Blog EntryDalam tulisan, sampaikan pendapatmu secara tegasNov 25, '05 9:20 PM
for everyone
Salah satu kategori tulisan nonfiksi adalah OPINI. Sesuai namanya, ini adalah jenis tulisan yang membeberkan pendapat atau sikap si penulis mengenai suatu hal. Sebuah tulisan jenis opini yang terakhir kali saya baca (kebetulan di Multiply.com juga) adalah Dunia Tanpa Supermodel karya mas Akmal. Ini adalah opini yang sangat bagus, menurut saya (terlepas dari isi atau muatannya). Dalam tulisan ini, mas Akmal berhasil menyampaikan sebuah opini dengan sangat tegas dan jelas. Selain itu, ia juga berhasil menyampaikan sebuah pendapat dengan sudut pandang yang unik, yang mungkin belum pernah digarap penulis-penulis lain sebelumnya. Dan - ini yang paling penting dan sering dilupakan orang - ia melengkapi argumennya dengan alasan-alasan yang jelas.

Mari kita bandingkan tulisan mas Akmal dengan penggalan paragraf berikut.

Bulan Februari adalah bulan kasih sayang. Banyak orang yang merayakan Valentine Day dengan memberikan hadiah buat orang-orang yang sangat mereka sayangi. Mereka berpendapat bahwa menyatakan kasih sayang pada sebuah hari khusus merupakan hal yang sangat wajar. Memang sih, banyak juga orang yang tidak setuju dengan perayaan Valentine Day. Mereka bilang, itu adalah tradisi yang tidak mendidik, hanya akal-akalan kalangan industri untuk menjual produk-produk mereka, dan seterusnya. Semua pendapat ini sah-sah saja. Kita harus menghargai setiap pendapat, dan janganlah perbedaan pendapat membuat kita saling membunuh.

Itu sebenarnya hanya paragraf karangan saya, tapi tidak keluar dari hati nurani saya. Saya menulis seperti itu hanya untuk memberikan gambaran bahwa tak ada satu pendapat pun yang tersirat dari paragraf sepanjang itu. Saya sering melihat, baik di internet maupun di media cetak, banyak sekali tulisan yang seperti itu. SI penulis hanya memaparkan sebuah fenomena, menyajikan pendapat orang-orang yang pro dan kontra, lalu dengan penuh ketakutan ia membuat kesimpulan, "Semua pendapat ini sah-sah saja. Kita harus menghargai setiap pendapat," (atau kalimat-kalimat lain yang mirip, tapi tetap membosankan menurut saya).

Ya, memang benar. Kita harus menghargai setiap pendapat. Tapi bukan berarti kita tidak boleh berpendapat. Bahkan, berpendapat itu sangat perlu. Sebagai seorang manusia, kita dituntut untuk punya sikap yang tegas terhadap masalah apapun. Mohon maaf, tapi menurut saya, orang yang menulis seperti paragraf yang saya contohkan di atas adalah penulis yang penakut. Ia mungkin menulis hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia bisa menulis. Atau lebih buruk lagi, ia mungkin hanya mencari uang dan popularitas. Ia begitu pengecut sehingga tak mau menerima resiko untuk dicela dan dimusuhi oleh orang-orang yang pro atau kontra.

Padahal, resiko adalah bagian yang sangat lumrah dalam kehidupan. Kita tak mungkin membuat SETIAP ORANG menyenangi kita. Bahkan para nabi yang sudah terjamin keluhuran akhlaknya pun, masih dimusuhi dan dicaci maki orang. Nabi Muhammad diludahi (atau dilempari kotoran, saya lupa) setiap kali ia lewat di depan rumah seorang Yahudi. Nabi Isa dikejar-kejar untuk disalib. Apakah ada yang lebih mengerikan dari kedua fakta ini? Jika kita adalah orang yang memiliki prinsip hidup yang kuat, resiko bukanlah sesuatu yang menakutkan.

"Sampaikanlah kebenaran walaupun itu pahit."

Ucapan di atas benar adanya. Masalahnya adalah, kita mungkin sungkan atau khawatir jika kejujuran akan berakibat buruk terhadap hubungan baik kita dengan seseorang. Anda mungkin ingin berkata pada saya, "Jonru, tulisan kamu sangat jelek. Demikian jeleknya sehingga saya berjanji untuk tak pernah membaca lagi satu pun tulisan kamu!" Tapi Anda mungkin tak pernah sampai hati untuk mengungkapkannya.

