Salah satu kategori tulisan nonfiksi adalah OPINI. Sesuai namanya, ini
adalah jenis tulisan yang membeberkan pendapat atau sikap si penulis
mengenai suatu hal. Sebuah tulisan jenis opini yang terakhir kali
saya baca (kebetulan di Multiply.com juga) adalah
Dunia Tanpa Supermodel
karya mas Akmal. Ini adalah opini yang sangat bagus, menurut saya
(terlepas dari isi atau muatannya). Dalam tulisan ini, mas Akmal
berhasil menyampaikan sebuah opini dengan sangat tegas dan jelas.
Selain itu, ia juga berhasil menyampaikan sebuah pendapat dengan sudut
pandang yang unik, yang mungkin belum pernah digarap penulis-penulis
lain sebelumnya. Dan - ini yang paling penting dan sering dilupakan
orang - ia melengkapi argumennya dengan alasan-alasan yang jelas.
Mari kita bandingkan tulisan mas Akmal dengan penggalan paragraf berikut.
Bulan
Februari adalah bulan kasih sayang. Banyak orang yang merayakan
Valentine Day dengan memberikan hadiah buat orang-orang yang sangat
mereka sayangi. Mereka berpendapat bahwa menyatakan kasih sayang pada
sebuah hari khusus merupakan hal yang sangat wajar. Memang sih, banyak
juga orang yang tidak setuju dengan perayaan Valentine Day. Mereka
bilang, itu adalah tradisi yang tidak mendidik, hanya akal-akalan
kalangan industri untuk menjual produk-produk mereka, dan seterusnya.
Semua pendapat ini sah-sah saja. Kita harus menghargai setiap pendapat,
dan janganlah perbedaan pendapat membuat kita saling membunuh.
Itu sebenarnya hanya paragraf karangan saya, tapi tidak keluar dari
hati nurani saya. Saya menulis seperti itu hanya untuk
memberikan gambaran bahwa tak ada satu pendapat pun
yang tersirat dari paragraf sepanjang itu. Saya sering melihat,
baik di internet maupun di media cetak, banyak sekali tulisan yang
seperti itu. SI penulis hanya memaparkan sebuah fenomena, menyajikan
pendapat orang-orang yang pro dan kontra, lalu dengan penuh ketakutan
ia membuat kesimpulan,
"Semua pendapat ini sah-sah saja. Kita harus menghargai setiap pendapat," (atau kalimat-kalimat lain yang mirip, tapi tetap membosankan menurut saya).
Ya, memang benar. Kita harus menghargai setiap pendapat. Tapi bukan
berarti kita tidak boleh berpendapat. Bahkan, berpendapat itu sangat
perlu. Sebagai seorang manusia, kita dituntut untuk punya sikap yang
tegas terhadap masalah apapun. Mohon maaf, tapi menurut saya, orang
yang menulis seperti paragraf yang saya contohkan di atas adalah
penulis yang penakut. Ia mungkin menulis hanya untuk menunjukkan pada
dunia bahwa ia bisa menulis. Atau lebih buruk lagi, ia mungkin hanya
mencari uang dan popularitas. Ia begitu pengecut sehingga tak mau
menerima resiko untuk dicela dan dimusuhi oleh orang-orang yang pro
atau kontra.
Padahal, resiko adalah bagian yang sangat lumrah dalam kehidupan. Kita
tak mungkin membuat SETIAP ORANG menyenangi kita. Bahkan para nabi yang
sudah terjamin keluhuran akhlaknya pun, masih dimusuhi dan dicaci maki
orang. Nabi Muhammad diludahi (atau dilempari kotoran, saya lupa)
setiap kali ia lewat di depan rumah seorang Yahudi. Nabi Isa
dikejar-kejar untuk disalib. Apakah ada yang lebih mengerikan dari
kedua fakta ini? Jika kita adalah orang yang memiliki prinsip hidup
yang kuat, resiko bukanlah sesuatu yang menakutkan.
"Sampaikanlah kebenaran walaupun itu pahit."
Ucapan di atas benar adanya. Masalahnya adalah, kita mungkin sungkan
atau khawatir jika kejujuran akan berakibat buruk terhadap
hubungan baik kita dengan seseorang. Anda mungkin ingin berkata pada saya,
"Jonru, tulisan kamu sangat jelek. Demikian jeleknya sehingga saya
berjanji untuk tak pernah membaca lagi satu pun tulisan kamu!" Tapi
Anda mungkin tak pernah sampai hati untuk mengungkapkannya.
Ya, saya bisa memaklumi itu, karena SECARA SANGAT JUJUR saya pun sering
seperti itu. Jadi, marilah kita berterima kasih pada sesosok makhluk
yang bernama etika atau sopan santun. Melalui perantaraan dialah,
hubungan silaturahmi antarmanusia bisa tetap terjalin erat, walau kita
sering menelanjangi kelemahan orang lain. Mungkin Anda tetap bisa
mengkritik saya dengan perasaan tenteram dan nyaman. Mungkin kalimat
seperti ini perlu Anda pertimbangkan, "Jonru, saya sangat tertarik
untuk mengomentari tulisan kamu. Saya tahu, kamu telah bersusah payah
untuk menulisnya. Menurut saya, alangkah baiknya jika tulisan itu kamu
lengkapi dengan data yang lebih lengkap, gaya bahasanya dipercantik,
lalu kalimat-kalimat yang klise diganti dengan yang lebih segar. Saya
yakin, itu akan membuat setiap orang betah membaca tulisan kamu, walau
mereka sedang ngantuk berat."
