR
dalam meraih sukses di bidang apapun. Di bidang bisnis? Ya. Di bidang
penulisan? Ya juga. Saya yang tidak berbakat sama sekali di bidang
bisnis, akan bisa jadi pengusaha sukses dan kaya raya, jika saya memang
punya motivasi dan keinginan yang sangat tinggi. Dan kamu yang merasa
tidak punya bakat menulis sama sekali, suatu hari nanti mungkin bisa
mengalahkan popularitas Agatha Christie atau Stephen King. Who knows?
Tapi, seperti yang saya sebutkan di atas, ini semua memang kembali ke
masalah pilihan hidup. Seorang teman saya pernah berkata, "Saya merasa
rugi jika menghabiskan waktu hanya untuk mengetik di depan komputer dan
mengarang cerita yang tidak nyata. Mending benerin genteng atau ngisi
bak mandi."
Apakah saya marah mendengar ucapan seperti itu? Insya Allah tidak,
karena saya tahu ini menyangkut pilihan hidup. Terus terang, saya pun
akan mengucapkan kalimat yang lebih kurang sama untuk dunia bisnis.
"Saya merasa rugi jika menghabiskan waktu hanya untuk mengumpulkan
downline dan merayu orang-orang untuk bergabung dengan bisnis saya."
Ini bukan pilihan hidup saya. Saya lebih suka mencari uang dengan cara
menjual tulisan-tulisan saya. Saya merasa bahagia, karena lewat
tulisanlah saya tidak hanya mendapat uang, tapi memiliki kesempatan
yang sangat besar untuk menularkan pemikiran-pemikiran saya kepada
orang lain.
Tapi tentu saja, saya harus menghargai orang lain yang menjadikan MLM
dan sejenisnya sebagai pilihan hidup mereka. Toh, setiap orang pasti
berbeda, bukan?
* * *
Jadi, bagi kamu yang ingin jadi penulis dan merasa tak punya bakat,
saya kira inilah resep yang cukup jitu: Jadikan menulis sebagai bagian
dari pilihan hidup kamu. Jangan perlakukan ia sebagai hobi semata, yang
ditekuni di kala senggang saja, lalu ditinggalkan jika kesibukan tugas
kantor atau pekerjaan di toko menyita banyak waktu kamu.
Ketika peluncuran buku Antologi cerpen FLP Hongkong, Helvy Tiana Rosa
berkata pada para penulis di sana yang semuanya berprofesi sebagai
pembantu rumah tangga, "Mulai sekarang jika ada orang yang bertanya apa
pekerjaan kalian, jawablah 'profesi kami penulis dan hobi kami membantu
orang lain'."
Saya kira, inilah sikap yang seharusnya diambil oleh penulis - baik
yang berbakat maupun tidak - jika mereka ingin terjun dan sukses di
dunia penulisan. Katakan pada diri kamu sendiri, "Saya adalah penulis.
Hidup saya untuk menulis. Menulis adalah bagian dari gaya hidup saya."
Pesan saya untuk para penulis yang berbakat, "Apa kamu tidak merasa
rugi karena menyia-nyiakan pemberian Tuhan yang sangat berharga?"
Pesan saya untuk penulis yang tidak berbakat, "Ayolah. Kamu bisa
mengalahkan para penulis yang berbakat itu, karena mereka sama sekali
tidak punya niat untuk bersaing dengan kamu."
Maaf bila tidak berkenan.
Senayan, 12 Desember 2005
Jonru
(bersyukur karena merasa punya bakat menulis sejak kecil dan punya keinginan yang kuat untuk jadi penulis)
sumber foto: www.people.virginia.edu

 | Setuju Jon,....jadi saya ini tipe yang seperti apa ya? ...apakah menjadi biker itu pilihan. kamu tahu, biker setiap hari PP kalimalang-prapanca...prapanca-kalimalang, senin - jum'at...pilihan karena kebutuhan hidup yang memang harus selalu dipenuhi.
Mungkin untuk beberapa orang, memang, menjadi penulis yang hebat bukan hanya mulu hasil tulisannya ditterbitkan, tapi mampu menuangkan apa yg mereka rasakan dalam kata-kata (termasuk dlm blog) sudah menjadi keberhasilan. Sementara orang lain masih berkutat dalam "...ah malu,...takut dibaca orang".