Ya, saya bisa memaklumi itu, karena SECARA SANGAT JUJUR saya pun sering seperti itu. Jadi, marilah kita berterima kasih pada sesosok makhluk yang bernama etika atau sopan santun. Melalui perantaraan dialah, hubungan silaturahmi antarmanusia bisa tetap terjalin erat, walau kita sering menelanjangi kelemahan orang lain. Mungkin Anda tetap bisa mengkritik saya dengan perasaan tenteram dan nyaman. Mungkin kalimat seperti ini perlu Anda pertimbangkan, "Jonru, saya sangat tertarik untuk mengomentari tulisan kamu. Saya tahu, kamu telah bersusah payah untuk menulisnya. Menurut saya, alangkah baiknya jika tulisan itu kamu lengkapi dengan data yang lebih lengkap, gaya bahasanya dipercantik, lalu kalimat-kalimat yang klise diganti dengan yang lebih segar. Saya yakin, itu akan membuat setiap orang betah membaca tulisan kamu, walau mereka sedang ngantuk berat."

Memang, kalimat penggantinya - yang mungkin jauh lebih sopan tanpa mengubah esensi kritik yang hendak disampaikan - tidak harus sepanjang itu. Intinya: Selalu ada cara untuk bersikap jujur tanpa membuat situasi jadi buruk.

* * *

Hingga di sini, Anda mungkin beranggapan bahwa saya adalah seorang manusia yang sangat jujur dan penuh percaya diri. Sebenarnya, tidak gitu gitu amat, sih. Sejujurnya, saya adalah seorang anak yang dibesarkan di sebuah lingkungan yang sangat tidak kondusif terhadap perbedaan pendapat. Seringkali, saya dimarahi hanya gara-gara ucapan, "Lagu Rinto Harahap tidak enak didengar." Atau, ketika saya bersikap kritis, mulut saya langsung dibungkam dengan ucapan, "Cerewet amat! Tak usahlah kau banyak omong."

Saya pun tumbuh menjadi seorang manusia yang sulit atau takut berpendapat, khususnya di hadapan keluarga saya. Minder adalah penyakit kronis saya yang hingga kini belum sembuh juga. JIka Anda melihat saya sebagai sesosok Jonru yang penuh percaya diri, percayalah bahwa itu tidak sepenuhnya benar. Memang saya akui, rasa percaya diri saya mulai meningkat setelah saya ikut sejumlah organisasi dan terjun di dunia penulisan. Tapi secara umum, perasaan minder dan takut berpendapat masih sering menghantui saya hingga hari ini.

Namun dalam menulis, saya mencoba untuk SANGAT percaya diri. Saya tahu, bahwa ketika menulis, saya tidak berhadapan dengan seseorang yang siap mengejek pendapat saya dan membuat saya ketakutan. Saya hanya berhadapan dengan sebuah monitor dan keyboard komputer yang tidak bernyawa. Jadi tak ada alasan bagi saya untuk minder atau takut.

Maka, saya pun mencoba sejujur mungkin dalam menulis. Dalam fiksi, tentu saja saya harus menyelipkan pendapat secara halus tanpa berkesan menggurui. Sedangkan dalam nonfiksi, saya merasa lebih bebas untuk menyampaikan pendapat dan prinsip hidup secara lebih verbal.

Seperti yang mungkin telah Anda ketahui dari awal tulisan ini, saya seringkali merasa geli jika membaca ada penulis yang menyampaikan "gagasannya" dengan cara seperti paragraf mengenai Valentine Day di atas. Kata GAGASAN saya tempatkan dalam tanda petik, sebab menurut saya itu sebenarnya bukan gagasan.

Mungkin Anda protes dan berkata, "Bukankah bersikap moderat juga merupakan sebuah sikap?" Ya, benar. Tapi setidaknya, si penulis yang baik dan berjiwa moderat haruslah memberikan argumen dan alasan-alasan yang sangat kuat mengenai sikapnya itu. Sebagai contoh, ia bisa membeberkan analisis atas kebaikan dan keburukan Valentine Day. Dan di bagian akhir, ia bisa memberikan argumen yang moderat seperti berikut ini.

