Sejak Sabtu kemarin (3 des 05), saya sibuk pindahan ke rumah baru.
Sebetulnya bukan rumah baru, sih, dan letaknya persis di belakang rumah
mertua saya, masih satu pekarangan. Ya, semacam faviliun, gitu lho.
Rumah itu sangati kecil, berukuran sekitar 3 x 6 meter, lebih kurangnya
minta maaf. Soalnya belum sempat ngukur. Mungkin sama luasnya dengan
rumah kontrakan yang hanya terdiri dari satu ruang tamu, satu ruang
tidur, dapur dan toilet kecil. Bedanya, rumah kontrakan seperti itu
biasanya berbentuk memanjang, tapi yang ini melebar. Di sisi kiri ada
toilet dan dapur, sedangkan di sisi kanan terletak ruang tamu dan kamar
tidur. Ya, memang benar-benar kecil.
Rumah ini dibangun beberapa minggu sebelum saya menikah (Agustus 2003).
Oleh mertua saya memang direncanakan untuk ditempati oleh saya dan
istri. Tapi setelah menikah dan berunding, istri saya tidak mau tinggal
di situ. Maka rumah itu pun dikontrakkan dan kami tinggal satu atap
dengan mertua.
Suka duka tinggal di Pondok Mertua Indah (PMI) sudah kami jalani selama
28 bulan. Alhamdulillah, mertua saya sangat baik. Tapi sebaik apapun
mereka, kita tetap berstatus sebagai penumpang yang banyak tidak
enaknya. Yang paling tragis: saya tidak bisa bertindak sebagai kepala
rumah tangga di situ. Istri saya pun sempat bilang, "Kita tak akan bisa
hidup mandiri kalau begini terus. Kita juga tak bisa membeli perabotan
dan alat-alat rumah tangga lainnya."
Ya, memang itulah resiko tinggal di PMI. Karena itu, saya merasa sangat
bersyukur karena si pengontrak rumah kecil itu akhirnya pergi, dan kami
berkesempatan menempatinya mulai sekarang. Sebelumnya istri saya
bertanya, "Kamu setuju enggak, kalau kita tinggal di situ?" Saya
menjawab, "Lho, dari dulu saya kan udah setuju. Justru kamu kan, yang
dulu tidak setuju?" Hehehe....
Maka, Sabtu dan Ahad kemarin, kami sibuk gotong-gotong, pindahan ke
rumah yang mungil itu. Capek dan pegel-pegel, tapi kami bahagia. Secara
pribadi saya merasa senang, karena kini saya bisa menjadi kepala
keluarga di rumah sendiri. Di sudut ruangan, saya juga bisa "membangun
sebuah kerajaan kecil" yang terdiri dari rak buku yang cukup besar dan
seperangkat komputer di sebelahnya. Itu bagaikan sebuah kantor pribadi,
tempat saya melakukan aktivitas menulis.
Dan baru sehari tinggal di rumah itu, saya dan istru sudah sibuk
memikirkan benda-benda apa saja yang belum kami miliki dan harus
dibeli. Skala prioritas tentu harus dibuat, karena keterbatasan dana.
Mulai sekarang kami akan berlatih hidup mandiri, namun tetap bisa
menemani mertua tercinta yang tinggalnya hanya lima langkah kaki dari
rumah kami.
"Yang penting bukan ukuran rumahnya,
tapi kebahagiaan di hati karena kini saya bisa mandiri dan menjadi
kepala keluarga di rumah sendiri."
(Kalau nanti punya rumah yang besar seperti di sinetron-sinetron itu, mungkin motto di atas akan saya ubah, hehehehe...)