Jadi menurut saya.... menulis merupakan sebuah kebutuhan yang didasari kecukupan. Cukup di blog, atau cukup di diari atau cukup di selembar kertas lalu dibuang atau dibakar setelah selesai. Tapi buat kamu, dan saya salut loh, cukup itu artinya tulisan berhasil diterbitkan :)
Memang ajaib sekali dunia tulis menulis ini....dan saya benar2 bersyukur dapat terlibat di dalamnya...walau hanya di blog :D
http://abhicom2002.blogspot.com |
 | jonru wrote on Dec 12, '05 Tapi buat kamu, dan saya salut loh, cukup itu artinya tulisan berhasil diterbitkan :)  hehehe... betul sekali, pak iman tapi pengertian "diterbitkan" bagi saya tidak harus dimuat di majalah/koran, atau diterbitkan dalam bentuk buku oleh penerbit tertentu. Kalau tulisan saya sudah dimuat di Multiply, disebarkan di berbagai milis penulisan, dan seterusnya, bagi saya itu juga sudah CUKUP. Tapi ketika saya hendak mencari uang dari tulisan2 itu, barulah saya kirim ke media cetak atau penerbit, hehehehe... :) |
 | akmal wrote on Dec 13, '05 kalo saya berbakat gak ya... |
 | jonru wrote on Dec 13, '05 tulisan akmal kayaknya layak terbit d  iya, saya juga berpikir begitu :)
(serius nih, bukan basa basi semata) |
 | akmal wrote on Dec 13, '05 wah...akmal iye berbakat tuh! mas jonru, tulisan akmal kayaknya layak terbit deh *ngompor2in krn fans mp-nya akmal*  plisssssssssss dehhhhhhhhhhhhhh.... :p
|
 | akmal wrote on Dec 13, '05 iya, saya juga berpikir begitu :)
(serius nih, bukan basa basi semata)  hmmm.... masih nyari tema yg tepat... any suggestions? |
 | Bang Jonru, senang baca tulisannya ini. Omong-omong, berarti kalimat di "welcome"-nya harus diganti dong jadi : "saya penulis, nyambi jadi content editor di sebuah ISP", hehehe. Semangat terus ya Bang! |
 | kalo saya bakatnya sih nyari orang yang bakat menulis kali ye??? hehe.. |
 | betul. betul sekali. saya sendiri tidak punya bakat nulis. bakat saya gambar komik. tapi karena, itu tadi, pilihan hidup, maka jadilah skrg saya nerbitin buku dan nongkrong di kantor majalah |
 | jonru wrote on Dec 16, '05 Omong-omong, berarti kalimat di "welcome"-nya harus diganti dong jadi : "saya penulis, nyambi jadi content editor di sebuah ISP"  hush! kalo bos sampai baca, saya bisa dipecat hehehehe... :) |
 | jonru wrote on Dec 16, '05 kalo saya bakatnya sih nyari orang yang bakat menulis kali ye??? hehe..  kemarin saya baca cerpen mbak mimin yang di bonus cerpen Muslimah koleksi 5 (kalo gak salah). Bagus banget deh. Mbak mimin juga sangat berbakat, hehehe... :) |
 | jonru wrote on Dec 16, '05 saya sendiri tidak punya bakat nulis. bakat saya gambar komik. tapi karena, i  nah, ini dia salah satu bukti nyata! hehehe... :) |
 | Waaaaaaah, Mas! Saya kok ketinggalan kereta ya sama tulisan ini :-( Anyway, isinya menyemangati saya banget nih, makasiiiiiiiiih sekali. Soalnya kemarin saya sempet curhat soal tulis menulis ini, kok Dejavu yak :-) So..., saya kok merasa tak punya bakat juga ya Mas :-( |
 | jonru wrote on Dec 18, '05 saya kok merasa tak punya bakat juga ya Mas :-(  soal bakat atau tidak, tentu mbak yang paling paling tahu. Tapi kalo ada motivasi yang kuat, insya ALlah semuanya bisa berjalan lancar :) |
 | setelah baca tulisan-tulisan di blog ina, rasanya menulis itu mudah ya. gak perlu rumit-rumit. hal-hal sederhana sekitar kita saja... "Jadikan menulis sebagai bagian dari pilihan hidup kamu. Jangan perlakukan ia sebagai hobi semata, yang ditekuni di kala senggang saja" >>> mulainya gimana? |
 | mas jonru yang terhormat.
saya baru pertama kali ini blog anda . setelah saya membaca dan merenungi isi tulisan mas tentang penulis dan kehidupan sebagai penulis, saya jadi meraba diri saya sendiri . keinginan saya untuk bisa menjadi seorang penulis rasanya semakin menggebu . namun apa daya saya hanya mampu menulis dan terus menulis tanpa menghasilkan keuntungan materi . walaupun demikian saya sepertinya tidak pernah kapok untuk terus mengirimkan tulisan saya [cerpen] ke media , meskipun selalu ditolak . saya sendiri adalah seorang satpam di sebuah apartment di jakarta , menulis selalu saya jalani ditengah aktifitas pekerjaan saya . harapan saya mungkin terlalu tinggi ya mas ? jika selalu berobsesi untuk bisa menjadi sukses dengan hasil tulisan saya . istri saya sangat mendukung hobi saya ini ,meskipun karena saya seringkali berharap dengan tulisan-tulisan saya yang selalu saya coba ajukan ke media selalu ditolak hingga ia takut saya stress . itu rasanya tak mungkin ya mas ?mosso stress seeh..? baiklah mas ...saya akan sangat senang sekali juika saya bisa mendapat bagian ilmu penulisan dari mas jonru hingga saya bisa mencapai cita-cita saya untuk membahagiakan istri saya dengan hasil tulisan saya. untuk mas jonru..sukses selalu
salam hormat.
