Blog EntryMengedit si Tukang EditNov 29, '05 9:07 PM
for everyone
"Menulis adalah pekerjaan manusia, mengedit pekerjaan dewa." (Stephen King)
 
Benarkah editor itu seperti dewa? Benarkah mereka tak pernah salah? Hm, sebenarnya saya tak percaya akan adanya dewa. Tapi saya bisa memahami esensi dari pendapat Stephen King.

Dulu, ketika aktif di pers kampus dan masih berstatus reporter, saya sempat berselisih dengan seorang redaktur pelaksana (redpel). Saya mengkritik hasil editan dia. Tata bahasa yang sudah benar secara EYD seperti kalimat, "Pemerintah berada di balik rencana besar itu," diubahnya menjadi "Pemerintah berada dibalik rencana itu." Saya ngotot, mengatakan bahwa yang benar adalah "di balik", bukan "dibalik". Tapi dengan angkuhnya dia berkata, "Sudahlah, yang redpel itu saya, bukan kamu!" Maka, saya pun hanya diam.
 
Ketika giliran saya yang menjadi redpel, saya menemukan media untuk "balas dendam". Saya seperti melihat sehamparan ladang jagung yang dipenuhi oleh rumput liar. Saya akan membabat mereka semua hingga bersih, kecuali jagungnya tentu saja. Tapi saya tetap akan mengutak-atik jagung itu. Kalau perlu, daunnya saya ganti menjadi daun jati dan bijinya dicat berwarna pink. Saya punya wewenang penuh untuk melakukan semua itu, karena kini sayalah yang jadi "dewa".
 
Tapi kemudian, saya terperanjat oleh aksi protes sejumlah penulis yang marah karena saya mengobrak-abrik tulisan mereka. Saya pun mengingat lagi pengalaman pahit ketika dulu naskah saya yang diobrak-abrik. Seketika saya sadar, ternyata editor tidaklah sepenuhnya "dewa". Editor bertugas memperbagus sebuah tulisan, bukan mempemburuk hubungan baiknya dengan para penulis. Apapun yang dilakukan oleh editor, itu haruslah bisa memuaskan semua pihak; redaksi, penulis, dan pembaca.

Maka, saya pun mencoba menjadi seorang editor yang baik, walau terkadang kekejaman saya masih terlihat juga (memang, setiap editor punya potensi menjadi orang kejam. Tak usah malu-malu wahai editor sahabatku. Akui sajalah dengan jujur!).
 
Kini, saya kembali menjadi manusia, meninggalkan "dunia dewa" yang amat menyenangkan (walau kini jabatan saya di kantor adalah "content editor", pekerjaan utama saya jauh dari hal-hal yang berbau editing. Tapi setiap pertengahan bulan saya mendapat hiburan karena berkesempatan mengedit naskah-naskah "internal newsletter" milik kantor saya). Sebagai manusia, saya membuat begitu banyak kesalahan. Tapi saya bahagia ketika melihat tulisan saya dimuat di media tertentu, dan menemukan si redaktur berhasil menghilangkan kesalahan-kesalahan tersebut (tapi terkadang saya menyesalkan juga, karena mereka ikut menghilangkan dua atau empat paragraf karena alasan keterbatasan halaman. Tapi tak apalah, kita toh tak bisa menghindari hal-hal seperti itu).

* * *

Ada begitu banyak teori di bidang editing, namun tujuan artikel ini bukanlah untuk membeberkan semua teori tersebut (emangnya saya siapa? Ahli editing?). Saya hanya ingin membahas dua prinsip mendasar di dalam editing yang sudah dikenal secara luas. Dan tragisnya, saya pernah bermasalah dengan kedua prinsip ini.
 
* * *
 
Prinsip pertama:
"Editor naskah fiksi boleh mengubah banyak hal pada sebuah novel atau cerpen, tapi dia tidak boleh mengubah karakter si penulis."
 