Suka duka tinggal di Pondok Mertua Indah (PIM) sudah kami jalani selama 28 bulan
wah, bagi aku yg blum pernah tinggal sama ortu sejak menikah, malah mikirnya enak tuh ngumpul sama nyokap. gak usah beli2 perabot, bisa nyicil beli perumahan sementara gak bayar kontrakan, bisa nitipin anak tanpa menggaji pembantu ..hehehe biasa bang jonru, aku sbg manusia kadang kurang bersyukur :))
selamat menempati istana baru, semoga betah ya ...
ya itu juga sempat dialami keluargaku setahun yg lalu.
selama kurang lebih 2 tahun aku jg sempat menumpang di rumah ortuku, karena rumah lama sudah terjual dan rumah baru belum jadi.
Enak sich enak banget..... makan tinggal makan.... baju tinggal pakai... tapi tetep aja gak enak....
misalnya ada suatu masalah...... aku selalu bingung nurut suami atau ibuku.... sebagai orang menumpang tentu harus nurut yg punya rumah, tapi sebagai istri jg harus nurut suami. wah..... bingung banget dech kalo udah gitu. "yg jadi kepala rumah tangga itu aku...!!!" gitu kata suami kalo udah marah.
akhirnya... walaupun belum 100% beres, kami pindah ke rumah baru... alhamdulillah.......... skr suamiku bisa jadi "kepala rumah tangga" di rumah kami sendiri...
wah, bagi aku yg blum pernah tinggal sama ortu sejak menikah, malah mikirnya enak tuh ngumpul sama nyokap. gak usah beli2 perabot, bisa nyicil beli perumahan sementara gak bayar kontrakan, bisa nitipin anak tanpa menggaji pembantu ..hehehe
memang, hal2 spt ini merupakan sisi menyenangkan bila tinggal sama ortu/mertua, mbak. Saya juga menyadarinya. Makanya, sekarang saya merasa tetap bersyukur: Walaupun udah tinggal di rumah terpisah, tapi tetap bisa nitip anak ke mertua, dst, hehehe... :)
Saya juga ngucapain selamat menempati rumah baru nih, semoga berkah ya! Hehehe, gitu ya suka duka kalo laki-laki ikut mertua. Pantesan, dulu kalo saya pengen berlama-lama di rumah ibu saya, suami keberatan banget... ^_^ Ohya, kakak saya persis kayak kisah Mas Jonru. Pindahnya udah beberapa bulan yang lalu sih.
Loh, kemarin saya sudah ngucapin tahniah, kok ilang yak :-( *hiksss*
Anyway..., sekali lagi selamat atas pindahan dan berganti suasananya keluarga Bang Jonru, mudahan sakinah, mawaddah wa rahmah semakin teraih, insyaAllah ^_^
Alhamdulilllah Jon udeh ada rumah sendiri, menurut detik.com 6 juta orang Indonesia belum memiliki rumah, dan krn mmrn kamu br pindahan maka 6 juta kurang satu keluarga tepatnya yg lom punya rumah
Selamat ya bang Jonru... orin memisahkan diri dari kapal induk sekitar 2 th lalu. suka duka selama tahun pertama misah, karena anak2 orin tuh cucu pertama jadinya orang tua orin tetep aja sering main. dan yang bermasalah justru orin. karena dulu selalu di"usir" dg pernyataan "ini kan rumahku ya aku yang berhak ngatur" rasanya keki berat kalau ibu ikut ngatur2 di rumah baruku (kontrakan sih tepatnya). dan selama ini masalah itu nggak pernah selesai (dukanya jadi "anak tunggal" nggak bisa lepas dari ortu). tapi benci-benci sama ortu toh banyak rindunya juga. apalagi sekarang saya kerja, mau nggak mau pasrah aja rumah mau diapain oleh ortu. kalo lagi kesel saya bilagn ke saumi, kenapa kita nggak pindah yang jauh sekalian sih? ke luar negeri kek, ke ujung dunia kek. hehehehehe
menurut detik.com 6 juta orang Indonesia belum memiliki rumah, dan krn mmrn kamu br pindahan maka 6 juta kurang satu keluarga tepatnya yg lom punya rumah