Memang, kalimat penggantinya - yang mungkin jauh lebih sopan tanpa
mengubah esensi kritik yang hendak disampaikan - tidak harus sepanjang
itu. Intinya: Selalu ada cara untuk bersikap jujur tanpa membuat
situasi jadi buruk.
* * *
Hingga di sini, Anda mungkin beranggapan bahwa saya adalah seorang
manusia yang sangat jujur dan penuh percaya diri. Sebenarnya, tidak
gitu gitu amat, sih.
Sejujurnya, saya adalah seorang anak yang dibesarkan di sebuah
lingkungan yang sangat tidak kondusif terhadap perbedaan pendapat.
Seringkali, saya dimarahi hanya gara-gara ucapan, "Lagu Rinto Harahap
tidak enak didengar." Atau, ketika saya bersikap kritis, mulut saya
langsung dibungkam dengan ucapan, "Cerewet amat! Tak usahlah kau banyak
omong."
Saya pun tumbuh menjadi seorang manusia yang sulit atau takut
berpendapat, khususnya di hadapan keluarga saya. Minder adalah penyakit
kronis saya yang hingga kini belum sembuh juga. JIka Anda melihat saya
sebagai sesosok Jonru yang penuh percaya diri, percayalah bahwa itu
tidak sepenuhnya benar. Memang saya akui, rasa percaya diri saya mulai
meningkat setelah saya ikut sejumlah organisasi dan terjun di dunia
penulisan. Tapi secara umum, perasaan minder dan takut berpendapat
masih sering menghantui saya hingga hari ini.
Namun dalam menulis, saya mencoba untuk SANGAT percaya diri. Saya tahu,
bahwa ketika menulis, saya tidak berhadapan dengan seseorang yang siap
mengejek pendapat saya dan membuat saya ketakutan. Saya hanya
berhadapan dengan sebuah monitor dan keyboard komputer yang tidak
bernyawa. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk minder atau takut.
Maka, saya pun mencoba sejujur mungkin dalam menulis. Dalam fiksi,
tentu saja saya harus menyelipkan pendapat secara halus tanpa berkesan
menggurui. Sedangkan dalam nonfiksi, saya merasa lebih bebas untuk
menyampaikan pendapat dan prinsip hidup secara lebih verbal.
Seperti yang mungkin telah Anda ketahui dari awal tulisan ini, saya
seringkali merasa geli jika membaca ada penulis yang menyampaikan
"gagasannya" dengan cara seperti paragraf mengenai Valentine Day di
atas. Kata GAGASAN saya tempatkan dalam tanda petik, sebab menurut saya
itu sebenarnya bukan gagasan.
Mungkin Anda protes dan berkata, "Bukankah bersikap moderat juga
merupakan sebuah sikap?" Ya, benar. Tapi setidaknya, si penulis yang
baik dan berjiwa moderat haruslah memberikan argumen dan alasan-alasan
yang sangat kuat mengenai sikapnya itu. Sebagai contoh, ia bisa
membeberkan analisis atas kebaikan dan keburukan Valentine Day. Dan di
bagian akhir, ia bisa memberikan argumen yang moderat seperti berikut
ini.
Memang,
esensi dari Valentine Day itu sebenarnya baik. Kasih sayang adalah
dambaan setiap umat manusia. Tapi apakah harus merayakannya dengan
selusin batangan cokelat dan bunga yang romantis? Merayakan kasih
sayang di hari Valentine boleh-boleh saja. Tapi kasih sayang harus
tetap terpelihara setiap saat, walau misalnya hari Valentine Day itu
tidak pernah ada.
Pendapat Anda yang sebenarnya tidaklah harus seperti itu. Menurut saya,
itu hanyalah satu dari sekian banyak contoh dari pendapat yang moderat,
dan sungguh itu bukan pendapat saya secara pribadi. Ingat, itu hanya
contoh. Dan terlepas dari apapun, ketegasan seperti itu jauh lebih baik
daripada kepengecutan yang tergambar dari paragraf yang saya contohkan
di awal tulisan ini.
Anda mungkin berkata lagi, "Salman Rusdhie diancam dibunuh dan harus
melarikan diri karena dia berani berbeda pendapat. Bagaimana ini?"
Jawaban saya: Itu adalah resiko, seperti yang sudah saya sebutkan di
bagian awal tulisan ini. Sejujurnya, saya termasuk orang yang sangat
tidak setuju dengan tulisan
Salman Rusdhie yang berjudul
Ayat Ayat Setan itu. Tapi saya mengagumi keberanian dia untuk mengungkapkan sesuatu yang membuat dirinya jadi bulan-bulanan banyak orang.
Jika Anda tetap bersikeras untuk menyampaikan pendapat yang jujur tanpa
harus bernasib seperti Salman Rusdhie, saya kira ada demikian banyak
teknik bercerita yang lebih halus dan tersamar, sehingga Anda tetap
dapat tidur dan bernafas dengan nyaman. Ini hanya masalah teknis, dan
saya yakin Anda bisa mencarinya sendiri.
Sekian dulu, terima kasih dan maaf bila tidak berkenan.
Senayan, 26 November 2005
Jonru
Sumber gambar: www.pupress.princeton.edu