Memang, esensi dari Valentine Day itu sebenarnya baik. Kasih sayang adalah dambaan setiap umat manusia. Tapi apakah harus merayakannya dengan selusin batangan cokelat dan bunga yang romantis? Merayakan kasih sayang di hari Valentine boleh-boleh saja. Tapi kasih sayang harus tetap terpelihara setiap saat, walau misalnya hari Valentine Day itu tidak pernah ada.

Pendapat Anda yang sebenarnya tidaklah harus seperti itu. Menurut saya, itu hanyalah satu dari sekian banyak contoh dari pendapat yang moderat, dan sungguh itu bukan pendapat saya secara pribadi. Ingat, itu hanya contoh. Dan terlepas dari apapun, ketegasan seperti itu jauh lebih baik daripada kepengecutan yang tergambar dari paragraf yang saya contohkan di awal tulisan ini.

Anda mungkin berkata lagi, "Salman Rusdhie diancam dibunuh dan harus melarikan diri karena dia berani berbeda pendapat. Bagaimana ini?"

Jawaban saya: Itu adalah resiko, seperti yang sudah saya sebutkan di bagian awal tulisan ini. Sejujurnya, saya termasuk orang yang sangat tidak setuju dengan tulisan Salman Rusdhie yang berjudul Ayat Ayat Setan itu. Tapi saya mengagumi keberanian dia untuk mengungkapkan sesuatu yang membuat dirinya jadi bulan-bulanan banyak orang.

Jika Anda tetap bersikeras untuk menyampaikan pendapat yang jujur tanpa harus bernasib seperti Salman Rusdhie, saya kira ada demikian banyak teknik bercerita yang lebih halus dan tersamar, sehingga Anda tetap dapat tidur dan bernafas dengan nyaman. Ini hanya masalah teknis, dan saya yakin Anda bisa mencarinya sendiri.

Sekian dulu, terima kasih dan maaf bila tidak berkenan.

Senayan, 26 November 2005
Jonru

Sumber gambar: www.pupress.princeton.edu


18 CommentsChronological   Reverse   Threaded
ctimel wrote on Nov 25, '05
jonru said
Saya pun tumbuh menjadi seorang manusia yang sulit atau takut berpendapat,
Sama Bang........sulit untuk menghilangkan ketakutan berpendapat.....saya tidak menyalahkan lingkungan tetapi saat ini saya sedang berusaha mengikis sedikit demi sedikit ketakutan yang ada di hati saya..
annidalucu wrote on Nov 25, '05, edited on Nov 25, '05
insyaallah pak, saya coba.
ngngnng...pada beberapa bagian tulisan ini, saya merasa tersindir niy, tapi gak marah kok sama pak jonru karena tulisannya berhasil menyentil saya:D
Makasih sudah berbagi
jonru wrote on Nov 25, '05
ctimel said
saat ini saya sedang berusaha mengikis sedikit demi sedikit ketakutan yang ada di hati saya
amiin.. semoga berhasil ya... :)
jonru wrote on Nov 25, '05
pada beberapa bagian tulisan ini, saya merasa tersindir niy, tapi gak marah kok sama pak jonru karena tulisannya berhasil menyentil saya
wah, maaf kalau sampai ada yang tersentil, hehehe...
tapi moga2 bermanfaat ya...
ti2n wrote on Nov 25, '05
jonru said
wah, maaf kalau sampai ada yang tersentil, hehehe...
dan maaf juga kalo komentar saya OOT...
hehehe... headshot baru Pak Jonru kok gelap dan merah?
sekilas lihat saya agak kaget je... rada "serem" kesannya...

*berusaha menyampaikan pendapat secara jelas dan tegas nih..hihihi... ngikutin saran yang ditulis di atas*

:P
jonru wrote on Nov 25, '05
ti2n said
ehehe... headshot baru Pak Jonru kok gelap dan merah?
o... terkesan serem ya?
itu mungkin karena fotonya saya crop dari foto asli yang lebih lebar
emang itu foto malam hari, di tengah kegelapan, hanya mengandalkan cahaya dari lilin. Pengennya sebenarnya, membuat foto yang artistik, hehehe...
nozqa wrote on Nov 26, '05
provokatif...
hadynur wrote on Nov 26, '05
Aku tahu kali pertama tulisan ini sih di situs penulislepas.com. Pas pertama liat "Lah..lah, ini judulnya kok provokaof banget, mang ada masalah apa ya dengan naskah2 di penulislepas". Abis, jumat ini cuman tulisanya mas jonru aja sih yang di muculin, gak biasanya me rame..he..he.