Prinsip ini pertama kali saya dengar dari mas Ali Muakhir, editor penerbit DAR! Mizan, yang dimuat di "Buku Sakti Penulisan Fiksi", terbitan Pustaka Annida. Masalah saya yang berhubungan dengan prinsip ini adalah sebuah cerpen berjudul "Kakek Ngompol di Masjid" yang dimuat di majalah Sabili.
 
Pada cerpen ini, saya menemukan sebuah kalimat yang berbunyi, "Sejurus ia menatapku."
 
Terus terang, saya melongo ketika membaca kalimat ini. Apa saya tidak salah? Dari mana datangnya kalimat aneh ini? Siapa yang menaruhnya di sini?
 
Memang, kalimat itu sebenarnya tidak aneh. Itu hanya kalimat biasa dan sangat sederhana. Itu juga bukan kalimat yang jelek. Menurut saya, itu justru kalimat yang bagus. Tak ada yang salah ketika Anda menggunakannya di dalam cerpen atau puisi atau novel atau apapun.
 
Masalahnya adalah: Kalimat itu bukan bagian dari karakter saya. Saya biasa menulis dengan pola kalimat seperti ini:

- Ajaib sekali! Semuanya kini berubah jadi merah.
- Namun lihatlah! Dewi kini berubah jadi wanita yang amat pendiam dan tak pernah tersenyum.
- Ia berjalan lunglai, wajahnya dingin seperti kulkas.
- Semuanya normal-normal saja, tapi pagi ini kutemukan para penghuni kos berteriak-teriak histeris ketika menatap layar kaca di ruang tamu.

Tapi kalimat seperti "sejurus Andi menatapku" atau "sejurus kami tersenyum" dan sejurus-sejurus lainnya, bagi saya tak ubahnya seperti makhluk asing dari luar angkasa.

Saya akhirnya berkesimpulan, bahwa kalimat itu ditambahkan oleh si redaktur Sabili (seorang teman memberitahu, bahwa si redaktur kini pindah ke media lain. Jadi Anda tak perlu takut mengirim cerpen ke Sabili sekarang). Terus terang, saya merasa agak tidak nyaman. Saya yakin, si redaktur belum pernah membaca prinsip pertama yang dilontarkan oleh Mas Ali Muakhir di atas.

Tapi jangan salah sangka. Bagi saya, masalah ini sangat sepele. Saya tidak mempermasalahkannya sama sekali. Saya membeberkan ini hanya untuk mengatakan bahwa sangat penting bagi seorang editor untuk menjaga keaslian karakter seorang penulis.
 
* * *
 
Prinsip kedua:
"Redaksi/editor berhak mengedit naskah penulis tanpa mengubah isinya."
 
Saya yakin, anda semua pasti sudah sangat akrab dengan kalimat ini, karena kita bisa menemukannya pada halaman "susunan redaksi" di hampir semua media cetak. Prinsip ini merupakan senjata ampuh para editor/redaktur untuk melawan para penulis yang protes karena naskah mereka diutak-atik. "Esensi tulisan anda tidak berubah, kan? Jadi apa yang anda permasalahkan?"
 
Memang benar. Saya setuju. Dalam ha ini, saya mendukung semua editor dan redaktur yang hidup di muka bumi ini.
 
Masalahnya adalah, saya pernah punya pengalaman yang SANGAT pahit sehubungan dengan prinsip ini. Demikian pahitnya, sehingga ia menjadi salah satu alasan saya meninggalkan dunia penulisan selama delapan tahun; 1996 hingga 2004. Saya pun jadi malas menulis cerpen. Saya jadi kehilangan kepercayaan terhadap para editor.

Begini ceritanya.
 