sawungrono. |
 | jonru wrote on Sep 19, '06 mas jonru yang terhormat.
saya baru pertama kali ini blog anda . setelah saya membaca dan merenungi isi tulisan mas tentang penulis dan kehidupan sebagai penulis, saya jadi meraba diri saya sendiri . keinginan saya untuk bisa menjadi seorang penulis rasanya semakin menggebu . namun apa daya saya hanya mampu menulis dan terus menulis tanpa menghasilkan keuntungan materi . walaupun demikian saya sepertinya tidak pernah kapok untuk terus mengirimkan tulisan saya [cerpen] ke media , meskipun selalu ditolak . saya sendiri adalah seorang satpam di sebuah apartment di jakarta , menulis selalu saya jalani ditengah aktifitas pekerjaan saya . harapan saya mungkin terlalu tinggi ya mas ? jika selalu berobsesi untuk bisa menjadi sukses dengan hasil tulisan saya . istri saya sangat mendukung hobi saya ini ,meskipun karena saya seringkali berharap dengan tulisan-tulisan saya yang selalu saya coba ajukan ke media selalu ditolak hingga ia takut saya stress . itu rasanya tak mungkin ya mas ?mosso stress seeh..? baiklah mas ...saya akan sangat senang sekali juika saya bisa mendapat bagian ilmu penulisan dari mas jonru hingga saya bisa mencapai cita-cita saya untuk membahagiakan istri saya dengan hasil tulisan saya. untuk mas jonru..sukses selalu
salam hormat.
sawungrono.  wah.. senang sekali rasanya membaca komentar mas sawungrono... salam kenal dari saya. tetaplah semangat untuk menulis. Oh ya... mohon maaf kalau mas sudah tahu Di Hongkong, banyak penulis yang profesi aslinya adalah TKW. Ya, benar-benar TKW. Mereka punya keterbatasan waktu, terutama karena banyaknya aturan dari majikan mereka. Tapi mereka tetap semangat, dan baru-baru ini mereka berhasil menerbitkan buku. Hebat kan? Info selengkapnya coba baca di http://helvytr.multiply.com/journal/item/122Jadi selama ada motivasi yang kuat. Insya ALlah keinginan kita akan dapat tercapai. Semoga berhasil ya.... :) |
 | hehehe... mas Jonru anti MLM, sama seperti saya. Tapi mas Jonru, menurut pengalaman saya, motivasi saja tidak cukup untuk menjadi apa yang kita pilih dalam hidup. Perlu satu KEYWORD lagi yang selama ini sebenarnya sudah mas Jonru lakukan, yaitu : KOMUNITAS. Ya, dengan adanya komunitas, bakat, kemauan, dan motivasi,bisa terus diupgrade! pengalaman dgn MLM juga nih, http://mataharitimoer.multiply.com/journal/item/6 |
 | jonru wrote on Nov 26, '06 mas Jonru anti MLM  ups... jangan salah sangka sebenarnya saya tidak anti MLM setelah saya pelajari, sebenarnya konsep MLM itu bagus cuma, citra MLM jadi buruk gara2 banyak anggota MLM yang berusaha dengan cara-cara yang tidak simpati.