Cuman pas baca..hmm...ternyata gitu toh. Agak panas dikit sih, kayak njewer kupingku.....
emprit wrote on Nov 26, '05
Siiip... memang tidak semua orang siap menanggung resiko. Bagi saya, kesiapan menanggung resiko berbanding lurus dengan kedewasaan seseorang.... so...
akmal wrote on Nov 26, '05
oo ternyata mas jonru ya "oknum" yg masukin artikel saya ke milis annida? hahaha saya terima "pengaduan" dari junior saya di kampus mas... jadi malu nih...
rtvanda wrote on Nov 27, '05
jonru said
saya kira ada demikian banyak teknik bercerita yang lebih halus dan tersamar,
Salam kenal Pak Jonru. Cuma mau tanya: kalimat yang saya quote itu bukannya malah jadi berlawanan dengan judul artikelnya sendiri? Lha, gimana, dong?
jonru wrote on Nov 27, '05
nozqa said
provokatif...
terima kasih, semoga anda terprovokasi :)
jonru wrote on Nov 27, '05
hadynur said
mang ada masalah apa ya dengan naskah2 di penulislepas". Abis, jumat ini cuman tulisanya mas jonru aja sih yang di muculin, gak biasanya me rame..he..he.
hehehe... maaf..
kemarin sibuk, belum sempat upload naskah2 terbaru
sebetulnya yang antri udah banyak banget :(
jonru wrote on Nov 27, '05
emprit said
Siiip... memang tidak semua orang siap menanggung resiko. Bagi saya, kesiapan menanggung resiko berbanding lurus dengan kedewasaan seseorang.... so...
setuju banget :)
jonru wrote on Nov 27, '05
akmal said
oo ternyata mas jonru ya "oknum" yg masukin artikel saya ke milis annida? hahaha saya terima "pengaduan" dari junior saya di kampus mas... jadi malu nih...
waduh..
saya cuma menampilkan link-nya lho..
kalo artikel mas akmal sampai tersebar ke mana-mana, berarti ada orang lain yang menyebarkannya, hehehe... :)
jonru wrote on Nov 27, '05
rtvanda said
Salam kenal Pak Jonru. Cuma mau tanya: kalimat yang saya quote itu bukannya malah jadi berlawanan dengan judul artikelnya sendiri? Lha, gimana, dong?
salam kenal juga mbak vanda
memang saya juga sadar, kalau ada yang tidak sinkron. Artikel ini pertama kali saya muat di sini (MP). Lalu setelah tahu ada kekeliruan, saya mengirimnya ke sejumlah milis, memuat ulang di penulislepas.com. Di sana teman-teman bisa melihat, kata "dan jelas" pada judul sudah saya hapus. Saya berpikir bahwa menyampaikan pendapat secara tegas sudah lebih dari cukup. Masalah jelas atau tidak, itu urusan lain.

makasih ya mbak vanda, atas koreksinya :)
mochusni wrote on Nov 27, '05
jonru said
Sebagai seorang manusia, kita dituntut untuk punya sikap yang tegas terhadap masalah apapun.
Setuju 100%. Saya sudah liat bukti ucapan Bang Jonru ini di Majalah ANNIDA edisi Oktober, yg membongkar pemahaman mengenai men sana in corpore sano... Top.
jonru wrote on Nov 28, '05
Setuju 100%. Saya sudah liat bukti ucapan Bang Jonru ini di Majalah ANNIDA edisi Oktober, yg membongkar pemahaman mengenai men sana in corpore sano... Top.
hehehe.. makasih mas, udah baca :)
Add a Comment
   

Premium Account

Pendaftaran Sekolah-Menulis Online, Kini Bisa Setiap Hari, 24 Jam Nonstop. Langsung Belajar Setelah Mendaftar. Klik DI SINI >>


Kursus GRATIS "Pintar Menulis dalam 9 Minggu"
baruBerminat? Daftarkan diri Anda dengan cara mengisi formulir di bawah ini.
100 % GRATIS!
Nama
Panggilan:
Email:
Kota:
Negara:
Telepon:
Pekerjaan:
Powered by Sekolah-Menulis Online


Karya Jonru

Pemenang Pemilu 2009
Sekolah Online

Jonru
Konsultasi Penulisan
GRATIS bersama Jonru >>
free web stats
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help