Tahun 1996 (kalau tidak salah), saya mengirim sebuah cerpen ke Anita Cemerlang. Judulnya "Momen Maaf". Bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Rani yang sangat baik budi, dikagumi oleh teman-temannya, tipe manusia teladan, pokoknya pribadinya sempurna seperti malaikat. Semua orang memuji dan menyanjungnya. Tapi keadaan ini justru membuat Rani merasa bersalah. Sebab, ia sebenarnya bukan manusia yang sempurna. Ia merasa bersalah pada orang-orang yang mengagumi dirinya. Dia merasa telah menipu mereka semua. Sebab, Rani punya masa lalu yang sangat hitam. Ketika SMP, ia pernah menjadi "perempuan nakal"! Kini, Rani sudah bertaubat dan menjalani hidup yang lebih baik.
 
Rani ingin berterus terang pada semua orang tentang masa lalunya. Ia ingin jujur pada mereka. Ia ingin menghilangkan perasaan bersalah yang terus menghantui perasaannya.
 
Maka suatu hari, Rani membeberkan tabir gelap itu pada teman-teman kos-nya. Ia berkata, "Ketika SMP, aku pernah hidup sebagai gadis penunggu perempatan lampu merah di malam hari dan sering jalan dengan pria hidung belang. Kalian tahu kan, apa yang aku maksud?"
 
Cerpen ini dimuat di Anita Cemerlang beberapa bulan kemudian, judulnya mereka ganti menjadi "Rani dan Permintaannya." Bag saya itu tidak masalah. Yang membuat saya hampir pingsan adalah: Redaksi Anita mengubah kalimat di atas menjadi, "Ketika SMP, aku pernah diperkosa."
 
Saya diam seperti orang bisu, benar-benar tak percaya dengan apa yang saya baca. Emosi saya langsung mengalir ke ubun-ubun.
 
Ya, prinsip editing kedua berbunyi, "Redaksi/editor berhak mengedit naskah penulis tanpa mengubah isinya." TAPI MEREKA TELAH MENGUBAH ISI CERPEN SAYA!!!!!! Kalimat di atas adalah kunci dari seluruh isi cerpen saya. Jika kunci itu diubah, maka isi cerpen pun berubah, bahkan ceritanya menjadi sangat konyol dan memalukan.
 
Coba anda bayangkan:
Ada seorang gadis korban perkosaan yang dihantui perasaan bersalah. Ia merasa telah menipu orang-orang yang mengaguminya. Ia ingin berkata pada mereka, "Kalian salah. Saya tidak sebaik yang kalian duga. Saya punya masa lalu yang kelam. Saya punya dosa yang sulit dimaafkan. Saya dulu pernah diperkosa. Itulah dosa dan kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan di sepanjang hidup saya."
 
Saya yakin, penulis paling tolol sekalipun tak akan pernah membuat cerita sekonyol itu. Tapi tiba-tiba pembaca melihat saya seperti seekor keledai yang tak punya otak dan perasaan. Saya membayangkan cerpen itu dibaca oleh seribu wanita korban perkosaan. Lalu mereka marah dan mendatangi saya. "Apa kamu bilang? Kamu menganggap bahwa diperkosa adalah sebuah kesalahan dan dosa besar? Kamu menyalahkan kami yang justru menjadi korban? Dasar manusia biadab!!!!"
 
Saya langsung protes ketika itu. Saya mengirim surat ke redaksi Anita, berharap mereka mau memuatnya sebagai revisi terhadap kesalahan editing pada cerpen tersebut. Saya juga sempat menelepon mereka, dan ngobrol dengan Bens Leo kalau tidak salah. Dari cara dia bicara, saya tahu bahwa dia pun sadar bahwa kesalahan terletak pada redaktur. Tapi sayangnya, Anita tak pernah memuat surat saya itu.
 