tapi kenapa saya tidak mau ikut MLM? Alasannya ya karena itu tadi. Saya merasa itu bukan pilihan hidup saya. Dan saya kira "bukan pilihan hidup" tidak sama dengan "anti" bukan? |
 | ternyata saya telat banget menemukan tulisan anda tentang bakat kepenulisan ya mas jonru, jujur saya sendiri juga merasa kalau saya punya bakat didunia penulisan ( bukan bermaksud menyombong), hanya saja saya cuma berani memajang tulisan-tulisan saya di dalam blogs , apalagi saya menulis hanya ketika keinginan menulis saya datang yang kadang-kadang meletup-letup seperti bubur mendidih kebanyakan air, kemudian beberapa waktu akan diam bahkan dingin saat panasnya sudah turun,dengan kata lain, saya masih sering angin-anginan, belum jelas, sampai beberapa waktu lalu ketika saya berkesempatan pulang ketanah air saya menemukan sebuah buku, yang dibalik sampulnya ditulis bahwa buku itu pemenang festival karya sastra thn 2005, saya sangat tertarik dengan gaya penulisan pengarang sampai-sampai membangkitkan gairah menulis saya lagi, saya ingin seperti orang itu dan mungkin seperti mas jonru menjadikan menulis sebagai profesi,saya ingin menulis sebuah novel, sudah hampir satu bulan saya memulai dan hasilnya nol!!! saya bingung mencari alurnya, terlalu banyak yang ada didalam otak saya, sampai saya kebingungan sendiri ,idenya macet didalam rangkai2an peristiwa yang hanya bisa paparkan dalam otak saja, tp tidak bisa keluar, saya harus bagaimana?, sekarang saya malah jadi tidak yakin bahwa saya punya bakat besar didunia kepenulisan. aduh maaf ya mas jonru, saya belum mengenal anda tapi saya sudah menulis panjang-panjang dan kesannya malah bercurhat-curhat ria,jadi malu sendiri, terima kasih untuk sekedar membaca, salam kenal, dan bila berkenan mohon diajari
|
 | bang jonru, saya ini termasuk orangyang ingin sekali menjadi seorang penulis,tapi saya ini termasuk orang yang tidak berbakat dalam tulis-menulis. saya percaya banyak para penulis yang sukses mengatakan bahwa bakat bukan hal utama untuk menjadi penulis tetapi tetap saja saya merasa kesulitan dan juga bingung untuk memulai menjadi seorang penulis. bahkan saya sempat putus asa ketika tulisan-tulisan saya ditolak. bagaimana saya harus memulai menjadi seorang penulis.
|
 | thanks berat buat bang Jonru! Setelah membaca tulisan anda, saya jadi bersemangat lagi untuk menulis. Saya nggak peduli tulisan saya akan dimuat atau tidak. Ini adalah pilihan hidup saya. Saya akan penuhi Harddisk saya dengan tulisan-tulisan saya. Dan kelak akan saya suruh cucu-cucu saya untuk membacanya. Khan nggak mubazir, tuh! Salam kenal dari Koswara |
 | hehehhe..ini masalah klise ya mas jonru, '"perdebatan antara bakat dan keinginan". tapi aku juga pernah punya masalah sama keinginan yg ga nyambung sama bakat. Suatu saat aku pernah punya mood buat bikin cerpen, dan berhasil. Aku juga pernah bikin jurnal dikampus, dan berhasil. Tapi ketika mood itu hilang, dan hasrat buat menulis menggebu-gebu, aku malah ga bisa sama sekali menorehkan tintaku diatas kertas atau di komputer, aneh sekali, menyedihkan. Dan ketika itu aku berpikir, apakah ini memang bukan bakat atau ada bakat aku yg berubah...??tapi keinginan untuk menulis itu selalu ada, tapi terkadang ga ada endingnya, jadi kelihatan basi dan mentok. Punya Solusi ?? |
 | saya setuju dengan mas jonru. semua itu memang masalah pilihan hidup. kalau bahasanya Paulo Coelho, masalah impian. selama kita mengikuti pilihan hidup, mengikuti jalan(entah berliku ataupun tidak) menuju impian kita, maka di sanalah terletak kebahagiaan. so, bagi diriku dan teman2 yang tengah meraih impian menjadi penulis, terus semangat! dokterpenulis.wordpress.com |
 | Sebenarnya saya sudah menulis sejak duduk di bangku SMP. Tapi dibandingkan dengan tulisan bang jonru jauh citra rasanya jauh sekali. Tulisan Bang Jonru enak dibaca dan perlu. Kayak moto Tempo aja. Tapi memang menulis itu perlu dan merupakan bagian dari kehidupanku. Maksudnya saya hidup dari menulis. Sudah 6 tahun menggeluti jadi kuli tinta di sebuah penerbitan lokal Grup Jawa Pos. Selama jadi tukang berita itu banyak suka dukanya. Tapi untuk menulis cerpen dan artikel rasanya saya harus belajar ke Abang. |
 | Pak, maaf numpang sarannya... Saya mau meminta saran Bapak soal seseorang yang berbakat di suatu bidang, tapi kehilangan minat di bidang itu karena kurangnya dukungan dari keluarga (yang punya pengaruh cukup besar), dan kebetulan orang itu tipe yang perfeksionis, sehingga lama-kelamaan dia makin kepikiran dengan seberapa bagus hasil yang ia buat di bidang tersebut. Akibatnya karena dia merasa "kurang" terus dengan hasil yang dia buat, dia makin kehilangan minat... Kira2 apa saran Bapak supaya orang itu kembali mendapatkan minatnya? |
| |