Saat itu, kebetulan saya mengikuti KKN, dan terpilih menjadi koordinator kecamatan. Seribu kesibukan pun segera menyerbu saya, membuat saya tak sempat mengurus insiden Anita Cemerlang. Selama tiga bulan saya berkutat dengan tugas-tugas KKN, melupakan masalah yang amat tragis itu, dan tak ada waktu untuk menulis cerpen. Sepulang KKN, saya sudah tidak terlalu memusingkan masalah korban perkosaan dan sebagainya. Saya juga merasa sudah canggung menulis karena tiga bulan tidak pernah lagi merangkai kata (kecuali naskah pidato perpisahan dengan pak camat di akhir masa KKN).
 
Maka, itulah awal dari kevakuman saya di dunia penulisan fiksi.
 
* * *

Ada sedikit berita baik. Beberapa bulan setelah insiden itu, sebuah novelet saya dimuat di Anita Cemerlang. Bercerita tentang Eni, seorang gadis korban perkosaan. Di dalam cerita ini, saya memihak si Eni, menaruh simpati yang luar biasa terhadapnya. Saya menyampaikan pesan bahwa korban perkosaan harus kita bantu dan rangkul, agar hidup mereka menjadi lebih berwarna.

Jangan salah sangka. Saya menulis novelet ini bukan karena adanya "insiden berdarah" di atas. Saya telah menulisnya jauh sebelum cerpen "Rani..." dimuat. Tapi saya sedikit lega, karena saya berpikir bahwa cerita novelet ini mungkin bisa menjadi counter bagi kesalahan editing si redaktur Anita Cemerlang. Saya sangat berharap, seribu wanita korban perkosaan tersebut telah membaca novelet ini, dan segera menyadari bahwa saya tidak bersalah. I am innocent, you know!.
 
Berita baik berikutnya, cerpen "Rani..." ini telah dimuat ulang pada buku kumpulan cerpen saya,  Cowok di Seberang Jendela (Lingkar Pena Publishing House, 2005). Judulnya saya kembalikan ke bentuk aslinya, "Momen Maaf", karena saya pikir judul ini sangat unik, dan lebih cocok dengan isi ceritanya. Dan kalimat asli yang telah dibabat habis oleh redaktur Anita, saya kembalikan seperti semula.
 
Maka saya menganggap bahwa ini adalah ending yang cukup membahagiakan. Dengan ini, saya setuju bahwa masalah korban perkosaan telah selesai. Case closed! Tapi tanpa bisa dihindari, emosi saya selalu saja naik setiap kali mengingat kejadian itu. Ketika menulis artikel ini pun, saya hampir menggigil menahan emosi yang menggelegak. Padahal kejadiannya telah berlalu sembilan tahun lalu!
 
Saya memang berpendapat, bahwa kesalahan editing yang dilakukan oleh redaktur Anita tersebut merupakan peristiwa terburuk yang pernah menimpa karir penulisan saya. Saya sangat berharap, semoga kejadian seperti ini tak pernah lagi menimpa saya dan penulis-penulis lainnya di seluruh dunia.
 
Mungkin banyak orang yang masih percaya pada ucapan Stephen King, bahwa editor adalah dewa. Tapi pengalaman saya membuktikan bahwa "para dewa" itu pun bisa mengantuk dan mungkin salah pencet tombol keyboard. Kalau editor benar-benar dewa, saya yakin insiden "sejurus dia menatapku" dan tragedi "korban perkosaan" tak akan pernah terjadi. Dan saya mungkin tak perlu vakum menulis fiksi selama delapan tahun.
 
Seandainya anda adalah editor yang mengedit cerpen "Rani dan Permintaannya", bagaimana perasaan Anda? Merasa bersalah? Merasa telah membunuh motivasi kepenulisan saya? Jika ya, saya ucapkan selamat. Sebab saya yakin, mulai hari ini anda akan menjadi seorang editor yang jauh arif, bijaksana, dan cermat dalam bekerja. Kalau mengantuk, cobalah segelas kopi atau browsing dulu di internet.

Maaf bila ada yang tidak berkenan

Jakarta, 30 November 2005

NB: Saya tak punya dendam terhadap redaktur Anita Cemerlang. Mohon jangan salah sangka. Saya menceritakan ini hanya sebagai informasi. Semoga bermanfaat, khususnya bagi teman-teman yang berprofesi sebagai editor.

Sumber foto: www.io.com


14 CommentsChronological   Reverse   Threaded
emprit wrote on Dec 1, '05
Ooooh gitu ya Mas....^_^ Jadi inget, seorang kawan redaksi di salah satu buletin keislaman di Kairo pernah 'meminta' saya menulis artikel. Meski tulisan saya masih kacangan, tapi saya juga kecewa sekali setelah melihat hasil editan redaksi. Hal-hal yang saya anggap sebagai prinsip dari tulisan saya, dihilangkan begitu saja. Akhirnya saya jadi males nulis. Saya mikir, wong tulisan yang mereka minta aja dibabat, apalagi kalau saya yang nyodorkan tulisan.

Makanya seneng banget nih ada MP, ngga' ada editornya... hehehe (Tapi tulisan kita jadi ngga' berkembang ya? Gimana dunk???)
jonru wrote on Dec 1, '05
emprit said
saya juga kecewa sekali setelah melihat hasil editan redaksi. Hal-hal yang saya anggap sebagai prinsip dari tulisan saya, dihilangkan begitu saja. Akhirnya saya jadi males nulis. Saya mikir, wong tulisan yang mereka minta aja dibabat, apalagi kalau saya yang nyodorkan tulisan.

Makanya seneng banget nih ada MP, ngga' ada editornya... hehehe (Tapi tulisan kita jadi ngga' berkembang ya? Gimana dunk???)
wah... ikut prihatin atas naskahnya mbak Afiyah

menurut saya:

1. teman mbak Afiyah yang editor itu, menurut saya telah bekerja secara profesional. Ia tak peduli dari mana datangnya naskah dan bagaimana cara masuknya. Secara profesional, setiap naskah tanpa kecuali memang harus diedit. Tapi mungkin dia masih perlu belajar banyak tentang cara mengedit yang baik dan tidak merugikan penulis.

2. Kalau naskah kita tidak diedit, itu bukan berarti tulisan kita tidak pernah berkembang. Berkembang dalam hal apa? Kalau kita rajin membaca, sering belajar dan banyak berlatih, insya ALlah itu juga akan membuat tulisan kita lebih berkembang dari waktu ke waktu (walau tak ada tulisan kita yang pernah diedit).

Editing biasanya hanya menyangkut perbaikan ejaan, menyempurnakan kalimat yang tidak efektif, dan hal-hal lain yang sejenis. Padahal kemampuan menulis kan tidak hanya menyangkut hal-hal teknis seperti itu.

Tapi kalau mbak Afiyah ingin menyempurnakan tulisan dari segi teknis, coba deh belajar teori2 editing, lalu coba mengedit sendiri tulisan mbak. Insya Allah, ini akan membuat tulisan2 mbak lebih berkembang dari segi teknis.
emprit wrote on Dec 1, '05
jonru said
menurut saya:
Siiiip. Syukron banget nih, Mas Jonru!
*mohon petunjuk untuk mendapatkan tulisan tttg teori2 editing*
jonru wrote on Dec 1, '05
emprit said
*mohon petunjuk untuk mendapatkan tulisan tttg teori2 editing*
kalo gak salah, di toko buku ada beberapa judul. Dalam buku2 teori penulisan secara umum pun, terkadang ada bagian khusus yang membahas editing.
tapi maaf, saya gak ingat judul2nya :(
emprit wrote on Dec 1, '05
jonru said
kalo gak salah, di toko buku ada beberapa judul.
Betul, ngga' salah...hehehe
Yang di internet/MP ada ngga' Mas? Maklumlah, anak rantau... hihihi
jonru wrote on Dec 1, '05
emprit said
Yang di internet/MP ada ngga' Mas? Maklumlah, anak rantau... hihihi
saya coba cari dulu ya.
Pernah sih nyari, pake kata kunci "editing" di google. Hasilnya malah artikel2 yang berhubungan dengan video editing dan sebagainya, hehehe...
Tapi saya mau nyoba lagi, soalnya saya juga emang butuh. Kalo udah ketemu, Insya Allah nanti saya beritahu deh.
emprit wrote on Dec 2, '05, edited on Dec 2, '05
jonru said
Kalo udah ketemu, Insya Allah nanti saya beritahu deh.
Siiip, sabar menanti set mode on dari sekarang ^_^
Jazakumullah khoiran...
somantri wrote on May 21, '06
Bang Jonru.. ikutan ya....
Saya Tendy K. Somantri, pernah jadi editor di Pikiran Rakyat Bandung. Saya sedang berusaha menyusun sebuah buku "Menjadi Editor Surat Kabar". Saya berseluncur di internet untuk mencarai tambahan bahan, eh nyasar ke sini. Tertarik pada obrolan Anda dengan "emprit". Boleh menambahkan? Saat ini, pengertian editor sudah gamang bos! Orang mengira bahwa pekerjaan sunting-menyunting hanya berkaitan dengan urusan kebahasaan semata. Wah, cetek banget ya? Malahan, di Bandung, ada universitas yang membuka program editing. Urusannya? Ya, bahasa! Lalu, sekarang ada istilah 'content editor', 'copy editor', 'redaktur bahasa', 'kepala desk', dll. Itu untuk di koran, belum lagi di media elektronik seperti televisi, film, dsb. Benarkah begitu banyak jabatan dengan embel-embel editor? Bisa saja! Namun, menurut hemat saya, dengan makin banyaknya sebutan 'editor' itu, berarti para editor sekarang sudah semakin 'tipis' ilmu editingnya. Bayangkan, untuk mengedit satu naskah diperlukan beberapa editor. Busyet ya? Aduh..kok, jadi panjang lebar begini... udah deh, biar gampang saja, buku "The Complete Reporter" karya Julian Harriss, Kelly Leiter, dan Stanley Johnson (MacMillan Publishing, 1985) bisa menyibak cakrawala kita untuk mengerti pekerjaan "sang dewa". Terima kasih...
rinurbad wrote on Sep 2, '07
baru liat fotonya, huahahahaha..bagus, Bang:)
alimuakhir wrote on Dec 23, '07
Waaah, thx berat, klo jurus saya kepakai mas ...
hehehe ...
winthegame wrote on Jan 8
:)) Imagenya itu lho...
Coret terus! babat sampe habis! hehehe...
penulisindonesia wrote on Jan 16
Kabar gembira!! Buat yang suka nulis-nulis, buat penulis muda, buat para blogger, buat temen2 yg hobi nulis tapi belum bisa buat buku, belum percaya diri, sekarang sudah ada medianya, Situs Komunitas Penulis Indonesia,

Penulis-Indonesia.com, kayak Friendster tapi khusus buat yang hobi nulis, penulis, pujangga, penulis naskah, blogger...

fasilitasnya juga cukup oke, lengkap dgn alamat pribadi untuk profil, blog, dan album...ada chatnya juga loh :)
Baru dibuka 1 Januari 2008 lalu, skrg membernya sudah 300an :) rame buanget loohh aktifitasnya!!

Cepetan gabung ya :)
di sini alamatnya :

Penulis-Indonesia.com atau tanpa tanda -
PenulisIndonesia.com
diennanoris wrote on Feb 26
hallo....
aku suka artikelnya bro.
iya. benar sekali. pengertian editor semakin gamang. dan editor itu menurtku bukan orang cerdas lagi. tapi tukang sunat atau tukang pangkas tulisan
buneyasmin wrote on May 29
TSF... saya banyak belajar dari tulisan sampeyan... Oiya, saya turut berduka cita atas tragedi "di balik vs dibalik" dan "Rani..."
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help